Berulang kali Mei mengajukan protes pada penggagas ide pertama terciptanya pagar kayu yang memagari rumahnya hampir setinggi 2,5 meter itu, namun hasilnya tetap saja sama hanya gelengan kepala dua kali dari Ayah yang menjadi jawabannya. Dengan rasa bosan Mei masih sempat menggerutu di teras rumah tanpa berani melakukannya di depan Ayah.
Suasana senja menuju malam yang mendung, sedikit mengaburkan pandangan Mei yang menyipitkan matanya berulang kali untuk memastikan bahwa memang benar ada sosok mematung yang terlihat dari antara celah pagar kayu rumahnya. Berjarak hanya kurang lebih 5 meter, dengan cepat Mei sudah tepat berdiri di depan pagar dan memunculkan tubuhnya keluar.
Sosok itu terlihat terkejut dengan wajah tampan berwibawa paruh baya miliknya. Ia mundur selangkah, menunduk dan bersiap berbalik.
“Anda mencari siapa?” Pertanyaan Mei mencegah niatnya melangkah.
Ia memandang Mei, sedikit ragu tapi akhirnya benar-benar memilih berbalik dan melangkah dengan terburu-buru. Setelah mengerutkan kening menatap punggung pria paruh baya itu menghilang, Mei berdiri menatap dengan kesal pada pagar kayu rumahnya.
Setelah beberapa hari atau lebih tepatnya 4 hari kemudian, saat Mei sedang menggerutu sambil menyapu teras yang dipenuhi dedaunan kering, sosok pria paruh baya itu muncul kembali dan Mei jelas melihat dari celah-celah pagar kayu rumahnya. Dengan rasa penasaran dan keyakinan bahwa pria paruh baya itu sengaja mendatangi rumahnya, Mei membanting sapu ditangannya begitu saja dan segera berlari menuju pintu pagar rumahnya.
“Bisakah kau bicara dari situ saja?” Suara lembut khas pria paruh baya itu mencegat tangan Mei yang sudah menyentuh pagar kayu.
Dengan sedikit bingung Mei mengiyakan dan berdiri dibalik pagar kayu yang membatasi dirinya dengan pria paruh baya itu. Kini mereka hanya bisa saling melihat dari celah pagar kayu yang diyakini Mei bahwa meski hanya dari celah pagar kayu yang setinggi 2,5 meter ini, dia mampu melihat sosok tampan dan rapi yang hampir sempurna.
Mei menebak bahwa umurnya mungkin terpaut hampir 10 tahun dari Ayahnya. Tubuhnya cukup tinggi mungkin lebih dari 175cm, menggunakan kemeja dan celana formal layaknya karyawan perusahaan. Mei menebak dalam hati bahwa dia adalah petugas asuransi atau semacamnya. Atau Ayah menunggak di Bank?
“Kemarin anda sudah kemari kan? Anda mencari siapa? Atau ada hal lain?”
“Oh tidak, aku hanya ada sedikit keperluan dengan Januar.” Sedikit tergagap namun Mei tidak menaruh curiga sedikitpun.
“Karena ini hari Kamis, Ayah biasa pulang jam 8 malam. Anda bisa kembali lagi nanti atau ada...
"Bolehkah aku tetap berdiri disini?”
“Hah, apa?” Mei mengerutkan kening, aneh sekali pria ini batin Mei merasa lucu bukannya takut.
“Yah... Kalau kau tidak keberatan, sungguh aku tidak bermaksud apa-apa. Karena rasanya akan aneh sekali jika aku menunggu didalam karena tidak ada orang lain selain kau di rumah.”
Mei tertawa karena merasa pria paruh baya itu sangat takut padahal ia tidak bertanya dan mengatakan apapun. Mei bahkan lebih heran mengapa ia mau berdiri seperti orang bodoh didepan pagar dengan berbicara dari balik celah-celah pagar kayu ini. Mungkin Mei hanya merasa dia seorang teman Ayah yang sama baiknya seperti Ayahnya. Setelah hanya diam sekitar 15 menit, pria itu pamit dengan alasan ia lupa bahwa masih ada urusan lain yang harus segera dilakukannya.
