" Maaf... " Riana hanya bisa menundukkan kepalanya. Sedangkan Bagas masih berdiri di depan Riana sambil memegang sebuah buket bunga mawar merah.
" Bukankah kita hanya sebatas teman? " Riana mengangkat kepalanya melihat Bagas yang masih terus memandangi nya.
" Maaf, aku hanya bisa menganggap Kak Bagas sebagai kakak ngak bisa lebih ".Bagas menurunkan buket bunga yang dibawa, lalu menatap Riana
" Tak bisakah di coba?. " Ucap Bagas memaksa.
Riana hanya menggelengkan kepalanya. Lalu Riana berlari meninggalkan Bagas yang masih termenung di sudut taman komplek perumahan. Bagas berjalan lunglai, sejurus kemudian merebahkan tubuhnya di bangku panjang taman komplek, dan membuang buket bunganya.
" Apa kurang nya gue coba ". Gumam Bagas. Ya ngak ada yang kurang sama Bagas. Wajahnya tampan, berkulit putih, tinggi 180 cm, berwajah oriental juga jago basket hampir mirip dengan wajah Song Kang. Tapi apa mau di kata, dia ditolak oleh Riana, seorang gadis bertubuh mungil, pendiam, cerdas yang juga adik dari Andre sahabat karib di sekolah juga komplek perumahannya.
Bagas sudah menyukai Riana sejak TK, tapi sejak TK juga setiap Bagas mengungkapkan perasaan nya Riana selalu menolaknya. Riana adalah seorang gadis mungil kelas 1 SMU sebuah sekolah elit di kota J. Riana gadis yang ceria, cerdas, selalu jadi peringkat pertama di sekolah. Dia mempunyai seorang kakak laki-laki bernama Andrei berjarak usia 2 tahun yang selalu setia menjaganya. Kalau di perhatikan nyaris tidak ada yang mirip diantara mereka berdua. Riana memiliki kulit sawo matang, dengan rambut lurus, bermata hitam dan bulat, serta bertubuh mungil hampir mirip Tiara Andini. Sedangkan Andrei berkulit putih, bermata coklat sipit, berhidung mancung berambut ikal, bertubuh tinggi hampir mirip Lin Yi. Tapi tak ada yg salah mereka berdua selalu merasa kalau saudara itu tak selalu harus mirip.
Tok... Tok... Tok... Bunyi suara pintu kamar diketuk dari luar
" Siapa... " Sahut suara lembut si empu nya kamar
" Abang... " Sahut suara tegas dari depan kamar. Riana dengan malas menghampiri pintu kamarnya dan membuka kunci pintu kamar nya, dan berjalan menghampiri kursi rias nya. Andrei menjulurkan kepalanya, sambil mencari keberadaan adiknya. Lalu berjalan menghampiri adiknya dan duduk di pinggir ranjang berdampingan dengan kursi rias adiknya.
" Kenapa? ". Tanya Andrei pelan. Riana menatap kakak nya dengan kesal.
" Ngak usah pura-pura ngak tau. Kenapa abang nyuruh aku ke taman". Bentak Riana. Andrei tersenyum tipis karna di bentak Riana.
" Jangan bilang abang ngak tau, kalau kak Bagas nembak Riana lagi". Andrei hanya bisa menatap adiknya dan pasrah lengannya habis dipukuli adiknya.
" Tapi di tolak lagi kan". Bisik Andrei sambil memegang tangan adiknya yg masih ingin memukuli lengan Abangnya. Riana menghentikan memukuli Abangnya lalu duduk disamping kakaknya sambil menyender manja di pundak kakaknya.
" Bisa ngak bang. Kalau kak Bagas mau nembak Riana, Abang larang. Riana risih bang". Kata Riana sambil menggelayut manja. Andrei hanya mengangguk sambil berusah menjauh dari adiknya.
Riana merasakan ada yang aneh dengan Abang nya. Biasanya kalau Riana bergelayut manja Andrei akan mengusap rambutnya dan memeluk pundak Riana. Tapi udah hampir sebulan ini Andrei nampak menjauhi Riana. Mulai dari mengantar sekolah sampai di rumah, Andrei lebih banyak menghindari Riana.
" Abang, kenapa? ". Bisik Riana, Andrei tampak terkejut karna wajah adik nya tiba-tiba berasa tepat di depan wajahnya. " Abang sakit?. Muka Abang merah ". Riana langsung memegang wajah Andrei dan membuat Andrei nyaris mendorong adiknya dan hampir membuat pinggul Riana mengenai ujung meja rias.
" Abang lapar". Jawab Andrei langsung berdiri hendak meninggalkan kamar Riana.
" Ayah sudah pulang. Bunda nyuruh kita makan bareng. Soalnya ada yang mau abang omongin ". Andrei pun berlalu meninggalkan kamar Riana.
Riana tampak kebingungan, tumben Ayah nya jam 3 sore udah pulang. Belum lagi ucapan Andrei yang bikin Riana tambah penasaran.
" Apaan, kok Abang mau kuliah di Jogja?. ".Riana berdiri ketika mendengar rencana Abang nya ingin melanjutkan kuliah di Jogja.
" Kalau gitu Riana juga mau ikutan sekolah SMU di Jogja juga ". Protes Riana
" Udah waktunya Abang buat mandiri dek". Kata Andrei
" Iya tapikan ngak harus kuliah di Jogja. Abang nanti bisa lanjut kuliah kedokteran di Jakarta aja". Kata Riana sambil menendang kecil meja makan.
" Riana... ". Bunda meletakkan jari telunjuk ke bibirnya, menandakan Riana untuk berhenti bicara, karna saat ini mereka masih di meja makan.
" Apapun keputusan Andrei, kamu harus bisa menghargai nya. Kalau Andrei mau melanjutkan kuliah di Jogja ya tidak apa2. Ayah dan Bunda juga setuju". Akhirnya Ayah mengeluarkan suaranya. Disusul anggukan bunda. Otak Riana kembali berpikir keras, kenapa Ayah manggil Abang langsung namanya ya, ngak pakai Abang lagi. Aneh, pasti ada yang salah ini. Apa Abang bikin Ayah Bunda kesel ya.
" Kenape lo". Tiba-tiba kepala Riana terasa sakit karna di pukul penggaris. Diangkat kepalanya dan nampak dua sahabatnya Rika dan Riri berdiri disamping meja kelas nya.
" Ngak pape". Sahut Riana sambil mengelus kepalanya.
" Abang lo lulus ujian kedokteran ke Jogja tuh". Kata Rika sambil mengunyah keripik kentang.
"Hooh". Sahut Riana merebahkan kepalanya di atas meja.
" Cuma hooh doang?. " Kata Riri ikutan nyomot camilannya Rika, dan yg empu nya camilan melotot, tapi di cuekin sama Riri
" Lo tau ngak?. ". Riana tampak ragu untuk mulai cerita. Riri dan Rika segera duduk didepan bangku meja kelas Riana
" Ayah, Bunda sama Abang gue, udah sebulanan ini aneh.". Ucap Riana ragu
" Aneh gimane ". Kata Riri
" Kaya ada yang di sembunyiin dari gue". Bisik Riana
" Kaya e. Mereka sadar kalau Abang lo bukan anak mereka gitu?. " Canda Rika yang langsung membuat Riana menjitak kening Rika, disusul tawa Riri.
" Apaan sih. kok lo ngomong e kaya gitu". Protes Riana
" Becanda na, becanda doang". Kata Rika mengelus jidatnya sambil nyengir.
