Kata kunci: Aries ♈️ - Antusias
Peserta :
-Jeje
-Black Queen
- Sanny
❤️❤️❤️❤️
By. Black Queen
Aku berjalan dengan langkah gontai, ku langkahkan kaki menyusuri jalanan beraspal dan berdebu.
"Ini gak boleh terjadi, gue gak mau, hidup gue kayak gini terus, gue harus pindah ke kota, dimana tak ada satupun yang mengenal gue," gumam Rian seorang diri.
Pemuda yang di jauhi masyarakat sekitar, serta teman teman sekampungnya.Keluarganya di landa masalah kriminal, sehingga orang tuanya mendekam di penjara.
Dia hidup sebatang kara, tidak ada anggota keluarga lain yang mau menampungnya.
Bahkan sang kakek nenek turut serta menjauhinya
" Bayu....!!!" Rian memanggil teman sejawatnya.
" Ada apa? " sahut bayu sinis.
"gue mau ikut lu kerja di kota, tolong gue ya, gua mau pindah dari kampung ini!!!" pintaku pada bayu.
Setelah berpikir sejenak Bayu mengangguk dan berkata,"Ya udah ikut gue dulu ke pasar loak belanja barang bekas!" ajaknya.
Kami berdua menyusuri tiap tiap penjual di pasar loak ini, entah apa yang di carinya, tiba-tiba seorang penjual memanggil kami untuk melihat koleksi perhiasan antiknya.
"Silahkan mas, di lihat dulu, barangkali tertarik!! tawar si penjual ramah.
Kulihat ada yang berkilau seperti batu jamrud, ku cari asal kilauan itu, kudapati sebuah cincin perak yang di tengahnya terdapat batu hijau yang cemerlang.
"Ini bagus, berapaan ya pak?? aku menanyakan harga cincin itu.
"Cincin spesial ini tidak boleh sembarangan jatuh ke orang yang salah, tapi karena kamu bisa melihat dan mengambilnya cukup kamu bayar berapapun semampumu." Penjual itu berkata sambil berpikir.
Aku mengernyitkan dahi merasa aneh tentang perkataan bapak itu.
Ku keluarkan uang dari saku, kuambil beberapa lembar puluhan ribu," Segini ya pak." Seraya menyodorkan uang.
" Baiklah kuterima uangmu, jangan kau hilangkan cincin ini, cincin ini akan mengubah hidupmu."
Bapak itu tersenyum lebar.
Kami pulang ke rumah masing masing setelah berkeliling dan mendapatkan barang yang kami mau.
Malam hari di malam 1 Syuro.
Terdengar suara gamelan diiringi ringkikan kuda,
aku terbangun merasa terganggu karena suara itu, kuedarkan pandanganku tapi tak nampak apapun.
Lamat-lamat aku mendengar Adzan dari Toa masjid. Aku bangun dan terkejut karena cincin yang kupakai ini mengeluarkan cahaya.
Ku usap berkali kali mataku mencoba mencari tau apakah ini mimpi atau nyata.
Aku mengusap cincin yang masih bercahaya ini, benar sekali, aku tak bermimpi, ini nyata.
Tiba tiba saja cahaya itu membesar dan menyedot tubuhku masuk kedalamnya.
****
Berbeda ruang dan waktu. Aku telah terlempar ke suatu tempat yang tidak pernah ada dalam sejarah manapun. Tetapi, perubahan Nasibku di mulai.
"Apakah dia sudah mati?" tanya seorang pria sebaya nya.
"Aku memeriksa nafas dan nadinya, dia masih hidup," sahut seorang wanita sebelahnya.
" Mungkin dia hanya tertidur, tapi darimana asalnya?? lihatlah pakaiannya !!! berbeda sekali dengan kita," ujar pria satunya.
Kudengar samar samar suara percakapan itu.
Ku paksakan membuka mata, ku kerjapkan mataku berkali kali, kulihat sekeliling tempatku.
Ini dimana? siapa mereka bertiga? tunggu, sejak kapan aku pingsan disini? aku bertanya tanya dalam hati.
Kulihat sekeliling banyak pohon besar dan sungai mengalir di ujung sana.
Ketiga orang di depanku memandangku dengan heran dan aneh.
"Siapa kau ?Darimana asalmu? kenapa bisa pingsan di tempat seperti ini?? apakah kamu seorang pencuri yang kabur?" cecar seorang pria hitam manis di depanku.
"Tunggu, aku bukan pencuri, tadi aku masih berada di kamarku, aku juga tak tau kenapa bisa disini!"
terangku pada mereka.