Ketika Mei ingin menceritakan perihal kedatangan pria itu kepada Ayahnya, ia mendapati meja makan hanya menyisakan segelas susu yang sudah di minum setengah beserta piring yang sudah licin dari nasi goreng khas sarapan pagi Ayah. Begitupun malam harinya, ketika Mei baru pulang dari perpustakaan lampu kamar Ayahnya sudah mati dan berganti dengan suara dengkuran halus.
Memilih untuk tidak menceritakan pada Ayahnya, sosok pria paruh baya itu terus muncul setiap 3 kali dalam seminggu dengan alasan yang sama. Seolah tidak menjadi masalah dan Mei pun menikmatinya, obrolan sekilas dan sepatah dua patah yang berdurasi hanya 10 atau 15 menit itu menyisakan kesan manis dan indah dihati Mei. Seakan menjadi rutinitas dan kewajiban Mei selalu menantikan pria paruh baya itu dan menunggunya dengan setia.
Saat itu, hari Senin dengan langit cerah pada pukul 4 sore Mei berlari menuju pagar kayu yang dulu begitu dibencinya dengan perasaan bahagia. Mei melihat bahwa pria paruh baya itu tersenyum sangat manis dan luar biasa tampan untuk dirinya, tidak peduli kenyataan bahwa dari celah-celah pagar kayu tersebut Mei bisa melihat satu dua orang yang lewat memasang wajah aneh dengan dahi mengernyit melihat apa yang mereka lakukan.
“Bolehkah saya tahu siapa nama anda?” Di menit pertama Mei langsung bertanya.
Pria itu sedikit terkejut namun hanya menjawab dengan senyum. Mei tidak memaksanya namun masih tetap bertekad untuk bertanya esok dan seterusnya.
“Apakah saya mirip dengan istri anda?”
“Ya, sangat mirip. Namun dengan sedikit perbedaan tentunya. Tapi... Dia bukan istriku maksudku belum menjadi istriku.”
Setelah melontarkan pertanyaan itu Mei menyesalinya dan berharap bisa mendengar jawaban yang lebih bisa menggetarkan hatinya. Mei terdiam sesaat sambil berperang dengan dorongan yang bermunculan dikepalanya, dan keinginan besar di hatinya memuntahkan segala kata dari bibirnya.
“Sudah lebih dari 2 bulan anda dan saya terus bicara di antara celah pagar kayu ini dengan alasan kedatangan anda yang tidak saya permasalahkan dari awal, bisakah anda memberi saya jawaban yang bagus untuk pertanyaan saya yang satu ini?”
Setelah menghelang nafas, ia mengiyakan yang Mei pun tahu bahwa sangat sulit untuk dilakukannya.
”Bisakah anda memberikan posisi kekasih anda kepada saya?”
“Apa?”
“Mungkin terdengar memalukan tapi saya menginginkan posisi kekasih di kehidupan, di hati, dan di pikiran anda.”
“Aku... Tidak... Bukan begini seharusnya.”
“Anda ingin mengatakan bahwa selama ini anda tidak menganggap saya sebagai wanita?”
“Kau... Akan menyesalinya Mei.”
Setelah mengucapkan kalimat dengan akhiran namanya, pria paruh baya itu segera berbalik yang disusul Mei dengan membuka pagar kayu rumahnya untuk berlari mengejar pria paruh baya itu bukan untuk menanyakan mengapa ia menolak dirinya tapi mengapa baru sekarang dia menyebut namanya.
Mei kehilangan sosoknya begitu ia sudah berlari keluar pagar. Menyesali mengapa ia tidak pernah merasa puas dengan apa yang dapat ia nikmati saat ini. Meski bukan hati pria paruh baya tersebut tapi, kebersamaan mereka yang selalu dapat membuat Mei menjadi tidak karuan.
