Mentari kembali menampakkan cahayanya. Cahaya yang begitu terang itu masuk melalui celah-celah tirai putih itu. Membangunkan seorang gadis yang tengah terlelap dalam tidurnya. Gadis berambut hitam panjang itu tidur dengan lelapnya setelah semalaman ia terjaga. Pintu kamarnya terbuka, menampakkan seseorang yang berusia paruh baya itu. Seseorang itu menatap gadis itu dengan penuh kasih sayang.
“Sayang… ayo bangun. Lalisa ayo bangun. Ini adalah hari pernikahanmu bukan?”
Gadis manis itu bernama Lalisa Manoban. Ya, dia terjaga semalaman karena begitu gelisah memikirkan tentang pernikahannya. Pernikahannya dengan orang yang belum ia kenal lebih jauh dan hanya ia temui beberapa kali sebelumnya. Gadis itu, dia dijodohkan oleh ibunya.
“Ahhh…. eomma… Aku sangat mengantuk! Aku baru saja tidur.”
“Aish gadis ini. Ayo bangun, kita akan terlambat. Bangun untuk bersiap-siap. Bangun dan mandi, eomma tunggu di bawah.”
“Hmm.. ne, eommaku sayang.”
Dengan terpaksa Lisa beranjak dari tidurnya. Dia memantapkan dirinya untuk menghadapi masa depan dan keputusan yang telah ia ambil.
Waktu berlalu begitu saja, saat ini Lisa sudah dalam balutan gaun pengantin yang begitu sederhana namun tetap indah untuk dilihat. Gaun putih tulang itu sangat pas dengan tubuhnya yang putih dan bisa dikatakan bagus itu. Ditambah lagi dengan riasan wajah yang sederhana dan natural. Hari ini, dia cantik. Lisa berjalan di Altar dengan menggenggam tangan ayahnya dengan sangat erat. Sungguh dia sangat gugup dan penasaran bagaimana dengan rupa suaminya itu. Lisa sempat melihatnya dari foto dan beberapa pertemuan mereka, kesan pertama saat melihatnya adalah lelaki itu. Dia tampan.
“Ku serahkan dia kepadamu. Ku mohon perlakukan dia dengan baik dan jaga serta cintai dia dengan tulus.” Ucap ayah Lisa.
“Ya, aku akan berusaha.” Lanjut lelaki itu dan meraih tangan Lisa lembut.
“Bagaimana? Kalian siap?” Tanya pak pendeta.
“Ya, kami siap.” balas keduanya.
Pernikahan telah diadakan. Seperti biasa sang suami mencium istrinya. Lelaki itu bernama Jeon Jungkook. Lelaki tinggi itu sekarang menyejajarkan posisinya dengan Lisa. Dia mulai mendekat dan mencium kening istrinya singkat. Mata mereka bertemu dengan senyum tipis dari Jungkook. Lisa, gadis itu hanya terkejut dibuatnya dan para hadirin bertepuk tangan dengan bahagianya. Terlebih kedua orangtua mereka.
Hari setelah pernikahan.
Lisa melemparkan tubuhnya ke kasur dengan gusar. Begitu lelah untuk hari ini. Dimana dia menjadi pengantin yang cantik bagai mimpi. Tapi nyatanya itu bukan mimpi.
“Huu… Apa yang harus aku lakukan saat ini? Terasa canggung, ini pertama kalinya aku berada di rumahku sendiri. Rumah baru sebagai pengantin.” Lisa terus berceloteh tentang hari ini sambil menatap langit-langit kamar barunya. Celotehannya terhenti dan matanya terfokus pada satu titik. Ya, pintu kamarnya terbuka. Menampilkan seorang lelaki dengan tubuh tinggi dan tegap itu.
“Heii!! Apa yang kau lakukan?” Teriak Lisa dengan penuh rasa kaget.
“Tak ada, memangnya apa yang aku lakukan? Ini kamarku!”
“Mwo? Ini bukannya kamarku?”
“Heh.. Kata siapa?” Dengan smirk di wajahnya Jungkook menatap Lisa.
“Tidak!! Aku ingin kamar ini. Aku yang lebih dulu tidur dan masuk ke kamar ini.”
“Enak saja.”
Dengan tangan dilipat di dada, Jungkook mendekat perlahan ke arah Lisa. Membuat gadis itu merinding dibuatnya.
“Apa kau akan tidur di sini?” Tanya Lisa.
“Iya! Cepat ke luar. Oh, atau kau ingin tidur denganku?” Tegas Jungkook.
“Aish. Aku tak ingin tidur denganmu. Aku akan tidur di sini karena aku menginginkan kamar ini.”
“Terserah saja, aku mau tidur duluan.”