"Siapa namamu? sepertinya kamu orang baik!"
Wanita itu tersenyum ke arahku.
" Aa..aku Rian, namaku Ri--an ...," jawabku sambil tergagap.
" Aku Ajeng, sebelahku rejasa dan yang hitam itu Gitareja." Wanita itu memperkenalkan dirinya dan 2 pria itu.
" Selalu memanggilku hitam," sungut Gitareja kesal.
Aku berdiri sambil memandangi mereka satu persatu, baju mereka aneh sekali, dan ini hutan asli yang masih alami, sebenarnya dimanakah aku?
" Kau ikut kami saja, disini tidak aman, banyak pencuri yang keluar masuk hutan ini," usul Rejasa.
Kami berempat meninggalkan hutan, di tengah perjalanan perutku berbunyi, tanda minta di isi.
Ajeng tersenyum padaku, dia segera mengajak kami berhenti dipasar untuk membelikanku makanan.
Ajeng mengeluarkan koin berwarna perak dan emas untuk membayar makanan itu.
Dimanakah ini?? kenapa dengan uang uang itu??
tunggu, bukankah itu prajurit berkuda??
jadi aku berada di masalalu, tepatnya di masa kerajaan.
Pikiranku kemana mana, bahagia rasanya bisa berada disini, dimana tidak ada seorangpun yang mengenalku dan 3 orang di sampingku ini sepertinya mereka baik dan dari keluarga yang mampu.
Aku melihat keadaan pasar, saking Antusiasnya berada disini tak sengaja aku menyenggol seorang gadis yang memakai cadar transparan.
Matanya bulat dan bersinar, dari balik cadar itu kulihat bibirnya yang mungil dan indah.
Aku menikmati keindahan gadis di depanku.
" Kau, kau kenapa?? kenapa menganga seperti itu?? lihat air liurmu menetes," ujar gadis itu sambil terkikik geli.
Kukatupkan mulutku dan tersenyum padanya sambil berkata " Maaf, aku tak sengaja menyenggolmu tadi."
" Putri.... Raja mencarimu di istana, ayo kita pulang, cukup main mainnya," teriak seorang wanita paruh baya pada gadis itu.
Jadi dia putri raja, kulihat cincin itu bercahaya dan menyedotku kembali.
Ku buka mata dan mengerjapkannya perlahan, badanku terasa lemas dan perutku sangat lapar seperti berhari hari tidak makan.
"Aku di kamar?? tapi tadi seperti nyata, aku harus makan, dan mencari tau kejadian ini". Aku bergumam seorang diri.
Malam harinya.
Cincin ini bersinar lagi dan menyedotku kembali ke masa kerajaan.
Kali ini aku sungguh Antusias berada disini, aku mencari ketiga temanku, kudapati mereka di luar kawasan pasar.
"Aku cari kemana mana, saya pikir kamu hilang ditangkap dan di bawa prajurit ke istana," Gitareja berkata.
Di sisi lain pasar.
"Prajurit membawa berita, barang siapa bisa mencari bunga bintang surgawi untuk obat permaisuri, jika lelaki maka akan bisa menikah dengan putri raja suhita, jika perempuan akan jadi saudari sang putri dan dihadiahkan rumah singgah di istana," seorang prajurit berkuda berkata lantang, di sebuah kerumunan.
Putri Suhita ?? apakah gadis tadi putri raja bernama Suhita?? jadi, aku ada di kerajaan majapahit, kalau putri tadi Suhita berarti raja sekarang pasti Wikramawardhana.
Aku berdecak kagum karena aku tau sekarang aku berada dimana.
***
By. Eouny Jeje
Karena paras ayu dan kecantikan surgawi Putri Suhita membuatku antusias mengikuti sayembara.
"Rian, apa kau ingin ikut sayembara?" tanya Gitareja padaku.
Aku langsung mengangguk. Ajeng terbahak mendengar jawabanku, "Fisikmu lemah seperti itu. Kau terlihat tidak memiliki tenaga dalam melawan mahluk mitos, si mata tiga yang sangat mengerikan."
"Jangan seperti itu. Kita bisa mengajak Rian untuk menjadi umpan kita menangkap roh mistis itu." Gitareja tiba-tiba saja membuatku merasakan pertemanan kami akan berakhir menjadi pertumpahan darah. Aku hanya membisu. Tidak berkomentar banyak. Di jadikan umpan? Tidak akan ada yang tahu siapa yang pantas menjadi umpan?
Aku mengabaikan setiap percakapan mereka yang terdengar mengejek dan meremehkan diriku, serta berencana akan menjadikan aku umpan.
