POV Author
“Tirta, antarkan adekmu rapid tes."
“Jam berapa Bu?”
Seperti kata ibu, Tirta mengantarkan adeknya ke Puskesmas menggunakan sepeda ontel. Sesampainya di sana Syakira mendaftarkan nama. Bukan, bukan hanya sekedar daftar nama.
“Bawa Kartu Keluarga?” Tanya petugas.
“Tidak.”
“Bawa KTP?”
“Tidak.”
Mendengar jawaban yang sama dari Syakira, petugas tersebut menghela nafas berat. Tirta tersenyum kecut melihat ekspresi petugas di balik kaca. Meski begitu indra Tirta sangatlah tajam, ia dapat mendengar dengusan kasar petugas di balik masker scuba.
“Tapi ingat identitas mu kan?”
“Ingat.” Nada Syakira meninggi.
“Total biaya Rp 10.000.”
Setelah ditanyai beberapa pertanyaan, dan melunasi pembayaran Syakira dan Tirta menunggu di luar ruangan. Puskesmas hari ini ramai. Bukan hanya Tirta, masih banyak orang tua yang ke Puskesmas untuk rapid tes sebelum kembali kepondok. Kursi berjajar apik dengan hiasan tanda silang merah di sebagian kursi.
“Maaf Bu, kursi yang ada tanda silangnya tidak boleh di tempati.”
Tegur pak Satpam pada nenek yang tak mengerti arti dari tanda silang, Merekapun memilih untuk berdiri, bersandar pada dinding.
“Mas, inget gak yang petugas tadi tanyakan.”
“Yang mana?”
“Yang pertanyaan begini, tapi ingat identitas mu kan? Masa ya aku gak ingat, aku nih masih muda kali. Untung tadi aku masih bisa sabar tuh jawabnya, kalo gak tu orang bisa serangan jantung mendadak kalo aku marah. Yo opo ngerti kalo suruh bawa begituan.”
“Hmm,”
“Atas nama Syakira Maulina.”
“Tuh nama mu dipanggil”
“Mas gak ikut?”
“Gak, Mas tungguin di sini”
Rasa gundah membuat langkah Syakira berat menuju loked.
“Atas nama Syakira."
“Iya”
“Ini hasil tesnya”
Spontan mata Syakira terbelalak. Hasil tes? Sejak kapan Syakira menjalani tes? Sendari tadi ia berbincang dengan masnya seusai mendaftarkan nama. Dari kejauhan Tirta dapat melihat punggung Syakira menegang. Alis tebal mengkerut, menyimpan pertanyaan.
“Ada apa dek?"
“Nih “
Selembar kertas Keterangan Sehat berhasil membuat Tirta berpikir cepat. Bagaimana tidak, surat tersebut tercantum data Pemekrisaaan manipulasi. Tensi, nadi, berat badan, mata kanan dan kiri, telinga kanan dan kiri, tes buta warna dan keterangan lain memiliki jawaban sama yang menggaris besari bahwa si pasien sehat. Bukan maksud tidak bersyukur diberi Allah kesehatan, melainkan kata setelah Data pemeriksaan berupa, “Setelah kami lakukan pemeriksaan dengan seksama, yang bersangkutan pada saat ini kami nyatakan: SEHAT.”
Bagaimana ini bisa terjadi! Pantas saja total biaya Rp 10.000. toh demi selembar kertas yang sebagiannya termanipulasi. Bukankah masa Covid-19 ini banyak bantuan dana? Entah dari pemerintah maupun rakyat. Bahkan Tirta pernah menyaksikan via tv kalau pak Presiden marah karena pengeluaran tidak sesuai. Bahkan parahnya lagi, masa adanya wabah ini membuat Tirta berfikir. Dunia politik itu kejam. Bukan sekedar politik, beritapun ikut andil dalam persekongkolan. Tirta yang suka melihat berita tv, kini tidak lagi. Pemikirannya bertumbuh. Dia pernah melihat drama Korea berjudul Pinocchio, membuatnya belajar mengenai persekongkolan apa yang telah diberitakan, apa yang disembunyikan, dan apa yang terjadi setelahnya. Dan apakah itu memang benar terjadi?
Pemikirannya memang sudah bertumbuh, tapi bukan berarti dia dapat mengerti apa yang tidak seharusnya dia mengerti. Dan lagi dia hanya dapat membatin, terheran, dalam diam mengenai dunia yang tak seharusnya ia ketahui. Tak pantas dia menghujat, toh dia juga belum tau apa- apa. Tirta hanya tau kalau segala sesuatu pasti ada hikmahnya. Tanpa terkecuali.
