Wanita muda yang melanggar prinsipnya sendiri karena terlibat kencan online, dan kini sedang menunggu pria tak jelas di sebuah cafe itu, bernama Elsa.
Elsa duduk di kursi sebuah cafe di pusat jajanan yang berlokasi di Serpong, Tangerang. Pusat jajanan itu tertata dengan baik, berupa barisan cafe dan kedai yang menjajahkan aneka ragam kuliner. Tempatnya juga tidak terlalu ramai, cukup nyaman dijadikan tempat ngobrol.
Rencana Elsa sore ini tidak hanya untuk ngobrol dan minum kopi. Ia tidak menyampaikan alasan sebenarnya keluar rumah saat berpamitan kepada ibunya, "Tidak mungkin aku bilang ke mama kalo aku ada rencana berjumpa dengan pria yang aku kenal dari aplikasi kencan online sore ini." ungkap Elsa dalam hati.
Mengakui bahwa ia memutuskan untuk mencoba kencan online bukanlah sesuatu yang ingin ia ocehkan kepada orang tuanya, bahkan dengan alasan ia sudah berusia 29 tahun dan belum memiliki calon suami. Elsa tak ingin menambah beban pikiran sang ibu. Ibunya adalah orang tua tunggal yang mengeluhkan berbagai hal sejak usia Elsa 18 tahun. Saat ayah Elsa meninggal kehidupan semakin terasa berat. Seperti tadi pagi , Silvia, wanita paruh baya yang bekerja sebagai penjahit di sebuah butik terkenal di Jakarta itu, mengeluhkan upahnya kurang untuk membayar tagihan rumah, dan listrik. Sementara sebagai penulis lepas, upah Elsa sama kurangnya seperti sang ibu. Jadi, obrolan tentang mencari kencan online, bukan hal yang tepat untuk dibicarakan sekarang.
Kencan sore ini tidak terjadwal di aplikasi Jodohku.lv seperti kencan yang dilakukan para pengguna lain aplikasi itu. Elsa bermain cerdas melakukan kencan tanpa meng-update profilnya di aplikasi, jadi tidak ada yang tahu bahwa ia dan seseorang pemilik nama pengguna Tampan26 membuat janji pertemuan sore ini. Elsa mengirim pesan pada Tampan26, "Baca pesan di WhatsApp kamu!" Elsa juga bermain aman dengan mengajak bertemu di tempat umum, "Kita bertemu di Arcan Cafe, Flavorblizz besok sore. Gimana?" Kemudian Tampan26 membalas, "Oke, see you soon!"
Pelayan wanita datang menghampiri meja kosong Elsa, "Mau pesan apa kak?"
"Cappucino dulu ya, satu!", jawab Elsa, ia adalah salah satu orang yang sangat bergantung, bernapas, bahkan bermimpi dengan cappucino. Oleh karena itu, semua karyawan Arcan Cafe memanggil Elsa sebagai Miss Cappucino.
Elsa sering menjejalkan secangkir besar cappucino kedalam hari-hari sibuknya saat menulis novel romantis. Mengendarai mobil ke sebuah tempat jauh dan sepi juga sering Elsa lakukan untuk menyegarkan pikiran dan mendapat inspirasi baru pada novelnya. Cappucino dan bepergian adalah sahabat baik yang selalu menemani Elsa menjadi penulis novel roman yang produktif.
Amelia si wanita pelayan cafe yang sudah akrab dengan Elsa, datang membawa secangkir cappucino, "Kok tumben gak buka laptop dan serius menulis kak?" tanya Amelia.
"Aku lagi menunggu seorang teman kencan Mel," jawab Elsa.
Amelia memutar-mutar seikat rambut kepangnya yang berwana ungu, "Asyik dong kalo gitu," ia meletakkan cappucino di meja, "Semoga sukses ya, kak Elsa!"
Elsa memeriksa arlojinya sebelum memandang wajah Amelia, "Kalo kencan terlambat 10 menit, tidak berarti jadi akhir dunia bukan?" Elsa melempar pertanyaan yang tidak butuh jawaban kepada Amelia.
Sang pelayan ramah itu tersenyum tanda setuju dengan pendapat Elsa.
Elsa menyadari jika kencan online ini gagal mungkin lebih baik dari pada mendapatkan kehancuran yang lebih buruk. Setidaknya ia merasa cukup beruntung berada di luar rumah di musim penghujan bulan Januari, karena angin sejuk berhembus saat hujan dan debu tertunduk takluk oleh air hujan. Hujan sore ini di Tangerang adalah hujan yang sejuk dan damai, bukan hujan yang disertai angin ribut yang mendesak Elsa untuk berteriak ketakutan. Ia selalu takut dengan hujan ribut semacam itu.
Silvia sang ibu meyakinkan Elsa untuk tetap tinggal di Kota Hujan Bogor, karena ibunya pikir penting untuk tetap dekat dengan anaknya, sampai Elsa benar-benar memiliki suami yang menjaganya. Meski rumah Elsa dan ibunya beberapa kali hampir ambruk karena tertimpa batang pohon besar yang roboh ditiup angin kencang saat hujan dan membuat Elsa trauma dengan hujan angin, Elsa sekuatnya bertahan tinggal di rumah itu bersama ibunya.