" Udah ah gue laper mau ke kantin ". Riana langsung berlari kecil menuju kantin sekolah yang sama dengan kantin sekolah Abangnya. Memang sekolah Riana dan Andrei masih satu yayasan hanya beda gedung saja. Kalau gedung SMP ada di sebelah kanan gedung SMU. Sekolah mereka termasuk sekolah elite dengan sertifikasi A, makanya lulusan sekolah itu selalu jadi rebutan universitas negeri.
Pas sampai kantin Riana bengong karna kantin sudah penuh. Riana membuang nafas, namun pandangannya terarah kepada sebuah tangan yang tampak memanggilnya dari ujung kantin, dan nampak Kak Vera pacar nya Andrei sedang duduk bersama Andrei juga Bagas. Riana segera berlari menghampiri mereka, dan langsung menggelayut manja di leher Abang nya dan langsung menyantap bakso di sendok yang baru mau masuk ke mulut Abang nya. Andrei melotot kearah Riana karna bakso nya udah masuk ke mulut Riana, dan lagi wajah mereka terlalu dekat, kalau bukan Abang Adik udah bisa jadi bahan gosip satu yayasan ini mah, wkwkwkw. Andrei menghela nafas, lalu menggeser duduknya di tengah dia dan Vera. Vera dan Bagas cuma bengong ngeliat ulah Abang Adek yang satu ini.
" Buat aku ya bang". Kata Riana langsung mengambil mangkok bakso juga minuman botol Andrei yang langsung di minum Riana, padahal itu kan bekas minum nya Andrei.
" Mau Abang pesenin lagi?. " Bisik Andrei yang membuat Riana kaget sampai batuk
" Uhk... uhk... ngak usah bang, ini aja lebih enak". Kata Riana lanjut makan, dan Andrei menepuk punggung Riana. Andrei hanya tersenyum melihat Riana yang tampak kelaparan ngabisin bakso nya. Sementara kedua sahabat Riana duduk di depan Bagas. Sejak sebulan yang lalu dia selalu merasakan hal yang aneh saat di dekat bahkan menatap Riana. Vera tampak memandang Andrei dengan curiga. Karna tatapan Andrei ke Riana, terasa sama saat Vera menatap Andrei.
" Jangan ngomong sembarangan lo Vera!. ". Bentak Andrei di ujung lorong Sekolah
" Tatapan lo beda sama cara lo natap gue!. ". Bentak Vera
" Gue cewe lo, tapi ngak pernah gue ngerasain tatapan yang lo kasih ke ade lo!. Andrei hanya diam, sambil memikirkan ucapan Vera.
" Apa lo suka sama ade lo? ! ". Bentak Vera. Andrei melotot kearah Vera
" Kalau ngomong yang bener lo!. " Bentak Andrei
" Terus apaan?. Apa maksud tatapan lo sama adek lo. Kenapa lo ngasih dia duduk di tengah-tengah lo sama gue, padahal lo tau kalau Bagas naksir berat adek lo!. Andrei kembali diam, dalam hati dia merasa kalau Bagas tidak layak buat Riana, karna menurut Andrei banyak dia lah yang layak buat Riana. Andrei termenung atas pikiran nya sendiri. Seandainya kalian tau posisi juga keadaannya, pikir Andrei dengan keras.
" Ya udah kita putus aja!. " Ucapan Andrei membuat Vera kaget.
" Okey. Kalau emang itu mau lo!. " Vera memukul bahu Andrei. "Inget pesen gue, kurangin tatapan mesra lo buat adek lo, jangan sampe orang punya pikiran macem-macem perihal kelakuan lo ke adek lo!." Ucap Vera sebelum meninggalkan Andrei.
Andrei memandang foto keluarga, pandangan matanya hanya tertuju pada Riana. Cantik, baik, ramah, pinter. Gumamnya dalam hati sambil mengelus foto. Ya sebulan yang lalu ayah dan bunda bilang kalau Andrei bukan anak kandung mereka, tapi Andrei adalah anak dari sahabat ayah juga bunda yang meninggal sudah meninggal pada saat kelahiran Andrei. Ayah Andrei meninggal karna kecelakaan saat perjalanan menjelang kelahiran Andrei, sedangkan ibu nya meninggal karna depresi mendengar kabar Ayah nya Andrei meninggal, karna itulah sejak bayi Andrei menjadi anak angkat Ayah dan bunda. Dan baru sebulan yang lalu Ayah dan Bunda bilang kalau ternyata selama 17 tahun ini Andrei masih mempunyai nenek yang selalu mencari kabar nya. Dan nenek nya tinggal di Jogja. karna itulah Andrei memutuskan untuk melanjutkan kuliah di Jogja.
" Abang... ". Andrei menghentikan lamunan nya. Seketika itu juga Riana langsung menerobos masuk kamar Andrei.
" Abang putus sama Kak Vera?. Kok bisa?. Kan tadi siang Abang sama Kak Vera masih jalan bareng?. " Riana duduk di atas kasur Andrei, sambil merapikan buku pelajaran Andrei yang berserakan di kasur
" Dia yang minta putus!. Kata Andrei mengambil buku yang Riana sodorkan.
" Kenapa, Abang selingkuh ya! ". Tanya Riana yang langsung menemplok di punggung Andrei. Andrei yang kaget spontan menggendong Riana di punggung nya.
" Iya." Jawab Andrei yang membuat Riana mendekatkan wajahnya kewajah Andrei
" Sama siapa?. ". Andrei pun menurunkan Riana dari gendongan punggung nya.
" Sama kamu!. " Bisik hati Andrei. " Anak kecil ngak boleh banyak tanya.". Kata Andrei menyuruh Riana bangun dari duduk nya dan mendorong Riana keluar kamar.
" Emang ada cewek yang lebih cantik dari Kak Vera?. ". Tanya Riana dari balik pintu yang akan ditutup Andrei.
" Ada!. " Jawab Andrei singkat.
" Siapa?. Tanya Riana masih menyundul kan kepalanya dipintu kamar Andrei.
" Ya Kamu! ". Kata Andrei sambil mencubit hidung Riana, dan membuat Riana mengeluarkan sepenuhnya kepalanya dari pintu kamar Andrei. Andrei pun segera menutup pintu kamarnya dan menguncinya. Sementara Riana masih sibuk mengetuk pintu kamar Andrei
" Abang buka pintu nya dong... " Ketuk nya sambil berteriak
" Abang cape, mau istirahat." Teriak Andrei dari dalam kamar. Dan terdengar langkah kaki Riana meninggalkan depan kamar Andrei.
Andrei menutup wajahnya dengan bantalnya. Sementara bayangan Riana mulai hilir mudik memenuhi pikirannya. " Bisa gila gue, kalau masih terus tinggal di sini! ". Gumamnya dalam hati.
" Kenapa harus kos? ". Tanya Bunda seminggu kemudian
" Andrei mau konsentrasi buat UN juga persiapan SNMPTN bun". Jawab Andrei
" Kenapa ngak di sini aja". Kata Riana " Kan sama aja Bang. Kalau Abang ngekost Abang keluar duit lagi. " Celoteh Riana sambil menonton K-Drama favorit nya.
" Kalau di rumah, kamu berisik. Abang jadi ngak bisa konsen belajar!. Kata Andrei mulai ngisengin Riana dengan pindahan saluran TV.