Jungkook dengan segera berbaring di dekat Lisa dan mulai memejamkan matanya. Lisa yang tadinya kesal menjadi reda karena rasa kantuk yang menyerangnya. Dia terlelap di samping Jungkook. Tanpa terasa, pagi mulai datang. Mentari dan cahaya yang begitu indah masuk melalui celah-celah sehingga mengganggu pasangan baru ini tanpa permisi. Lisa tidur dengan memeluk suami barunya itu dan begitu pun sebaliknya. Sungguh itu tanpa mereka sadari.
_
Begitu banyak hari yang mereka lalui, tak terasa pernikahan mereka sudah menginjak 6 bulan dihitung sejak hari pernikahan mereka. Keduanya sungguh sangat sibuk, namun kesibukan tidak membuat keduanya menjauh. Keduanya sudah semakin akrab sekarang mereka sudah dapat menerima satu sama lain, meski tak belum dapat dikatakan keduanya menjalin cinta. Untuk saat ini keduanya hanya bersahabat. Entah kapan dewi cinta akan menembakkan panah asmaranya kepada keduanya. Butuh waktu yang panjang mungkin. Mungkin.
“Jeon Jungkook!!! Cepat bangun. Kau akan telat bekerja.” Teriak Lisa untuk membangunkan Jungkook. Jungkook sangat sulit untuk bangun.
“Jeon Jungkook!!” Tepat di telinga Jungkook.
“Aaaaa.. Lalisa Manoban!! Aku baru saja tidur 2 jam yang lalu,”
“Lalu, kau tak mau kerja?”
“Aku akan ambil cuti hari ini. Sudah sana pergi, jangan ganggu aku.”
Dengan bermalasan pria yang menjadi suaminya itu pun membelakangi Lisa dan menutupi tubuhnya dengan selimut.
“Baiklah terserah kau saja, aku akan membereskan rumah. Jika ingin sarapan sudah aku buatkan. Jangan ganggu aku!!”
Pergi meninggalkan Jungkook.
Kring… Kring… Kring…
“Halo? Dengan kediaman Jeon Jungkook,”
“Ah, Lisa-ya,”
“Eommanim,”
“Anakku sudah berangkat kerja?”
“Tidak, dia mengambil cuti hari ini karena lelah.”
“Begitukah. Kau sedang apa Nak?”
“Oh, aku sedang merapikan rumah,”
“Baiklah, eomma tutup dulu ya.”
“Ne eomma.”
Setelah siap dengan pekerjaan rumahnya. Lisa kembali ke kamar dan menemukan suaminya masih tertidur dengan lelapnya.
“Sudah siang masih tidur. Akan ku buka tirainya!!” Serunya dan membuka tirai di kamarnya membuat cahaya matahari masuk dan mengganggu tidur suaminya.
“Aah! Yak! Lisa-ssi rapatkan kembali.”
“Enak saja, ini sudah siang. Cahaya matahari harus masuk!”
“Aishh.. mengganggu saja. Kenapa kau tidak pergi kerja saja,”
“Aku sedang libur,” Jawab Lisa santai dan membuat Lisa duduk di samping Jungkook yang tengah berbaring dengan mata sipit yang melihat cahaya matahari.
“Jungkook-ssi… tak ingin sarapan?”
“Wae?”
“Cuma ingin bertanya, aku sangat bosan jika tak bekerja.”
“Sebab itu kau menggangguku ya?”
“Tidak seperti itu!”
Keduanya pun terdiam tanpa tahu harus melanjutkan kalimat apa. Hingga batuknya Jungkooklah yang menghentikan keheningan di antara mereka.
“Lisa-ssi,”
“Ne?”
“Bagaimana kalau malam ini kita pergi dinner? Mau tidak kalau tidak mau ju..,”
“Aku mau!!”
“Baiklah, nanti jam 7 kita berangkat,”
“Memangnya kita mau dinner di mana? Tunggu dulu, kenapa kau mengajakku dinner? Ah, apa pun alasanmu, aku tetap senang. Gomawoyo,”
Candlelight Dinner.
Jungkook memilih untuk menyiapkan candlelight dinner untuk Lisa. Jungkook juga menyewa tempat tersebut agar dia dan Lisa dapat berbicara serius.
“Wahh.. ini sangat indah. Kau sendiri yang menyiapkannya Jungkook-ssi?”
“Iya, sebenarnya aku ingin membuat situasi yang nyaman. Ada yang ingin aku tanyakan,”
Lisa tampak mengerutkan keningnya. Dia sungguh bertanya-tanya apa yang akan ditanyakan oleh Jungkook. Lisa sangat penasaran.
“Em.. tanyakan saja. Jika aku bisa aku akan menjawab semampuku,”
“Lisa-ssi, sebenarnya aku ingin tahu apa alasanmu memilih untuk menikah denganku,”
“Mungkin karena aku ingin eommaku bahagia. Lalu, bagaimana denganmu?”