Elsa sering berkata pada dirinya sendiri, "Tinggal bersama orang tua bukan hanya penting, namun juga kewajiban. Teknologi modern tentu membantuku untuk menulis dimana saja."
Meski belum terasa cukup, namun Elsa mendapat royalti dari novel-novel yang ditulisnya. Ia biasa berkomunikasi dengan editor dan agen penerbitan melalui email dan telphone.
Amelia masih berdiri dekat meja Elsa, menatap pelanggannya yang sedang melamun, " Kak Elsa, ada yang lain mau di pesan?"
Elsa menggelengkan kepala, "Cukup deh Mel, ini dulu!" Elsa menatap ke arah pasangan muda-mudi di pintu masuk cafe, "Mel, tunggu! Bawakan kue seperti biasa ya!"
Amelia tersenyum, "Baiklah!"
Pelayan wanita yang baik hati itu kembali ke dalam dapur cafe, meninggalkan Elsa di meja kosongnya sendiri.
Seorang wanita dan seorang pria yang sama-sama muda, dengan celana panjang, kaos oblong, sepatu kets, dan ransel berdiri di depan pintu masuk sebelah dalam cafe. Sang wanita memakai blus lengan panjang berkancing. Kemejanya dimasukkan ke dalam celana ketat, dan ada ikat pinggang di sekelilingnya. Rambut hitam dan sedikit ikal yang tergerai.
Elsa bahkan menahan tawa saat melihat wanita itu menggunakan telunjuknya kepada si pria sambil sedikit rewel. Seolah-olah jari itu bagai tongkat komando yang dipatuhi oleh si pria. Sesaat kemudian Elsa benar-benar tak sanggup menahan geli, bukan karena penampilan fisik sang wanita yang baru masuk itu, namun kemarahan dan ceramahnya kepada sang pria membuat Elsa memikirkan ibunya yang cendrung dominan kepada almarhum ayahnya, bisa dibilang ibu Elsa memperlakukan ayahnya seperti bawahan.
Memikirkan ibunya membuat Elsa ingat lagi pada setiap pertanyaan mama Silvia tentang kapan Elsa akan menemukan pria dan menikah. Jika standar ibunya Elsa adalah pria seperti ayahnya yang bisa diatur-atur, sungguh itu sulit sekali menemukannya. Karena Elsa bukan anak milyuner yang bisa membuat pria manapun bertekuk lutut kepadanya.
Hanya beberapa kali Elsa bisa mendengarkan ibunya menanyakan pertanyaan-pertanyaan itu tanpa mengepalkan tangan atau membisikkan kata-kata ngedumel. Ditambah lagi, Elsa tidak bisa melupakan saat ibunya mengkritik mengenai tulisannya, "Menjadi penulis roman yang sukses saja tidak cukup, kamu harus membuat kisah novel itu menjadi kenyataan dalam kehidupanmu sendiri!" ujar ibunya.
Jelas sekali sang ibu tidak pernah membaca novel-novel yang ditulis oleh Elsa. Karena kebanyakan novel itu bercerita tentang kandasnya pernikahan atau pasangan yang selingkuh. Namun mama Silvia kerap menggunakan novel itu untuk membuat Elsa merasa tidak mampu mendapatkan cinta sejati. Silvia selalu menyebutkan kebingungannya tentang bagaimana kehidupan cinta Elsa yang gagal seharusnya menghentikan dia dari menulis novel roman, padahal Elsa selalu menggunakan kegagalannya dalam membina cinta sebagai sumber cerita di novelnya. Sang ibu tidak paham bahwa novel roman bukan berarti harus selalu tentang indahnya kehidupan cinta.
Elsa mampu membuat romansa terasa nyata dengan menyalurkan rasa frustrasinya sendiri ke dalam tulisannya, hal itu yang tidak pernah dipahami oleh ibunya, karena Silvia bukan tipe wanita yang senang membaca novel.
Untuk pemahaman ibunya, Elsa selalu berkata, "Aku tidak peduli, mudah-mudahan, kehidupan cintaku akan beres dengan sendirinya terlepas dari betapa frustrasinya itu," lagi pula menurut Elsa lagi, "Yang terpenting adalah menjadi penulis yang sukses berarti aku bisa membayar cicilanku sendiri dan tidak harus bekerja keluar rumah."
Terdengar suara langkah kaki.
"Ini dia, kak Elsa." Amelia meletakkan kue bolu di depan Elsa di atas mejanya.
"Terima kasih," ucap Elsa sambil gelisah di kursinya setelah memeriksa jam tangan.
Jadwal pertemuan kencan pertama itu mengalami keterlambatan yang terus berlanjut, namun masih belum menimbulkan kepanikan. Bahkan meski sudah terlambat 20 menit, itu wajar saja karena orang-orang terjebak kemacetan sepanjang waktu.
"Kak Elsa, udah datang orangnya?" tanya Amelia yang masih berdiri dekat meja Elsa.