Aku hanya menatap cincin sakti yang tersemat dalam jari tanganku. Aku yakin, cincin ini mampu menjadi perisai ku melawan roh mistis itu. Aku hanya perlu berkosentrasi dengan tujuanku, mendapatkan bintang surgawi untuk kesembuhan permasuiri.
Kunon, menurut ahli nujum bahwa bintang surgawi berada di sebuah goa yang keberadaannya tidak di ketahui. Untuk mengetahui misteri ini, kami harus mengalahkan roh mistis itu yang menjadi penjaga hutan belantara.
Aku hanya mengikuti setiap perjalanan mereka. Karena aku hanyalah pemuda lemah, aku hanya bisa menyaksikan kehebatan Jasareja dan Gitareja membasmi tuntas para pesaing dalam sayembara, dan kemenangan akhirnya berada pada kami. Setelah menyingkirkan banyak peserta. Akhirnya kami menjadi Tim pemenang tinggal dalam sayembara ini.
Dengan berjalan kaki selama satu hari penuh. Tanpa terasa kami telah mencapai hutan belantara itu, konon tempat persembunyian hewan mitos tersebut.
"Kita beristirahat di sini. Jika binatang itu datang. Barulah kita masuk," ujar Ajeng memberi perintah.
Aku menangkap wajah lelah Ajeng, dan bertanya "Bagaimana kita mengetahui kehadiran binatang tersebut?"
Ajeng membolakan matanya dan dengan sepasang matanya, dia seakan memberi isyarat dua teman prianya. Tiba-tiba saja Jasareja dan Gitareja mengepungku dan mengikatku dengan tali tambang, dengan simpul yang ketat.
"Kau tidak perlu tahu. Kau hanya umpan bodoh!" umpat Jasareja yang melemparkanku ke atas tanah berdaun kering.
Aku menghela napas. Merasa perjalanan waktuku hanya akan membawa kebinasaan untukku lebih awal. Aku hanya bisa pasrah akan takdir kesialanku di dua waktu. Tidak ada yang bagus. Tidak ada yang berubah. Aku hanya akan terus menjadi umpan.
Aku hanya diam-diam mengintip tiga sekawan tersebut bergurau dan menyombongkan diri jika menjadi pemenang sayembara.
"Aku akan menjadi raja selanjutnya mempersunting Suhita, ha ... ha ... ha ...." Gitareja berdiri dengan menggigit daging buruannya.
"Kau akan kalah denganku!" Jasareja mendorong Gitareja. Gitareja bangkit dan bersikap akan menghajar teman karibnya sendiri. Jasareja mengeluarkan busurnya dan bersiap membidik
Gitareja pun mengeluarkan cambuk saktinya yang panjang bersiap memukul lawannya.
Namun,Ajeng segera berdiri di tengah -tengah dua pemuda gagah tersebut.
"Stop! Jangan bertengkar!" lerai Ajeng. "Kita kalahkan mahluk mitos itu. Soal kekuasaan belaka, kita jangan sampai melukai hidup kita. Ingat kita bersahabat dari kecil."
Gitareja dan Jasareja terlihat melunak, dan terlihat berdamai kembali karena Ajeng menasehati mereka.
Aku tersenyum meringis karena dua pria gagah itu tidak saling membunuh. Padahal, aku berharap mereka saling menerkam dan membinasakan.
Swoshhhh...
Terdengar langkah cepat yang tidak bisa terlihat. Seketika aku bergindik. Namun, kecepatan bayangan itu nyaris tidak terlihat.
"Dia datang!" Peringat Jasareja tiba-tiba membawaku tubuh melompat bersamanya di dahan yang tertinggi.
Ajeng dan GitaReja pun melakukan hal yang sama. Melompat ke dahan yang tinggi dengan posisi yang berpencar.
Tiba-tiba semilir angin yang lembut berubah menjadi angin badai yang terasa akan menggoyangkan tubuh kami jatuh setiap saat dari pohon.
Daun-daun hijau pun perlahan berubah menjadi bewarna ungu terang yang berkelap-kelip indah menghias gelapnya hutan belantara.
Tidak lama satu sosok besar datang.
Tap! Tap! terdengarnya langkahnya menggetarkan bumi dan mengguncang-guncang tanah.
Dan .... Blammmmmm! Aku di lemparkan dari dahan tertinggi dan hampir saja jatuh ke dasar tanah, kala sebuah tangan tiba-tiba terbentang menyambutku.
"Tuan!"
