Judul Cerpen : Hancur Harapanku
Tema : Kecewa
Genre : Teen
Penulis : Yuni Ayu Izma
Pagi telah menjelang, matahari mulai menyitari seisinya. Semua orang melakukan aktivitasnya masing-masing. Seorang perempuan yang berpakaian lengkap hitam putih disertai jas khas kampusnya. Wanita itu bernama Liyuka, Liyuka merupakan salah satu mahasiswa di perguruan tinggi swasta yang saat ini sedang melakukan tugasnya untuk memenuhi tugas mata kuliah kerja komunikasi.
Drt... Drt...,
Liyuka menatap sekilas pada layar ponselnya yang menunjukkan bahwa ada panggilan masuk dari ponselnya.
"Wa'alaikumsalam, ada apa?" jawab Liyuka mengangkat panggilan masuk di ponselnya.
"Apa benar ini namanya Liyuka yang ingin magang KKK di tempat perusahaan D," ucap seorang pria dari seberang sana.
"Iya benar, saya sendiri orangnya." jawab Liyuka antusias.
"Bisakah datang kemari sekarang, karena direktur ingin bertemu." sahut seorang pria di balik ponselnya.
"Baiklah." jawab Liyuka dan mengakhiri sambungan masuk di ponselnya.
"Bismillahirrahmanirrahim, semoga semua orang mau menerima keberadaanku dengan baik," gumam Liyuka menatap pantulan dirinya di depan kaca kamar.
"Ayah, aku sudah siap. Mari kita berangkat karena aku mahasiswa magang dan harus datang ke perusahaan D." gumam Liyuka berdiri di depan Ayahnya yang sedang duduk santai sambil memegang koran yang dipegangnya.
"Baiklah, ayo ayah antar kesana." balas Ayah Liyuka berdiri dari duduknya.
***
Di sebuah bangunan megah dan indah, terlihat Liyuka telah berdiri di depan perusahaan D. Liyuka melangkahkan kakinya masuk ke dalam perusahaan.
"Assalamualaikum, Pak. Saya mahasiswa yang ingin magang di tempat perusahaan ini dan tolong Pak, bisakah antarkan saya ke bagian direktur," ucap Liyuka berdiri di depan Satpol PP yang sedang berjaga di dalam ruangan.
"Wa'alaikumsalam, mari saya antar." jawab Satpol PP ramah.
"Nona, Ini ruangannya dan bisa langsung masuk dulu di bagian sekretaris dan nanti bagian sekretaris akan memberikan kabar dulu kepada direktur untuk bertemu." jelas Satpol PP berdiri di depan Liyuka dan mempersilahkan diri untuk mundur dari hadapan Liyuka.
Tok! Tok! Tok!
"Assalamualaikum," ucap Liyuka di depan pintu ruangan sekretaris.
"Wa'alaikumsalam, masuk." jawab seorang wanita berhijab yang sudah memasuki kepala empat.
"Perkenalkan Bu, Nama saya Liyuka dari kampus S . Prodi Ilmu komunikasi dan maksud dari kedatangan saya kemari ingin mengajukan magang KKK Bu. Bu, saya ingin menanyakan perihal surat balasan. Kalau boleh tahu sudah ada belum Bu?" ucap Liyuka yang sudah duduk di depan Ibu berhijab merah yang jabatannya sebagai sekretaris.
"Oh mahasiswa yang magang kkk itu?" tanya Lena, wanita berhijab merah itu dengan menatap remeh ke arah Liyuka.
"Kamu mau magang bagian mana?" Lanjut Lena.
"Bu, kalo bisa boleh gak saya mau di tempatkan di bagian bendahara direktur." jawab Liyuka menatap kedua bola mata Lena.
"Kamu itu jurusan komunikasi, tidak pantas magang ke tempat itu. Kamu bagian komunikasi saja atau umum. Kalo umum kamu hanya memberikan cap stempel dan nomor surat. Kamu tetap di hubungan komunikasi." jelas Lena panjang lebar.
"Baik bu, Oh iya Bu untuk surat balasan sudah bada belum?" tanya Liyuka lagi.
Seorang pria berjalan mendekati Yunma dan ia duduk di sebelah Ibu Lena. "Kamu mahasiswa yang magang itu?" tanya Jordan menatap intens ke arah Liyuka.
"Iya pak, benar." jawab Liyuka singkat.
"Surat balasan sudah kamu buat belum, Risa?" tanya Leni mengalihkan pembicaraan.
"Sudah Bu, tinggal tanda tangan sama Pak Jordan." jawab Risa melangkahkan kaki menuju ke arah Liyuka dan Lena. "Ini bu berkas surat balasannya." ucap Risa menyerahkan berkas surat balasan di depan Lena dan Jordan.
Jordan berdiri dari duduknya dan hendak berjalan menjauhi Yunma dan Lena. "Kalian suruh saja tanda tangan dengan Pak Direktur, aku tidak mau mendatanginya." jawab Jordan dingin.
