🌼Zodiak : Leo🌼
Peserta : 1.Eka Sari
2.🏵.π.IndahRashie
Kata kunci : Tirai
By : Eka Sari
" Jangan aku mohon jangan nganggu hidup aku lagi" Teriak Ayuni dalam mimpinya.
mimpi yang tetap sama yang selalu mendatanginya, selama dua bulan ini. Mimpi seorang perempuan yang menutupi wajahnya dengan tirai berwarna putih.
Kenalkan namaku Ayuni Hapsari usiaku dua puluh delapan tahun, aku sudah menikah tapi suamiku meninggal dua bulan yang lalu dan semenjak suamiku meninggal, mimpi itu terus datang. Aku sangat takut kalau aku tidur mimpi itu akan datang dan menyerah aku dalam tidurku.
" Ayuni kamu tidak apa-apakah?" Tanya Reni teman satu kantornya.
Ayuni Tersenyum Mendengar perkataan Reni dan Ayuni menggelengkan kepalanya.
"Aku tidak apa-apa ren, Semenjak mas Reo meninggal. Aku memang susah tidur" Jawab Ayuni sambil menyelesaikan pekerjaannya.
Reni pun pergi dari hadapan Ayuni dan sekali-kali dia menoleh ke belakang untuk melihat apa yang di lakukan oleh Ayuni.
Reni memang merasakan perbedaan dalam diri Ayuni semenjak mas Reo suaminya meninggal. Ayuni yang ceria tidak seceria dulu, Ayuni banyak melamun dan waktu di tanya pasti jawabannya tidak ada apa-apa.
Seperti biasa Ayuni pulang dari tempat dia bekerja, malam ini Ayumi pulang agak malam karena dia lembur.
Ayuni merasa bahwa dari tadi ada yang mengikuti dia dari belakang, dan waktu Ayuni menoleh tidak ada siapa-siapa. Ayuni pun mempercepat langkah kakinya, tapi semakin di percepat Ayuni merasa kalau jalannya lambat.
Sampailah Ayuni di depan rumahnya, Waktu Ayuni mau membuka pintu dan Ayuni menoleh ke samping kanannya berdirilah seorang wanita seperti dalam mimpinya. Ayuni pun
bergegas membuka pintu rumah, tapi wanita itu sudah berdiri di depan wajahnya dan mencekik leher Ayuni.
"hhaaaaa....tidak lepaskan aku" Teriak Ayuni kencang.
" Kamu harus mati" Ucap suara tersebut.
" Aku tidak kenal kamu, lepaskan aku ahhhhh sakit" Teriak Ayuni dengan sangat kencang dan berusaha untuk melepaskan diri dari cekikan wanita tersebut.
Rupanya warga sekitar Mendengar teriakan Ayuni dan datang menghampiri Ayuni yang lagi
kesakitan.
Mereka sangat terkejut karena Ayuni teriak kesakitan tapi tidak ada orang yang melukai dirinya.
Tidak ada satu pun warga yang berani mendekati Ayuni, Untung ada seorang ustad yang datang menghampiri Ayuni dan membaca surat Al Ikhlas dan Surat Al Annas.
Bagian : 🏵️•π•IndahRashie°©®°🏵️
Setelah Pak Ustad membacakan surat-surat tersebut, perlahan kesadaran Ayuni kembali. Ayuni duduk lemas dengan wajah pucat dan mata yang nanar. Disekitarnya orang-orang saling berbisik membicarakan kejadian aneh yang barusan dialami Ayuni.
“Kamu tidak apa-apa?” tanya pak Ustad seraya membantu Ayuni berdiri.
Ayuni menggelengkan kepala, “Tidak apa-apa pak, terima kasih.”
“Kalau boleh bertanya, Apakah kamu atau keluargamu ada yang pernah melakukan perjanjian dengan lelembut?” tanya pak Ustad frontal.
Ayuni terdiam. Dia langsung teringat tentang kematian suaminya yang mendadak dan agak tidak wajar. Apakah keluarganya ada yang melakukan perjanjian dengan lelembut?
“Memang kenapa pak?” tanya Ayuni hati-hati.
“Saya lihat kamu ini sedang diikuti iblis perempuan, takutnya kamu dijadikan tumbal perjanjian dengan sosok tersebut.” Kata pak Ustad.