Aku mengerjapkan mataku kala sang binatang besar bermata tiga itu memangku tubuhku yang terikat dan aku terkesiap akan sapaan hormatnya memanggil diriku, " Tuan!"
"Aku bukan Tuanmu!"
"Cincin ini adalah pusaka! Kau adalah tuanku yang ribuan tahun telah aku tunggu! Aku Onozx adalah abdi setia mu."
Binatang dengan tiga mata dan tanduk persis banteng itu, memutuskan tali ikatanmku, dan dia menjilat setiap luka memar akibat tali ketat mengikatku. Dengan sekejap, luka memar itu sembuh sendiri. Luar biasa.
Aku terkesiap lagi, dan bingung. Aku memiliki abdi setia, sehebat dan sekuat ini di dunia. Benar-benar tidak aku sangka, tubuhku lemah. Tetapi, aku punya pelindung yang hebat.
Swossh!! sebuah anak panah meluncur dan Jleb! untung saja Onozx dengan cepat membawaku melompat dan menghindar anak panah tersebut. Onozx memindahkan ke tempat tersembunyi,dan dati jauh aku bisa melihat pertarungan tiga sekawan itu dengan abdi setiaku.
"Binatang itu ternyata berteman dengan pemuda lemah itu. Cih!" Ajeng meludah dan mulai melemparkan banyak senjata rahasia menyerang Onozx. Begitupula Gitareja mulai mencabuk Onoxz dengan cambuknya, dan Jasareja berkali-kali menghujam anak panah menembus daging Onoxz.
Onoxz hanya tersenyum tipis. Dengan gigi yang terlihat runcing dan air liur yang terus jatuh menetas, dan kuku panjang yang mengais tanah. Dia terlihat tidak melawan sedikitpun. Dia pun memejamkan mata, seakan dia menunjukkan ajalnya telah tiba pada lawannya.
Sampai akhirnya Gitareja lelah mencabuk. Ajeng kehabisan senjata rahasia. Jasareja kehabisan anak panah.
"Apakah dia mati?" Ajeng bingung "Terlalu mudah sekali."
"Dia tidak melawan." Jasareja ikut heran.
Gitareja melangkah menghampir binatang berbulu emas tersebut dan melihat sepasang matanya terkatup erat, "Dia benar mati!"
Ajeng dan Jasareja penasaran ikut melangkah dan melingkar binatang yang terlihat kehilangan napasnya. Mereka berjalan lebih dekat dan menatap lekat-lekat.
Kreshhh! Onoxs membuka matanya, dan giginya runcing menancap tubuh Ajeng yang berdiri paling dekat dengannya.
Kresh! Ajeng tertelan dengan mudah dan cepat dalam mulut Onoxz.
Jasareja dan Gitareja segera lari ketakutan dan berpencar berbeda arah. Di saat itu setiap panah terlepas berantakan dari tubuh Onoxz, dan setiap luka yang ternganga terlihat merapat hilang tanpa jejak. Dia sembuh dengan ajaib.
Aku yang mengintip. Diam-diam mengacungkan jempol akan kekuatan abdiku. Lalu, aku melihat bagaimana Onoxz tiba-tiba berlari dan mengejar langkah Gitareja dengan muda, dan srukkkkkl! Tanduk Onoxz dengan mudahnya menembus punggung ke dada Gitareja, dan membuat pemuda itu kehilangan jantung berdenyut dalam hitungan satu menit.
Aku benar-benar terkagum-kagum dengan kekuatan Onoxz yang membuatku besar kepala sekaligus berbangga memiliki abdi seperti dirinya. Aku pun menjatuhkan pandanganku pada Onozx yang kembali mengejar Jasareja. Jasareja berupaya terus melompat kesana kemari dari setiap dahan ke dahan lainnnya. Namun, dengan tanduknya yang kuat, Onoxz selalu dengan mudah menumbangkan setiap pohon yang menjadi pijakan Jasareja.
Bruk!!! Jasareja jatuh dari dahan tertinggi. Lalu, mulut Onoxz terbuka lebar menunjukan taring runcing yang tiba-tiba kresh! setiap gigi tajam itu mencabik-cabik perlahan daging Jasareja dan hanya terdengar rintihan meminta tolong yang terdengar sayup-sayup di telingaku.
***
By. Sanny
Akupun segera melompat turun ke atas tanah. Berjalan perlahan mendekat pada Onoxz, dan memeluknya perlahan, seraya mengelus bulunya yang tiba-tiba berubah warna merah muda. Aku tidak menyadari jika hal itu menandakan binatang mistis ini tersipu malu akan sikapku.
Lalu, aku pun berbisik memberitahu tujuanku, "Tunjukkan padaku bintang surga."
