“AKU BENCI KALIAN!!!”
“AKU BENCI SEMUA ORANG!!!”
Arrabella mengacak rambutnya frustasi. Iris kelabunya menatap lurus pada pantulan tubuhnya sendiri di cermin. Tidak ada yang bisa dibanggakan darinya; wajah pas-pasan, hidup serba kekurangan, dan persoalan hidup yang tidak ada surut-surutnya. Ara benci dirinya sendiri. Dia ingin seperti orang lain, dikelilingi banyak pria, disegani teman-temannya, dan tidak diasingkan seperti yang selama ini ia rasakan.
Gadis itu tersenyum getir, ia meraba bekas jahitan di pipi kirinya.
“Menjijikan!” umpatnya.
Tangannya mengepal. Ia memukul cermin itu. Kesalahannya hanya satu, terlalu jujur menampakan keadaan Ara yang sekarang.
Ia tidak peduli lagi dengan darah yang mengucur dari sela-sela jarinya. Rasa sakit seperti ini bukanlah apa-apa jika dibandingkan dengan rasa sakit yang diberikan orang-orang kepadanya.
Sebagai seorang remaja yang mengidap penyakit mental, hidup Ara menjadi sangat merepotkan. Dia dikucilkan, diremehkan, bahkan dianggap tidak ada oleh sebagian orang.
Jika Tuhan mengizinkan, Ara akan senang jika takdir membunuhnya sekarang juga.
Ibunya sudah lama meninggal dunia. Ia tewas gantung diri. Dan sekarang ia harus tinggal bersama pria bejat bergelar Ayah tirinya. Hidup Ara benar-benar hancur setelah Ibunya meninggal. Tidak jarang Ayah tirinya memperlakukan Ara dengan tidak baik.
Sekarang, ia tidak punya siapa-siapa lagi selain kekasihnya—Athias. Entah karna apa Athias masih betah dengan Ara. Karna kasian? Atau karna memang sayang? Jujur saja Ara sulit membedakan kedua hal itu. Athias adalah pria yang baik, walaupun kelakuannya sedikit menjengkelkan dan menyebalkan buat Ara.
***
“Raa… Ara!”
“Araaa… aku mau jelasin!!”
Athias menghentikan langkahnya ketika perempuan di depannya berhenti menghindar.
Lagi-lagi gadis itu harus melihat Athias dengan perempuan lain. Entah sudah berapa kali pria itu membuat hati Ara sakit. Selama ini Ara selalu menguatkan hatinya; berpura-pura tidak tahu, atau berpura-pura baik-baik saja agar hubungannya dengan Athias tidak berakhir.
Athias merengkuh Ara dari belakang, mencoba meyakinkan gadis itu bahwa yang dilihatnya tadi salah. Arrabella tetap diam. Ia bosan mendengar penjelasan Athias yang selalu sama seperti sebelum-sebelumnya.
“Araaa… dia sodara aku,” ucap Athias lembut, tepat di depan telinga Ara.
Gadis itu memejamkan matanya, ia berusaha menghapus semua pikiran buruknya terhadap Athias.
Terlalu banyak kejadian pahit yang tersimpan di memori otaknya.
Ara meneteskan air mata begitu saja. Tubuhnya mendadak lemas, kakinya seolah tidak mampu lagi menompang bobot tubuhnya yang mungil.
“Maafkan aku, aku tidak bermaksud melukaimu lagi.” Athias mencium puncak rambut Ara. Tangannya mengerat, memeluk tubuh mungil Ara dari belakang. Dapat ia rasakan tubuh Ara bergetar, dadanya berdegup sangat kencang. Ara terus saja terisak.
Entah apa yang sedang Ara tangisi sekarang ini?
Athias membawa tubuh Ara kedalam pelukannya. Ia mendudukan Ara di pinggir jalan.
Setelah gadis itu cukup tenang dan berhenti menangis, Athias bertanya, “Apa pria itu terus menyakitimu?” Ara menggelengkan kepalanya dengan cepat. Pria yang dimaksud Athias adalah Ayah tiri Ara. Athias tahu luka itu luka baru, luka lebam kebiru-biruan di sikut dan sudut bibir Ara.
“Araaa… aku tidak akan meninggalkanmu. Aku janji.” Ara mengangguk. Tidak pernah sekalipun ia tidak mempercayai perkatakan Athias.
Athias adalah alasan Ara hidup sampai sekarang ini. Athias adalah pemberi harapan baru di hidup Ara. Athias adalah segalanya buat Ara.
***
Sepulangnya ke rumah, Ara dikagetkan dengan keberadaan wanita paruh baya beserta anak buahnya. Mereka tengah mengacak-ngacak isi rumah gadis itu.
Arabella menghampirinya, “Ada apa?” tanyanya was-was.