" Abang, balikin ngak remote TV nya!. Teriak Riana. Bunda hanya tersenyum melihat tingkah Andrei dan Riana. Sementara Ayah memperhatikan dengan seksama tingkah mereka. Riana berlari mengejar Andrei yang berlari kekamar nya sambil membawa remote TV. Ayah menghampiri Bunda
" Sepertinya Andrei mulai menganggap Riana bukan adik nya bun. " Bunda memandang Ayah dengan terkejut
" Sejak sebulan lalu, Ayah merasa tatapan Andrei ke Riana seperti tatapan Ayah ke Bunda". Goda Ayah membuat wajah Bunda merah padam. Ayah pun mencium kening Bunda.
" Apaan sih Ayah, udah kaya ABG aja. Malu sama uban!. " Kata Bunda sambil mengusap rambut Ayah. Ayah tersenyum sambil memegang erat tangan Bunda.
" Yah, kalau menurut Ayah gimana nanti reaksi Riana, pas tau kalau Andrei bukan Abang kandung nya?. " Pertanyaan Bunda membuat Ayah mengernyitkan kening nya.
" Entahlah Bunda. Riana masih terlalu polos untuk menyadari perasaan Andrei ". Kata Ayah
" Apa nanti Ayah akan merestui mereka?". Ayah mendelik mendengar pertanyaan Bunda.
" Walau bagaimana juga Andrei tetap anak kita Bun." Balas Ayah. " Lagi pula Riana masih belum terlalu mengerti. " Lanjut Ayah.
Seminggu sebelum UN
" Riana lepasin... ". Kata Andrei meminta Riana melepaskan tangannya dari lengan Andrei
" Tempat kost Abang kan deket sama sekolah, jadi kamu bisa mampir!. " Riana masih enggan melepaskan lengan Andrei. Bukan dilepasin malah semakin menggelayut manja memeluk Andrei. Andrei yang sudah sadar kalau gadis kecil ini bukan adik kandung nya menjadi salah tingkah. Apalagi ketika Riana langsung memeluknya erat. Ayah yang melihat situasi canggung nya Andrei, segera mengambil putri semata wayang nya untuk melepaskan pelukannya ke Andrei.
" Ngak boleh gitu. Nanti kamu kan bisa main ke tempatnya Abang". Kata Ayah memeluk Riana. Ya Riana memang selalu dimanja keluarga nya apalagi Andrei. Sebelum Andrei tau kalau Riana bukan adiknya, Andrei selalu menjaga Riana, sampai waktu kecil Andrei pernah membuat Bagas babak belur karna mengambil dan membuang boneka Riana ke parit komplek. Walaupun pada akhirnya Andrei dan Bagas bersahabat.
Andrei memandangi seisi kamar kost nya. Didalam ruangan berukuran 5x10 M itu memang terbilang lengkap. Hampir sama dengan kamarnya di rumah keluarga Hardianto. Ya Ayah angkat nya lah yang memilih rumah kost untuk Andrei. Walau bagaimana juga bagi Pak Hardianto Andrei tetaplah anaknya.
" Sepi.. ". Lirih Andrei. Ya biasanya selalu terdengar langkah kecil Riana berlari melintas didepan kamar Andrei untuk keruang utama. Karna kamar Andrei dan Riana bersebelahan dilantai dua. Tanpa sadar Andrei meneteskan airmata karna merindukan Riana.
Riana memandang kedua orang tua bergantian. Bunda tampak mengusap air mata di pipinya.
" Jadi Abang bukan Abang kandung Riana?. Ayah mengangguk pelan mendengar ucapan Riana.
" Kenapa Ayah baru bilang?. ". " Kenapa Ayah ngak cerita dari awal. ". " Ayah tau gimana perasaan Abang waktu Ayah kasih tau kalau Abang bukan anak Ayah Bunda?. " Riana berdiri, tampak sudah mulai keluar air mata di kedua mata nya.
" Ayah tau Ayah salah. Ayah egois... ".
" Riana kecewa sama Ayah ". Riana segera berlari keluar rumah
" Riana... ". Ayah bermaksud mengejar Riana tapi dicegah Bunda.
" Biarkan Riana berpikir. Ayah tau kan Riana sayang banget sama Andrei, jangan bikin Riana tambah sedih". Air mata Bunda semakin deras menetes. Ayah memeluk Bunda, dan tangis Bunda semakin pecah.
Riana berjalan menyusuri jalan keluar komplek, tanpa sadar dia menaiki angkot menuju kost nya Andrei. Untungnya dia bawa uang receh sisa jajan sore di warung Bu Mar, coba kalau ngak ada uang receh, bisa bengkak betis nya jalan dari rumah ke kost an nya Andrei.
" Tuhan jahat banget sih. Kenapa juga harus turun ujan, kan Riana masih harus jalan lagi ke kost nya Abang ". Protes hati Riana pas turun dari angkot. Riana berlari kecil menuju tempat kost nya Andrei. Ayah sengaja mencari tempat kost Andrei yang tidak jauh dari sekolah mereka, agar Andrei bisa lebih konsentrasi dalam belajar nya.
Riana mengetuk pintu kost Andrei
" Iya.. Siapa... ". Terdengar suara Andrei dari balik pintu. Tak lama pintu kamar terbuka. Andrei kaget melihat Riana yang basah kuyup kehujanan. " Kamu ngapain hujan hujanan kesini!. " Andrei segera mengambil handuk nya yang tergantung di balik pintu kost nya.
" Abang... ". Riana langsung memeluk Andrei, sementara Andrei menutupi kepala Riana dengan handuk nya. Sambil mengusap kepala Riana dengan handuk, dia membawa Riana masuk ke kamar kost. " Tunggu di sini sebentar ya". Bisik Andrei stabil melepaskan pelukan Riana di susul anggukkan Riana. Andrei segera menelpon ibu kost nya dan memberitahu kalau adik nya berkunjung ke tempat kost nya. Karna Andrei takut kunjungan Riana bisa berakibat dia di usir dari kost an.
" Kenapa?". Tanya nya lagi sambil mengambil baju ganti buat Riana. " Ganti baju dulu di kamar mandi. Abang bikinin teh buat kamu!. Riana mengambil baju Andrei dan segera ke kamar mandi. " Sekalian mandi, supaya ngak sakit". Lanjut Andrei dari dapur. Ya kamar kost Andrei di meja belajar nya sambil menatap laptopnya. Riana langsung memeluk pundak Andrei dari belakang. Air masih menetes dari rambut Riana yang masih basah. Andrei menghentikan mengerjakan tugasnya. Dan berdiri, sehingga membuat Riana melepaskan pelukan punggungnya. Tapi Riana malah melanjutkan memeluk Andrei dari depan. Dan Andrei pun pasrah menerima pelukan Riana. Sejurus kemudian tangannya mulai mengeringkan rambut Riana dengan handuknya.
" Kenapa?. " Bisikan Andrei membuat Riana melepaskan pelukannya. Riana lalu memegang wajah Andrei, Andrei menunduk kepalanya, karna diusia Riana yang masih 15 tahun tingginya masih Se dada Andrei.
" Kata Ayah kita bukan saudara? ". Andrei memandang Riana, tapi tak lama kemudian Andrei mengalihkan pandangan nya. " Kenapa?. " Riana memaksa wajah Andrei untuk menatapnya lagi.
" Iya, kita bukan saudara ". Andrei melepaskan tangan Riana dari wajah nya. Lalu berjalan mengambil teh manis hangat, dan meletakkan nya di atas meja belajar nya. Riana duduk di bangku meja belajar Andrei, sementara Andrei mulai sibuk mengerjakan tugasnya kembali di atas kasur lantai.
Riana memandang kearah Andrei. Tanpa dia sadari air matanya menetes melihat Andrei tidur di kasur lantai.
