Aku berjalan pagi ini dengan begitu nyaman ditemani oleh anakku..
Kami berdua memutuskan untuk bermain di taman yang tidak jauh dari tempat kami tinggal..
Yah aku hanya bisa menemaninya pagi ini saja..
Karena setelah ini aku akan berangkat bekerja..
"Nak tolong jangan berjalan terlalu jauh" Ucapku melihat anakku yang telah berlari..
Aku mengambil sejumput rokok dari kantongku dan menghisapnya dengan pelan..
Rasa tembakau yang akrab membuatku sedikit tenang..
Rasa khawatirku sedikit menghilang..
Melihat wajah anakku yang sedang gembira melihat berbagai tanaman dan mengejar kupu-kupu kecil yang berterbangan dengan indah..
"Lucunya" Gumamku dengan pelan.
"Yah itu sangat menggemaskan"
Aku kaget ketika gumaman kecil dibalas oleh seseorang..
Aku melihat disampingku sudah berdiri seorang gadis dengan berpakaian SMA sedang melihat anakku dengan senyuman diwajahnya ..
"Aku tidak akan memberikannya padamu kau tahu"
"Itu adalah lelucon bapak - bapak yang bagus"
"Aku tidak setua itu"
Aku ingin marah akan tetapi orang dewasa tidak akan semudah itu menunjukkannya dipermukaan..
Lagipula aku tidaklah tua..
Umurku masih 26..
Itu tidak tua kan ?
"Kau harusnya berangkat sekolah.. bukannya berkeliaran di taman"
"Sekolah membosankan"
Aku mengangkat sedikit alisku ketika mendengar jawaban miliknya..
"Sekolah itu penting.. kau tahu akan hal itu bukan ?"
"Yah.. aku tahu.."
"Kalau begitu berangkat sekolah dan jangan bolos"
"Kau bukan ayahku kenapa aku harus menurutimu"
"..."
Yah itu jawaban yang bagus jadi aku pikir tidak perlu berdebat lagi..
...
Melihat anakku kembali menjadi membuatku sedikit rindu akan hari itu..
Taman ini adalah suatu yang begitu spesial bagiku dan istriku..
Aku menghisap kembali rokokku dengan tenang untuk mengalihkan pikiranku..
Namun kenyataan pahit masih menyesakkan di hatiku..
Ketika aku sedang mengenang tiba - tiba gadis yang ada disampingku sudah menghilang dan ternyata dia sudah ada di dekat anakku..
Mereka saling berbicara dan entah kenapa mereka langsung akrab..
...
Aku melihat seorang gadis SMA sedang menemani anakku bermain..
Aku ingin memisahkannya dari anakku tapi anakku langsung menangis..
Apakah anakku sedang rindu dengan ibunya sampai dia menangis..
Aku bisa merasakan dadaku kembali sakit ketika teringat mendiang istriku..
...
Gadis tersebut melihat jam tangannya dan menyadari bahwa waktu sudah melewati jam 7.
"Gawat.. Maaf Rei aku tidak bisa berlama - lama.. aku harus ke sekolah"
Anakku melihat dengan sedih namun sedikit beberapa hiburan dari gadis tersebut dia agak tenang..
"Aku pikir kau tidak peduli dengan sekolah" Ucapku dengan tersenyum.
"Aku hanya tidak ingin ibuku marah.. itu saja"
Gadis tersebut melambaikan tangannya dengan senyum perpisahan yang dia berikan..
"Rei.. mari kita pulang.."
Anakku mengangguk kepadaku dan kami berjalan pulang bersama..
...
...
...
Hari berganti hari..
Ketika aku mengajak anakku ke taman..
Gadis SMA itu selalu ada di sini..
Dia tersenyum melihat anakku yang sedang bersemangat berjalan menuju dia..
"Rei.. apakah kamu sudah makan ?"
Anakku mengangguk dengan semangat menjawab pertanyaannya..
Aku hanya bisa memberikan senyuman masam milikku..
Melihat pemandangan dimana dia bermain dengan anakku menjadi sebuah kebiasaan sekarang..
Saat aku ingin merogoh sakuku dan merasakan bahwa tidak ada rokokku di sana..
Gadis SMA itu memberikan senyumannya kepadaku bersama dengan anakku yang dia gendong..
"Merokok tidak baik untuk kesehatan"
Aku yang mendengar perkataan gadis itu menjadi curiga..
Karena aku sudah menyiapkan rokokku pagi ini di saku bajuku..
Aku menatap kearah anakku yang dimana dia memalingkan wajahnya dari tatapanku..
Sepertinya anakku telah mengeluarkanya dari sakuku..
Aku hanya menghela napasku dengan sedikit kesal..
Karena sepertinya anakku telah dipengaruhi oleh gadis SMA ini..
Setelah beberapa menit seperti biasa gadis SMA tersebut ingin berangkat sekolah..
"Besok kami tidak akan datang ke taman"
"Kenapa ?"
"Besok kami harus mengunjungi istriku"
"Oh begitu rupanya.. apakah ibu Rei bekerja diluar kota ?"
Aku menggelengkan kepalaku dengan enggan..
Ketika aku ingin menjawab Rei menatap kearah gadis tersebut dan menjawab..
"I-bu ada di surga" Jawab Rei dengan nada tergagap layaknya anak kecil.
Aku mendengar anakku menjawab memiliki perasaan yang begitu sedih..
