Peserta :1. Lim262
2.PensilGuling
♐ Kata kunci: Melacak.
~~~~~
(๑・ω-)☞ Lim262
Di bawah langit senja, di hutan pinus yang rimbun. Seorang Rudy melihat wanita yang sangat amat cantik di dalam hutan itu. Dia melihatnya dari jalan depan hutan pinus tempat ia berada. Kesepian hutan itu seakan menambah kesan romantis saat itu. Rudy yang saat itu sedang berdiri di pinggir jalan karena motor yang ia gunakan kehabisan bahan bakar langsung masuk ke hutan itu. Tanpa rasa takut ia berlari menghampiri perempuam yang sedang berdiri di antara pohon pinus.
"Emm.. Hai! ". Sapa Rudy, sambil memegang pundak wanita itu. Sontak wanita itu kaget dan melihat kebelakang tempat Rudy berdiri.
"Aaaaa! ". Teriak kaget wanita itu.
"Ehh? Maaf maaf. Aku kira kamu penunggu hutan ini. Hehehe " sambungnya.
"Hah?! Aku enggak tahu kamu bermaksud menghina atau bercanda. Ohh.. Iya kenalin aku Rudy."
"Aku Era". Jawab Era dengan senyuman yang terlukis di wajah cantiknya.
"Salam kenal yahh, Era! Ngomong - ngomong, sore - sore gini kamu ngapain di sini sendirian? Dari sini juga jauh lho ke desa". Tanya Rudy ke wanita itu yang bernama Era.
"Eng.. Enggak ada sihh.. Cuman suka aja gitu kesini waktu sore - sore. Kamu sendiri ngapain? ".
"Motor aku kehabisan bensin, Ra. Dari sini ke desa aja masih jauh. " jelas Rudy.
"Mana motornya? Boleh aku lihat enggak?". Pinta Era.
"Boleh". Mereka pun menuju ke motor yang sudah kehausan bensin itu.
"Ihh kamu bohong. Itu orang bensinnya full gitu. " ucap Era dengan muka kesalnya.
"Lahh! Kok bisa! Sumpah tadi motor aku udah kehabisan bensin. Aku enggak bohong sumpah. "
"Yaudah dehh... Kamu sekarang cepet - cepet pulang! Udah mau malam ini. "
"Kamu mau ikutan enggak. Aku anter sampek rumah deh". Ucap Rudy.
"Rumah aku atau rumah kamu, Rud? " tanya Era dengan nada bercanda.
"Rumah aku juga boleh, hahahaha. " jawab Rudy.
"Em.. Ra, aku boleh minta nomer telpn kamu enggak? ". Sambung Rudy.
"Enggak boleh. "
"Kenapa? "
"Ya karna aku enggak pegang hp. Kalau mau ketemu aku kesini aja, aku setiap sore disini kok". Ucap Era.
"Okehh kamu tunggu ya! Aku janji bakal kesini lagi". Ucap Rudy sambil menunggangi motornya.
**********
1 jam perjalanan dari hutan itu ke rumahnya seakan tak terasa karena hatinya sedang berbunga - bunga.
"Aaaaa... Enggak sia - sia dehh aku kehabisan bensin di sana tadi. Tapi kok aneh ya, tadi itu motor aku bener - bener kehabisan bensin lho. Kok bisa penuh lagi". Ucap batin Rudy.
Hari esok tiba. Rudy yang pergi ke motornya terkaget melihat bar bensin yang kembali kosong.
"Aneh banget si lu montor. Kemarin full sekarang habis lagi. Udah dehh pergi beli bensin dulu biar nanti bisa ketemuan..."
PensilGulingノ( º _ ºノ)
Waktu sore itu pun menyambut Rudy yang sedang melamunkan cara untuk mendapatkn hati Era.
"Langsung aku nyatain aja enggak ya? Dari awal ketemu aku udah ada rasa sama dia".
Dia pun berangkat ke hutan pinus itu untuk memenuhi janji yang ia katakan kepada Era. Seperti biasanya hutan itu sepi, jarang sekali kendaraan yang lalu - lalang di jalan depan hutan itu. Rudy yang sedang kasmaran itu langsung pergi ke tempat ia bertemu kemarin.