Tubuh Ayuni bergidik ngeri. Mendengar perkataan pak Ustad perasaan curiganya terasa semakin jelas saja. Ayuni pun menceritakan tentang sosok perempuan dengan wajah tertutup tirai putih yang setiap malam menghantui mimpinya.
Pak ustad mengangguk, “Kalau kamu mau terbebas dari hal itu, kamu harus membakar barang yang dijadikan media perjanjian.”
“Media perjanjian?”
*
“Media perjanjian ya?”
Lama Ayuni memikirkan perkataan pak Ustad tersebut, hingga malam pun tiba. Malam ini Ayuni kembali tidak berani untuk tidur. Dia duduk di sisi kasur sembari melihat-lihat album foto pernikahannya dengan sang mantan suami. Di dalam album itu dia menyadari bahwa ada beberapa foto berlatarkan tirai putih yang tidak asing baginya.
Matanya menyipit, “Inikan tirai di ruang tengah.” Gumannya. “Apa jangan-jangan...”
Klip. Mendadak lampu mati. Ayuni lekas mengambil senter dari laci meja dan menyalakannya. Cahaya senter itu menyorot ke sosok perempuan dengan wajah tertutup tirai putih yang tengah menempel di langit-langit kamar. Saat Ayuni menoleh ke atas, tirai putih itu mengenai wajahnya.
“AARRGGHHH!”
Ayuni berlari keluar kamar. Kondisi rumah yang gelap membuatnya agak kesusahan berlari meskipun sudah membawa senter sebagai penerangan. Pikirannya yang kalut terus menggemakan kata tirai ruang tengah.
Ayuni berhasil mencapai ruang tengah dan menemukan tirai yang dicurigainya sebagai media perjanjian. Dia menarik lepas tirai itu, membawanya bersembunyi di balik kursi panjang ruang tengah. Ayuni mengamati tirai dengan seksama dan mendapati adanya empat tulisan arab basmallah yang saling terhubung membentuk persegi empat di sisi belakang tirai tersebut. Di tengah-tengah persegi basmallah, tertulis nama lengkap Ayuni beserta tanggal lahirnya.
Hati Ayuni terasa sakit. Dia tidak menyangka bahwa suaminya sendiri sudah melakukan guna-guna padanya. Memang suaminya itu bukanlah orang yang berada, sementara Ayuni berasal dari keluarga ternama. Perasaan Ayuni teriris mengetahui bahwa mungkin saja cinta nya selama ini adalah palsu.
Ditengah kesedihan itu, dua buah tangan menjulur di belakang leher Ayuni. Siap mencekiknya. Tubuh Ayuni langsung kaku saat sensasi dingin dari jemari-jemari iblis perempuan itu menyentuh lehernya.
Aku harus segera membakar tirai ini! Batin Ayuni.
Dengan segenap kekuatan, Ayuni memukulkan senter yang dibawanya ke belakang. Berharap dapat mengenai iblis perempuan itu. Saat iblis itu menghilang sejenak, Ayuni langsung berlari ke dapur.
“KAMU HARUS MATI!” teriak iblis perempuan itu seraya terbang melayang mengikuti Ayuni.
Ayuni dengan panik melemparkan tirai putih yang dibawanya ke atas kompor gas. Iblis perempuan itu menabrak tubuhnya hingga punggung Ayuni membentur meja keramik. Ayuni tercekik.
“Ugh uh,” erang Ayuni mencoba meloloskan diri dari cekikan iblis tersebut.
Tangan kanan Ayuni meraih tombol pematik gas. Memutarnya. Api menyala membakar tirai putih yang ada diatas kompor gas itu.
“AAAAAAAAAAAAAAA!”
Jeritan iblis itu saat sosoknya ikut terbakar. Iblis perempuan itu terus terbakar hingga menjadi abu bersamaan dengan terbakarnya tirai putih yang menjadi media perjanjian antara sang iblis dengan sang suami.
Ayuni menyaksikan kejadian itu dalam diam sembari mengatur napas. Lalu dia akhirnya jatuh pingsan.
Ayuni pun sadar setelah dua hari dia pingsan setelah kejadian di rumahnya. Ayuni pun tidak tahu siapa yang membawa dirinya kerumah sakit. Karena waktu dia sadar dia sudah ada di rumah sakit.
Ayuni mengingat semua kejadian yang terjadi selama di hidupnya seperti putaran kaset. Ayuni sampai sekarang tidak habis pikir kenapa sang suami yang sangat dia hormati bisa melakukan hal tersebut tanpa dia ketahui.
The end