“Maaf kalian bisa bergeser.”
“Iya, maaf mbak.”
“Lana.“
Lana? Tirta tak asing dengan panggilan itu. Tapi siapa perempuan itu? Jangankan suaranya yang terbebal oleh masker, matanya saja Tirta tak dapat mengenalnya di balik APD.
“Ini aku, Key. Teman mu.”
“Teman ku?”
“iya, Keysha August.”
“Kamu ingatkan.”
“Hmm.”
“Bagaimana kabarmu? Oh ini adekmu, pantas aja namanya hampir sama. Kalian mirip ya. Sekarang kamu tinggal dimana? Aku senang bisa bertemu dengan mu Lan, setelah satu tahun kamu gak ada jejak sedikitpun.”
“Sudah, aku pamit dulu.”
“Eh bentar kasih no WhatsApp mu.”
*POV Keysha*
3 tahun yang lalu.
Aku duduk dikelas sebelas SMA Alexandria. Selama aku bersekolah di sini, semua aku mengenalnya dengan baik tanpa terkecuali. Dan ternyata dugaan ku salah. Aku menyadari seseorang yang baru ku kenal, dan hampir tak ku ketahui. Dia bukan anak baru, maupun anak pindahan jurusan. Melainkan dia adalah anak yang paling pendiam dan bahkan tak terakui kehadirannya. Aku sendiri berani bersumpah tak akan mengenalnya sampai lulus, jikalau tak pernah sekelompok dengannya.
“Hari ini Bu Guru ingin kalian berdikusi agama mengenai, kenapa Lelaki wajib melaksanakan Sholat Jumat sedangkan perempuan sunnah melakukannya. Kalian jelaskan dengan baik dan benar. Tugasnya dikumpulkan lusa ketika pelajaran saya.”
Penaku berketuk keras, selaras untuk menemukan jawaban bagaimana aku harus mengawali percakapan? Aku tak pernah sebingung ini untuk mengawali percakapan, sekalipun dengan lawan bicaranya berlatar belakang sibisu.
“Kamu tau jawabannya?"
“Aku?”
“Hmm.”
“Ya gak taulah, toh aku non muslim.”
“Kamu yang nulis, aku dektekan.”
“Nama mu siapa?”
Disodorkannya buku Big Bos bermotif kotak merah, dengan nama Tirta Maulana. Gobloknya aku, kenapa dengan terang- terangan tanya namanya. Kelihatan amat kalau gak kenal.
“Berdasarkan Al-Quran surat Al-Jumuah ayat 9. Pada ayat tersebut menjelaskan kalau yang dikenai hukum wajib untuk melaksanakan sholat jumat adalah laki- laki dengan alasan dhomir yang dipakai pada ayat tersebut, merupakan dhomir kepunyaan laki- laki bukan perempuan.
Wajib sendiri memiliki aneka macam. Mengenai wajibnya sholat jumat bagi laki- laki termasuk dalam wajib—
“Wajib apa?”
“Wajib Aini”
“Sudah?”
Dia menganguk. Untung sudah, kalo belum aku lelah mempertajam super pendengaran biar bisa menangkap suara lirihnya dari sekian anjing menggonggong.
Duduk berhadapan dengannya membuatku tidak berhenti mengamatinya. Aku sendiri tidak menyangka bagaimana bisa aku tidak mengenal wajah kalem itu. Alis tebal mempertegas mata almond nan sayu. Hidungnya sangat berbeda dari sekian cowok yang ku kenal. Membuatku berfikir kalau dia mewarisi sebagian garis keturunan Arab. Berkulit sawoh kecoklatan, berhidung mancung, dan yang paling berbeda adalah urat- urat menonjol di tangan cengkringnya. Dia terlihat agamis, terlihat dari potongan rambutnya saja dia tidak malu berpotong gundul menyisakan satu cm. Terlalu lama mengamatinya membuatku ingin bertanya mengenai...
“Kamu tau alasan kenapa perempuan tidak boleh poliandri?”
Terlihat dia berfikir sejenak, merubah posisi duduknya. Lalu menganguk.
“Kenapa kok gak boleh?”
“Kasihan anaknya bingung mana bapaknya.”
“Kamu ngelawak? Hhhhh.”
