*Zodiak Taurus*
Kata Kunci: Balas Dendam
Peserta : 1. Coklat_enak (MK) 🍁
2. Sin Cera
3. 🍒Ma Wati🍒
➡️[Naskah by: Coklat_enak (MK) 🍁]
Hembusan angin malam terdengar menyeramkan, di saat semua orang bungkam dengan memejamkan kedua mata.
Dua orang wanita yang bernama Whidie dan Wati tengah tertidur pulas di kamar, dengan tembok coklat sebagai pembatas.
"Hei kawan, apakah kamu bisa mendengarku?" tanya Wati sembari memukul tembok coklat tersebut.
"Hm ... ada apa?" jawab Whidie melontarkan pertanyaan balik.
"Dasar pikun! Kita sudah diberi kesempatan keluar untuk balas dendam kepada Dukun Gila itu. Sudah waktunya kita keluar," sahut Wati mengingatkan.
"Baiklah, ayo kita sama-sama keluar." Whidie langsung mengangkat tangannya untuk menerobos meraih permukaan.
Terlihat suasana gelap ... sepi ... dan mecekam. Setelah berhasil keluar dari kamarnya, Whidie menatap ukiran papan putih yang bertuliskan namanya. Tepat di samping kamarnya, terdapat ukiran lain yang bertuliskan nama 'Wati'. Ia pun mengedarkan pandangan ke segala arah, terdapat banyak gundukan tanah yang berjajar serta dilengkapi oleh papan putih di atasnya.
"Akkh ... tolong, kainku tersangkut!" pekik Wati.
Whidie yang melihat kawannya kesulitan, ia langsung membantu Wati.
Setelahnya, terlihat mereka langsung terbang melayang untuk menemui sang Dukun Gila.
*****
Bau asap kemenyan menusuk indra penciuman, terdapat seseorang yang tengah duduk sembari berkomat-kamit melaksanakan ritual malam.
Terdapat dua gadis berbaring di atas keranda tanpa penutup. Dia bernama Menik dan Sincera, yang akan menjadi tumbal selanjutnya setelah kematian mereka.
Si Dukun Gila itu melancarkan aksinya, menusuk jantung mereka dan membelah tubuh sang tumbal dengan keris di tangannya.
Jlep ... jlep ... jlep ....
Setelah itu, ia langsung mengambil organ dalam mereka dan langsung memakannya dengan sangat rakus. Lalu ia memutar kepala mereka sampai terputus.
Kratak!!!
"Hahahaha ... hahahaha ...," tawa Dukun Gila begitu menggelegar di tengah heningnya malam.
Di lain sisi, setan yang bernama Whidie dan Wati telah sampai di tempat ritual si Dukun Gila itu. Lalu mereka berdua membuat rencana untuk bisa membunuh si Dukun Gila tersebut, yang bernama Dewi.
➡️[Naskah by: Sin Cera]
'Kalian hanya memiliki waktu enam jam. Sebelum matahari terbit.' Whidie tiba-tiba teringat oleh perkataan lelaki berjubah hitam dengan tudung yang menutupi wajahnya. Lelaki itu tadi menghampiri Whidie dan Wati, di kediaman mereka yang terletak di bawah tanah.
"Kita harus cepat menghabisi dukun gila itu, Wat. Sebelum matahari terbit," kata Whidie kepada Wati, sambil melayang di udara.
"Ayo, kita habisin saja dia sekarang!" kata Wati berapi-api.
"Tunggu dulu!" cegah Whidie sambil melirik takut-takut ke arah Dukun Gila yang bernama Dewi.
"Kenapa lagi, sih?" Wati menatap Whidie jengkel.
"Gak pakai strategi, nih? Biasa kalau di film-film, jika mau bertarung butuh strategi," kata Whidie.
Wati lalu berpikir sejenak. "Iya juga, ya," kata Wati sambil mengangguk.
"Hey, kalian! Apa yang kalian lakukan di sini?!" Dewi yang ternyata sudah sadar akan kehadiran Whidie dan Wati, berteriak lantang ke arah mereka.
"Waduh," kata Whidie sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Kita mau balas dendam. Tapi tunggu dulu, Nyai... kami masih rapat. Jangan nyerang kami dulu, ya. Nanti kami kalah," kata Wati kepada Dewi.