" Kenapa lagi". Andrei berdiri dan menghampiri Riana dan membiarkan Riana memeluk pinggangnya. Riana pun menangis, Andrei mengelus lembut rambut Riana. Dan tanpa sadar dia mencium rambut rambut Riana. Riana yang ngak sadar kalau di cium rambutnya masih terus menangis. Andrei terkejut saat HP di meja belajar nya berbunyi, ada nama Ayah disana.
" Assalamualaikum Yah. Ana ada di sini ". Kata Andrei memulai pembicaraan. Riana melepaskan pelukannya lalu mencubit pinggang Andrei. Andrei mengelus cubitan Riana, sambil memasang wajah kesakitan.
" Iya, nanti Andrei antar Riana pulang. Ayah Bunda tenang aja. Ana ngak bakal kemana-mana kok". Balas Andrei, Riana berjalan menuju kasur lantai nya Andrei sambil melihat laptopnya Andrei.
" Iya Ayah. Waalaikumsalam... ". Andrei meletakkan kembali HP nya lalu menghampiri Riana.
" Pulang yuk ". Ajak Andrei. Riana menggelengkan kepalanya.
" Kasian Bunda. Kata Ayah Bunda nangis dari kamu pergi sampai sekarang belum berhenti". Riana kembali menggelengkan kepalanya.
" Ya udah, kalau ngak pulang Abang aja yang pulang. Kamu disini.". Andrei berdiri bersiap pergi. Tapi Riana tetap ngak beranjak dari duduknya.
" Beneran nih Abang tinggal". Andrei membuka pintu kost kamarnya. Dan keluar kamar kost nya. Tapi Riana tetap ngak beranjak dari duduknya. Lima menit kemudian Andrei membuka pintu kamar kost nya
" Katanya mau pergi ya udah pergi aja!. " Bentak Riana
" Hey, ini kamar kost Abang, kenapa Abang yg harus pergi!. Protes Andrei sambil membawa kantong makanan.
" Abang... Abang... terus!. Bukan nya kamu udah tau kalau kamu bukan Abang saya!. Bentak Riana. Andrei melotot melihat Riana. Riana balik melotot, sampai akhirnya Andrei mengalah mengalihkan pandangannya ke arah dapur.
" Makan dulu, kamu belum makan kan?. " Andrei berjalan kedapur dan mengambil piring
Riana mendorong jauh bungkus makanan " Ngak lapar! ". Katanya ketus, padahal perutnya udah berlari kencang.
" Kasian perutnya nanti ikutan nangis". Celotehan Andrei membuat Riana memukul pelan perut nya.
" Udah jangan di pukulin. Nih makan kesukaan kamu. Tadi Aku pesen di tempat langganan kamu". Riana melihat Andrei, selintas ada perasaan aneh saat dia melihat Andrei.
" Kok perasaan liat Abang jadi deh deg an. kaya lagi nonton K-Drama ". Pikir Riana. Memang benar kata pak Hartanto, Riana memang anak yang polos, walaupun udah kelas 1 SMU masih belum mudeng juga sama yang suka sukaan. Bagi Riana, cowok idamannya wajib kaya Abang nya.
" Habis makan kita pulang ya". Andrei mengelus rambut Riana. Dan membuat perasaan Riana semakin ngak karuan.
" Heeh... " Sahut Riana sambil mengangguk pelan.
Selama perjalanan pulang tak ada suara, mereka berdua hanya terdiam. Tampak sesekali mereka curi curi pandang. Selepas turun dari Taksi, Andrei memegangi lengan nya, biasa nya sambil berjalan Riana selalu menggelayut manja di lengan Andrei, tapi sekarang Riana berjalan di belakang Andrei dan ada jarak 1 meter diantara mereka. Dari kejauhan tampak Ayah dan Bunda menyambut mereka.
Riana segera berlari memeluk Bunda nya. Sementara Ayah nya yang ingin mengelus rambut Riana selalu di tolak Riana.
" Assalamualaikum Ayah Bunda ". Sapa Andrei sambil mencium salim kepada Ayah dan Bunda.
" Waalaikumsalam... malam ini nginep disini ya. Ayah kangen sama kamu". Kata Ayah lalu memeluk Andrei. " Baru seminggu ngak ketemu kenapa anak Ayah jadi tambah besar ya". Celotehan Ayah membuat Riana tersenyum.
" Iya Ayah bener, baru seminggu ngak ketemu Abang, rasanya Abang jadi lebih hangat". Bisik hati Riana, tanpa dia sadari dia mulai menyukai Andrei.
Ting Tong... Riana berlari kecil untuk membuka pintu.
" Assalamu'alaikum... " Di hadapan Riana tampak Andrei datang bersama seorang nenek yang cukup tua. Riana segera salim kepada Andrei juga nenek tua tua tersebut
" Waalaikumsalam... " Sahut Riana. " Masuk Kak, Ayah sama Bunda udah nungguin Kakak". Andrei heran dengan panggilan Riana, bukannya biasanya dia manggil Abang, kenapa jadi kakak. Menyadari ada yang aneh dengan Andrei, Riana segera menghampiri neneknya Andrei dan merangkul manja lengan neneknya Andrei.
" Nenek, apa kabar. Aku Riana, adik angkatnya Kak Andrei ". Kata Riana sambil mengajak neneknya Andrei masuk kedalam. Andrei terpaku melihat Riana yang tanpa sungkan mengajak neneknya masuk, seolah itu adalah neneknya sendiri. Ya memang wajar karna Riana memang tidak pernah bertemu dengan nenek juga kakek nya. Karna Ayah juga Bunda sejak menikah sudah tidak mempunyai orang tua, hanya kerabat dari kedua orang tuanya yang suka mereka kunjungi ketika Hari Raya atau ketika ada acara keluarga.
" Nenek duduk sini ya". Riana meminta neneknya Andrei untuk duduk di sofa panjang. " Nenek mau minum apa?". Tanya Riana sambil bersiap menuju dapur. Tampak Ayah dan Bunda berjalan menghampiri ruang tamu.
" Teh hangat saja cantik". Kata Neneknya Andrei. Riana segera berlari menuju dapur. Lalu tampak Ayah juga Bunda terlihat salim dengan neneknya Andrei dan tampak neneknya Andrei sesekali mengelap air mata. Entah apa yang mereka bicarakan, cuma terdengar suara tawa dari ruang tamu. Riana tampak bingung memandang lemari dapur, karna ngak pernah main kedapur jadi dia ngak tau Bunda taruh teh dll nya dimana. Dengan kesal Riana memukul kepalanya pelan, udah tau ngak pernah main ke dapur, pake nekat mau bikin minuman. "Dasar bego".Bisiknya
" Makanya sering main ke dapur bantuin Bunda, jadi tau Bunda taruh teh dll dimana ". Riana membalikkan tubuhnya dan ternyata Andrei sudah berdiri tepat dibelakang. " Bunda taruh teh dll di sini". Andrei mengambil teh yang berada di lemari atas tempat cuci piring. sementara posisi Riana tepat menghadap dada Andrei. " Bisa bikin teh ngak?.". Riana mengarahkan wajahnya keatas, dan tampak wajah Andrei begitu dekat dengan wajah nya. " Aduh... " Andrei berjinjit menjauh dia langkah dari Riana. Ternyata karna grogi Riana sengaja menginjak kaki Andrei.
" Bisa, cuma masukin teh ke teko tambah gula sedih pakai air panas!. " Kata Riana berjalan menghindari Andrei yg masih kesakitan
" Ini sakit lo de! ". Kata Andrei sambil menunjukkan kaki nya yang masih menjinjitkan di injak Riana.
