Grup Leo ♌ Tirai
Oleh : Nanhi & Sakinah
🕯️🕯️🕯️
Bumi bukanlah tempat yang aman. Itu adalah penggalan kata yang terngiang-ngiang di otakku sejak satu minggu terakhir.
Aku hanya melirik singkat kearah orang tuaku yang bolak balik ke sana kemari memasukkan barang ke mobil.
Bukan tanpa alasan, kami akan segera meninggalkan tempat kelahiran ku dan pindah ke daerah yang asing. Karna tuntutan pekerjaan nya, ayah memutuskan pindah. Aku hanya bisa mengiyakan apa yang mereka berdua sepakati, walau itu sangat menggangu ku.
"Yo ...! Cepetan masuk mobil ...!" teriak ibuku memekik telinga.
Tak ingin menjawab ataupun membantah, segera ku masuki mobil yang penuh dan sesak itu.
Sekitar lima jam perjalanan, kami sampai di perumahan tempat tinggal kami yang baru. Perumahan ini cukup sepi menurutku. Tidak ada anak kecil ynag bermain ataupun ibuk-ibuk yang membawa anaknya jalan-jalan sore.
Ku lepas handset yang menutupi lubang telingaku saat mobilnya berhenti di depan sebuah rumah minimalis modern yang lumayan besar.
"Ayo ...! Bawa keluar barangnya!" Teriak ibu ku lagi.
Aku tidak sendiri, aku punya adik laki-laki. Dia adik yang patuh dan teladan. Jangan harap aku seperti dia. Tanpa ingin berlama-lama mendengar ocehan ibuku yang tidak berhenti, segera ku bawa masuk koper dan beberapa dus yang berisi barang pribadiku ke dalam.
*****
Semua selesai, walau belum sepenuhnya, tapi setidaknya rumah ini sudah terlihat rapi.
Malam yang sepi menurutku, saat ku buka sedikit tirai jendela kamar. Tidak terlihat ada orang yang lalu lalang di luar. Padahal ini masih tergolong awal, belum sampai tengah malam.
Retina ku seperti tertarik ke sebuah rumah yang terlihat gelap itu. Rumah yang berada tepat di depan rumahku. Rumah yang begitu sepi dan gelap. Namun, ada yang aneh, di lantai dua rumah itu terlihat sedikit cahaya.
Jiwa detektif ku mulai aktif, tapi saat aku tengah fokus memandang dan memerhatikan, tiba-tiba sebuah wajah terlihat di balik tirai jendela di lantai dua rumah itu.
Sial saja, aku terkejut bukan kepalang. Sampai tak sadar aku menahan nafas. Aku bukan takut, tapi hanya terkejut ... Itu saja.
Tak ingin bermimpi buruk, ku akhiri rasa penasaranku itu dan langsung masuk ke alam tidur.
*****
Pagi yang dingin dan sepi. Tidak ada yang lalu lalang di sekitar perumahan. Aku mulai melakukan pemanasan untuk menyegarkan tubuhku hari ini. Joging adalah kuncinya.
Dengan pakaian olahraga serta handset di telinga, ku mulai lari ku perlahan.
DEG!!
Aku tersentak saat seseorang menepuk pundak kiriku. Segera ku palingkan tubuh ku kearahnya. Seorang bapak-bapak berkumis tipis tersenyum padaku. Walau terasa aneh, tapi dia tidak terlihat mencurigakan.
"Bapak baru lihat kamu, baru pindah di daerah sini ya?" tanyanya.
"I-Iya Pak ..., saya orang baru di sini." Aku rasa itu jawaban yang cukup.
"Siapa nama mu, nak?" tanyanya kembali.
"Aryo, Pak." Aku berharap dia segera pergi. Aku tidak tau bahan apa yang bisa ku bicarakan dengan bapak-bapak.
"Ya sudah ... bapak duluan ...!" ucap si bapak mengakhiri sapaannya dan berlari mendahuluiku.
*****
Sekitar satu jam ku lakukan joging, kini tubuhku sudah berpeluh. Ku cukupkan untuk hari ini dan segera kembali ke rumah untuk mengisi perut yang sudah bunyi.
Untuk sebentar, aku melirik ke arah rumah sepi itu. Tidak ada seorang pun, rumah itu sangat tidak terawat.
Ku arahkan pandanganku ke jendela yang muncul kepala manusia semalam. Tidak terlihat apa-apa di sana. Hanya ada tirai putih yang kotor.
"Sudahlah ...!" Ku akhiri rasa penasaranku itu dan masuk ke rumah.
Sore pergi dan malam pun menjelang.
Mata ku sudah perih karena game yang ku mainkan selama satu jam. Ingin rasanya aku berbaring, tapi niat ku tertahan saat mendengar suara dari luar.
segera ku dekatkan wajah ke arah jendela. Aku terfokus pada seorang perempuan paruh baya yang memakai baju merah masuk ke rumah tak berpenghuni itu. Dengan santainya dia membuka pintu dan masuk ke dalam.
