Gue katrok, eh maksud gue, gue itu. Ah blibet bener ngomong.
Nama gue Bani, biasa dipanggil katrok, padahal gue gak ngerasa kalo gue katrok, yaudahlah gak penting. Gue punya temen deket, sohib, musuh dalam selimut. Eitss..jangan pada ngeres, dia itu cowok namanya Gembel alias Ardy.
"Kebalik begok!"
"Biarin!"
Kita temen satu jiwa beda raga, maksudnya, tiap dia yang sakit, gue yang risih. Contohnya saat ini, dia itu sering banget sakit yang namanya pilek, makan es dikit pilek, keujanan gerimis aja langsung pilek. Stok tisyu udah bejibun dilemari dia.
Malam ini sperti biasa, kegabutan melanda jiwa para jomblo kayak kita ini. Mangkanya, gue cuma mainan game doang di hape. Pas lagi seru-serunya maen, tiba-tiba. .
Tes, ,
Tes, ,
Sesuatu yang dingin menetes dintangan kiri gue. Berlendir, mirip ingus.
Dipikiran gue langsung aja,
"Ini pasti si gembel dibelakang gue" gumam pelan.
Karena gue duduk dikursi yang ada di ruang tamu.
Gue otomatis menoleh kebelakang, gak ada apa-apa.
"kemana si gembel?
Yaudahlah, gue balik ke hape gue lagi sebelum game gue koid.
Tapi lagi lagi, ,
Tes,
Tes. .
Tes. .
Tes,
Kali ini lebih banyak dari yang tadi,
"Gembeeelllll,, lo kalo pilek jangan jorok woyyyy.!!! Pake kaos lo kalo tisu lo abis!! Teriak gue kesal.
"Lo apa-apaan sih trok, teriak-teriak gak jelas, gue abis dari dapur kali ambil air anget ama stok tisyu nih," Ucapnya menunjukkan tisyu dan air yang dibawa
Sroooot!!!
"Jijik luh,!"
"Terus ini ingus siapa kalo lo dari dapur?" Tanyaku sambil menyodorkan tangan kiriku yang tadi terkena ingus.
"Ingus apaan? Gak ada apa-apa juga ditangan lo. Jangan-jangan lo ketularan pilek lagi, terus gak nyadar lo elap deh tu ditangan lo, gegara keasyikan nge-game."
"Gak mungkinlah gue jorok kayak lo!".
"Bodo" Ucapnya lalu duduk di kursi yang ada didepan gue.
"Oke, mungkin halusinasi gue". Gue baliklah ke hape kesayangan gue.
Tapi, pas gue ambil hape, gue lihat sesosok bayangan di hape gue yang belum sempet gue nyalain.
Gue tengok, gak ada. Belakang tengkuk gue agak merinding. . Gue usap-usap pakek tangan kiri.
Tapi lagi,
Tes, dingin banget rasanya dipunggung tangan kiri gue. Belum sempet gue tarik kedepan buat liat tangan gue, udah lagi.
Tes, .
Tes. .
Gue jengkel dong, gue marah. Siapa coba yang isengin gue. Kali ini gue berbalik dengan sangat cepat, lebih cepat dari yang tadi. Gak ada. gue tengok belakang kursi gak ada juga.
Gue balik duduk, tapi hape gue jatoh gara-gara tadi berbalik dengan cepat.
"Ah, pake jatoh lagi luh pe hape.." Ucap gue sambil melongok kebawah kursi dengan pelan supaya gak nyungsep.
Tetapi pas gue melihat kearah kolong kursi.
Seperti ada sebuah bayangan, tidak terlihat jelas.
"Gleg." Susah payah gue telen ludah gue sendiri.
Deg.
Deg.
Deg.
Kini nampak sepasang kaki pucat pasi, menggantung, ,
Aku mematung dwngan posisi masih merunduk.
Perlahan-lahan mengalir darah dikaki pucat itu,
Sampai menetes.