"Era dimana ya? Katanya setiap sore dia ke sini. Udah mau senja juga, dia belum datang." ucap Rudy sembari menatapi langit yang sebentar lagi berubah warna.
Selang beberapa menit usai Rudy berbicara. Senja pun menyelimuti langit biru yang sepi awan itu. Langitnya pun berubah dan Rudy yang tengah menatap langit senja dikagetkan dengan tangan yang tiba - tiba menyentuh pundaknya.
"Aaaa! ". Rudy kaget dan melihat ke belakang.
"Lahh ngagetin aja lu, Ra!"
"Maaf maaf. Lagian, aku dari tadi ngelihat kamu ngelamun. Mandangin langit terus, udah gitu mulutnya nganga udah kek gua aja. Untung tuh iler enggak sampek turun. Hahahaha. "
"Iya iya. " jawab Rudy ketus.
"Dari pada berdiri di sini mending duduk yuk! ". Ajak Era sambil menggenggam tangan Rudy.
"Ke.. Kemana Ra? ". Tanya Rudy dengan tubuh yang mulai berkeringat karna tindakan spontan Era.
"Tuhh kesitu". Jawab Era sambil menunjuk ke arah pohon pinus yang sudah tumbang. Mereka pun duduk dan mengobrol layaknya remaja yang sedang kasmaran.
"Er, Era. Kamu mau enggak, kalau kita selamanya bersama?". Celetuk Rudy.
"Ma.. Maksud kamu apa, Rud? ". Tanya Era dengan pipi yang memerah.
"Emm.. Maksudnya, kamu mau enggak jadi temen hidup aku? ". Jelas Rudy dengan nada yang malu - malu.
"Ahhh.. Apaan sihh kamu. Kita aja baru ketemu kemarin."
"Tapi aku udah jatuh hati sama kamu, saat awal kita ketemu, Ra. "
"Rudy, jadi laki - laki itu jangan gampang jatuh hati, apalagi kamu belum tau asal usul orang yang kamu sukai itu". Ucap Era menasehati Rudy.
"Tapi.. ".
"Hmm... Yaudah coba kamu buktiin ke aku kalau kamu beneran suka sama aku. Yang membuat wanita terkesan pada seorang pria itu bukan kata - kata manisnya tapi tindakannya".
"Gimana cara aku buat buktiin ke kamu, Ra. Supaya kamu percaya sama aku, kalau aku bener jatuh hati sama kamu".
"Tunggu saja disini, setelah ini senja bakal berlalu, kamu bakal tau kok, Rud."
Tak terasa obrolan mereka membawa mereka ke bayangan rembulan. Malam pun datang menemani mereka yang sedang duduk berdua dengan ditemani suara jangkrik yang semakin lama semakin ramai.
"Nder... Nderr... Nder... ". Suara jejak kaki yang menggetarkan tempat itu yang sepertinya milik seseorang yang amat - amat tinggi dan besar semakin mendekat ke tempat mereka.
"Ra... Suara apaan sihh itu? " tanya Rudy.
"Sepertinya sebentar lagi dia bakal sampai". Ucap Era.
"Siapa, Ra? " tanya Rudy binggung.
"Kamu bakal tau kok, katanya kamu suka sama aku? "
"Iya tapi, tapi".
"Kenapa kamu takut, Rud? Buktiin disini dan sekarang juga!"
Seketika sosok besar berbulu muncul di depan mereka dan mengulurkan tangan ke arah Era. Kemudia sosok itu mengambil dan menggam erat tubuh Era.
"Aaaaa! Rudy tolong!" teriak Era yang mulutnya mulai memuntahkan darah karena genggaman sosok itu.
"Der.. Der.. Der.. ". Setah mengambil Era dari samping Rudy, langkah kaki sosok itu semakin lama jalannya semakin cepat.
"Eraaaaaaaa! ". Teriak Rudy sambil mengejar Era yang tengah di bawa oleh sosok itu. Rudy pun mengejar Era dengan air mata yang bercucuran dari kedua matanya.