Elsa menggelengkan kepala. "Belum," tersungging senyuman di bibir Elsa, "Tapi aku masih baik-baik aja kok Mel."
"Okelah kalo begitu kak," Amelia menggosok punggung Elsa dengan akrab, "Tapi aku kembali ke sini beberapa menit lagi, mudah-mudahan teman kencan kak Elsa, sudah sampai pas aku balik lagi."
"Oke Mel, kamu baik banget Sis.” jawab Elsa.
Elsa menyentuh cangkir cappucino di meja yang sudah tidak panas, kemudian ia menyesapnya. Campuran rasa manis dan pahit menyentak indera perasa Elsa sebelum ia meletakkan gelas kembali di atas meja.
Hembusan angin lagi meniup hingga menggoyangkan dahan-dahan pohon yang besar di tempat jajanan itu. Elsa mulai ragu dan berpikir mungkin saja Tampan26 membatalkan rencana pertemuan ini karena cuaca kurang mendukung, "Tidak, aku tidak boleh khawatir dengan gagalnya kencan pertama ini, aku bukan mama yang selalu khawatir dan menggangguku dengan wacana pernikahan." Elsa berkata-kata di dalam hati.
Elsa menatap lagi ke arah pasangan yang baru saja masuk cafe itu, mereka mendapat meja tak jauh dari meja yang ditempati Elsa, "Tidak perlu khawatir belum menikah atau tidak menikah," Elsa menyeruput cappucino, "Wanita itu memperlakukan suaminya seperti anak buahnya saja, jika aku menjadi istri pria itu, jangan-jangan aku justru yang menjadi bawahan si pria." ucap Elsa lagi dalam hati.
“Dia masih belum di sini?” Amelia bertanya lagi sambil membawa baki dengan beberapa cangkir ke seorang pelanggan.
Elsa tersenyum sambil menggelengkan kepala.
Elsa menyadari, mungkin ia harus memeriksa kembali apakah pria yang ia tunggu menghubunginya lewat aplikasi cari jodoh itu. Elsa membuka aplikasi itu di iPhone-nya dan memeriksa apakah ada pesan yang ia harapkan.
"Nggak ada pesan tuh," keringat mengucur di dahi Elsa saat ia mengetahui, "Wah, nih cowok hanya berjarak 50 meter dari sini." gumam Elsa saat membaca keterangan dari aplikasi kencan itu.
Kelopak mata kiri Elsa berkedut saat ia memalingkan pandang. Seorang pria dan wanita sedang tertawa saat mereka mendekati toko es krim di sebrang cafe dimana Elsa menunggu. Tawa mereka sangat akrab dan menggembirakan saat Elsa melirik sesaat foto Tampan26 di aplikasi kencan itu.
Amelia mengerutkan alis sambil datang menghampiri, "Ada yang salah kak?"
“Jalanan macet bukan masalahnya Mel," Elsa memandang sejenak ke arah Amelia memberi kode dengan matanya, "Sepertinya pria itu memiliki penawaran yang lebih baik."
Amelia memandang pria di depan toko es krim dan melirik foto di ponsel Elsa, "Ya ampun, dasar laki-laki ya! Jadi..."
"Pria yang seharusnya menemuiku untuk kencan itu baru saja masuk ke toko es krim di seberang jalan dengan wanita lain."
Amelia menghela napas, "hempp, udah kak, jangan dihiraukan, yang penting cappucino dan kue bolu sudah datang, dan ada aku teman yang siap menemani. Sebentar lagi shift-ku selesai."
"Terima kasih Mel!"
“Terima kasih buat apa? 30 menit lagi kita ngobrol ya kak! "
Amel mengepalkan tangan dan menahan kesal. “Aku sudah duga ini sejak awal Mel. Dia beberapa kali merubah-rubah jam pertemuan ini, itu menjadi petunjuk!"
Mata Amelia berbinar, "Serius kak?"
"Iya Mel, makanya aku bersih keras mau ketemu di cafe ini, karena aku tau dia cuma mempermainkan aku. Aku cuma mau buktiin teori aku ini ke sahabatku Amelia. hehehe..."
Amelia merangkul Elsa, sahabat baiknya sejak SMA, "Kamu emang cewek tangguh El..!" ucap Amelia, kini pelayan cafe itu tidak sanggup lagi bersikap sesuai standar pelayanan cafe, dengan bersikap elegan dan memanggil setiap pelanggan dengan kata, "Kakak".
Saat Elsa ada di rangkulan Amelia, "Setidaknya aku bisa menghindari cowok brengsek itu Mel. Bayangkan jika dia muncul, kami cocok, mulai berkencan, menurut aku mungkin dia tuan sempurna, hingga aku memergoki dia di ranjang dengan wanita lain!"
Amelia membuka rahangnya, “Jangan pernah membayangkannya El..!”
Peristiwa sore ini juga yang belum bisa dipahami oleh ibunya Elsa. Bahwa persahabatan seperti Elsa dan Amelia jauh lebih penting dipertahankan, ketimbang mengencani atau menikahi pria yang entah bisa setia atau tidak.
Atau seperti itulah yang ada di dalam pikiran Elsa.