Sorotan pagi sinar matahari membuat sosok seorang wanita bernama Raina harus terbangun dengan malesnya.
" ibu kenapa harus membangunkan Ina sih? " keluh Ina pada ibu nya yang sudah membuka jendela kamarnya.
" sayang, liat ini sudah pagi ! mana ada seorang wanita pagi seperti ini masih ada di tempat tidur " jawab ibu Raina sedikit kesal karena anak perempuan nya harus saja dibangunkan tiap hari seperti ini.
" tapi Bu, inikan hari libur Ina ingin istirahat dong Bu ! " keluh Ina lagi.
"boleh setidaknya kamu bangun pagi, sarapan dan bantu ibu sedikit pekerjaan rumah setelah itu kamu bisa istirahat sepuasnya " jawab ibu Raina.
"hu'uh baiklah Bu, Ina mandi dulu " kata Raina.
Raina pun langsung melangkah pergi menuju kamar mandi.
skip selesai mandi
Raina pergi bergegas ke arah dapur, saat melangkah pergi sang kakak yang setiap hari selalu menjahilinya tak hanya itu saja setiap berantem selalu saja sang kakak yang akan di bela oleh ibu dan ayah hanya diam saja tanpa membela aku atau kakak.
" hah, tumben kamu bangun biasanya gak pernah bangun " ledek kak Rian pada Raina
" terserah akulah jangan sok sibuk ngurusin aku kak " jawab Raina dengan memasang wajah yang meledek sambil menjulurkan lidahnya.
" sok imut sekali padahal mukanya begitu aneh kayak nenek sihir, sambil ketawa keras " ledek kak Rian.
" kak Rian .....!! memanggil dan menghampiri sambil dengan amarah " keluh Ina
tiba-tiba ibunya memarahi Raina dan Raina berhenti mengejar kakaknya.
" awas kau kak !! aku balas " kata Raina
" Ina ! sambil membentak
jangan seperti itu ! dia kakakmu dan kamu harus sopan " wejangan ibu kepadaku
" hu'uh selalu saja aku yang salah !
kenapa sih aku emang jelek dan kakak ganteng pekerjaan selalu saja kakak mendapatkan yang baik sedangkan aku hanya SPG tempat jual baju " keluhku
" ibu selalu saja bela kakak dan tidak pernahkah berpikir tentang perasaanku " keluhku lagi dan aku langsung pergi ke kamar.
ku banting pintu dengan keras, aku marah karena aku terlalu cape dan aku pun menangis.
tok ... tok .... tok
suara pintu kamar ku di ketuk kakak dan ibu.
Ina buka pintu kakak mau bicara teriak kak Rian
aku hanya terdiam
" buat apa aku buka pintu toh kak Rian bakalan melakukan hal yang sama padaku " gerutuku dalam hati.
tak ada ketukkan lagi ataupun teriakkan dari kak Rian , ibu atau ayah.
" hu'uh aku benarkan mereka seperti tak peduli padaku, mungkin aku bukan anak ayah dan ibu " gerutuku dalam hati.
tiba-tiba ibu mengetuk dan berteriak.
" Ina, ayo makan ! " teriak ibu
aku tak menjawab sedikit pun, biarkan saja mereka seperti tidak punya salah terhadapku. lebih baik aku tidur lagi saja saatku ingin tidur dering ponselku berbunyi.
" siapa sih " kesalku pada orang yang menelepon.
" ya , hallo !!! " sapaku
" Ini siapa ya? " tanyaku lagi.
" wah, Ina kau lupa padaku ya! " jawabnya sambil sedikit merasa kesal.
" maaf, aku benar tidak tau " jawabku sedikit merasa bersalah juga.
" aku sahabat mu waktu kuliah, aku Zahra " katanya.
betapa kagetnya saat mendengar nama itu, karena Zahra pergi tanpa sebab saat perayaan wisuda betapa sedihnya aku tanpa sahabat dan kami juga tanpa sedikitpun berkomunikasi.
" benarkah Zahra? " tanyaku
" ya ini aku, apa kabar Ina ku sayang?" tanyanya.
" kabarku tidak baik Ra ! " jawabku.