Tawa ku terhenti menyadari ekspresi Lana. Mata sayu itu membulat lebar menampakkan corak hitam. Sejenak aku berdeham.
“Oh ayolah Lan, aku serius.” Mintaku seraya menopangkan dagu diatas mejanya. Tangannya yang bersendekap beralih menopang wajah datar penyimpan rahasia dan menatapku datar.
“Aku serius”
*POV Tirta*
Ingat. Allah Maha Mendengar.
Bukan sekedar suara lirihku, bahkan batin ku saja_ Allah Mendengar-Nya
Ketahuilah. Allah Maha Mengabulkan.
Bagaimana tidak, sekarang aku dihadapkan dengan dewi berkulit pucat. Warna kulit yang tak seiras dengan kepribadiannya.
Berkali-kali aku berdeham tanpa suara. Sangatlah gugup. Bahkan suhu tubuhku menurun derastis. Bagaimanapun juga, ini sudah diujung tanduk. Kalau tidak segera terselesaikan, hari berhadapan dengannya akan teramat sulit.
Kepala terasa pening. Ketika tugas dari Bu Aminah selesai, aku merasa dia memandangi ku terus-terusan. Pandangan yang tidak bisa diartikan. Tapi membuatku teringat akan sajak pertama kali untuk mengungkapkan kerinduanku padanya ketika sekolah libur.
Duh Ning
Cinta ini begitu lebus kek kambing
Dan dirimu Ning
Tidak akan tau itu
Betapa lama Gus menyimpan apik rasa ini
Meski penuh kelebusan
Rambut hitam kecoklatan, bulu mata lentik nan panjang, bibir tipis, siapa sangka fisik sederhana itu menjadikannya primadona sekolah. Dia pandai dalam pelajaran. Dia umurnya lebih muda dua tahun dari aku, yang ku tau dia pernah ambil ekselerasi. Bukan hanya dalam bidang pelajaran dia juga pandai mengambil hati. Hatiku saja sudah ku simpatikan padanya sejak lama, meski dia baru mengenalku. Keysha August, nama yang terlahir dari Tuhan Bapa, Tuhan Ibu dan Tuhan Anak. Dia pemeluk agama Kristen yang taat.
Seperti kutipan percakapan Jean Maris difilm Bumi Manusia yang disutradarai oleh Hanung Bramantyo “Cinta itu indah dan kebinasaan yang menuntutinya. Jadi harus berani menghadapi akibatnya” bahkan Minke mempersingkat “Cinta dan tragedi tidak bisa dipisahkan”. Dan inilah yang ku alami. Aku mencintainya karena sebuah tragedi.
Adek semata wayang melarangku untuk mencintai perempuan beda agama, akan tetapi tak ku hiraukan. Aku tau dan faham kalau dia beragama Kristen dan aku beragama Islam. Aku tau pula kalau dalam agama Islam membolehkan lelaki muslim menikahi perempuan Kristen. Jadi aku tak pantang mundur sampai pada kebenaran dan berani beda!
*POV Author*
Hari ini Alexandria School mengadakan kemah untuk kelas sebelas. Kali ini wisata kemah di Bedengan, Bumi Perkemahan Selorejo Malang, Jawa Timur. Setiap regu memasang tendanya masing- masing dengan bantuan pak pembina. Matahari mulai tenggelam, anak- anakpun mulai menyaksikan matahari tenggelam diatas bukit. Hawa dingin mulai terasa mencekam, seiring munculnya bulan.
Malam pertama kemah, Pembina mengajak bermain putar botol kosong dan yang tertunjuk harus menceritakan cerita bertema horor. Di bawah sinar rembulan, Keysha duduk gusar mencari sosok manekin. Lana. Berkali- kali ia mengitari lingkaran kecil tapi tak kunjung menemukannya. Hingga datanglah dua lelaki dengan postur tubuh hampir sama.
“Dari mana kalian?”
“Dari toilet.” Jawab Wave
Udara Malang sangatlah dingin, apalagi dimalam hari. Semua anak memakai jaket. Sebagian ada yang menutup rapat tubuhnya menyisakan wajah. Termasuk Keysha.
“Key, napa sih elu senyum- senyum melulu?”
“Lihat Lana.” Printah Key
“Lana? Tirta maksud lu? Emang kenapa dengan Tirta?”
“Apa dia gak kedinginansih, Cuma pakai kaos oblong sama rok.”
