Pagi itu adalah pagi hari yang cerah sekaligus panas, tidak ada satupun awan dan matahari terus menyinari bumi dengan cahaya ultravioletnya yang panas. Hari itu memang hari yang panas bagi seorang remaja perempuan yang sedang tidur dikamarnya, sebuah kipas angin berputar di hadapan wajahnya memberi kesejukan kepada seorang remaja yang tengah diam menatap kipas angin di hadapannya. Netra oranye dari remaja tersebut memandang lesu pada kipas angin yang saat ini sedang berputar memberi angin angin sejuk di pagi hari yang panas, hingga seseorang mengetuk pintu dari kamar remaja perempuan tersebut.
"Asaka, ayo main" Ajak seseorang dari luar kamar remaja bernetra oranye yang bernama Asaka tersebut, tampak sang empunya kamar memposisikan posisinya menjadi duduk kemudian membalas ajakan dari seseorang dari luar kamarnya tersebut
"Aku enggak mau kak!" Asaka berteriak dari dalam kamarnya yang enggan untuk keluar dari kamar, ia menatap sinis ketika gagang pintunya mulai dibuka oleh seseorang yang ia panggil kakak.
"Ayolah.. Sampai kapan kau akan mengunci diri di kamar terus Asa" Seorang remaja laki laki yang memiliki netra oranye terang dan berkaus tanktop hitam masuk ke dalam kamar Asaka, yang tentu saja membuat Asaka semakin geram terhadap kakaknya tersebut.
"Berhenti menyingkat namaku!! Aku nggak suka!" Bentak Asaka yang kemudian merebahkan tubuhnya ke ranjang dan membelakangi kakaknya yang memiliki tubuh yang atletis dengan otot ototnya yang terlatih.
"Haah... Sampai kapan kamu mau marah padaku?" kakak laki lakinya menghela nafas panjang dan bertanya dengan nada sendu, menanti jawaban dari si adik.
Suasana menjadi senyap selama beberapa detik hingga akhirnya si adik membuka mulut, menjawab pertanyaan konyol dari sang kakak yang bertanya.
"Sampai kak Hioko mau menyingkir dari kehidupanku" Kata kata dari sang adik telak menusuk hati si kakak, kakak dari Asaka yang bernama Hioko itu menunduk dengan wajah yang muram kemudian melenggang pergi dari kamar Asaka yang merupakan adiknya.
Sunyi, itulah yang menggambarkan kamar seorang gadis remaja bernetra oranye yang bernama Asaka, ia tidak merasa bersalah sama sekali dan perlahan lahan kedua kelopak mata dari sang empunya mulai menutup mengembara ke alam mimpinya. Di alam mimpi terlihat masa lalu dari Asaka dan kakaknya bersama kedua orang tua mereka, terlihat jika saat itu sang gadis bernetra oranye terlihat sangat senang apalagi ketika rambut cokelat tuanya dibelai dengan lembut oleh sang kakak yang kelihatan sanga ia sayangi. Sedangkan si kakak yang merupakan Hioko sangat senang ketika adiknya tertawa dengan ceria, saat itu Asaka sendiri masih berusia 8 tahun dan Hioko berusia 10 tahun dan keduanya terlihat akur dan saling menyayangi.
Hingga sebuah kecelakaan truk menghantam mobil yang dikendarai oleh kedua orang tua Asaka dan mengakibatkan keduanya meninggal dunia karena hantaman yang sangat kuat itu, sejak hari itu hubungan dari Asaka dan Hioko merenggang dan mereka berdua jarang berbicara kecuali dibutuhkan atau ingin menyampaikan sesuatu. Ditambah dari perilaku kakaknya tersebut membuat Asaka malu mempunyai kakak seperti itu bahkan sampai ia menganggap Hioko sebagai orang asing dan bukan saudaranya, setelah beberapa jam tidur ia terbangun karena mengingat memori kebersamaan yang ingin sekali ia lupakan dari pikirannya.