"Jreg... Jreg.. Jreg... " suara langkah kaki Rudy.
"Sreg... Cras! ". Rudy jatuh tersandung batang pinus, kepalanya berdarah terbentur batu dan langsung tak sadarkan diri.
**********
"Krik.. Krik.. Krikk.. "
Sura jangkrik yang mengelilingi Rudy menjadi pertanda tengah malam. Cahaya rembulan yang saat itu semakin terang seakan membanggunkan Rudy yang terbaring pingsan itu.
"Aw! Sakitt". Ucap Rudy sambil menyentuh kepalanya yang berdarah.
"Ra, Era.. Kamu dimana?".
"Tadi kan? Eraaaaaaa! ". Rudy teringat kalau Era dibawa oleh sesosok makluk besar yang tiba - tiba muncul di depan mereka tadi. Rudy melihat sekeliling dan menemukan jejak sosok makluk tadi.
"Syuutt haaaaa.... ". Rudy menghela napas.
"Tenangkan dirimu Rudy. Mungkin kalau aku melacak kemana akhir dari jejak ini aku bisa menemukan Era". Batin Rudy.
Rudy pun mengikuti jejak kaki itu. Semakin jauh jejak kaki itu semakin memudar. Rudy terus mengikuti jejak kaki itu sampai di sebuah pohon pinus besar. Rudy terkaget - kaget saat melihat di tengah kedua pohon pinus besar itu.
"E, Era! ". Rudy kaget melihat Era yang kaki dan tangannya di ikat di antara pohon itu. Tubuh Era terlihat lemas dan bajunya berlumuran darah dengan mata yang tertutup dan kepala yang menghadap ke tanah.
Rudy pun berlari ke tempat Era diikat dengan kakinya yang lemas dan muka yang pucat.
"Era! Era! Buka matamu!. Aku disini". Teriak Rudy dengan air mata yang terus mengalir dari matanya. Tiba - tiba tali yang mengikat Era menghilang seperti bayangan yang tersinari oleh cahaya.
"Bruakkk! ". Suara Era jatuh.
"Era, Era bangun! " pinta Rudy sambil memeluknya. Rudy tak menghiraukan kejadian yang terjadi tepat di depat matanya itu. Era pun membuka mata dengan muka yang pucat.
"Rrrudy! Apa kamu benar, bener jatuh hati padaku? ". Tanya Era dengan mulut yang gemetaran.
"Iyaa, iya Ra! Kamu enggak usah tanya juga sudah tau jawabannya". Jawab Rudy. Tiba - tiba Era teriak kesakitan dengan sangat kencang.
"Aaa! Arghh! " seketika itu kepala Era terpelintir dan lepas. Kepalanya tergelinding menjauhi mereka.
"Eraaa! Kamu kenapa, Ra? ". Tanya Rudy yang mulai melepas pelukannya.
"Ahhhhhhh Era! Era! It.. Itu.. Kepala kamu Ra! Kenapa! " teriak Rudy sambil menunjuk ke arah kepala Era yang lepas.
"Rudy apa? Apa kamu masih jatuh hati kepadaku? " sontak Rudy menengok ke arah kepala Era yang jatuh.
"Ten.. Tentu saja, Ra". Ucap Rudy yang berjalan mendekati kepala Era.
"Rudy, apakah kau tidak merasa jijik kepadaku?! Aku juga bukan sebangsamu. Kenapa kamu masih saja ngotot mengatakan kalau kamu jatuh hati kepadaku? Kenapa? " Tanya Era, heran.
"Memangnya kenapa, Ra? Apa kamu tidak bisa kalau harus mencintaiku walau satu hari saja? " ucap Rudy sambil mengangkat kepala Era dan menghadapkan ke arah pandangannya.
"Rudy" . Ucap Era dengan nada lembut.
"Iya, Ra. Kenapa?" tanya Rudy binggung.
"Lepaskan aku! " Celetuk Era dengan nada tinggi yang membuat Rudy menurunkan kepala Era.