“Rok?”
“Iya, rok. Tuh lihat.”
“Hello!! Itu bukan rok Keysha. Itu namanya sarung.”
“Sarung?”
“Iya, itu namanya SARUNG sayang.”
Kehangatan menyerbu pipi tembam Keysha. Dia malu. Bagaimana bisa dia menuduh cowok alim berpakaian cewek! Meski begitu, mata Key tak beralih pada yang lain. Gerak- gerik boneka manekinnya tak pernah luput dari pengawasannya. Bertubuh kurus nan tinggi, setiap gerakan Lana sangatlah kalem, seperti ada rasa khawatir kalau tubuhnya kebawa hembusan angin. Manikin kepunyaan Keysha.
“Kamu suka Tirta ya?"
“Suka?”
“Yes, jujur aja deh sama aku. Sudah lama dan sering aku memergoki lu mengamati Tirta.”
“Ngomong apasih kamu, Fei.”
“Key, aku tuh sahabat lu. Jadi—
Kata Fei terpotong, ketika Pembina memulai permainan. Botol kosong mulai berputar. Api unggun tak dapat menghangatkan tubuh para murid yang menggigil ketakutan akan permainan itu. Botol kosong mulai melamban, dan—
“Kamu. Siapa namamu?”
“Saya?”
“Bukan sebelah mu.”
Spontan Tirta menegakkan punggung rapuhnya. Ternyata doanya tak terkabulkan untuk terhindar dari permainan maut ini. Firasatnya tak pernah salah.
“Nama mu siapa?”
Bahkan untuk menyebutkan namanya saja, lidahnya terasa kelu. Hingga suara berat menyahut, menjawab pertanyaan Pembina.
“Oke Tirta, kamu harus bercerita horor dengan suara lantang supaya teman-teman mu dapat mendengarnya dengan baik. Kalian semua juga tidak boleh ramai sendiri, kalian harus menghargai Tirta. Oke, bisa dimulai."
“Pak usul, yang cerita duduk di tengah- tengah lingkaran.”
Usul Fei mengundang amarah bagi Tirta dan kebahagian bagi Key. Pembina pun menyetujuinya. Perlahan Tirta berdiri. Udara dingin Malang mulai terasa di kulit Tirta ditambah rasa gugup, sehingga dia melepas ikatan sarung dipinggang dan membebal tubuhnya dengan sarung. Tirta duduk sila tepat dihadapan Key. Keysha tersenyum bebas menampakkan deretan gigi, dia senang bisa melihat jelas Lana. Rambut ikalnya sudah memanjang, dan hampir menutupi kedua mata. Keysha menompangkan dagu disalah satu lututnya. Dengan senyum yang masih mengembang Keysha melihat Lana memejamkan mata, sesekali membuka mulut dan menutupnya kembali.
*POV Keysha*
“Emm, jadi dulu 2 tahun yang lalu ketika aku masih mondok. Adek kelas ku habis rekreasi ke Jogja, pariwisata di Bukit Becici—
“Tir, kerasan napa.”
Hujatan itu memotong cerita Tirta. Sejenak dia menghembuskan nafas berat. Meski aku rada ragu dengan keberanian sosok pendiam untuk bisa bercerita di depan umum dengan suara keras. Tapi apa salahnya untuk mencoba. Toh mana mungkin dia lari dari kenyataan. Setahu ku sependiam dia kek manekin dia tidak pernah lari dari tanggung jawab.
“Lanjut Lan,” Tegur ku dan dia melihat dengan mata terbelalak. Apakah dia baru sadar?
“Ketika di sana adek kelas ku itu sempat mengambil bunga dan membawanya ke pondok. Setelah dua hari seusai rekreasi, dia mendapatkan paketan bunga busuk. Bahkan Ibu pengurus pondok sempat curiga, apakah adek kelas ku itu punya pacar di Jogja? Kok dapat paketan bunga? Karena bunga itu sudah busuk, sama dia dibakar. Dan naasnya bunga itu tidak bisa hangus.”
Lana menghentikan ceritanya sejenak. Dan gerak- geriknya itu menyadarkan ku kalau dia, berdeham tanpa suara. Kenapa harus begitu? Dia mulai gugup. Kasep amat.
“Eh Tir, mana ada bunga hangus. Kan ngandung air.”
“Bisa Ul.”
“Mana ada Ris.”
“Eh Maul, lu hujat melulu. Diam kek, Tirta belum selesai ceritanya.”