" Makanya jangan suka iseng". Kata Riana sambil menuang air panas ke teko. Andrei tampak masih kesakitan di injak Riana. Riana sekilas melirik Andrei yg sibuk mengusap kakinya. " Emang sakit? ". Riana menghampiri Andrei.
" Ngak kok". Kata Andrei sambil meringis
" Maaf, habis kakak... "
" Kenapa jadi kakak? " Andrei memotong ucapan Riana. Riana mengarahkan pandangannya dari kaki Andrei ke arah wajah Andrei
" Terus mau di panggil apa?. Om atau Mas?. " Kata Riana menghindari pandangan Andrei
" Apa Abang... "
" Kenapa sama Abang?. Ayah Bunda mungkin masih menganggap Kakak sebagai anak, kalau Aku ngak bisa menganggap Kamu sebagai Abang. Makanya Aku panggil Kakak!. Kata Riana membawa nampan beserta teko juga cangkir ke ruang tamu. Andrei menghela napas panjang mendengar ucapan Riana, lalu menyusul Riana ke ruang tamu.
Pembicaraan malam itu membuat neneknya Andrei harus menginap di rumah Riana. Untung nya rumah mereka memiliki ruang tidur tamu, sehingga tidak neneknya Andrei bisa menginap di rumah.
" Ayah setuju?. " Bisik Bunda. Disusul anggukan Ayah.
" Tapi tergantung mereka berdua Bun, kita ngak bisa maksain kehendak juga amanat mendiang ke mereka". Ucapan Ayah membuat Bunda sedikit kecewa. " Bukannya Andrei juga lagi deket sama, siapa itu temennya yang dari SMP dulu " Ayah nampak mencoba mengingat teman perempuan yang pernah Andrei kenalkan waktu SMP dulu.
"Vera.. " Gumam Bunda.
" Riana berangkat sekolah dulu ya Ayah, Bunda, Nenek". Satu persatu Riana salim sebelum keluar ruang makan.
" Bareng De". Andrei pun mengikuti jejak Riana salim lalu pamit
" Assalamu'alaikum... " Ucap Andrei dan Riana bersamaan
" Waalaikumsalam... " Jawab Ayah Bunda juga neneknya Andrei
Riana segera berlari kecil menghindari Andrei. Andrei menyalakan scooter kesayangan yang biasa dia dan Riana tunggangi ke sekolah. Dilihat nya Riana sudah hampir sampai jalan raya, bersiap naik angkot ke sekolah. Andrei segera menghalau laju lari Riana, setelah didepan Riana, Andrei menyerahkan helm Riana.
" Pake! ".Riana mengambil helm nya dari Andrei, lalu duduk dibelakang Andrei. Ada yang aneh selama perjalanan, sebelum tau kalau Andrei bukan kakak kandung nya, Riana selalu duduk di boncengan dengan manja, terkadang memeluk erat pinggang Andrei.
" Kenapa ngak pegangan?. " Tampaknya Andrei menyadari hal itu. Pertanyaan itu membuat Riana kaget lalu membuyarkan lamunan nya
" Bukan muhrim". Sahut Riana
" Ya udah, nikah aja yuk biar bisa jadi muhrim". Secara spontan Riana mencubit pinggang Andrei. Andrei meringis kesakitan.
" Sakit de". Andrei menghentikan laju motornya karna pas lampu merah. Dia mengelus pinggang yang nyut-nyutan di cubit Riana.
" Siapa suruh becanda nya kelewatan! ". Protes Riana.
" Beneran, kamu mau ngak nikah sama Abang". Ucapan Andrei membuat Riana ingin memukul bahu Andrei, tapi tangan Riana keburu di ambil Andrei. " Mau ya, biar bisa jadi muhrim kamu". Andrei memegang tangan Riana.
" Jalan, udah lampu ijo". Andrei melepaskan pegangan tangannya lalu melanjutkan laju scooter nya, dan berhenti di jalan sebelum masuk sekolah.
"Kenapa berenti?. " Andrei memarkir scooter nya di pinggir jalan, lalu berdiri di depan Riana
" Gimana?. Mau kan jadi muhrimnya Abang? ". Riana melotot ke arah Andrei
" Sumpah becandanya ngak lucu! ". Riana membuka helmnya lalu menyerahkan kepada Andrei dengan kasar. Padahal didalam hati Riana berbunga-bunga tuh.
" Beneran!. " Andrei menjegal Riana yang hendak berdiri dari scooter.
"Apaan sih kak!.". Riana mendorong tubuh Andrei, tapi Andrei menahannya. Aih kok ala ala drakor yang biasa gue tonton ya, bisik hati Riana. Ya sejak mereka tau kalau mereka bukan saudara kandung, ada yang dengan perasaan mereka. Sebenarnya sejak kecil Andrei sudah menyadari kalau dia bukan anak kandung Ayah dan Bunda, karna itu dia selalu melindungi Riana melebihi saudara kandung. Dan setelah dia tau kalau Riana bukan adik kandung nya, Andrei pun menyadari, kalau perlindungan nya ke Riana bukan perlindungan ke saudara.
" Abang serius. Riana mau ngak nikah sama Abang? ". Andrei menundukkan kepalanya tidak berani menatap Riana.
" Umur Abang baru 17 , umur Riana juga baru 15. Abang masih sekolah mau lanjut kuliah. Riana apalagi, masih belum bisa apa2. Semua masih harus bunda yang kerjain". Ucapan Riana membuat Andrei mengangkat kepalanya dan mereka pun bertemu pandang. Riana memeluk Riana dengan erat.
" Abang kuliah jadi Dokter dulu. Riana juga masih mau belajar. Riana punya cita cita yang harus Riana kejar. Riana juga masih harus bikin ayah bunda bangga sama Riana. " Andrei membelas pelukan Riana, lalu mengelus rambut Riana dengan lembut.
" Kalau gitu Abang bakal nunggu Riana, sampai Riana siap". Riana mengangguk pelan.
" Kalau gitu sekarang kita jadian??? ". Ucapan Andrei mengagetkan Riana. Riana memandang Andrei terkejut.
" Ngak bisa. Kan Kak Andrei punya kak Vera!.
" Emang kata siapa kalau Abang suka sama Vera?. "
" Bukannya Kakak... " Andrei segera memotong ucapan Riana.
" Vera emang selalu bilang suka sama kakak. Vera juga yg anggap hubungan kami pacaran. Tapi Vera juga udah bilang kalau bubaran sama Abang". Riana menghelan nafas panjang dan berbisik dalam hati, " Emang susah kalau jadi orang keren, banyak yang suka, banyak yang pengen jadi pacar nya juga".Tanpa sadari Riana tersenyum tipis.
" Gimana?. Berarti kita jadian? ". Ucapan Andrei membuyarkan lamunan Riana.
" Ayah sama Bunda... " Riana kembali binggung, takut kalau ayah bunda nya tidak setuju.
" Tenang aja, dari kita kecil emang kita udah di di jodohin ". Kata Andrei sambil tersenyum, lalu memakaikan helm Riana kembali lalu menyalakan scooter nya dan melanjutkan perjalanan menuju sekolah.
" Tapi rahasianin ya Bang". Ucap Riana ketika sampai di parkiran sekolah. Andrei tersenyum lalau mengangguk pelan. Dalam hari Andrei sangat senang karna Riana sudah memanggilnya Abang lagi. Riana menyerahkan helm nya kepada Andrei.