“Mungkin sama,”
“Kau, apa kau memiliki wanita lain? Sungguh, aku ini sangat pencemburu. Jika kau tak menyukaiku atau mencintaiku tak apa. Tapi ku mohon jika kau ingin berselingkuh jangan sampai aku tahu. Aku akan sangat sakit, aku mungkin akan membencimu selamanya,”
“Tidak, aku bukan tipe pria seperti itu. Aku adalah orang yang setia. Aku hanya akan sekali menikah dan hanya akan sekali mencintai seseorang yang ku pilih dengan tulus,”
“Lalu, kau akan tetap menikah denganku? Jadi, siapa yang akan kau cintai sampai akhir?”
“Kau,”
Lisa terdiam mendengar jawaban terakhir dari Jungkook. Sungguh ia merasa Jungkook sangat romantis malam ini. Dia sedikit terkesan dan membuat jantung Lisa berdegup sangat kencang. “Hahaha kau sangat romantis sekali Jungkook-ssi,” Dengan tertawa canggung Lisa meminum air mineral di depannya. Lisa berdiri dan beranjak dari kursinya.
“Aku akan segera kembali, aku mau ke toilet dulu,”
“Baiklah, kau mau makan apa akan aku pesankan,”
“Sama saja denganmu,”
Beberapa saat kemudian..
“Maaf yah jika sedikit lama,”
“Iya, baiklah ayo kita makan,”
Tiba-tiba Lisa merasa sangat mual dan merasakan perutnya seperti diaduk-aduk begitu kencang.
Hueekkk….Huuuueekkkk.. “Kau kenapa? Tidak enak badan?”
“Entahlah, sejak datang ke sini menjadi tak karuan. Mungkin aku masuk angin,”
“Mau pergi cek ke dokter?”
“Baiklah, tapi makanannya belum kita makan. Kan sayang-sayang ini kan mahal,”
“Ya sudah, nanti akan kusuruh pelayan membungkusnya. Kau ke mobil duluan ya, aku akan menyusul setelah membayar,”
“Iya,”
Lisa menunggu di mobil, setelah waktu yang cukup lama sekitar 15 menit akhirnya Jungkook datang dan membawa mobil menuju rumah sakit untuk Lisa berobat. Setelah sampai. “Mohon tunggu sebentar ya Tuan, Nyonya,” Kata salah seorang suster. Begitu banyak orang yang sakit hari ini, dan rumah sakit menjadi sangat penuh serta membutuhkan waktu yang cukup lama untuk mendapatkan giliran pemeriksaan. Hingga saatnya pemeriksaan.
“Ny. Jeon Lalisa,”
“Ayo kita masuk,”
Lisa dan Jungkook mengikuti perawat itu masuk ke dalam ruang dokter.
“Apa yang terjadi?”
“Aku rasa, aku masuk angin dok,”
“Baiklah, mari kita periksa,”
Dokter pun memeriksa keadaan Lisa yang semakin lemas itu. Lisa dia seperti seseorang yang tak bertenaga. Dan dokter pun selesai memeriksa Lisa.
“Istri anda baik-baik saja tuan Jeon. Dia sehat dan janin yang di kandungnya pun sehat,”
“Tunggu dulu, apa yang kau maksud?”
“Benar, istri anda sedang mengandung 10 minggu. Selamat ya tuan dan nyonya Jeon,”
“Benarkah? Aku hamil?”
Lisa tampak tak percaya dengan semua itu, tanpa terasa air matanya mengalir dan Jungkook memeluknya dengan sangat lembut penuh dengan rasa yang sangat sulit untuk dijelaskan. Jeon Jungkook, lelaki itu dia juga menangis.
“Baiklah dokter, terima kasih,”
“Jagalah istri anda dengan baik,”
“Ya, pastinya,”
Lisa dan Jungkook ke luar dan menuju rumah untuk pulang. Sepanjang perjalanan menuju baseman tak henti-hentinya Jungkook memeluk pinggang Lisa rapat. Sungguh dia sangat bahagia. Mendapatkan perlakuan yang tak biasa dari seorang Jeon Jungkook sungguh Lisa merasakan bahagia yang amat besar. Lisa pikir dia sedang jatuh cinta saat ini. Jatuh cinta dengan suaminya sendiri. Perjalanan menuju rumah tampak begitu lancar, hingga sampailah mereka di rumah. Jungkook lebih dulu turun untuk membukakan pintu mobil buat Lisa. Jeon Jungkook, pria ini sekarang sungguh sangat perhatian pada Lisa. Jungkook sangat menyukai anak kecil dan dia sangat bahagia dia akan memiliki keturunan dari darah dagingnya sendiri. Jungkook membantu Lisa masuk ke dalam kamar karena kondisi Lisa yang belum stabil.
