Siapa yang tidak tertawa jika mendengar sebuah lelucon?
Mungkin hanya orang yang tidak berselera humor yang akan melahkukanya
Kebanyakan orang selalu tertarik dengan sebuah lelucon ketika suasana hati mereka sedang baik,begitu juga dengan Yogi seorang anak laki laki yang kini telah duduk di bangku kelas 3 SMA
Dia sangat suka lelucon,bahkan hari harinya sangat jarang tanpa sebuah lelucon yang diucapkannya,kebiasaanya itu juga membuat orang orang disekitarnya terhibur karena dirinya
Setiap hari dia mengucapkan lelucon atas kejadian lucu yang di alami temannya,pencapaiannya bahkan hal malang yang dia alami,namun beberapa minggu terakhir dia lebih aktif di sebuah blok lelucon di internet,hal itu bukan membuatnya semakin banyak mengucapkan lelucon lucu yang dia buat sendiri,namun dia malah sering mengucapkan lelucon yang dia dapat di blok itu,dan tak hanya itu,sesekali Yogi juga mulai memberikan Dark Joke kepada teman temannya
"Hidup itu singkat,maka terseyumlah,mumpung kamu masih punya gigi,jangan seperti pak Suripto,dia gak punya gigi" ucapnya suatu hari yang membuat seisi kelas tertawa
"Aduh kamu gi bisa aja! Tau tau aja kalo pak Suripto gak punya gigi" sahut salah satu temannya yang mendukung lelucon itu
"Hei gak boleh gitu! Dia guru kita! Harus dihormati!" bentak ketua kelas yang sedikit tidak setuju dengan lelucon itu
"Kalian tau gak kenapa dia dinamain ketua kelas?"
"Karena suka marah marah jadi cepet tua,mangkanya dia dipanggil keTUA! Hahahahha!!!"
"Hahaha bagus bagus!" ucap Yanuar sambil menepuk nepuk pundak Yogi
Fia adalah yang menjabat sebagai ketua kelas,dia merasa kesal dan langsung meninggalkan kelas itu
"Kalian tau,jika seorang gadis di beri hadiah sepasang sepatu roda,dia akan membuangnya sambil menangis" ucap Yogi lagi
"Kenapa?" tanya salah seorang teman yang duduk di sampingnya
"Karena dia tidak memiliki kaki hahahha!!" ucapnya sambil tertawa keras
Beberapa anak tertawa mengikuti Yogi,namun beberapa anak juga pergi dan kecewa dengan leluconnya barusan
Begitulah saat lelucon gelap yang mulai terucap di mulut Yogi,beberapa anak masih menyenanginya karena tidak menangkap dengan jelas isi dari lelucon itu,dan beberapa anak juga menganggapnya suatu penghinaan kepada seseorang
"Apa hadiah yang akan didapatkan seseorang yang tidak memiliki tangan saat berulang tahun?" ucap Yogi suatu hari
"Hem mungkin tangan palsu atau sesuatu yang bisa membantunya?" jawab Lisa yang mencoba menebak
"Tidak tau! Karena dia tidak bisa membukanya hahahha!" ucapnya tertawa
"Hem kurasa itu tidak lucu sama sekali!" kata Lisa yang pergi meninggalkan Yogi dan teman temannya
"Kenapa anak pintar kebanyakan memakai kacamata?" tanya Yogi lagi
"Karena mereka rajin membaca dan matanya sakit" jawab Yanuar
"Karena mereka memiliki empat mata untuk mencontek!" ucap Yogi yang tertawa terbahak bahak
"Ups ada mata empat" ucap Yogi lagi saat melihat Gio masuk ke dalam kelas
Gio hanya diam saat lelucon itu menyinggungnya,dia seorang anak laki laki yang tergolong pintar dan juga kebetulan dia memakai kacamata karena menderita minus sejak kecil
Semakin hari Yogi semakin jadi dengan lelucon buruk yang diucapkannya,suatu hari dia benar benar sangat keterlaluan dan menyinggung Gio yang sudah tidak memiliki seorang ibu
