Lunara Aurora, nama cantik yang diberikan oleh kedua orang tuaku. Teman-teman memanggilku Luna. Aku salah satu siswi kelas 12 di SMA Negeri daerah Bandung.
Aku memiliki 3 sahabat yang sangat dekat denganku. Namanya, Gisel, Manda, dan Viola. Kami berteman sejak duduk dikelas 10 dan menjadi semakin dekat. Kebetulan juga kita berempat juga selalu satu kelas. Bagai anak kembar 4, kami selalu bersama dimanapun dan kapanpun. Hingga semuanya mulai berubah...
1 tahun yang lalu,
Aku terpilih sebagai sekertaris OSIS. Tentu saja hari-hari ku bertambah sibuk dengan berbagai macam kegiatan OSIS dan sekolah. Sebagai sekertaris, aku cukup dekat dengan ketua OSIS disekolahku, maklumlah kebanyakan kegiatan mengharuskan ku untuk selalu bersama dia.
Adrian, adalah ketua OSIS di sekolahku sekaligus pacar sahabatku Viola. Adrian dan Viola baru berpacaran 1 bulan belakangan. Jadi, belum banyak yang tau mengenai hubungan mereka. Sebagai sahabatnya tentu aku sangat mendukung hubungan mereka. Apalagi aku tahu, Adrian adalah laki-laki yang baik dan bertanggung jawab.
Jika dibilang seberapa dekat hubungan ku dan Adrian. Kami tidak sedekat itu menurutku, hubungan kami hanya sebatas teman. Hanya saja karna sering kemana-mana berdua, banyak yang menggosipkan kami berpacaran.
Awalnya aku santai saja mendengar semua gosip-gosip itu. karna aku tau, Viola pasti percaya padaku dan pacarnya. lagi pula, aku dan Adrian juga tidak pernah melakukan kontak apapun kecuali dalam urusan organisasi.
Pada hari Sabtu, sekolah mengadakan acara pentas seni. Sebagai sekertaris dan Ketua. Aku dan Adrian banyak menghabiskan waktu berdua seperti kegiatan yang sebelum-sebelumnya. Hanya saja, kali ini sedikit melelahkan karna kegiatan yang sudah kami rapatkan selama berhari-hari berubah total saat hari H. Memang terkadang Ekspetasi tidak sesuai dengan Realita.
Aku merasa sangat stress hari ini hingga ingin menangis sekeras-kerasnya. Mungkin merasa kasihan melihatku, Adrian berusaha mengajakku bercanda untuk melupakan masalah ini sejenak.
"Lun,," panggilnya
"apa?" tanyaku lelah
"Jangan stress gitu dong.. Kakanda sedih lihat Adinda suntuk kayak gitu" katanya lebay
"Cie.. Cie..." sorak anak OSIS lainnya yang mendengar perkataan Adrian
"Bego" kataku menanggapi ocehan Adrian yang tidak bermutu
"Kak Lun, nggak boleh gitu Kakang Adrian kan jadi sedih" goda salah satu anggota OSIS kelas 10
"Kak Luna jahaddd bangedd sama Kakang Adrian" tambah seseorang diantara mereka lagi
"Bener-bener bego semua" kata ku lelah
"Whahahhaha" tawa mereka menggelar mendengar perkataan ku
"Udah Ayo.. Kakang ajak Adinda berkelana, biar nggak suntuk lagi" katanya sambil memamerkan banyak uang mainan
"Boleh deh.. Cuslah" kata Dino mengikuti kegilaan Adrian
"Adinda ingin membeli apa?" tanya Adrian menggandeng tangan Dino yang seolah-olah menjadi aku sambil berjalan mengelilingi ruangan OSIS
"Adinda mau apa aja, yang penting bersama Kakang" kata Dino menanggapi Adrian yang bertambah gila
"Cie... cie..
jiwa jombloku meronta-ronta liat mereka" sorak anak osis yang lain
"kamu anak kecil ikut campur urusan orang gede" kata Adrian pura-pura marah
"Udah Kakang, hukum aja dia" kompor Dino
"Ampun.. yang mulia jangan hukum hamba yang malang ini" katanya berpura-pura menangis tersedu-sedu
"Kakang lebih milih wanita ini ketimbang adinda, sungguh kejam dirimu padaku kakang" kata Dino menatap tak percaya
"Dinda,, kakang bisa jelaskan ini" kata Adrian berusaha memegang tangan Dino
"tidak jangan sentuh aku.. aku jijiq" kata Adrian lalu berlari keluar dari ruang OSIS
"Kakang Adrian tunggu Dinda Luna" kata Dino yang masih berakting menjadi aku lalu mengejar Adrian
"mereka emang benar-benar bego ya?" kata gue tercengang dengan kelakuan Dino dan Adrian
"Hahahahahha" sementara yang lain tertawa terbahak-bahak melihat adegan tadi
"Udah ayo ke Lapangan indoor lagi" kataku lalu pergi bersama dengan mereka
Keesokan harinya, aku yang udah kelewat capek + males ngapa-ngapain. Cuma duduk nyantai didalam kelas sambil main hape. Tiba-tiba Viola datang duduk di sampingku.