“Kau yang bernama Arabella?” tanya balik wanita itu.
Ara mengangguk mantap.
“Saya, Durma. Ibunya, Athias.”
Ara membelalakan matanya, jantungnya berdebar kencang. Ada apa Ibunya Athias datang kerumahnya?
“Saya minta tolong sama kamu, tolong jauhi, Athias!”
Ara tertegun, mendadak dadanya sesak.
“Maksud Tante apa?”
“Saya tidak mau anak saya bergaul dengan perempuan tidak jelas seperti kamu! Selain itu, rumah ini sudah menjadi milik saya. Ayah kamu yang menjualnya sama saya. Kalau kamu masih berani dekati anak saya silahkan tinggalkan rumah ini secepat mungkin!”
Ara menjauh dari Ibunya Athias ia terduduk di lantai rumah. Menatap kepergian Durma dengan sorot hampa. Sudahkah? Berakhir? Kenapa pria lancang itu selalu membuat hidupnya susah?!
***
Malam tahun baru 2016 Athias mengajak Ara melihat kembang api di rooftop kantor orangtuanya.
Tidak bisa dipungkiri, sorot mata Ara menunjukan kepedihan. Bagaimana Athias tidak menyadarinya?
“Indah ya, Ra.” Pria itu memulai percakapan. Memecah keheningan yang sejak tadi mengurung mereka.
“Athias aku mau putus," ucap Ara tanpa basa-basi lagi.
Athias tertegun. “Maksud kamu?”
“Aku mau putus.”
Pria itu terdiam. Apa yang terjadi pada Ara? Pasti ada sesuatu yang membuatnya seperti ini.
Atmosfer keduanya mendadak berat.
Hening.
Athias membisu. Sementara Ara menatap lurus kedepan dengan sorot wajah yang sulit dijabarkan.
“Kenapa, Ra?”
“Aku benci disakiti.” Athias mengernyitkan dahinya tidak paham. “Selain aku, kamu masih punya yang lain, kan?”
“RA!!”
“Athias, aku benci diriku sendiri. Tuhan selalu merenggut orang-orang yang aku cintai.”
“Ra!! Maksud kamu apa?”
“Aku benci pria jahat.”
“Ra!!”
“Aku mau putus! Aku mau putus! Athias aku mau putus!!” Ara menjerit, air matanya jatuh tanpa beban. Ia menangis terisak. Athias memeluk Ara. Menenangkan gadis itu dari amarahnya.
“Lepasin!!!” Ara berontak. Athias tidak membiarkan Ara terlepas dari pelukannya. Luka di tubuh Ara semakin hari semakin banyak. Sesakit itu kah, Ra?
Tiba-tiba saja hujan turun dengan deras. Kembang api perlahan-lahan lenyap dan menghilang satu persatu. Semua kemeriahan itu mendadak diam, menyisakan kesunyian yang mendalam untuk Athias.
Pria itu masih memeluk tubuh Ara. Membiarkan gadis itu menangis dipelukannya. Berkali-kali Ara menjerit, menyumpah serapahi dirinya sendiri.
Setelah lama berontak, akhirnya Ara diam.
Suhu tubuhnya semakin dingin. Perlahan-lahan kulit putih Ara berubah kebiru-biruan. Wajahnya pucat pasi dan bibirnya memutih. Ara terdiam dari jeritannya.
“Ra!!”
“ARAA!!!”
Athias menepuk-nepuk pipi Ara beberapa kali. Tubuh mungil gadis itu semakin dingin dan kelu. Athias panik bukan main. Sementara hujan turun semakin deras, sayup-sayup terdengar suara petir menggelegar di kejauhan.
Akhirnya Tuhan mengabulkan doanya, ia berhenti bernafas.
“ARAAAA!!!”
“ARAAAA!!!”
Kali ini Athias yang berteriak, merengkuh tubuh Ara semakin erat kedalam pelukannya. Kenapa singkat sekali? Rasanya baru kemarin ia dibuat jatuh cinta oleh Ara. Kenapa Ara meninggalkannya secepat ini?
Selembar kertas jatuh dari genggaman tangan Ara. Pelan-pelan Athias membawanya lalu membukanya. Sebagian tulisan itu lusuh terkena air hujan.
Athias, beberapa kali aku berdoa agar Tuhan merenggut nyawaku lebih cepat. Aku cape. Rumahku dijual pada Ibumu. Dan Ibumu tidak suka aku berurusan denganmu. Aku dihujami pilihan yang menyebalkan. Mungkin ini terakhir kalinya kita bertemu. Aku melakukan hal yang sama seperti Ibuku dulu haha. Maafkan aku Athias …
Maafkan aku yang selalu merepotkanmu.
Arrabella.
“ARRAAAAA!!!”
***
TAMAT.