Tes.
Tes.
Nafasku seketika sesak, aku tercekat.
Darah itu sampai menetes di karpet bulu milik ibu kos.
"Mampus, gimana gue bersihin tu karpet". Disaat gawat begini kenapa malah karpet yang ada dipikiran gue.
Mengalir lagi lebih deras sampai dibawah kepalaku.
Aku ingin berteriak sekuat tenaga, tapi lidahku kelu.
Aku ingin berlari sekencangnya, tapi tubuhku membeku. Apa, apa yang harus aku lakukan sekarang.
"Woi, kenap lu trok?" Suara gembel mengagetkanku, barulah aku bisa mengangkat tubuhku untuk kembali duduk.
Nafasku tersengal-sengal seperri habis lari maraton.
"Lu kenapa? Dikejar-kejar anjing di game lo?"
"Lebih dari itu" Jawabku mengatur nafas.
Ia mengernyit bingung mendengar jawabanku.
"Maksud lo?"
"Bukan apa-apa"
"Lo liat setan?"
"Eng-" Perkataan gue terpotong kala ekor mata gue menangkap sesuatu yang ada disamping gue.
Gleg,
Gue mengatur nafas, menarik dan menghembuskannya perlahan,
"Mbel, lo punya kembaran?" Ucapku pelan.
"Ngaco lo! Kembaran dari glodog. Kan kita temenan dari orok, lo tau ndiri saudara gue mana aja, siapa aja."
"Terus, yang disamping gue siapa Mbel? kok kayak lo?" Gue melirik sedikit objek yang diam disamping gue, tepat di hidungnya yang pucat ber-ingus seperti si Gembel.
"Samping lo mana?"
"Ini, duduk disebelah gue Mbel!"
"Ck. lo sakit Trok? Jelas-jelas lo duduk sendiri daritadi, gue juga sendiri".
"Gue serius Mbel, gak becanda gue." Ucapku semakin panik
"Kayaknya lo perlu diajak kerumah sakit jiwa besok, mungkin jiwa lo terguncang gara-gara kelamaan jomblo! Hahhahahh."
"Sumpe lo! Sohib kagak ada akhlak, kayak lo gak jomblo aja" Tanpa sengaja gue nengok kearahnya. Ilang.
"Syukurlah". Baru sebentar gue ngerasa lega.
"Tolong" Terdengar suara asing, bocah? laki?
"Tolooong" Suara itu kembali terdengar.
"Kenapa si gembel diem aja, apa dia gak denger"
Ternyata, dia sudah ada disebelah kiriku. Duduk manis.
"Si si siapa lo?" Tanya gue yang mendadak gagap, sedikit takut, mengingta kakinya yang berlumuran darah.
"Aku Dana, tolong aku"
"Tolong apaan?" Ucapku memberanikan diri.
"Lap ingusku".
"Whaaattt?????" Tanpa sadar gue teriak kencang.
"Tolong lap ingusku kak".
"Omaigat,, yang bener aja" Batinku. masih belum berani menatap kearahnya.
"Me memangnya l lo bisa ingusan? Lo kan bukan manusia".
"Lihat kesini kak, lihat ingusku, aku pilek".
"Mana gue berani, bocah. lo aja serem"
"Enggak kak, aku udah update mode cakep"
Gue melongo seketika, kalo udah cakep kenapa masih ingusan coba.
Gue ambil tisyu yanga ada dimeja, gue kasih ke dia.
Diem,
"apa dia gak bisa nyentuh barang", pikirku.
"Terus gimana bisa gue nyentuh dia buat lap ingusnya. Hiss kenapa juga coba gue mikirin".
"Aku gak bisa lap sendiri kak, tanganku diikat".
Hah, siapa yang kurang kerjaan ngikat tangan hantu.
Akhirnya gue beraniin diri buat nengok, dia berada tepat di depan wajahku. Hampir aja gue kejengkang kaget.
