Cerpen Gagal Nikah
Ayu Nadira berlari di kegelapan malam kota Semarang dipeluk erat oleh air hujan yang mengguyur Ibukota Jawa Tengah.
Ia ditampar oleh penghianatan yang dilakukan kekasihnya sendiri. Pria yang telah lima tahun menjalin kasih dengan dirinya. Hanya menangis yang bisa ia lakukan saat ini. Kurang dari satu bulan seharusnya ia akan menikah dengan Anandito yang selalu ia sapa dengan Mas Dito. Kakak kelasnya semasa Sekolah Menengah Atas. Tapi semua pupus tatkala ia tertusuk oleh belati perselingkuhan yang menacap kuat di hatinya.
Sudah tidak terhitung lagi pengorbanan yang dilakukan Ayu, gadis itu kerap dipanggil. Bahkan mahkota yang seharusnya tidak pernah ia harus berikan. Atas dasar cinta dan keyakinan ia serahkan begitu saja.
Lima hari yang lalu, Ayu sengaja cuti dari kerja demi persiapan pernikahan mereka berdua. Namun sang kekasih masih sibuk dengan layar ponsel di tangannya, mengirim pesan dengan entah siapa dan memperlihatkan ekspresi bahagia yang sedang tidak ia buat-buat.
"Mas Dito!" panggil Ayu, namun lelaki itu sepertinya masih terhanyut dengan dunianya hingga membuat Ayu geram dan menghampirinya.
"Mas!" Ayu menepuk pundak Dito dengan kencang, hingga membuat lelaki itu hampir saja memekik karena kaget.
"Apa to sayang?" Ia mengelus rambut Ayu dengan lembut.
"Kamu chat sama siapa, Mas?" tanya Ayu penasaran, dengan sedikit mengitip ke layar ponsel kekasihnya itu. Dengan cekatan Dito mengalihkan ponselnya agar wanita di sampingnya tidak bisa melihat apapun. Hal itu membuat Ayu curiga.
"Ini lo, si Burhan. Ada trainingan anak baru, masa dia tanya aku. Padahal 'kan aku sengaja libur hari ini." Ia menjawab dengan santai.
Oia ... Dito adalah Team Leader disalah satu perusahaan swasta dibidang promosi dan mengharuskan ia bekerja dengan para Sales Promotion Girl yang cantik dan seksi.
"Terus habis ini mas mau berangkat kerja?" tanya Ayu memasang wajah masam.
Dito mengangguk masih dengan menekan-nekan layar ponselnya, padahal hari ini Ayu telah memutuskan untuk cuti, namun hal itu tidak dilakukan juga oleh Dito.
"Mas... kita juga harus menemui dan nyiapin yang lainnya, loh. Kok mas nggak ambil cuti, sih?" tanya Ayu penasaran.
"Sabar to sayang, kalo aku nggak kerja, buat cicilan rumah gimana?" pungkas pria itu berkelit. Ayu dan Dito sudah membeli rumah bersama dan sengaja mencicil rumah itu secara bersamaan. Agar setelah menikah mereka bisa langsung hidup mandiri.
Ayu tidak punya pilihan lain selain berkata iya, saat kekasihnya meyakinkan dirinya.
***
Siang itu setelah selesai fitting baju, mereka melesat membelah jalanan kota Atlas yang siang itu lumayan terik.
"Mas mau makan dulu, nggak?" tanya Ayu, mematap Dito yang masih konsentrasi dengan kemudinya.
"Mas mau langsung berangkat kerja deh, sayang."
"Loh... kok cepet-cepet? Ayu masih kangen." Ayu merengek manja kepada tunangannya itu.
Dito menghela napas tatkala mendengar rengekan manja dari Ayu calon istrinya.
"Sayang... kita tiap hari ketemu, loh. Masa kamu nggak bosen?"
"Enggak.... " sahut Ayu santai.
"Bentar lagi juga kita nikah, terus bisa tinggal satu rumah, bisa puas deh sayang-sayangannya."
Namun Ayu malah marah dan tidak mau tahu, ia ingin Dito tidak buru-buru berangkat ke kantor dan menemani dirinya makan siang.
"Loh... malah nesu(marah dalam bahasa jawa) Kalau mas enggak kerja, gimana bayar Vendor nikahan?" tanya Dito.