Dengan sigap aku terus memantau dari jendela. Wanita itu sudah masuk selama setengah jam, tapi rumah itu masih saja gelap tanpa diterangi cahaya.
Setelah satu jam lebih, wanita itu keluar dengan membawa plastik hitam besar di tangannya. Aku jadi semakin penasaran. Apa yang sebenarnya ada di rumah itu.
Setelah kepergian wanita paruh baya tersebut, ku lihat sekali lagi ke arah rumah itu. Namun, fokus ku kali ini pada jendela lantai dua yang kini tidak ada cahaya.
DEG!!!
Tubuh ku kaku saat melihat wajah di balik tirai itu lagi. Dan dia ... melihat ke arahku!
"Bakal mimpi buruk malam ini ...!" Ku usap wajah ku kasar.
*****
Pagi ini sengaja aku pelankan lari ku. Semoga bapak kumis kemarin juga joging hari ini, harap ku.
Sekitar sepuluh menit menunggu, akhirnya beliau datang.
"Pagi ..., Pak!" sapaku sopan.
"Eh ... nak Aryo ..., kebetulan sekali kita bertemu lagi." Aku hanya tersenyum singkat dan mengangguk.
Walau sedikit canggung, aku mencoba untuk memecah rasa penasaranku ini.
"Maaf Pak ..., saya sedikit penasaran dengan rumah yang di depan rumah orang tua saya. Apa ada yang tinggal di rumah itu? Soalnya saya liat rumah itu tiap hari sepi. Apa bapak tau sesuatu?" Ku harap mendapat jawaban yang memuaskan.
"Oh! Rumah itu ...! Kayaknya gak ada yang tinggal di situ ..., setau bapak, rumah itu udah lama kosong. Ada apa memangnya nak Aryo?" Tanya Pak Rahmat padaku dengan wajah penasaran.
"Oh ... enggak Pak, saya cuma pengentau aja," Putus ku.
Bukan lega, aku malah semakin penasaran dengan rumah itu saat mendengar jawaban Pak Rahmat barusan.
Siang itu, aku mencoba melihat rumah tersebut lebih dekat. Hawanya terasa berbeda, mungkin karna tidak ada penghuninya. Aku tidak berani berjalan terlalu dekat ke arah rumah itu, takutnya warga mengira aku maling rumah kosong.
Namun, otakku ingin tau dengan isi dari rumah itu. Akhirnya ku putuskan untuk menekan bel, mungkin saja ada yang menjawabnya.
Ting ...Tong ...
Tidak ada yang menjawab, menandakan rumah ini memang tak berpenghuni. Jadi, kepala siapa yang ku lihat dibalik tirai jendela lantai dua?
Segera ku berbalik dan meninggalkan rumah itu, tapi saat tiba-tiba sebuah suara dentuman keras terdengar dari dalam rumah itu membuat niatku terhenti.
Ku dekatkan telingaku kearah pintu kayu yang usang dan berdebu itu. Sepuluh menit ku diam di sana, tapi suara itu tak lagi muncul.
Ku putuskan untuk benar-benar pergi. Namun, bukan suara dentuman yang ku dengar sekarang, tapi suara pecahan kaca yang terbentur ke lantai.
Aku sedikit merinding dan segera menjauh dari sana. Mata ku membulat saat melihat sebuah tulisan berwarna merah di jendela lantai dua. Di sana tertulis ... Tolong!!!
Aku benar-benar tak bisa menghentikan langkah ku lagi. Aku segera berlari ke rumah mengambil linggis yang bisa untuk membuka pintu itu secara paksa.
KRIEEETT ...!!! BAM!
Pintu itu sudah terbuka lebar, segara ku masuki ke dalam rumah itu. Sungguh memiriskan, kondisi rumah ini sangat buruk dengan debu dan barang-barang yang sudah di makan oleh rayap.
Bahkan ada bangkai tikus yang sudah tinggal tulang bululang. Aku tidak berani bergerak sembarangan.
Ku coba untuk menelisik ke segala arah, ruang tamu, dapur, dan kamar mandi. Lantai satu tidak ku temukan apa-apa. Ku lanjutkan ke lantai dua, dimana kejadian aneh terjadi.
Anak tangga itu terasa begitu panjang dengan bunyi kriet ... yang mengilukan. Hanya tinggal dua anak tangga yang akan membawaku ke lantai dua.
Tidak seperti lantai satu, di lantai dua ini terlihat adanya jejak kehidupan walau tidak banyak. Setidaknya debu yang tebal dan bangkai tidak ada. Di lantai dua ini, hanya ada dua kamar. Satu di pojok kiri dan satu lagi di pojok kanan.