Asaka menengok ke luar jendela rumahnya dan melihat dua anak kecil yang satu sedikit tinggi sedangkan yang satu pendek, hingga ia mendengar kalimat yang diucapkan anak laki laki yang sedikit lebih tinggi dari anak perempuan tersebut.
"Kau adalah satu satunya adik kesayangan yang kumiliki" Ucap si anak laki laki yang kemudian mengusap rambut si anak perempuan yang merupakan adiknya, Asaka yang mendengar kalimat itu langsung merasa kesal karena itu mirip seperti kata kata yang diucapkan seseorang yang paling ia benci.
"Kau adalah satu satunya adik kesayangan yang kumiliki"
"Arrrgh.. Kenapa aku malah memikirkannya!!" Teriak Asaka yang kemudian menutup jendela kamar keras keras sehingga terdengar seperti suara dentuman.
Asaka membanting tubuhnya ke atas ranjang miliknya, baru saja ingin menutup manik oranyenya sampai terdengar nada dering dari ponselnya yang volume suaranya sangat kencang. Spontan ia terlonjak kaget dan bangun dari ranjang yang baru saja ingin ia tiduri dan bermimpi indah, perlahan lahan ia menggapai ponsel yang sedang berdering tersebut dan melihat penelepon yang sedang menelepon dirinya yang ternyata adalah teman sekelasnya.
"Halo, ada apa Ashina?" Kata Asaka kepada seseorang penelepon yang sedang diteleponnya yang kemudian membuat wajah muramnya menjadi wajah sumringah dengan senyuman lebar nan ceria. "Baik, aku segera kesana!"
Setelah menerima telepon itu, Asaka kemudian langsung mengganti pakaiannya menjadi kaos lengan pendek berwarna hitam bercorak putih dikombinasikan dengan sebuah rok berwarna merah tua. Gadis bernetra oranye tersebut membuka pintu sambil melihat sekitar jika keadaan sudah aman dan mulai menapakkan kaki keluar kamarnya, Asaka segera memakai sepatunya kemudian melesat keluar melewati pintu rumahnya yang terbuat dari kayu.
Sudah hampir sejam sejak Asaka meninggalkan rumahnya dan menyusuri jalanan ramai yang agak sesak dengan orang orang yang terlihat sibuk, saat itu hari sudah mulai bertukar menjadi siang dan matahari juga semakin panas menusuk kulit si empu bernetra oranye. Beberapa menit setelah beradu dengan pejalan kaki dan panasnya cahaya matahari akhirnya ia sampai pada sebuah kafe memiliki papan nama bertuliskan "Neko Kafe" yang merupakan nama kafe yang ia datangi karena panggilan temannya di ponsel tadi pagi, ia mendorong pintu kafe sehingga terdengar suara gemerincing dari bel di dalam kafe tersebut.
"Ah, Asaka-san, sini sini" Panggil teman Asaka yang memiliki nama Ashina, terlihat juga ada seorang remaja lelaki yang mirip dengan Ashina tetapi menggunakan kacamata dan rambutnya berwarna merah maroon, bukan merah cerah seperti warna rambut Ashina. "Oh iya, perkenalkan ini kakakku Kishiro. Dialah orang yang membesarkanku ketika kedua orang tuaku sudah tiada".
Tiba tiba Asaka teringat dengan kakaknya Hioko yang setelah kedua orang tuanya meninggal, ialah yang telah bekerja keras untuk menghidupi Asaka sendirian meskipun saat itu Hioko masih SMP dan Asaka sendiri masih SD. Asaka memalingkan wajahnya kearah jendela kafe dan melihat orang orang yang berlalu lalang di jalanan, mau itu pasangan, kakak beradik, bahkan keluarga yang masih utuh, memang distrik yang dikunjungi Asaka saat itu adalah distrik yang diperuntukkan dua orang atau lebih karena banyaknya tempat tempat yang bisa dijadikan sebagai tempat romantis. Asaka melirik kearah sepasang kakak beradik yang terlihat akur dengan candaan tawa atau bahkan dengan gombalan yang aneh, ia masih mengingat kejadian sebelum kedua orang tuanya meninggal dunia, saat itu ia dan Hioko sangat akur dan Asaka sering meminta kakaknya mengelus rambutnya.