“Nah tapi emang kagak bisa Risma.”
“Hmm, kok Jadi debat bunga bisa hangus apa nggak. Dilanjut gak nih ceritanya?”
“Lanjut lah pak.” Sahut ku lantang.
“Terus temannya bilang, iya mas, kemarin pas beli kaos, ada penjual yang nanyai kenal sama Riko gak? Aku sendiri heran bagaimana dia tau nama Riko? Dan setelah itu, Riko khilaf habis ambil bunga tanpa izin. Bahkan tak hanya satu orang yang ditanyai kenal Riko apa tidak. Ada lagi yang ditanyai pertanyaan sama tapi beda penanya.”
Kedua tangan ku bersendekap, mengunci kedua kaki. Membayangkan hal aneh yang terjadi di kota istimewa tersebut. Bagaimana bisa ada beberapa orang bertanya mengenai si Riko dengan tempat berbeda, pertanyaan sama dan orang yang berbeda? Apakah mereka memiliki penjaga semacam hal ghoib? Atau tekanan batin dari satu orang ke orang lain sangat kuat? Hmm, pantas saja dalam berpergian itu ada etikanya, kalau dilanggar siap- siap bertanggung jawab.
“Lanjut Tir.”
“Setelah itu, dan ternyata itu paketan bunga dari pacarnya yang di Jogja.”
“Astagfirullah.”
“Gile lu Tir, gitu- gitu lu bisa ngelawak juga.”
“Hahaha ya, emang gitu ceritanya.”
“Makan orang boleh gak sih?"
“Boleh."
“Ingin ku makan dirimu.”
Lana menatapku, tersenyum tipis dan
“Aku kasih lemak aja, mau?” sahutnya seraya mengangkat sebelah alis.
“Hello!! Daging aja kamu gak punya, sok mau ngasih lemak?”
“Ya, lu aja Key yang ngasih.”
“Ngasih apaan?”
“Ngasih cintamu padanya.”
*POV Tirta*
Semenjak itu, teman- teman memberiku julukan si pelawak introvet. Serah deh mereka mau ngatain aku gimana, terpenting aku anaknya memang introvert. Susah untuk bergaul, bahkan gak mau bergaul dengan khalayak ramai. Karena apa? Karena bagiku cukup sekedar mengenal mereka, tanpa memperdalam perkenalan. Sebab itu lebih aman bagi diriku yang introvert. Tapi hal ini tidak berlaku untuk Keysha.
Ternyata cintaku tidak bertepuk sebelah tangan. Dari sekian ekspresi yang ku hafal. Hanya ada satu ekspresi baru. Pipinya bersemu merah, ketika mendengar gurauan Fei. Bahkan dia yang biasanya banyak bicara, menjadi bungkam seribu bahasa. Walau agak ragu, tapi mimpi ku mempertegas. Kalau kami memiliki rasa yang sama. Entah kapan kami memiliki rasa yang sama, itu gak penting. Sebab bagiku seberapa sabarkah dia menyimpan apik rasa itu?
Hari ini aku puasa, dan memilih istirahat di dalam kelas. Ketika aku mengambil buku, tanpa sengaja aku menemukan kertas merah muda terjatuh dari loker meja. Perlahan ku baca tulisan latin berpena biru.
Penyesalan
Pagi ini aku aga tidak normal
Pohon pohon, dan bangunan ini
Kenapa kau mirip sekali dengan rembulan?
Entahlah aku tak pernah sesunyi ini
Suara alam menarik pilu
Bayangannya menghantui setiap malamku
Hey? Bolehkah aku punya pendapat?
Kau begitu manis ketika tersenyum
Akhirnya semua tiba pada suatu yang pasti
Bertemu pasti akan berpisah
Dan menyisakan sedikit sakit
Bisakah kau kembali untuk saat ini saja?
By: Rayu
Ini tulisan Key, apa maksudnya? Sejak kapan kertas ini berdiam diri di loker? Ku bolak- balik berharap ada petunjuk. Dan benar saja, ada tulisan angka yang sudah memudar. Tanggal ini adalah tanggal seusai kemah. Bodohnya aku, satu bulan sudah surat ini tergeletak. Pada hari ini pula aku mengetahui kalau rasa ini sudah basi.
Dia lebih memilih berpacaran dengan orang lain, dari pada bersabar dan menikah denganku diwaktu yang tepat.