"Oh, ya udah. Kalau sudah siap, beri tau aku, ya. Aku mau minum air dulu. Seret soalnya habis makan organ dua anak ingusan tadi," kata Dewi sambil melambaikan tangan singkat ke arah Whidie dan Wati.
"Jadi apa strateginya?" tanya Wati kepada Whidie saat Dewi sudah pergi menjauhi keduanya.
Whidie mengangkat kedua bahunya. "Gak tau ... sudah langsung serang aja, deh."
"Tadi, kamu bilang kita harus punya strategi. Gimana sih ni bocah bau tanah."
Whidie terbang memasuki rumah Dewi, diikuti Wati di sampingnya.
"Dia ngapain?" bisik Wati.
"Minum air putih," jawab Whidie sambil ikut berbisik.
"Yaudah, yuk. Serang aja dari belakang."
Whidie dan Wati pun segera terbang ke arah Dewi. Akan tetapi, belum sempat mereka menyentuh tubuh Dewi, dukun tersebut sudah membalikkan badannya dan menyiramkan air dari mulutnya ke arah Whidie dan Wati.
Wati dan Whidie terpental jauh. Tubuh mereka terasa terbakar. Wati dan Whidie berusaha bangkit dan terbang, tapi mereka tak kuasa menahan sakit akibat semprotan maut dari mulut Dewi.
Dewi berjalan ke arah mereka sambil tertawa nyaring.
"Ha... ha... ha.... Sejak awal kalian tidak akan pernah bisa mengalahkanku," kata Dewi sambil melempar butiran garam ke arah Wati dan Whidie.
Mereka berdua menggerang kesakitan. Rasanya seperti ditusuk dengan ribuan jarum.
Tiba-tiba keluar cahaya yang menyilaukan dari tubuh dua anak ingusan yang tadi baru saja Dewi tumbalkan untuk menambah kekuatannya. Cahaya itu mengitari rumah Dewi, lalu semakin membesar dan semakin terang. Menyilaukan mata siapapun yang berada di sana.
"Sial! Aku lupa mengikat dua arwah bocah ingusan tadi!" seru Dewi sambil menutupi matanya.
Cahaya itu tak lama menjadi dua sosok gadis tengil. Mereka segera menyeret Whidie dan Wati terbang, menjauhi rumah Dewi.
"TIDAKK!" Dewi berseru marah.
➡️ [Naskah by: 🍒 Ma Wati 🍒]
Whidie, Wati, Menik dan Sincera akhirnya berkumpul dan merencanakan pembunuhan terhadap Dewi. Mereka membangkitkan beberapa arwah yang juga merupakan korban dari kekejaman Dewi.
Pertama-tama mereka membakar rumah Dewi. Melihat rumahnya habis dimakan api, Dewi berteriak marah ke arah arwah-arwah di hadapannya,"TIDAK...! APA YANG KALIAN LAKUKAN?!"
Terlihat arwah-arwah itu lalu menyerang Dewi secara bersamaan. Dewi pun kuwalahan dan sedikit limbung. Melihat kesempatan di hadapannya, Menik mengangkat tubuh Dewi dengan mencengkeram kuat lehernya.
"Aaggghhh ...." Suara tercekat Dewi.
Kratak ... kratak ...!
Cengkeraman dari tangan Menik mampu membuat tulang leher Dewi patah!
"Mati dan segeralah berangkat ke NERAKA JAHANAM!!" ucap Menik penuh penekanan di kalimatnya.
Menik pun langsung membanting tubuhnya ke tanah. Kemudian, Sincera langsung menusukkan kuku runcingnya ke mata Dewi dan mencongkel salah satunya.
"Hahahaha ... sekarang giliran kita yang tertawa menatap jasadmu ini!" seru Sincera yang terlihat sangat puas.
Wati dan Whidie tak mau kalah, ia juga berebut tubuh Dewi untuk dikoyaknya hingga ia langsung mati seketika.
"Hihihihihi ...," suara Wati dan Whidie yang cekikikan terdengar sangat menyeramkan di tengah sunyinya malam.
Akhirnya Dukun Gila yang bernama Dewi itu mati tak berdaya. Dengan keadaan tubuh yang sudah terlumuri darah, salah satu mata yang sudah terlepas, lidah yang menjulur keluar, hingga organ tubuhnya yang sudah berserakan di mana-mana. Sungguh sangat mengenaskan bukan? Semua itu merupakan konsekuensi dari apa yang ia lakukan selama ini.
~Tamat~