Onoxz terlihat menyipitkan matanya, bulu merah mudanya perlahan kembali ke warna semula, bewarna putih gading dengan bercak-bercak merah, jejak tersisa makanan mahluk hidup dalam mulutnya.
"Untuk apa?"
"Aku ingin menyelamatkan permasuiri dan menikah dengan Puteri Suhita!" ujarku tidak menyadari perubahan warna bulu Onoxz melambangkan perasaannya padaku. Setiap bulu Onoxz terlihat bewarna ungu gelap yang terlihat layu, dan aku bahkan tidak menyadari ada air mata tersembunyi di ujung mata Onoxz yang selalu menyeringai tajam.
"Apakah kau menyukai nya?"
Mendengar pertanyaan itu. Aku mengangguk kan kepala, dan dia terlihat menunduk dalam dan aku tidak menyadari dia menyembunyikan isaknya dengan sangat apik.
"Akulah binatang surga itu, Tuan."
"Kau?" Aku terperangah, dan duduk memohon memeluk kakinya, "Aku mohon bantu aku, sembukan permasuiri. Aku sangat mencintai Putri Suhita."
Onoxz tersenyum getir, "Bagaimana Tuan bisa menyukainya?"
Aku tersipu malu dan menjawab, "Aku menyukainya karena dia sangat cantik."
Onoxs membisu dan hening tercipta, dan semesta pun ikut menciptakan sunyi yang mencengkam panjang.
'Kau menyukai seseorang hanya karena dia cantik. Lalu, bagaimana dengan aku yang rela terlihat buruk dan mengabdi ribuan tahun menunggu setia kehadiran Tuan yang di Puja dan di cintai sepanjang waktu. Aku bahkan setiap detiknya berjuang hanya untuk memohon agar semesta menyatukan kembali cinta kita. Tetapi, kau malah ingin mempersunting wanita lain. Kau lahir kembali dan melupakan pengorbanan diriku.' Onoxz menangis dan menjerit dalam hatinya akan perjuangannya yang terlihat sia-sia.
"Abdi setiaku, bantulah aku.... Aku sangat mencintai, dan sangat memuja keindahan itu."
Onoxz menangis dan menjerit dalam diam. Namun, kepalanya menganggukkan persetujuan akan permintaanku. Aku berbahagia sekali saat itu, dan aku mulai membayangkan pernikahanku dengan Suhita, Puteri keindahan negeri ini.
"Sebelum aku memberikan bintang surga. Aku hanya berpesan, jangan pernah menyesal akan keputusanmu. Tetaplah berbahagia seperti yang kau inginkan."
Aku hanya menganggukan kepala, tidak terllau tertarik dengan pesan Binatang berbulu. Aku hanya antusias dengan tujuanku. Menikahi Puteri cantik jelita.
Jleb! Tiba-tiba Onoxz menancapkan kuku runcingnya ke jantungnya. Aku terkejut bukan kepalang. Namun, sosok Onoxz tiba-tiba berubah menjadi seorang wanita cantik dengan wajah lembut yang terlihat tidak asing dalam ingatanku.
"Maharani!" sebutku mengejutkanku, dan meraih tubuh halus itu dalam rangkulanku yang tiba-tiba menghangatkan dirinya.
"Untuk mendapatkan bintang surga. Aku harusayi, tuanku."
"...."
"Selamat tinggal Tuanku. Aku sangat mencintaimu. Bahkan nyawapun rela aku Korbankan."
Aku nelangsa mendengar kalimat terakhir Maharani. Namun, aku terlambat untuk menyesal. Kala tubuh wanita penuh keindahan itu berubah menjadi kunang-kunang yang berkelap-kelip pergi ke langit, dan hanya menyisakan tanaman dengan daun yang terlihat mirip bintang itu.
Aku menangis dan sedih, kala mengetahui betapa bodohnya diriku telah menyia-nyiakan seseorang yang sangat setia dan mencintaiku.
***
Aku menyerahkan bintang surga pada kerajaan. Namun, aku menolak pernikahan dengan Suhita. Hatiku menolak menikah, karena setiap jantungku hanya akan berdenyut mengingat betapa indahnya Maharani mencintaiku. Tidak akan ada wanita lain yang mampu seperti Maharani, mencintaiku dengan banyak perjuangan di dalamnya. Andai aku bisa kembali memilih lagi, aku akan memilih hidup bersama Maharani walau penampilannya bak binatang buas daripada setiap detikku di rundung penyesalan akan cinta sejati yang menguap ke udara.
***
Tamat .