" apa yang terjadi Ina? kalau gitu aku ke rumah mu ya ? " tanyanya sedikit khawatir terhadap ku seperti dulu.
Zahra masih seperti dulu aku pun tersenyum.
" jangan Ra biar kita janjian di cafe Baek saja ya " jawabku.
" baiklah aku siap-siap dulu ya " kata Zahra.
oke aku juga jawabku
terputus obrolan kami dan akupun bersiap - siap. Zahra gak pernah berubah saat aku bilang jangan dia tak pernah sedikit pun bertanya alasannya.
selesai bersiap aku tak sedikit pun menoleh kepada kakak atau ibu, aku hanya pamit kepada ayah entah bagaimana ekspresi mereka.
skip
cafe Baek
aku mengirim pesan pada Zahra bahwa aku sudah ada di cafe Baek.
cafe favorit karena pada jaman SMA dulu aku dan sahabatku Keyla dan putri selalu nongkrong di cafe ini.
saat aku sedang melamun seorang wanita menghampiriku dan memanggil namaku betapa kagetnya aku.
" Ina !!! " panggilnya padaku
" Zahra ya " kataku
" Yap kamu bener " jawabnya sambil tersenyum
" kamu berubah ya dari penampilannya Ra " kataku
" hehehehe " jawab nya
" hu'uh hanya ketawa, tapi tak sedikit pun kamu berubah dari sikap nya masih seperti Zahra yang dulu " kataku.
kami pun bercanda gurau bersama Jujur aku sangat penasaran soal kepergian Zahra saat itu tapi apa boleh buat biarkan Zahra yang cerita.
betapa senangnya bisa bertemu dengan sahabat, aku lupa akan ke kekesalan ku kepada keluarga ku saat pulang tak pernah sedikit pun aku bicara dengan mereka.
sudah satu Minggu aku tak berbicara dengan kakak dan ibu ataupun ayah, aku hanya makan itu pun jika aku mau jika tidak aku hanya diam dikamar saja.
apa yang terjadi mereka tak sedikit pun peduli dengan perubahanku yang ada mereka seperti biasa, saat kakakku, ibu atau ayahku bertanya tak sedikitpun aku jawab hanya dengan anggukan kepala saja.
Bagian 2
Dikantor
Hu'uh hari membosankan dirumah bagaikan keluarga zombie dan dikantor akan ada CEO baru, peraturan baru serasa tak sedikit pun hidup sialku beruntung datang gerutuku dalam hati.
Tiba-tiba temenku memegang pundak dia pasti bakalan mengajakku bergosip, gak apa-apa mungkin gosip nya menguntungkan kataku dalam hati.
"Oh ya Raina , tau gak sekarang ini toko baju ini dibeli sama perusahaan Sean group" katanya.
"Apa Sean group? terkejut aku mendengar nama perusahaan itu, karena kak Rian bekerja disana".
"Ya Raina dan hari ini bakalan datang CEO dan sekretarisnya" gosipnya lagi.
" Semakin menarik terus ? " jawabku
" Ih kamu mah, hmhm katanya mereka ganteng-ganteng lho" gosip nya lagi.
" Hu'uh kirain ada yang menarik, kalau soal itu mah kurang menarik" jawabku dengan kesal.
" Hu'uh menarik lho cerita ku, aneh kamu Raina !" menjawab dengan rasa kesal.
" 😂😂😂 aku pun tertawa terbahak-bahak karena temanku sedikit kesal kepadaku" ucapku.
"Malah ketawa sih ! dengan wajah cemberut" katanya.
" Ya maaf deh, aku hanya bercanda" kataku.
"Ya sudah kita bekerja lagi nanti pak Bos marah" kataku lagi.
"Baiklah aku ke tempat baju anak ya ! pamitnya padaku.
30 menit kemudian
Kami semua karyawan di suruh kumpul oleh Pak Bos sedangkan toko tutup dulu selama 2 jam, wah ... ada apakah ini.
" Ada apa ya ? kok disuruh kumpul tak biasa bos seperti ini " kataku dalam hati.
Akupun bertanya kepada temanku.
"Oh ada apa sih kita disuruh ngumpul ? tanyaku kepada temanku".
" Kalau gak salah ada pemilik baru toko ini " jawabnya.