Di setiap lelucon Yogi,Gio selalu diam,bahkan jika lelucon itu menyinggungnya,namun kini Yogi sangat keterlaluan hingga menyebutkan salah satu hal sensitif di kehidupan Gio
Sore harinya ketika senja terlukis di langit kota itu,Yogi berjalan pulang sambil terus memainkan ponselnya di sepanjang jalan
Dia terus sibuk dengan ponselnya hingga dia sampai di sebuah gedung terbengkalai di kota itu,dia terlalu fokus dengan ponselnya hingga dia tidak sadar bahwa seseorang mengikutinya dan kemudian menyeretnya dengan paksa ke dalam gedung tua tersebut,dan entah apa yang dia lakukan hingga membuat Yogi pingsan
Beberapa saat kemudian,Yogi tersadar dari pingsannya,dia melihat dirinya diikat di salah satu tiang beton di dalam gedung kotor itu,seorang pria mendatangi Yogi dan mengatakan sesuatu
"Apa kau tau bagaimana sebuah kelopak mawar terlihat begitu indah?" tanya pria yang memakai baju putih dengan wajah ditutupi itu
"Ti..tidak!" jawab Yogi gemetar saat pria itu mendekat ke arahnya
"Saat aku mengukirnya di pipimu" ucayo pria itu sambil mengarahkan pisau kecilnya ke wajah Yogi,dan kemudian memainkannya
"Arghh! Tidak..!! Jangan lahkukan itu!!" ucap Yogi menangis menahan sakitnya
"Apa kau tau? Apa yang lebih segar dari air?" ucapnya yang membuat Yogi semakin bergetar ketakutan
"Darahmu..." ucapnya lirih sambil menjilat bagian tumpul pisau yang berlumuran darah
Yogi terkejut saat pria itu membuka penutup wajahnya,pria itu tidak asing baginya,pria itu tidak lain adalah Gio,teman sekelasnya yang sering menjadi bahan lelucon oleh Yogi
"Gi.. Gio?" ucapnya tak percaya
"Apa kau tau? Bagaimana aku kehilangan sosok ibu?"
"Dia dibunuh oleh seorang pria yang mencintainya walau dia tau ibuku telah menikah dengan ayahku"
"Dia membunuhnya di depan mataku!! Tepat di depan mataku!!" ucap Gio yang menangis dan berteriak sambil memegang kepala Yogi erat erat
"Ka..kau!" jata Yogi lirih sambil menahan sakitnya
"Dia terus menikam ibuku tanpa memperdulikan keberadaan ku yang melihat kejadian itu!"
"Dia tidak perduli! Tidak peduli sama sekali" lanjut Gio yang terduduk dan menangis
"Kemudian aku kehilangan dia, kehilangan ibuku!"
"Dan kau!! Kau seenaknya mengejekku karena tidak memiliki seorang ibu?" teriak Gio sambil berdiri dan mendekat ke arah Yogi
"Ma..maafkan aku!! Aku sungguh tidak sengaja melahkukan itu!!" ucap Yogi yang terbata bata
"Tidak sengaja? Baiklah aku akan bilang jika hari ini juga bukan sebuah kesengajaan" ucap Gio yang kemudian tertawa
"Tidak! Jangan! Ini bukan dirimu!!" ucap Yogi menangis
"Apa? Bukan diriku? Sejauh apa kau mengenalku!?" jawab Gio
"Jadi Gio menjadi seorang pcycopat karena kehilangan seorang ibu? Dan aku menyebut itu sebagai lelucon? Aku salah besar karena menggangunya,aku memang sangat keterlaluan!" ucap Yogi dalam hati ketika melihat api kemarahan menyala di mata Gio
"Ma.. maafkan aku!" ucap Yogi lirih saat ujung pisau itu menyentuh jantungnya
"Ini untukmu! Ini untuk menghinaku! Dan ini untuk kesediaan Ibuku!!" ucap Gio yang melampiaskan amarahnya
Kemudian dia melepas ikatan Yogi dan terus menatapi tubuh anak laki laki itu
"Maafkan aku ibu!!" ucap Gio sambil berteriak dan menangis di depan tubuh Yogi yang terbaring penuh darah
___THE AND___