Sejenak Ayu sadar, lalu melepaskan Dito untuk pergi bekerja setelah mengantarkan Ayu hingga sampai ke rumah.
Tiba-tiba dering ponsel Dito memaksa Ayu untuk melirik ke layar itu. Ada nama Nanda dengan emoticone love di sana. Hal itu membuat Ayu murka.
"Siapa itu, mas?" tanya Ayu.
"Temen." Dito menjawab tegas.
"Temen kok pake love-love segala, Ayu mau liat bentar!"
Namun Dito enggan memberikan ponselnya kepada Ayu, ia mencari alasan untuk berdalih dengan apa yang dilihat Ayu saat ini.
"Percaya aku, Yu. Aku nggak pernah main-main!"
"Nggak pernah main-main?! Mas Dito berapa kali ketahuan selingkuh? Dan Ayu dipaksa mengerti dan maafin, Mas!"
"Ya... maaf, aku khilaf."
"Khilafmu keseringan, Mas. Sampai aku capek, sendiri! Apa kita batalin aja semuanya?!" ancam Ayu dengan nada sedikit tinggi.
"Jangan gitu to sayang. Apa kamu nggak malu? Undangan udah di sebar, lo." Dito mencoba menghibur Ayu.
"Aku nggak peduli, Mas!"
"Maafin aku, ini yang terakhir. Aku hapus nomornya, sumpah!" Sekali lagi, Ayu dibodohi oleh laki-laki dengan tipu daya berbentuk cinta.
Kali ini untuk kesekian kalinya Ayu percaya saja dengan apa yang dikatakan Dito, dan memilih memaafkannya.
***
Tiga hari berlalu Dito jarang memberi kabar kepada Ayu, hingga membuat sang gadis gusar. Ia tidak henti-hentinya mengirim pesan singkat, dan akhirnya ia tidak tahan dan menelepon Dito.
"Mas kemana aja sih? Nggak kangen aku?" tanyanya.
"Kangen, tapi aku sibuk banget, mau ada event di salah satu pusat perbelanjaan dan ada kunjungan pusat."
"Ya... wes, tapi kalau ada waktu telepon, aku kangen!"
"Siap ibu negara," sahutnya lalu cepat-cepat menutup panggilan telepon tersebut.
***
Dua hari berlalu, pagi harinya saat Ayu tengah bersiap pergi berkerja, tiba-tiba ponselnya berdering, pesan dari Dito. Ayu buru-buru menggeser layar ponselnya, dengan perasaan senang. Mungkinkah hari ini Dito akan meminta bertemu setelah lima hati lamanya mereka tidak berjumpa.
'Nanti aku jemput, 'ya! Aku mau ngomong sesuatu'
Tanpa pikir panjang Ayu membalas pesan tersebut dengan kata, 'iya, aku tunggu, sayang'
Hari yang Ayu lalui nampak indah, suasana hati ayu juga terasa riang. Sebagai salah satu costumer servis di salah satu hotel berbintang di pusat kota Semarang membuat Ayu di paksa bersikap ramah walau kadang kala suasana hatinya buruk karena permasalahannya dengan Dito.
***
Setelah pergantian sift, Ayu memutuskan untuk segera keluar dan menemui sang pujaan hati, benar adanya Dito telah menunggu di dalam mobil tepat di parkiran depan hotel tersebut.
"Assalamualaikum, imam," sapa Ayu dengan senyuman yang super ramah.
"Waalaikumussalam," sahut Dito, ada nada canggung terselip di sana.
"Mau kemana kita, mas?" tanya Ayu penasaran.
"Kamu mau kemana? Aku mau senengin kamu hari ini," jawabnya.
"Terserah mas aja, deh," ucap Ayu dengan tangan mengulur ke depan meminta pelukan hangat dari Dito. Namun hal itu tidak disambut hangat oleh lelaki tersebut, ia malah berpaling dan menghadap ke depan memegang setir mobilnya dan mulai menjalankannya. Tentu saja hal itu membuat Ayu tersinggung dan seketika memasang wajah cemberut.
"Kenapa enggak mau dipeluk?"
"Bukan waktunya, Yu!" Dito mencari alasan untuk berdalih.
"Tapi biasanya mas yang nyosor duluan," sahut Ayu memasang wajah masam.