Di minggu pertama, Mei masih menunggu ia datang walau hanya sekedar berdiri mematung bagai sebuah karya seni dengan wajahnya yang tampan rupawan. Mei menunggu di teras sambil sesekali berdiri juga mondar-mandir dengan sedikit harapan tipis yang ia miliki. Perasaan menyerah menghampirinya setelah minggu ke tiga. Meski Mei sudah mampu untuk tidak lagi menanti tapi, kenangan yang lebih dari 2 bulan terjadi bersama pria itu masih tersimpan rapi di ingatannya.
Bahkan Mei menertawai dirinya yang masih menghafal dengan jelas setiap warna kemeja dan celana formal yang dikenakan pria itu setiap kali bertemu dengannya.
“Sepertinya hanya butuh satu langkah lagi menuju Rumah Sakit Jiwa.”
Mei memutuskan untuk tetap mengingat bahwa hari ini adalah hari ke 34 sejak terakhir kali pria paruh baya itu berbalik pergi meninggalkannya. Mei memilih menginjakkan kaki ke teras rumah setelah mengurung diri sekitar 13 hari lamanya. Mata Mei seketika menyipit lalu terbelalak saat mengetahui bahwa pagar kayu yang tingginya mencapai 2,5 meter yang biasa menjulang itu kini berganti dengan pagar rumah normal pada umumnya yang hanya mencapai 1,5 meter.
Meski merasa senang namun ada sedikit kesedihan dalam senyum Mei. Tapi tak apalah, begini mungkin jauh lebih baik, Mei membatin dalam hati. Ia mencari Ayah untuk membicarakan perihal pagar dan malah menemukannya di meja makan dengan laptop yang terbuka.
“Tumben sekali Ayah bekerja di meja makan, ada banyak sekali pekerjaan?”
“Duduklah.”
Ayah memutar laptop agar layarnya tepat menghadap tatapan Mei, bukan pekerjaan Ayah yang terlihat di layar melainkan sebuah video berita. Mei menoleh sekilas menatap Ayahnya lalu beralih fokus untuk menatap layar laptop yang videonya sudah mulai diputar.
Pembaca berita menyebutkan bahwa ada sebuah kasus bunuh diri seorang pria karyawan sebuah perusahaan informasi dan komunikasi sehari yang lalu di sebuah kawasan elit. Tidak diketahui secara pasti penyebab bunuh diri tersebut namun dilakukan dengan cara gantung diri di kamarnya.
Beberapa informasi para tetangga menyebutkan bahwa pria tersebut adalah seseorang yang dapat bergaul dengan baik dengan orang-orang di sekitarnya. Ia juga seseorang yang lebih memilih hidup seorang diri di usia paruh baya hingga akhir hayatnya. Dan para tetangga melihat wajahnya yang murung hampir sebulan belakangan ini.
Berita kembali berlanjut dengan penampakan rumah besar dan mewah pria tersebut beserta fotonya yang tampan rupawan menggenakan jubah toga terpampang jelas di dinding rumahnya.
Sekujur tubuh Mei gemetar. Berita terus berlanjut namun telinganya hanya berdenging tanpa tahu apa yang disampaikan si pembaca berita selanjutnya. Mei hanya menunduk dengan jantung yang berdetak sangat cepat tidak beraturan. Telinganya masih saja berdenging dan kepalanya terasa sangat sakit.
Mei menatap kakinya dilantai yang juga bergetar. Ayah menepuk pundaknya sekali dan kemudian bangkit berdiri mematikan laptopnya. Ayahnya membawa pergi laptop dan membiarkan Mei seperti itu sampai Mei sadar bahwa ada yang harus ia tanyakan kepada Ayahnnya. Mei membutuhkan waktu hampir satu jam untuk dapat mengatasi tubuh gemetar, telinga berdenging, dan detak jantungnya. Bahkan Mei tidak sadar bahwa ia tidak mampu menangis.