Menurut analisaku, kamar yang terletak di pojok kanan adalah kamar yang ku lihat tulisan itu. Tapi, untuk memastikan, aku mulai melihat isi di kamar yang di pojok kiri terlebih dahulu.
Dan benar saja, kamar itu terkunci rapat dan di gembok dari luar. Ini menandakan tidak ada orang di dalamnya.
Segera ku balik haluan menuju ke kamar di pojok kanan. Semoga saja tidak ada hal yang aneh terjadi.
Kamar itu tidak tergembok, tapi tertutup dengan rapat. Perlahan ku gerakkan gagang pintu itu ke bawah untuk membukanya. Perlahan bilah pintu itu terbuka. Ku dorong pelan pintu itu berharap bisa melihat isi di dalamnya.
DEG!!!!
Mataku membulat seketika saat melihat seorang gadis kurus, terduduk lesu di atas kursi roda. Matanya menatapku dengan tajam. Sepertinya dia sedang waspada.
Perlahan, ku langkahkan kakiku mendekat padanya. Satu langkah ku maju, sekali dia mundur. Begitu seterusnya hingga dia tak ada celah untuk menjauh dariku lagi.
"Aku ... bukan orang jahat, kau ingat rumah di depan itu ...! Itu rumahku. Kau tidak perlu takut, aku hanya ingin bicara denganmu, apa boleh?" Jelas ku padanya dengan nada ramah.
Dia tidak menjawab, dia hanya bungkam memandangku dengan tajam.
"Baiklah ... begini saja, kau menulis kata tolong di jendela mu itu kan? Nah ... Karna aku melihatnya, maka aku berniat untuk menolongmu." Jelas ku kembali mencoba mendapatkan kepercayaan nya.
Sebentar dia memandangku, lalu dia langsung mengambil sebuah buku dan pensil yang dia letakkan di belakangnya. Dia mulai menulis sesuatu di sana.
Setelah beberapa menit, dia mengulurkan kertas itu kearah ku. Segera ku ambil dan membacanya. Di sana tertulis ...
[Tolong aku! Aku ingin keluar dari sini ...! Aku sudah tidak tahan lagi! Aku lebih baik mati dari pada di siksa terus menerus oleh ibu tiriku. Tapi aku tidak ingin ayah ku kecewa melihatku bunuh diri. Tolong aku ...! Dia selalu menyiksaku, memaksaku meminum obat tidur, dia juga memaksaku untuk meneken segala surat yang entah apa itu. Aku tidak bisa ke luar dari sini. Aku lumpuh, dan aku bisu. Aku tidak bisa meminta tolong atau pun turun dari lantai dua ini. Sebelumnya tidak ada yang melihat kearah rumah ini, tapi aku merasa lega saat kamu melihat kearah ku malam itu. Aku merasa takdir akan berpihak padaku kali ini. Jadi ... tolong bawa aku keluar dari sini. Kumohon padamu bantu aku ...]
Otakku kacau saat membaca apa yang ditulis gadis itu. Aku tidak tau apa yang harus ku lakukan. Otakku malah kosong di saat-saat seperti ini.
"Kita harus lapor polisi dulu sekarang ...!" Aku begitu tersentak saat mendengar seseorang berbicara di belakang ku.
Segera ku balikkan tubuhku dengan jarak waspada. Mataku membulat saat melihat orang di depanku. Kenapa adik laki-laki ku bisa ada di sini? begitu pikirku saat melihatnya menatapku dengan tajam.
"Se-Seno ...! Sedang apa kau di sini?!" Tanyaku tak habis pikir.
"Aku melihat kakak berjalan cepat dengan membawa linggis ke rumah orang. Jadi, ku pikir kakak ingin melakukan tindak kriminal. Makanya aku mengikuti mu sampai kemari." Jawabnya dengan wajah datar.
Aku hanya bisa menghela nafasku kasar. Dengan saran dari Seno, aku segera menelpon polisi dan melaporkan kajadian ini.
******
Akhirnya, ibu tiri dari gadis yang bernama Jelita itu ditangkap oleh pihak kepolisian atas tindakan pembunuhan yang dia lakukan pada suaminya, dan penyekapan yang dia lakukan pada anak tirinya dengan tujuan mendapatkan hak harta warisan sepenuhnya.
Wanita keji itu di hukum penjara seumur hidup. Jelita yang menjadi korban penyekapan kini tengah di rawat di rumah sakit dan akan mendapat pembinaan.
Akhirnya, semua rasa penasaran dan kejadian aneh dalam kurun waktu satu Minggu itu berakhir dengan ocehan ibuku yang tidak berhenti.
Sebagai anak ... aku hanya bisa diam dan mendengarkan. Setidaknya, aku puas dengan misteri tirai lantai dua itu.
TAMAT ∆
TERIMA KASIH ATAS KUNJUNGANNYA👍🙏
Jangan lupa LIKE & KOMENNYA 💋