Dito bergeming tak menjawab perkataan Ayu yang mencoba menyudutkan dirinya.
Tiba-tiba ponsel Dito berdering, hal itu membuat rasa ingin tahu Ayu seolah mencuat, ia melirik layar ponsel milik Dito. Nama Nanda dengan emoticone love terlihat jelas di sana.
'Nanda lagi?!' gumam Ayu geram.
Kali ini Ayu sudah mulai kehabisan akal, ia tidak habis pikir kenapa Dito dengan santainya di depan bola matanya mengangkat panggilan dari Nanda yang notabennya adalah pacar gelap kekasihnya itu.
"Mas!" pekik Ayu dengan nada suara tinggi. "Aku masih di sini, loh!" imbuhnya lagi.
Wajah Dito tampak berubah, ia seolah sedang merasa bersalah kepada Ayu yang sudah mulai meneteskan air mata namun belum menguar.
"Kamu sama sekali enggak menghargai aku, Mas!" seru Ayu dengan suara lirih dengan bulir air mata yang menetes di kedua pipi.
Ingin rasanya Dito menenangkan hati kekasihnya tersebut dengan memeluknya dengan erat, akan tetapi hal itu dicegah oleh laki-laki itu, meskipun hatinya tak kuasa, akan tetapi ia terus melawannya.
"Ma–maaf—" Kalimat lirih keluar dari mulutnya.
"Sudah berapa kali aku harus maafin, Mas?!"
Dito manarik napas panjang, kemudian ia menepikan mobilnya di pinggir jalan. Ia menatap lekat wajah wanita yang telah lama mendiami singgasana hatinya itu.
"Apa yang belum pernah aku serahkan ke kamu, Mas? Semua! Dari hal kecil hingga mahkota yang seharusnya tidak kuberikan, harus rela kuserahkan hanya atas dasar cinta. Tapi apa yang aku dapat?! Penghianatan!" tukas Ayu dengan suara lirih.
"Sorry, Yuk. Aku enggak bermaksud begitu, jujur aku benar-benar sayang kamu, tapi nuraniku sebagai lelaki selalu menuntunku menuju khilaf yang sesat. Dan kini Nanda hamil," jelas Dito dengan nada rendahnya.
Bak disambar oleh petir, mendengar ucapan Dito membuat hati Ayu seolah bagai roller coaster yang tiba-tiba jatuh dari ketinggian, ia sangat kaget dan kecewa, bahkan tidak mampu berkata apapun. Tangannya dengan reflek menampar pipi Dito dengan sisa tenaga yang ia punya.
"Mas Dito. Apa ini, Mas?" tanya Ayu, lirih. "Apakah ini yang harus kudapat setelah kita bersama selama beberapa tahun ini."
Dito menundukkan kepala seraya menyesal dengan perbuatannya, seharusnya beberapa hari ini ia akan menikah dengan sang pujaan hati, namun cita-citanya harus terkubur, ketika ia telah menghianati kekasihnya itu.
"Lalu maumu apa, Mas?" tanya Ayu, tegas meskipun air mata tidak berhenti mengalir.
Tangan Dito mencoba meraih tangan Ayu yang sedari tadi gadis itu letakkan di pangkuannya, namun cepat-cepat Ayu menampiknya.
"Jangan sentuh aku dengan tangan kotormu! Aku jijik dan najis!" dengus Ayu mengusap air matanya.
"Ma–maaf, aku mencintaimu, Yuk—"
"Persetan dengan cintamu! Kamu mau pernikahan kita batal, dan kamu mau menikahi selingkuhanmu?! Selamat, cita-citamu tercapai!" Ayu melepas cincin pertunangannya dan melemparkannya kepada Dito. "Kamu yang mulai, kamu yang mengakhiri, kini tugasmu menghubungi semua vendor, atau kamu mau balik nama menjadi nama calon ibu dari anakmu, monggo!"
Ayu keluar dari mobil, berjalan berlari. Dan lebih kejamnya, Dito sama sekali tidak mempedulikan Ayu, ia tidak mengejar Ayu sama sekali.
Sekian—
Belajar dari bahasa inggris
Butterfly bukan berati mentega terbang,
sedangkan deadline juga bukan berati garis mati. Jadi kalau dia bilang Love You, belum tentu dia cinta kamu.
😁🙏