Liyuka yang mendengar ucapan dari Pak Jordan, ia mulai merasa kecewa.
"Bagaimana Bu, Apa saya diterima magang KKK disini?" tanya Liyuka menatap kasihan di depan ibu Lena.
"Kamu tenang saja, kamu maganglah disini dan pasti kamu diterima." jawab Lena mantap.
"Baiklah Bu, terima kasih," ucap Liyuka singkat.
Liyuka berjalan menuju ke arah pintu luar ruangan dan ia mendengar dirinya menjadi topik pembicaraan.
"Liyuka, kamu harus sabar dan semoga aku jadi anak yang sukses dan dapat dibanggakan oleh kedua orang tuaku. amin," kata Liyuka dalam hati.
***
Keesokan harinya, Liyuka datang lebih awal dari pukul masuk. Liyuka duduk di ruang tunggu dan ia pun mengikuti upacara absen kepegawaian.
Setelah setengah jam berkumpul dan mendengarkan berbagai penjelasan dari Direktur. Akhirnya, semua kepegawaian dan Liyuka pun bubar. Disaat Liyuka ingin masuk ke dalam ruangan humas, ia melihat ada dua wanita yang seumuran dengannya bekerja disana yang berhasil bekerja tetapi tidak kuliah. Mereka membuang muka dan berkomat-Kamit seperti membaca mantra.
"Huft, ada-ada saja tidak orang," gumam Liyuka pelan.
***
"Dek, tolong antarkan berkas surat ini untuk diberi cap dan nomor suratnya." titah Rena yang bekerja satu ruangan dengan Liyuka.
"Baik Bu." jawab Liyuka singkat.
Liyuka berjalan menelusuri setiap lorong ruangan dan sampailah di sebuah ruangan yang terlihat lebih besar dan cocok menampung puluhan orang. Liyuka berdiri di depan pintu ruangan umum dan ia mengetuk pintu sebelum masuk.
Tok! Tok! Tok!
"Assalamualaikum," ucap Liyuka.
"Wa'alaikumsalam," jawab mereka serempak.
"Permisi Bu, saya mau minta cap stempel dan nomor surat." imbuh Liyuka menyerahkan berkas di depan seorang wanita yang sedang duduk mengobrol dengan rekan kerjanya.
"Iya." jawab wanita itu singkat.
"Dek, apa kerjaanmu?" tanya Ibu yang sedang fokus menatap layar komputer.
"Banyak Bu, masih mau menulis laporan." jawab Liyuka.
"Kamu bantu Ibu mengetik saja," ucap Wanita berhijab biru itu yang sedang duduk di meja untuk mengerjakan tugas di ruang umum.
"Maaf Bu, saya masih ada kerjaan lain dan kemungkinan belum bisa bantu." jawab Liyuka berdiri di depan Wanita itu.
"Kamu kalo mau nilai bagus harus mau membantunya kalo tidak mau, jangan harap mendapatkan nilai yang bagus." celetuk Pak Jordan yang sedari tadi mengawasi gerak-gerik Liyuka.
"Bagaimana ini? Tugasku untuk menulis laporan belum selesai dan pastinya nanti ditunggu laporanku cepat selesai. Sekarang aku disuruh oleh ruangan lain untuk menyelasaikan laporan mereka. Astaghfirullah, ya Allah berikan aku kesabaran untuk menghadapi cobaan ini." kata Liyuka dalam hati.
"Maaf, saya belum bisa karena tugas saya belum selesai," ucap Liyuka.
"Oh begitu, kalau begitu keluar dari sini dan jangan pernah menginjak tempat ini lagi," titah Jordan menatap tajam ke arah Liyuka.
"Kalian semua, lihat dia dan ingat wajahnya jangan pernah beri dia masuk ke perusahaan ini lagu, bila perlu coret namanya di setiap perusahaan agar ia tidak dapat melamar pekerjaan." lanjut Jordan.
Deg!
Tiba-tiba, jantung Liyuka berhenti berdetak setelah mendengar setiap perkataan dari Jordan.
"Pak, maafkanlah saya. Saya tidak bermaksud menolak tetapi saya beneran ada kerjaan," ucap Liyuka.
"Kau dengar sendiri dan ngapain kamu masih disini. Pergi kamu dan jangan kesini lagi." celetuk seorang wanita berhijab biru yang tadi menyuruhnya.
"Baiklah saya permisi dulu, assalamualaikum," ucap Liyuka menunduk dan membalikkan badannya menuju keluar pintu ruangan.
Liyuka terus berjalan dan membiarkan buliran kristal membasahi wajah cantiknya.
Hiks! Hiks!
"Apa salahku, Tuhan," gumam Liyuka dalam hati.
"Aku disalahkan atas kesalahan yang bukan aku lakukan." lanjut Liyuka.
"Semoga saja semuanya baik-baik saja," ucap Liyuka tulus terus berjalan menelusuri jalan raya menuju ke arah rumahnya.
#Tamat