Kesunyian yang diterangi rembulan seakan menyelimuti mereka berdua. Suara jangkrik yang sebelumnya saling bersahut - sahutan seakan menghilang tanpa jejak di tengah malam itu.
"Sebentar lagi dia datang, Rud! ". Ucap Era tegas.
"Siapa, Ra? Jangan - jangan makluk yang tadi itu? " tanya Rudy dengan nada penuh ketakutan.
"Kamu lihat jalan setapak yang disitu? " Ucap Era sambil memberi isyarat dengan kedua matanya.
"Emmm... Yang itu kah, Ra? "
"Iya, cepat kamu lari Rud! Ikuti saja jalan itu. Jangan hiraukan makluk - makluk yang kamu temui saat lari nanti ya! " ucapnya dengan senyum yang terlukis di wajahnya.
" Der... Der... Der..."
"Rudy cepat kamu lari! " ucap Era. Rudy pun lari ke jalan yang di tunjukkan Era.
"Des.. Ctak! " kepala Era ditendang oleh makluk itu. Suara itu membuat Rudy menoleh ke arah suara itu.
"Er, Eraa!" teriaknya dengan badanya gemetar ketakutan dan berpeluh - peluh.
Rudy yang saat itu tak bisa berbuat apa - apa terus berlari saja dan tak menghiraukan sosok yang menendang kepala Era, walaupun ia sempat emosi. Ia tidak lagi menoleh selain ke arah depan.
"Itu seperti sepeda motor aku? " ucap Rudy yang terus berlari melewati jalan setapak.
"Itu... Itu... Seperti Era? Era! " teriak Rudy sambil melambaikan tangannya. Rudy pun sampai di motornya dan berhasil keluar dari hutan itu.
"Lahh Era bukannya kamu?" tanya Rudy binggung dengan rasa takut yang seakan menempel di dirinya.
"Memang ya, Rud! Kamu memang laki - laki yang paling sempurna ya! Andai aku makluk seperti kamu, pasti lamaran dadakan yang kamu ucapkan kemarin bakal langsung aku terima".
"Sebentar Ra. Tadi, tadi aku lihat kamu disana... Kepala kamu... Tapi kok sekarang tubuh kamu kembali normal sih? "
"Simpulin sendiri deh Rud ucapan aku tadi! "
"Maksud kamu, kamu bukan manusia gitu? " tanya Rudy heran.
"Intinya gitu sih Rud. Walau aku ditembak atau ditusuk berkali - kali hingga badan aku berlubang - lubang, wujud aku bakal kembali seperti semula dan tidak akan berubah karna aku sudah lama tiada saat aku mengalami kecelakaan di hutan ini dan sampai sekarang jasad aku belum ditemukan. Jadi aku enggak bisa ninggalIn hutan ini. " ucap Era.
"Ra". Ucap Rudy sambil mendekatkan tubuh dan wajahnya ke wajah Era.
"Jangan bodoh! Sebentar lagi matahari terbit. Aku akan segera menghilang, kamu cepet - cepet pulang dehh! " ucap Era dengan mendorong tubuh Rudy menjauh darinya.
"Emm... Baiklah. Tapi kita bakal ketemu lagi kan, Ra? " tanya Rudy sambil mengarahkan pandangannya ke wajah Era.
"Enggak bakal. Aku enggak mau bertemu lagi dengan kamu, bukan karena aku benci atau apa sama kamu, tapi aku enggak mau kamu mengalami kejadian seperti tadi dan aku enggak mau rasa yang kamu punya terhadap aku itu semakin besar. Aku mohon kalau kamu kesini lagi di waktu senja kamu jangan cari aku lagi!" ucap Era yang tubuhnya mulai menghilang dengan perlahan seiring dengan keluarnya mentari pagi.
"Iya, Ra, aku paham kok. Selamat tinggal, Ra. " ucap Rudy sedih, sambil menunggangi punggung motornya.
Sejak saat itu Rudy tidak pernah lagi bertemu dengan Era dan dia menemukan perempuan perempuan yang bisa menjawab perasaan yang keluar dari hatinya dan juga yang terpenting perempuan itu sama sepertinya, yaitu manusia.