Itu adalah jawabanku yang sering kali aku jawab ketika Rei sedang menangis mencari ibunya..
Aku seharusnya tidak mengatakan kenyataannya tapi.. aku tidak ingin berbohong dengan anakku..
"Maaf.."
Aku menggelengkan kepalaku dan tersenyum..
"Lagipula itu bukan sesuatu yang harus dirahasiakan.."
...
...
...
Keesokan harinya ketika aku pulang ke rumah..
Sepatu yang tidak aku kenal ada di depan pintu..
Rei tidak mungkin membiarkan orang asing masuk..
Aku menjadi panik dan bergegas masuk ke dalam kamar Rei dan melihat..
Bahwa itu adalah Gadis SMA itu..
Aku melihat bahwa sepertinya dia sedang menemani Rei untuk bermain..
"Oh paman.. selamat datang.."
"Selamat datang apanya.. Ini rumahku" Balasku dengan nada kesal..
"Jangan marah.. aku hanya datang ke sini karena Rei kesepian setiap kali paman berangkat kerja"
Aku menatap kearah Rei..
Rei menundukkan kepala..
Dia pikir aku sedang marah dengannya..
Tapi sebenarnya aku merasa sedih..
Yah..
Sangat sulit menerima bahwa ada anak kecil sendirian di rumah..
Walaupun Rei terlihat dewasa ketimbang anak seumurannya.. tapi tetap saja..
Anak kecil sepertinya tidak perlu merasakan seperti ini..
Apakah aku harus menitipkan dia ke rumah ibuku ?
"Ayah maaf.." Balas Rei dengan pelan..
Aku tersenyum..
"Itu bukan salahmu"
"Aku juga minta maaf karena tidak memberitahukan sebelumnya bahwa aku akan datang berkunjung"
"Yah terima kasih atas kesadarannya.."
Aku hanya menghela napasku dengan kecil..
"Rei bersiap kita akan berangkat"
"Apakah kalian akan mengunjunginya"
"Ya"
"Aku ikut"
...
...
Aku tidak bisa menolak akan kemauan gadis SMA itu..
Lagian itu bukan sesuatu yang harus dilarang..
Ketika aku berdiri tepat diatas makam yang bertuliskan..
Vina Serlia
Itu adalah nama istriku..
Aku mencabuti rumput yang meninggi disekitar makamnya dengan bantuan Rei dan juga gadis SMA itu..
...
...
...
Setelah kejadian itu..
Gadis SMA itu selalu saja datang menemani Rei selepas dia pulang sekolah..
Sekarang tidak hanya pagi saja..
Sekarang dia juga menemaninya disiang hari setelah pulang sekolah..
Ah..
Ini akan menjadi sebuah kebiasaan lainnya.
"Apakah kau tidak dimarahi orang tuamu ?"
"Aku hanya berkata bahwa aku sedang bermain dirumah temanku jadi tidak apa - apa"
Aku hanya bisa melihat itu dengan sedikit curiga..
Yah jika sesuatu terjadi paling tidak aku hanya akan memberikan penjelasan kepada orang tuanya..
...
...
...
...
...
Satu tahun berlalu dengan cepat dan itu tidak dapat aku rasakan setelah menjadi tua..
Semua waktu terasa berjalan begitu cepat.
"Aku akan pergi untuk kuliah"
"Itu adalah keputusan yang bagus"
"Itu-- tidak lupakan"
Aku melihat dia sedang memasak sesuatu di dapur dengan santai seperti rumahnya sendiri..
Yah itu juga menjadi kebiasaannya setelah sering berkunjung ke rumahku selama satu tahun..
Dia sering kali membawa bahan makanan dan memasak sesuatu untukku dan Rei makan..
Aku tidak menyangka dia bisa memasak awalnya...
Tapi setelah merasakan masakannya..
Itu cukup enak..
"Jika seandainya kau tidak pergi kuliah ? Apakah kau mau jadi istriku" Ucapku dengan santai dengan niat bercanda.
"Apakah kau mau ?"
"Yah itu juga kalau kau mau" Balasku..
Aku masih bercanda dengannya lagipula siapa yang menganggap serius omongan orang tua ini..
"Aku akan membicarakannya kepada orang tuaku"
Aku mengambil segelas kopi di mejaku dan menyeduhnya dengan nikmat..
Hingga akhirnya aku menyadari bahwa itu menjadi sebuah proposal secara tidak langsung..
"Tunggu.. kau serius ?"
"Aku tidak bercanda ? lagipula aku tidak ingin jauh dari Rei"
"Jadi alasannya cuman itu ?"
"Aku juga tidak ingin jauh darimu.. bukankah itu juga sudah jelas" Balasnya dengan wajah yang memerah..
...
...
...
Aku melihat Gadis tersebut dengan pakaian pengantin di depanku dengan berbagai saksi yang datang..
Aku menjadi gugup akan hal ini..
"Kau tidak perlu lagi menyebut diriku dengan kata 'Kau' untuk memanggilku.. cukup panggil namaku"
Aku menyadari bahwa aku selama ini memanggilnya dengan kau..
Aku tidak pantas untuk menyebut namanya karena umur kami berbanding begitu jauh..
Tapi sekarang..
"Tolong rawat aku terus dimasa depan.. Lania" Ucapku sambil tersenyum..
Dia tersenyum bahagia dengan air matanya menetes kecil.
"Tolong rawat aku juga.. Daffin"

The End