Asaka tenggelam ke dalam pikirannya sendiri, mencoba melupakan saat saat bersama kakaknya yang dulu sangat ia sayangi terlebih tindakannya yang sekarang, ia mencoba melupakan semuanya termasuk setiap kata kata manis yang pernah ia lontarkan kepada kakaknya dulu. Ia juga mencoba menghilangkan kekagumannya terhadap kakaknya dulu meskipun sekali mencoba ia takkan pernah berhasil, tiba tiba Ashina menepuk bahu Asaka sehingga membuat lamunannya buyar karena tepulan tersebut.
"Kau tidak apa apa Asaka-san? Apa kau sakit?" Ashina bertanya dengan nada khawatir, pasalnya ia tak pernah melihat Asaka yang murung.
"Ah, aku nggak apa apa kok" Asaka membalas cepat cepat karena tidak ingin membuat Ashina khawatir, bahkan di depan kakak temannya.
"Apa kau yakin? Kau kelihatan sedang banyak pikiran, apa yang sedang kaupikirkan?" Kali ini Kishiro yang bertanya, khawatir akan sahabat dari adiknya tersebut.
"Itu... Aku..." Asaka terbata bata, sedikit gugup apalagi ketika menyangkut kakaknya yang dulu sangat ia kagumi. "Aku sedang memikirkan soal kakakku-".
Seketika suasana di meja yang ditempati oleh tiga orang mendadak sunyi, tak ada satupun yang memulai pembicaraan sampai Ashina berceletuk memecahkan keheningan di meja tersebut, ia bertanya kepada Asaka menyangkut saudaranya pasalnya ia tidak pernah mengetahui jika sahabatnya ini memiliki saudara karena ia tidak pernah bercerita pasal saudaranya.
"Kau punya kakak?" Ashina terbengong karena baru tahu jika Asaka memiliki seorang kakak.
"Ugh..." Asaka menggeram kesal karena mengingat kakaknya yang sangat menyebalkan, ia mencoba untuk membenci kakaknya yang bahkan tidak bisa ia benci.
"Sepertinya kau tidak menyukai kakakmu apalagi membencinya" Kishiro seperti membaca pikirannya yang tepat. "Tapi sepertinya kau tidak sepenuhnya membencinya".
Asaka menunduk lesu, ia menghela nafas panjang dengan berani menatap sahabat dan kakak dari sahabatnya tersebut. Netra oranyenya menandakan kesedihan yang bahkan ia tidak mengerti kenapa, ia bahkan sempat berpikir kenapa ia bisa sampai membenci kakak yang sejak kecil ia kagumi. Asaka mulai menceritakan masalahnya kepada Tohaku bersaudara yang menyangkut kakaknya yang sudah 6 tahun ia benci, bahkan ia tidak tahu dengan perasaannya sendiri terhadap kakaknya. Sahabatnya kemudian berusaha menenangkan sahabatnya yang sedang murung sedangkan kakaknya sedang memikirkan solusi untuk gadis bernetra oranye yang sedang menunduk lesu, akhirnya Kishiro menemukan solusi untuk masalah tersebut yaitu meminta maaf kepada kakaknya sendiri.
"Itu adalah solusi terbaik untukmu, lakukanlah jika kau tak ingin kehilangannya" Itu adalah kalimat terakhir yang diucapkan oleh sang remaja lelaki berkacamata kepada Asaka, Ashina hanya bisa mengangguk.
Asaka sepertinya masih memikirkannya, ia memejamkan matanya kemudian perlahan lahan membuka kedua kelopak matanya, meskipun masih ragu ia tetap akan meminta maaf. Ia kemudian berdiri dari kursinya dan berterima kasih kepada Kishiro karena sudah mencoba untuk membantunya, gadis tersebut melenggang pergi dari kafe tersebut menuju ke suatu tempat yang tidak diketahui oleh sepasang kakak beradik yang masih duduk di salah satu meja kafe, keduanya terlihat memasang senyuman kepada seorang gadis bernetra oranye yang sudah keluar dari kafe tersebut dengan suatu tekad yang tinggi.