Mei menemukan Ayahnya sedang menulis di meja kerjanya. Ayah menyuruhnya duduk sambil matanya tak lepas dari kegiatan menulisnya.
“Ayah...”
“Mei apa kau dapat memaafkan sebuah pengkhianatan?”
Mei terpaksa mengurungkan ucapannya karena kalimat pertanyaan Ayahnya yang terdengar asing di telinga.
“Kurasa.. Itu adalah hal yang sangat sulit.”
“Berarti aku tidak perlu memaafkan pengkhianatan yang sudah di lakukan oleh Ibumu dan kekasihnya kan?”
Mei mengangkat kepalanya, Ayah tersenyum tipis dan memasang wajah asing yang tidak pernah di jumpainya selama ia hidup bersama Ayah. Mei ingin bertanya, apakah kesalahan fatal Ibunya yang telah meninggal dunia saat melahirkan dirinya adalah sebuah pengkhianatan yang membuat lubang besar tak terobati di hati Ayah?
Tapi Mei tidak mempunyai nyali untuk itu. Mei bahkan tidak berani lagi menatap wajah asing Ayah dengan senyum tipisnya yang kaku. Karena yang ia tahu Ayahnya itu adalah seseorang yang sangat serius dalam hal apapun apalagi perkataannya.
“Setelah Ibumu melakukan pengkhianatan dan menghasilkan dirimu, aku sudah merasa puas hanya dengan merawatmu dengan baik untuk membuat Ayahmu mati dengan tersiksa.”
Meski terkejut tapi Mei berusaha untuk tidak gemetar. Tapi usahanya sia-sia karena sedetik kemudian tubuhnya gemetar meski tidak sehebat tadi.
“Sekarang, keduanya telah mati. Apa kau pikir aku akan tetap membiarkanmu?” Suara Ayah yang bukan Ayahnya itu terdengar sangat asing, dingin, dan menakutkan.
Mei mengangkat kepala walau tidak berani menatapnya. Ia memilih menatap lemari buku di sebelah kiri hadapannya yang seakan mengejek Mei dan menertawakannya.
“Aku... Harus bagaimana?”
“Pergilah jauh, kemanapun. Jangan biarkan aku menemukanmu. Larilah sekarang juga sampai tidak terlihat lagi olehku. Karena jika aku melihatmu, aku tidak akan membiarkanmu tetap hidup.”
Mei bangkit dari duduknya, berjalan goyah namun pasti untuk menyelamatkan hidupnya yang seakan mati. Sebelum menutup pintu ruang kerjanya, Mei mencoba menatap wajah yang sudah membesarkannya seorang diri dengan begitu besar rasa benci terhadap dirinya yang mampu dipendam selama 22 tahun.
Mei ingin mengucapkan kata terima kasih atas segalanya yang ia berikan selama hidupnya namun tercekat karena Ayah yang bukan Ayahnya itu tersenyum sambil berkata.
“Tutup pintunya sekarang, dan larilah karena aku akan mengejarmu jadi pintarlah bersembunyi.”
Seperti diperintah, setelah membanting pintu Mei berlari sekuat tenaga meninggalkan rumah yang ia tinggali selama 22 tahun itu. Ia sempat melihat pria itu berdiri di teras rumah menatapnya. Mei terus berlari dengan tekad untuk tidak melihat lagi ke belakang.
Telapak kakinya yang telanjang terasa sangat sakit karena ia paksa untuk berlari. Mei tidak menangis, bahkan tidak setetes pun. Ia hanya menyesali akan tatapan merana Ayahnya dari celah-celah pagar kayu yang selalu ia gunakan untuk menatap anaknya dalam merananya menahan rindu puluhan tahun hingga akhir hayatnya.
“Maafkan aku Ayah, aku bersalah.”
-Tamat-