" Iya... " Andrei pun mengambil helm Riana. Lalu merangkul Riana menuju kelas. Ya kalau dilihat hubungan mereka masih sama seperti layaknya ketika mereka sebagai kakak adik, walaupun pada kenyataannya status mereka sudah berbeda.
Semua masih sama seperti ketika mereka menjadi kakak adik. Karna memang selain mereka sekeluarga tidak ada orang yang tahu kalau mereka sekarang bukan kakak dan adik. Ayah pun meminta Andrei untuk pulang kerumah, karna ayah ngak tahan dengerin rengekan Riana yang selalu meminta Andrei kembali ke rumahnya.
Ujian Nasional pun telah selesai, Andrei tetap melanjutkan pendidikannya di Jogja sekaligus menemani nenek nya di sana. Kebayangkan gimana perasaannya Riana, baru jadian sebulan langsung mau di tinggal jauh. Karna itulah sudah hampir semingguan ini Ayah Bunda juga Andrei selalu sabar menghadapi ulah Riana.
" Nanti kalau libur Abang pulang kok! ". Riana menutup kepalanya dengan bantal. Andrei pun duduk di ujung tempat tidur Riana. Dia berusaha mengambil bantal Riana, namun di tahan oleh Riana.
" Boong". Terdengar suaranya sedikit parau karna menangis.
" Abang janji. Kalau libur kuliah abang pasti pulang ". Riana meletakkan bantal di sampingnya. Lalu langsung memeluk Andrei.
" Janji" Riana mengacungkan jari kelingking nya lalu Andrei menyambut nya.
" Janji".Riana pun tersenyum dengan terpaksa. Andrei pun membalas pelukan Riana. Lalu tiba-tiba Andrei memegang tangan kanan Riana, lalu mengambil jari manis Riana, sesaat kemudian sebuah cincin sudah melingkar dengan manis di jari manis Riana.
" Dijagain ya". Andrei mencium lembut rambut Riana. Rianapun semakin mempererat pelukan nya.
Waktu terus bergulir. Tanpa terasa Riana pun sudah lulus SMU. Andrei selalu video call setiap malam. Terkadang dia juga suka pulang ke rumah untuk menjenguk Riana juga ayah bunda nya. Rencananya Riana akan melanjutkan kuliah kedokteran di tempat yang sama dengan Andrei. Padahal Riana berhasil mendapatkan kuota untuk melanjutkan studi kedokteran di Jerman. Ayah Bunda sangat senang dengan pencapaian Riana. Tapi mereka sepertinya harus menelan pil pahit, karna Riana pasti akan menolak kesempatan tersebut. Sesuai kesepakatan Ayah dan Bunda tidak akan membahas masalah beasiswa Riana ke Jerman dengan Andrei.
Riana berdiri didepan sebuah rumah panjang dengan banyak pintu.
" Sudah setahun ini Andrei kost di dekat kampusnya sayang. Karna nenek ndak tega kalau Andrei hatus bolak balik setiap hari". Ucapan nenek nya Andrei terus menjadi tanda tanya di batin Riana.
" Kenapa Abang ngak bilang kalau Abang kost". Bisik hari nya curiga. Dengan gontai dia melangkahkan kaki nya menuju sebuah pintu bertuliskan nomor 14. Lokasinya berada dipaling ujung rumah. Nampak terparkir sebuah motor yang sangat Riana kenal. Ya itu adalah scooter kesayangan Andrei. Di lihatnya sepasang sandal bermotif bunga.
" Kenapa cuma sepasang ". Yah banyak pertanyaan didalam pikirannya. Dadanya pun semakin berdegup kencang. Riana memberanikan diri mengetuk pintu kamar tersebut.
" Iya sebentar". Terdengar suara seorang perempuan dari balik pintu. Lalu keluarlah seorang perempuan cantik berbaju putih yang belum pernah Riana temui.
" Eh maaf salah rumah kak". Ucap Riana. Perempuan itu memandang Riana. Riana bermaksud melangkahkan kaki nya meninggalkan tempat tersebut. " Maaf kak, apa ini tempat kost nya Andrei Hartanto? ". Tanya Riana ragu. Perempuan itu tampak mengernyit kan dahinya.
" Ini rumahnya Andrei Sudjatmiko de". Jawab perempuan itu sopan. Ya dibanding Riana perempuan jauh sangat sempurna. Tanpa Riana sadari Riana menyerahkan HP nya agar perempuan itu melihat sebuah foto di HP nya." " Iya ini Andrei". Jawaban perempuan itu membuat Riana semakin merasakan sesak di dada nya. " Kamu siapa? " Pertanyaan perempuan itu membuat Riana berlari meninggalkan tempat tersebut. Perempuan itu memandang dengan heran karna Riana berlari begitu saja.
Riana bergegas memasukan pakaiannya kedalam koper. Ayah dan Bunda tampak heran dengan sikap Riana. Sejak pulang dari Jogja Riana lebih pendiam, dan langsung meminta Ayah nya untuk mengurus semua keperluan nya berangkat ke Jerman. Sesuai kesepakatan sebelum ke Jogja, Andrei memang meminta Riana untuk tidak Video Call selama sebulan karna Andrei sedang sibuk dengan ujian semester juga persiapan KKN nya ke Sumatra. Jadi Ayah dan bunda berpikir kalau Riana sudah bertemu Andrei di jogja.
Riana duduk di ruang tunggu keberangkatan pesawat. Ya hari ini adalah hari keberangkatannya ke Jerman. Ayah Bunda juga heran, entah kenapa Riana masih bersikeras untuk tidak memberitahukan Andrei tentang beasiswa juga keberangkatan nya hari ini. Ayah dan Bunda Masih menunggu di bandara hingga pesawat Riana take-off. Tampak HP ayah bergetar
" Andrei Bun... ". " Assalamualaikum... ". Sahut Ayah
" Waalaikumsalam... Ayah dimana kok rumah sepi? ". Tanya Andrei
" Ayah juga Bunda di Bandara Ndrei". Jawaban Ayah membuat Andrei berpikir kalau ayah juga Bunda nya sedang melakukan perjalanan dinas, karna memang sudah biasa kalau keluar kota ayah selalu membawa Bunda.
" Riana antar ayah Bunda?". Karna Andrei memegang kunci rumah, Andrei membuka pintu rumah dan menyalakan lampu rumah.
" Justru Ayah Bunda yang antar Riana nak ". Jawaban Ayah membuat Andrei menghentikan langkah nya memasuki rumah
" Maksud Ayah?".
" Riana melanjutkan studi ke Jerman ". Andrei segera belari keluar rumah dan langsung memacu mobil nya menuju bandara.
" Ayah... ". Andrei tampak berlari kencang menghampiri Ayah Bunda Riana.
Ayah menyerahkan sebuah amplop berwarna putih. Andrei menerima amplop tersebut. Lalu Ayah pun menepuk bahu Andrei, lalu berjalan meninggalkan Andrei. Bunda meraih lengan Andrei dan merangkul mengajak nya pulang.
Andrei membuka kamarnya lalu duduk di bangku belajar. Dibukanya amplop dari Riana, tampak sebuah cincin terjatuh dari dalam amplop. Andrei mengambil cincin tersebut seraya berpikir ini adalah cincin yang diberikannya buat Riana sebelum berangkat ke Jogja. Tak ada surat ataupun tulisan.
" Minggu lalu kamu ngak ketemu Riana?. ". Andrei kaget mendengar pertanyaan Bunda.