Asaka sedikit berlari menembus keramaian yang agak padat di sepanjang jalan walaupun saat itu hari sudah mulai menjelang sore dan matahari sudah lebih condong ke arah barat, Asaka yang saat itu tiba di sebuah jalanan agak sepi dekat bukit yang agak sedikit tinggi dengan nafas terengah engah menengok kearah samping dan melihat sebuah desiran pantai yang bisa dibilang cukup indah, apalagi ditambah dengan matahari yang sudah mulai terbenam menambah kesan indahnya bagi orang yang melihatnya. Asaka hanya terpaku memandang pemandangan indah di hadapan matanya sambil berpikir apakah ia akan meminta maaf kepada Hioko ataupun tidak ia juga bingung, hingga sebuah panggilan mengalihkan atensinya kearah pemanggil yang baru saja memanggil namanya.
"Apa yang kau lakukan disini, Asaka?" Orang yang memanggil namanya ternyata adalah kakaknya sendiri, Hioko yang saat itu baru saja selesai dari pekerjaan sampingannya tidak sengaja melihat adiknya sendiri berada di sebuah jalan sepi dekat bukit yang agak tinggi sedang memandang desiran pantai dengan wajah yang murung.
"Kakak?" Asaka masih ragu untuk meminta maaf kepada kakaknya sendiri karena ia yang berusaha membenci kakaknya sendiri karena sebuah alasan yang tidak jelas.
Asaka menunduk dan memainkan jari jemarinya sendiri, matahari yang mulai tenggelam dan hembusan angin yang mulai mendingin membuat suasana hari itu agak sedikit canggung bagi kedua saudara yang saat ini sedang diam menunggu salah satu dari mereka berbicara. Dengan sedikit keberanian Asaka mulai mengangkat kepalanya dan ia dapat melihat kedua netra milik kakaknya yang sama seperti miliknya, hanya saja warnanya lebih terang daripada dirinya. Ia mulai membuka mulut dan mengucapkan sebuah kata kata yang tidak pernah didengar oleh Hioko sebelumnya.
"Maaf" Ucap Asaka dengan nada suara yang agak pelan, meskipun pelan sang kakak masih bisa mendengarnya dan perlahan mengulas sebuah senyuman hangat untuk sang adik.
"Tidak apa apa kok Asaka, kau tidak perlu meminta maaf" Kata kata itu membuat Asaka menunduk sendu dengan rasa bersalah di hatinya, perlahan lahan sang kakak mengangkat tangannya dan membelai kepala sang adik dengan lembut.
Asaka tahu ia memang selalu merasa nyaman ketika seseorang yang selalu ia kagumi membelai puncuk kepalanya, perlahan lahan ia memeluk kakaknya dan meminta maaf berulang kali atas keegoisannya dan semua yang telah ia perbuat kepada kakaknya. Sang kakak Hioko membalas pelukan adiknya tersebut dengan sebuah kecupan di dahinya, hari sudah malam dan hembusan angin dingin di malam hari membuat seorang gadis bernetra oranye kedinginan apalagi ia hanya menggunakan kaos lengan pendek dan rok saja. Hioko yang merupakan kakaknya memberikan mantel miliknya kepada Asaka yang kedinginan, kehangatan dari mantel milik kakaknya membuat Asaka tahu bahwa ia tidak bisa membenci kakaknya yang perhatian kepadanya.
"Terima kasih" Ucapan pelan dari kedua belah bibir milik Asaka tidak dapat didengar oleh sang empu pemilik mantel yang sedang ia gunakan, tetapi dirinya hanya berharap tidak ingin membenci seorang yang sangat ia kagumi sekaligus sayangi.
~TAMAT~
Maaf kalau ada kata kata yang gak nyambung..