"Luna" panggil nya
"hmm" gumamku yang tetap fokus sama game di depanku
"Lo suka sama Adrian?" tanya viola tiba-tiba yang begitu mengejutkanku
"Maksudnya?" kataku menoleh kearahnya
"Nggak papa jujur aja kalau Lo emang suka sama Adrian" kata Viola ngelantur
"Mana mungkin gue suka sama pacar Lo" kataku tegas menyangkalnya
"Lo nggak usah bohong. Semua siswa disekolah ini juga tau kalau Lo ada hubungan sama Adrian" tuduh Viola
"Dan Lo percaya?" tanyaku dengan tatapan tak percaya padanya
"gimana gue nggak percaya seluruh sekolah membicarakan kalian. Kalau kalian emang saling suka, bilang aja ke gue nggak papa. tapi jangan selingkuh kayak gini juga dibelakang gue" tuduh viola semakin menjadi-jadi
"lihat Lo diem, berarti Lo emang selingkuh sama Adrian dibelakang gue kan? nggak gue kira Lo sejahat itu sama gue!! Dasar sahabat nggak tau diri!!" amuk Viola melihat aku yang hanya diam saja.
Sudah cukup,
"Lo udah nanya sama Adrian?" kata gue santai
"Coba sebelum ngelabrak gue, tanya dulu sama pacar Lo itu" lanjutku melihat viola yang hanya diam saja
"2 tahun kita sahabatan, nggak gue sangka penilaian Lo serendah ini ke gue" kata ku berusaha menahan air mata
"Kalau pun gue emang suka sama Adrian, gue pasti udah nikung Lo dari dulu. Dalam kamus gue, nggak ada kata LUNA JADI SELINGKUHAN" kataku lalu beranjak dari sana
"tunggu" kata Viola menghentikanku, Aku pikir viola menyadari kesalahannya. Tapi aku salah..
"Aku menyesal pernah punya Sahabat Penghianat kayak Lo. Jadi, jangan tunjukkan wajah penghianat Lo itu ke gue" kata Viola yang Benar-benar menghancurkan hatiku saat itu
"nggak masalah" lirihku lalu pergi meninggalkan viola yang masih duduk
Didalam kamar mandi,
"Hikss.. hiks.. hikss..
nggak aku sangka, aku serendah itu dalam pikiran Viola. Inikah yang namanya persahabatan?" gumamku tersenyum miris menatap matanya yang sembab dari cermin
drt.. drtt...
"Halo" kataku mengangkat telepon
"Luna gue bener-bener nggak percaya.. Lo ternyata selingkuh sama Adrian" kata Gisel diseberang sana
"ini salah paham" kataku menjelaskan
"mana mungkin gue selingkuh sama pacar sahabat sendiri, gue-"
"cukup!! gue kecewa sama Lo!! gue harap Lo jauh-jauh dari kita bertiga. kita nggak mau punya sahabat toxic kayak lo" kata Gisel lalu mematikan telepon
"Jadi ini rasanya kecewa?" tanyaku pada diriku sendiri
Flashback end
_________
Sejak saat itu, Hubunganku dengan 3 sahabatku merenggangkan. Aku juga bahkan memilih keluar dari OSIS hanya untuk menjauh dari Adrian. Bahkan aku selalu mengabaikan Adrian yang menyapaku atau sekedar berbicara denganku. Aku tidak menyalahkan Adrian, hanya saja aku tidak ingin memperkeruh suasana.
Beberapa kali aku tidak sengaja berpapasan dengan sahabat-sahabat ku, reaksi mereka? mereka seakan jijik melihatku dan hanya bisa mencibirku diam-diam.
Rasanya hatiku dihantam batu saat Sahabat yang dulunya selalu ada untukku, kini bersama-sama menjatuhkan ku. Sahabat yang dulu selalu menjadi tempatku berkeluh kesah kini, bersama-sama membicarakan ku diam-diam.
Sedih? tentu saja! aku sangat sedih mengingat sahabatku yang tidak mempercayaiku sama sekali. kecewa? sangat! aku sangat kecewa karna sahabatku menilai aku serendah itu.
Tapi, apa boleh buat. Bagiku semuanya hanya masa lalu. Yang aku bisa hanyalah, berusaha tetap kuat dihadapan mereka.
"Hidup tidak bisa berhenti bukan, hanya karna kehilangan sahabat bukan berarti kehilangan dunia. Yah kan??" 😏😏
-Quella Veddira