Benar, wajahnya tak semenyeramkan itu, hanya sangat pucat, juga ada ingus yang mengalir dari hidungnya bahkan hampir sampai dibibir. Jijik. satu kata itu yang ada dibenak gue sekarang. Tapi kasihan juga, tangannya terikat kebelakang.
Gue jadi penasaran, apa yang terjadi sama ni bocah sampe dia bisa jadi seperti sekarang ini. Gue tanya dong, semoga dia gak tersinggung sama pertanyaan gue. Eh, dia mau cerita asal gue mau mengelap ongusnya itu. Okelah demi konten, gue mau ngelap ingus lo bocah.
Ternyata, dulu pas masih hidup, saat hari hujan deras dia diculik, lalu tangan dan kakinya diikat. Dengan keadaan badan yang basah kuyup, dia disekap disebuah ruangan. Tanpa alas, dia dibiarkan begitu saja dilantai yang dingin. Kemudian dia pilek karena kedinginan, ingusnya terus mengalir bercampur air mata yang juga terus mengalir. Badannya menggigil, demam, tapi tak ada seorangpun yang tahu keberadaannya kecuali si penculik yang tak punya hati nurani.
Sampai pada akhirnya, dia menghembuskan nafas terakhirnya, dengan keadan ingus yang meleber kemana-mana.
Tanpa terasa air mata gue mengalir juga mendengar ceritanya, gue gak bisa membayangkan kalau ada diposisi dia. Sakit, hancur, dendam bercampur jadi satu.
"Pilu bener kisah lo tong, terus mau sampe kapan lo kayak gini? Bocah kayak lo, harusnya udah tenang di syurga kan?"
" Aku gak tau kak, kenapa aku masih disini, aku cuma mau dilepas tali ditangan aku ini biar bisa lap ingus aku".
"Kalu tali yang itu yang dilepas, lo bakal bisa ngelap ingus lo sendiri?"
"Mungkin"
"Hmmmmh, coba sini"
"Kagak bisa tong, kayaknya musti tali yang asli yang ditubuh lo deh yang dilepas, buat sementara gimana kalo idung lo gue sumpal aja pakek ni tisyu?"
"Boleh kak, yang penting gak ngalir lagi, aku risih kalo sampe masuk kemulut".
"Oke,"
Gue jadi pengen ketawa sendiri liat tu bocah dengan sumpalan tisyu yang menjuntai dikedua lubang hidungnya.
"Dah, beres. Baek-baek ya tong, semoga jasad lo segera ketemu dan lo bisa tenang di alam yang baru".
"Terimakasih kak, jasamu takkan pernah kulupakan"..
Ia menghilang di kegelapan malam.
"Emang gue guru".
**
"Bangun Trok. . Woiii, bangun udah siaaaaang Telat lo ngampus!".
"Lah, mimpi gue". Syukur deh.
"Tapi kenapa gue megang tisyu" 😱😱
~~
Gue bergegas ke kampus, biasa masih bersama gembel yang setia. Dikampus terlihat teman-teman heboh dengan hapenya, ada apa, pikir gue.
Daripada kepo, gue lebih milih kekantin aja, laper.
Sampai dikantin semua orang sedang fokus menatap telvisi yang ada, terlihat berita
"Ditemukan jasad anak laki-laki di sebuah bangunan kosong"
Gue ikut nyimak,
"Pagi ini, disebuah bangunan kosong ditemukan seorang jasad anak laki-laki dengan kondisi tangan terikat dibelakang, kemungkinan ini adalah aksi penculikan. Diperkirakan anak tersebut meninggal kemarin malam. Selah polisi berhasil mengevakuasi korban, diketahui bahwa korban tersebut bernama Dana Pratama, anak dari. . . ."
Deg
Ini beneran?? Hilang sudah rasa lapar yang melanda. .
Terimakasih thankiyuuu sudah membaca.🥰
Salam umbel meler🤧🤧