“Kau istirahatlah dengan baik, jika perlu sesuatu panggilah aku. Akan aku turuti permintaanmu,”
“Terima kasih, boleh aku meminta sesuatu?” Tanyanya penuh ragu.
“Iya, katakan saja,”
“Ah, sungguh aku sangat malu membicarakannya. Entah mengapa aku ingin tidur tapi aku ingin tidur dalam genggaman tanganmu,”
Jungkook tampak tertawa kecil dan dia mendekat ke arah Lisa dia mencium kening Lisa lembut.
“Tentu saja boleh, kau mau tidur dalam pelukanku pun boleh,”
Lisa tampak tersipu dengan jawaban Jungkook, entah kenapa dia semakin menyukai suaminya itu. Sepanjang malam, Lisa terus tidur dengan menggenggam tangan Jungkook. Jungkook pun tak keberatan dan dia merasa sangat-sangat ingin selalu berada di sisi Lisa. Dia merasa sangat ingin untuk selalu menjaga Lisa dan anaknya.
Hari demi hari berlalu, bulan demi bulan pun berganti. Tak terasa kandungan Lisa sudah menginjak bulan kesembilan. Bulan ini merupakan bulannya Lisa melahirkan. Dia sungguh sangat cemas dan gugup. Namun, sifat dan sikap positif dari suaminya membuatnya membuang jauh-jauh tentang prasangka buruk yang akan terjadi.
“Oppa.. Kau sudah pulang? Mana pesananku?”
“Ini aku membawakannya, bbopki (permen tipis dari gula khas korea) bukan?”
“Akhirnya permenku datang,”
“Loh, kau tak mengharapkanku pulang?”
“Hahaha bukan begitu, hanya saja aku sangat ingin makan bbopki,”
Lisa dan Jungkook pun tertawa dan saling berbagi bbopki. Lisa terdiam seketika, dia memandangi wajah tampan Jungkook. Sungguh dia sangat bersyukur suaminya sangat sempurna untuknya. Lisa sangat mencintai Jungkook begitu pun sebaliknya. Jungkook selalu ingin pulang lebih awal agar dapat bersama lebih lama dengan Lisa.
“Ayo masuk, udara semakin dingin,”
“Ne,”
Di malam hari, keduanya sedang bersandar di papan ranjang tidur mereka. Mereka saling bertukar cerita hingga Lisa tertidur, Lisa masih menggenggam tangan Jungkook untuk tidur. Itu sudah menjadi kebiasaan yang wajib dia lakukan. Waktu menunjukkan pukul 03.00 KST (Korea Standar Time). Lisa terbangun dan membelalakkan matanya ketika dia merasakan perutnya berkontraksi. Sungguh rasanya sangat sakit. Lisa ingin sekali berteriak namun rasa sakit membuatnya tak bisa berteriak. Lisa melepaskan genggamannya. Jungkook merasakan tangan Lisa lepaskan genggamannya.
“Oppa..,” ucap Lisa lirih.
Jungkook merasakan sesuatu yang tak bagus dengan segera ia menyalakan lampu kamar di saat itu Jungkook melihat Lisa sedang menahan sakit dengan keringat di sekujur tubuhnya. Dengan seketika Jungkook menggendong Lisa dan membawanya ke Rumah Sakit terdekat. Sesampainya di Rumah Sakit, Jungkook tak lupa menelepon orangtua mereka. Saat ini Lisa sedang di ruang persalinan. Jungkook menemani Lisa dengan setianya sambil menggenggam tangan Lisa. Lisa terus berjuang melahirkan anak mereka. Membutuhkan waktu yang panjang hingga akhirnya dia berhasil melahirkan anak mereka.
“Oppa.. Aku berhasil,”
“Terima kasih, aku mencintaimu. Terima kasih sudah mau menjadi ibu dari anakku. Sungguh aku sangat bahagia kau yang menjadi ibu dari anakku,”
“Aku pun, terima kasih kau sudah mau menjadi suamiku dan mencintaiku. Aku juga mencintaimu,”
Kelahiran seorang anak lelaki itu disambut haru oleh kedua keluarga besar. Sungguh ini adalah hal yang paling membahagiakan, terlebih untuk Jungkook dan Lisa. Kehidupan mereka yang sederhana dan hangat semakin lengkap dengan kehadiran Jeon Hyun Chan, anak pertama mereka. Lisa dan Jungkook mereka semakin saling mencintai dan berusaha melindungi satu sama lain. Kehidupan mereka sudah lengkap saat ini. Cinta, tak perlu mencintai dari awal untuk bersama. Di saat ada kebersamaan cinta akan datang seiring berjalannya waktu, cinta ada karena terbiasa. Bukankah cinta memerlukan proses? Pada saat proses itulah cinta akan semakin kuat.
By: Rara_Ryn:)