" Aku ngak ketemu Bun". Jawab Andrei
" Pantas setelah pulang dari Jogja, Riana jadi pendiam, lalu minta Ayah urus keperluan keberangkatan ke Jerman. Padahal setahu Bunda sebelum ke Jogja Riana ngotot ngak mau ambil beasiswa nya dan ingin lanjutin kuliah bareng kamu". Bunda meletakkan sebuah piring berisi kue kesukaan Andrei.
" Makasih Bunda". Ucapan Andrei membuat Bunda mengangguk pelan. HP Andrei berbunyi ada nama nenek di layar HP nya. " Andrei angkat telp nenek dulu Bun". Bunda mengangguk pelan
" Assalamu'alaikum nek... ".
" Waalaikumsalam... Gimana kamu sudah ketemu Riana, nenek lupa bilang ke kamu kalau Riana ke tempat kost kamu minggu lalu". Andrei mencoba mengingat seminggu yang lalu. Seingat dia hanya Sekar teman kuliahnya yang datang ke tempat kost untuk mengambil makalah kelompok yang tertinggal di kamar kost nya.
" Apa mungkin... ". Andrei bergegas mengambil HP nya dan tertulis Sekar di layar HP nya.
" Apa Mik? ". Tanya suara dari seberang sana. Sebuah suara lelaki menjawab sahutan Andrei.
" Sekar mana?". Tanya Andrei. Ternyata selama kuliah di Jogja Andrei mengubah namanya menjadi Andrei Sudjatmiko. Ya Sudjatmiko adalah nama Ayah kandung Andrei.
" Kenapa Mik? ". Terdenngar suara seorang perempuan menjawab.
" Itu, minggu lalu ada perempuan yang ke tempat aku ngak? ". Tanya Andrei gugup
" Setau aku ngak ada Mik... Cuma"
" Cuma apa? ". Desak Andrei
" Ada perempuan salah tanya. Dia tanya Andrei Hartanto, tapi Aku heran dia kasih foto mirip kamu Mik. Kaya nya perempuan itu kena tipu lelaki iseng deh Mik". Mendengar jawaban Sekar Andrei pun terduduk lemas. Andrei pun menjelaskan kepada Sekar kalau yang datang itu adalah Tunangan nya. Sekar kaget bukan kepalang. Dia pun meminta maaf kepada Andrei.
" Ini ". Ayah menyerahkan sebuah kertas berisi alamat Riana di Jerman juga sebuah tiket pesawat.
Andrei melihat ayah. " Berangkat nya besok pagi. Kalau kamu mau berangkat, silahkan. Kamu harus jelasin ke Riana kalau semua itu salah paham". Andrei hanya tertunduk mendengar penjelasan Ayah. Dia paham betul sifat Riana, kalau kita minta maaf saat dia kesal yang ada bukan baikan malah jadi tambah marah. Karna itu menurut Andrei dia tidak perlu menyusul Riana ke Jerman, Dia akan menunggu sampai amarah Riana selesai baru minta maaf. Ayah hanya mengangguk mendengar penjelasan Andrei, sementara Bunda hanya menepuk-nepuk pundak Andrei. Andrei membuang nafas panjang.
Seminggu, Sebulan, bahkan hampir setahun, Riana tidak membalas pesan yang setia hari Andrei kirimkan. Jangankan di baca pesan nya aja hanya ceklis satu. Andrei berpikir kalau nomornya pasti di blok Riana. Tapi Ayah dan Bunda selalu rutin di hubungi Riana setiap minggunya.
" Gimana tahun ini pulang ke Jakarta kan?. " Tanya Bunda kepada putri satu satunya tersebutlah. Tampak Riana hilir mudik didepan web cam laptop nya.
" Kayanya enggak Bun. Ana mau kebut study disini, supaya setengah tahun lagi Riana lulus study disini ". Riana duduk didepan web cam nya, lalu menguncir rambutnya.
" Aih anak Bunda udah tambah cantik juga dewasa lho. Tapi apa kamu ngak sayang kan masih ada jatah setahun lagi di sana ". Riana menggelengkanw kepalanya.
" Target Ana tahun ini harus lulus, Ana mau lanjut S2 nya di Indo aja, supaya bisa bantu Ayah di Rumah Sakit". Bunda tersenyum mendengar jawaban putrinya. Ya Ayah Riana adalah seorang pemilik Rumah Sakit Swasta di Jakarta. Riana juga gadis yang sangat pintar dan cerdas. Dalam waktu dua tahun dia berencana menyelesaikan study kedokteran nya di Jerman.
" Kamu udah hubungi Andrei? ". Pertanyaan Bunda membuat Riana menatap web cam nya. " Kamu salah paham".
" Bunda maaf, Ana ada kelas. Love U Nda " Riana segera mengalihkan pembicaraan dan menutup percakapan dengan Bunda nya.
Sebenarnya Ayah Bunda sudah selalu memberitahu kalau waktu Riana ke Jogja Andrei baru berangkat ke Sumatra untuk mulai KKN, dan perempuan yang Riana temui adalah Sekar teman kuliah sekaligus saudara sepupu nya Andrei. Riana bisa memahami nya, hanya saja yang membuat Riana kecewa dengan Andrei adalah Andrei tidak memberitahu dia juga Ayah Bunda nya kalau Andrei kost.
" Ana.... " Tampak Riri dan Rika berlari ditengah hiruk pikuk bandara, Riana menyambut mereka dengan berpelukan lalu mereka berlompat kecil kegirangan. Ayah Bunda tampak tersenyum melihat ulah mereka bertiga.
" Parah lo study kok dadakan". Protes Riri
" Maklum heart broken effects ". Ngak ada yang berubah dari Rika, mulutnya selalu pedes kaya cabe setan.
" Enak aja". Protes Riana menjitak pelan kepala Rika. Yang punya kepala pun mengelus Kepala nya
" Makanya lo sih tolak Bagas terus, akhirnya pas Bagas jadian ama Vera lo kabur ke Jerman ". " Tapi yang gue heran Abang lo nyengir doang pas Bagas bilang jadian sama Vera". Mendengar perkataan Rika, Riana baru sadar kalau dia belum sempat cerita kalau dia dan Andrei bukan saudara kandung, dan sudah sempat tunangan sama Andrei. Tampaknya Ayah Bunda juga tidak menceritakan hal tersebut. Riana menhampiri Ayah Bunda lalu memeluk erat mereka. Sesuai dengan janji Riana, dia berhasil merampungkan study di Jerman hanya dengan waktu dua tahun. Ya selama dua tahun ini dia tidak bertemu langsung Ayah Bunda nya, hanya video call setiap seminggu sekali. Bunda mengelus rambut Riana yang bertambah panjang.
" Makin tambah cantik dan dewasa ya anak Ayah ini". Ayah pun memeluk erat Riana. Riana membalas pelukan ayahnya dengan erat. Riana melepaskan pelukan Ayah nya dan kembali memeluk Bunda nya.
" Tambah tinggi pula". Sahut Bunda membandingkan dengan tinggi Bunda. Riana tersenyum manja. Dan mereka berlima pun meninggalkan bandara.
" Bunda Kak Andrei ngak ikut? ". Pertanyaan Riri membuat jantung Riana berdegup kencang.
" Kak Andrei sedang gantiin Ayah operasi". Sahut Ayah sambil menyetir.
" Kemaren gue ke RS bokap lo, ketemu Abang lo". Riri tampak mengunyah sebuah permen asem. Riana melihat Riri heran lalu melihat Rika, Rika mengelus perutnya, dan Riana pun melotot.
