Kau bisa berlatih sekeras mungkin, memeriksa setiap potongan peralatan, menyusun setiap rencana cadangan, dan tetap saja lemparan acak dadu nasib bisa mengacaukanmu.
-Robert Galbraith, Career of Evil-
———
Troy merasa dirinya terlahir sebagai pemenang.
Troy lahir di Hell City. Kota yang mana martabat setiap orang dipandang berdasarkan popularitas dan kekuatan. Setiap bulannya mereka melakukan turnamen untuk menentukan siapa yang terkuat. Hanya orang dengan popularitas tinggilah yang bisa mengikuti pertarungan tersebut.
Setiap masyarakat dapat mendaftar untuk mengikuti turnamen itu. Lalu, semua nama akan dibagikan ke seluruh warga Hell City, kemudian mereka diminta untuk melakukan voting terhadap peserta terdaftar. Hanya 30% pendaftar dengan voting tertinggilah yang dapat mengikuti turnamen.
Orang-orang terpilih inilah yang nantinya akan melakukan adu kekuatan. Bertarung hingga titik darah penghabisan, sampai keringat mereka mengering dan jiwa mereka terabaikan.
Bagi sang pemenang, ia akan mendapatkan segalanya. Martabat, kekuasaan, pengakuan dan harta. Sedangkan bagi siapapun yang kalah, mereka akan menjadi pecundang yang terbuang, tak diinginkan, tak di hiraukan dan tersisihkan.
Troy adalah petarung terkuat. Tak pernah kalah sekali pun sejak pertarungan pertamanya. Hingga suatu saat ia mendapatkan sebuah mimpi. Dalam mimpinya, ia masuk ke babak terakhir pertarungan melawan seorang lelaki dari keluarga Winston. Ia kalah telak. Semua orang tak lagi melihatnya sebagai yang terkuat. Tak ada lagi pujian. Pemujaan yang ia peroleh sirna seketika.
Troy ketakutan. Ia resah. Ia harus bertindak.
....
[Hari Pendaftaran Peserta Turnamen]
Troy melihat daftar peserta di tangannya. Ditatapnya nama Jared Winston di salah satu baris.
"Rob, buat semua pendukung Jared Winston, beralih mendukungku. Sehingga ia kehilangan pendukung. Buat dia tidak bisa mengikutin turnamen karena kehilangan vote!" perintah Troy kepada asistennya, Robert.
"Tapi bagaimana caranya, Troy? Kita tidak bisa mengatur kehendak orang lain," jawab Robert.
"Gunakan otakmu, Rob! Kau bisa melakukan segala hal! Paksa mereka! Kau juga bisa menyogok mereka dengan uang! Pokoknya lakukan apa saja." Troy mendengus lalu meninggalkan Robert hanya menghela nafas.
....
[Hari Perhitungan Vote]
Troy menatap daftar orang-orang yang mengikuti turnamen. Ia membanting kertas di tangannya.
"Aku sudah memberitahumu untuk membuatnya kehilangan pendukung, Rob! Kenapa ia masih masuk ke dalam 30% orang terpilih?" seru Troy sambil menatap Robert marah, hingga rahangnya berkedut.
"Aku sudah melakukan segala hal, Troy! Sudah ku bilang, kita tak bisa mempengaruhi kehendak orang lain! Jika kau memang setakut itu karena mimpimu, mengapa kau tidak pergi berlatih saja!" balas Robert.
"Aku sudah berlatih lebih banyak dari biasanya!!" Troy mendengus jengkel. "Buat dia celaka! Patahkan kakinya, atau bunuh saja dia! Jangan sampai aku melihatnya masuk ke dalam turnamen!"
"Kau keterlaluan, Troy! Aku tak mau berkerja denganmu lagi!" Robert berteriak marah ke arah Troy.
"Terserah apa katamu, aku bisa meminta anak buahku yang lain untuk melakukan tugasnya!" balas Troy semakin terbakar api amarah.
....
Anak buah Troy benar-benar melakukan apa yang ia perintahkan. Jared Winston cedera parah. Ia tak bisa mengikuti turnamen tersebut. Akhirnya Troy bisa bernafas lega.