" Lo hamil Ri? ". Pertanyaan Riana membuat Riri hampir terselak permen asem nya. Karna setau Riana Andrei memang mengambil jurusan Obstetri.
" Lah emang kenapa kalo gue hamil. Lo lupa gue udah merit pas lo di Jerman!". Protes Riri di iringi tawa mereka semua. Iya Riana baru ingat kalau setahun yang lalu Riri menikah dengan Deri pacarnya sedari SMP. Bahkan Riri sempat ngambek karna Riana ngak bisa datang menghadiri acara pernikahannya. Padahal Riri sangat berharap Riana bisa datang dan jadi pagar ayu pernikahan nya. Tapi ketika pernikahan Riri berlangsung Riana sedang menyelesaikan skripsinya.
" Maafin aunty chayank. Nanti pas lahiran aunty ikutan bantuin ya". Riana mengelus pelan perut Riri yang ternyata sudah mulai buncit.
" Lo kapan Na? ". Pertanyaan Riri membuat Riana terkejut, lalu kembali duduk
" Tunggu marahan nya selesai Ri". Sahut Ayah dari balik kemudi.
" Apaan sih Ayah ". Protes Riana.
" Emang Ana udah punya pacar Yah?. ". Tanya Rika curiga.
" Kok kita ngak tau". Riri mencubit lengan Riana, Riana mengernyitkan kesakitan.
" Udah, udah tunangan sebelum ke Jerman ".
" Apaan sih Ayah, orang ngak jadi. udah Batal". Protes Riana. Bunda menyuruh Ayah untuk berhenti menggoda putri nya. Ayah tersenyum melihat ulah putri nya.
" Tapi emang ada yang kangen berat sama kamu lho nak". Pernyataan Bunda membuat Riana menundukkan Kepala nya dalam dalam. Riri dan Rika yang duduk di samping Riana terus terus menyikut lengan Riana,l seperti menanyakan siapa orang yang Ayah Bunda nya maksud.
" Apaan... ". Kali ini Rika yang tersedak minuman yang Bunda hidangkan. Riri tampak sibuk mengunyah kue yang Bunda hidangkan. Sedangkan Riana sibuk membereskan isi kopernya.
" Kok gue ngak tau". Protes Rika
" Lo sih jomblo akut". Rika mendelik mendengar ucapan Riri. Riri lalu berjalan kesamping Riana.
" Lo jadian sama Abang lo pas seminggu seminggu sebelum Abang lo lulusan kan". Riana mengangguk membalas ucapan Riri. " Gue mah udah tau. Pas tau tau Abang lo anterin lo ke kelas kan". Riana kembali mengangguk pelan.
" Terus kenape lo bilang batal? ". Rika semakin ngak ngerti dengan pertanyaan Riri, langsung mengambil koper Riana dan menurunkan ke bawah kasur Riana lalu duduk disamping Riri dengan pose menginterogasi
" Kalau Ayah Bunda bilang salah paham. Cuma gue kecewa aja dia ngak jujur sama gue". Riana duduk di tengah kedua sahabat nya. Riana lalu menceritakan semuanya dari awal dia tau Andrei bukan saudara kandung nya sampai dia berangkat ke Jerman. Setelah mendengar cerita Riana, Riri pun menjitak kepala Riana dengan pelan.
" Dasar bocah. Gitu aja marah ". Riana memberikan Riri tatapan heran. " Menurut gue, Abang lo sengaja ngak bilang kalau dia kost, karna khawatir lo bakalan banyak tanya". Jawab Riri seolah menjawab pertanyaan tatapan Riana.
" Lagian kenapa lo ngak tanya ke Abang lo". Rika berdiri didepan Riana sambil berkecak pinggang. Riana hanya terdiam. Riri menurunkan tangan Rika dan meminta Rika duduk kembali. Ya sejak menikah Riri tampak menjadi lebih keibuan.
" Terus gimana selanjutnya?. Mau lanjut apa bener udahan?. " Riana menggelengkan kepalanya mendengar pertanyaan Riri.
" Jujur aja nih, waktu gue kontrol ke Abang lo, tuh pasien nya banyakan ibu ibu muda, termasuk gue juga. Abisnya Abang lo sekarang makin ganteng parah". Godaan Riri membuat Riana salah tingkah. Rika mengangguk setuju.
" Lo tau ngak sebenarnya Abang lo target buat gue jadiin imam gue masa depan". Celotehan Rika membuat Riri memukul bahu Rika.
" Ngimpi lo. Lo ngak liat yang di samping lo siapa? . Si jenius yang nyelesain spesialis Obstetri dalam jangka waktu dua tahun di Jerman cuy". Ucapan Riri membuat Riana tertawa ngakak. Apalagi di lihatnya Rika tampak kesakitan. Merekapun tertawa dengan gembira. Namun tawa mereka terhenti ketika mendengar suara pintu kamar terketuk. Mereka serentak menolah ke arah pintu kamar, tampak seorang pria memakai kemeja putih lengan panjang yang d gulung selengan dan memakai celana panjang hitam, tampak beberapa butir keringat di wajahnya. Riri dan Rika segera berdiri bersiap meninggalkan Riana
" Eh kakak udah kelar operasi nya? ". Riri tampak menyikut bahu Riana. Andrei mengangguk pelan.
" Tinggal dulu ya kak". Lanjutnya sambil menarik tangan Rika yang masih ingin bersama Riana. Riri dan Rika pun segera meninggalkan kamar Riana. Andrei menghampiri Riana, tampak ada lelah diwajah Andrei.
" Udah sampe". Riana mengangguk menghindari tatapan Andrei. Andrei melangkah menghampiri Riana. Lalu duduk di samping Riana, lalu Andrei meletakkan kepala nya di bahu Riana, dan tak lama kemudian terdengar dengkuran halus dari Andrei. Riana melirik kearah Andrei. Memang benar apa yang dibilang kedua Sahabat nya tadi, Andrei semakin tampan juga dewasa. Riana menghela napas panjang. Setelah setengah jam Andrei terbangun, Riana terlihat memandang jendela kamar nya. Andrei berdiri dan menggeliat kan kedua tangannya ke atas kepalanya.
" Welcome home honey... ". Andrei mengecup kening Riana, dan berjalan meninggalkan Riana yang termenung.
" Apaan sih". Protes nya berharap ada yang bisa Andrei berikan lebih.
" Makan makan". Riri tampak bersemangat menyantap hidangan yang Bunda sajikan di meja makan.
" Etdah nih bumil ngak punya etika banget yah". Rika pun geleng-geleng melihat ulah Riri.
" jangan kebanyakan makan ngak bagus buat bayinya". Andrei pun memberikan wejangan untuk pasien nya. Riana tampak baru keluar dari kamarnya dan langsung menghampiri Riri.
" Ini ngak boleh". Riana langsung mengambil sebuah rendang dari piring Riri, dan meletakkan dipotong kosong. " Ini juga ngak boleh". Lalu kembali mengambil ayam goreng dari piring Riri dan meletakkan di samping rendang. " Ini apa lagi ngak boleh". Kembali Riana mengambil bakso udang. Dan di piring Riri hanya tampak nasi dan capcay. Riana pun segera duduk di samping Bunda nya.
" Pak dokter... ". Riri menunjukkan isi piringnya kepada Andrei.
" Itu baru bagus buat ibu hamil". Andrei mengacungkan jempol nya tanda setuju. Riri pun meringis melihat isi piring nya. Bunda yang tidak tega memberikan sepotong rendang juga ayam dan bakso yang Riana ambil tadi. Dan terdengar lah suara tawa dari ruang makan keluarga Riana.