....
"Sebenarnya apa yang menimpa mu, dik?" Abraham Winston menghambur ke arah adiknya yang tak berdaya di rumahnya.
"Aku hanya mengalami kecelakaan, Abe. Kau tak perlu berlebihan," jawab Jared kepada kakaknya.
"Kau jelas di keroyok!" balas Abe sambil menatap adiknya penuh selidik.
"Kau benar, adikmu di serang. Troy Black yang memerintahkannya," terdengar suara dari arah pintu.
Abe mengalihkan pandangannya ke arah sumber suara. "Siapa kau? Dan mengapa Troy mencelakai Jared?" tanya Abe, masih bingung.
"Aku Robert. Mantan asisten Troy," Robert menjabat tangan Abe. "Troy ingin memastikan bahwa Jared tidak bisa mengikuti turnamen. Karena ia takut kepadanya," terang Robert.
"Mengapa ia ingin menyingkirkan adikku? Padahal ia merupakan petarung terkuat di kota ini. Kemampuan Jared jelas jauh di bawahnya," kata Abe masih bingung.
Robert lalu menceritakan segalanya. Tentang mimpi Troy dan ketakutannya.
"Ia sudah salah karena berpikir seperti itu. Karena, ia malah membangkitkan singa yang tertidur, sekarang," dengus Abe.
Ya, Abe adalah mantan petarung yang sangat kuat. Ia hanya sekali mengikuti turnamen lalu tertidur. Kabarnya ia tak ingin mengikuti turnamen itu lagi, dan memutuskan untuk tidur selamanya.
Akan tetapi, kondisi sekarang membuatnya bangun dan berniat untuk balas dendam.
....
[Hari Pertandingan Final]
Troy berhasil menghabisi semua lawannya. Dia akhirnya tiba di babak final. Ia tak sabar menunggu untuk menghabisi lawan selanjutnya.
Tiba-tiba sorak sorai penonton semakin bergemuruh. Tat kala Abraham Winston memasuki arena. Troy menatap kaget ke arah Abe.
"Kenapa Troy? Terkejut melihatku?" kata Abe meremehkan.
"Kupikir kau sudah berhenti bertarung," kata Troy sambil menelan ludah gugup.
"Awalnya begitu, tapi aku merubah rencanaku." Abe tersenyum sinis. "Kau tau,Troy? Seandainya kau tak terlalu berambisi hingga menggunakan taktik-taktik kotor. Mungkin kali ini kau akan menjadi pemenang kembali, karena jelas Jared memiliki kemampuan yang berada jauh di bawahmu. Namun karena ambisimu yang berlebihan, kau malah membangunkan singa yang tertidur ini untuk menggantikan Jared." Tubuh besar Abe menghampiri Troy dan memukul wajahnya kuat.
Penonton bersorak riuh. Pertandingan di mulai dengan panas.
Troy berusaha melawan, tapi pukulan Troy tidaklah mematikan untuk Abe.
"Kau memukulku seperti wanita saja, Troy," komentar Abe sinis. Ia lalu Memukul wajah Troy sekali lagi hingga wajahnya terlempar. Abe tak membiarkan Troy bernafas. Ia menddang kuat perut Troy hingga ia jatuh ke tanah. Abe menginjak kepala Troy kuat. Mengangkat tubuhnya dan membantingnya ke tanah. Suara sorak sorai penonton semakin ramai.
Troy sudah lemas tak berdaya di tanah. Abe menginjakkan kakinya di perut Troy. "Nikmati kekalahanmu, Troy," kata Abe sambil meludah ke wajah Troy.
Abraham Winston menjadi pemenang turnamen tersebut, dan Troy telah mewujudkan mimpinya sendiri. Ia sekarang menjadi pecundang yang menyedihkan karena ambisinya yang berlebihan. Karirnya harus hancur karena kesalahannya. Semua yang ia takutkan menjadi kenyataan. Usahanya selama ini menjadi tak berarti.
End/Selesai