" Oh gitu ya ! jawabku lagi dengan nada yang sedikit mengerti".
10 menit kemudian
Kami menunggu dengan tak jelas, tiba-tiba dua laki-laki tampan datang, yang membuat menyebalkan adalah semua karyawan perempuan berteriak gak jelas.
Dalam hatiku " hu'uh apaan sih mereka gak jelas ! gerutuku ".
Saat dua laki-laki tampan itu duduk, sedangkan aku duduk paling belakang dengan jelas satu laki-laki yang duduk di samping kiri aku mengenalnya dia adalah kakakku yang menyebalkan rasanya ingin aku mencekiknya. Satu laki-laki yang berada ditengah berdiri dan sedikit berpidato buatku sangat melelahkan harus seperti ini.
2 jam berlalu
kami semua beraktivitas seperti biasa dan tiba-tiba dua laki-laki tampan menghampiriku sedangkan aku sendiri meskipun kenal dengan laki-laki di belakang nya" aku hanya pura-pura dan sambil membungkuk, menyapa serta tersenyum.
"Hallo pak, saya Raina karyawan bertugas di bagian pakaian pria" menyapanya sambil membungkuk.
" Hmhm, saya ingin berkeliling jadi kamu sebagai pemandunya" jawabnya.
" Apa pak ? sepertinya ada karyawan yang senior pak yang bisa memandu bapak, saya baru disini ! maafkan saya pak" jawab ku sambil menunduk.
" tak masalah saya hanya mau kamu " jawab nya lagi.
" hu'uh (menghembuskan nafas dan melirik pada senior, dia mengangkuk kepala agar aku menyetujui nya) baiklah pak " jawabku sedikit ragu.
Sebenarnya aku hanya malas harus berurusan dengan CEO itu dan ditambah lagi ada kak Rian yang menyebalkan dan akupun tak sedikit pun melihat ke arah dia sangat melelahkan hari ini apalagi bencana aku sebagai pemandu CEO itu mempermainkan aku soal baju rasanya ingin membunuhnya dan tak usah di tanya soal kakakku dia hanya tersenyum terbahak-bahak saat aku dipermainkan oleh CEO itu.
1 jam berlalu
Mereka pun pergi dan sangat bersyukur aku bisa mengakhiri bencana yang tak pernah aku bayangkan bakalan terjadi setiap hari.
"Apakah aku harus keluar dari tempat kerja ini dan mencari yang lain?" tanyaku dalam hati
bagian 3
kantor Sean group
Adrian menyuruh Rian sahabat sekaligus sekertaris nya untuk datang ke ruangannya.
" Hai, bro ada apa kau memanggilku?" tanya Rian kepada bosnya itu.
" Aku ini bosmu tapi kau seperti itu memanggilku !" keluh Adrian kepada sahabat sekaligus sekertarisnya itu.
" Jika kau memanggilku hanya ada dua alasan, pertama ada wanita pengganggu dan kedua ada wanita yang kau suka!!" kata Rian yang selalu mengerti bos dan sahabatnya ini..
" jawaban kamu benar sekali !" jawab Adrian.
" Bagaimana?" tanyanya.
" Ta-tapi siapa wanita yang kamu suka?" tanya Rian kepada bosnya itu, yang dia tau bosnya selalu diganggu oleh seorang wanita bernama Putri, dia sahabat dari adiknya serta cinta pertama Rian meskipun Rian mencintai Putri, dia tak sedikit pun untuk menyatakannya bagi Rian kebahagiaannya nomor satu, Rian akan membantunya untuk membuat Putri bahagia akan tetapi betapa kagetnya orang yang disukai Putri adalah bos sekaligus sahabatnya itu membuat Rian bimbang dan ditambah bosnya tidak menyukainya, sekarang dia tau kalau bosnya itu menyukai wanita lain.
" wanita yang ada di toko pakaian " katanya.
" toko pakaian?" tanya Rian.
" ya, Raina namanya" jawab Adrian dengan lantang ditambah senyum yang begitu menawan tak pernah terlihat kembali semenjak kepergian ibunya.
" kenapa harus adikku sih?" tanyanya dalam hati, " senyumu itu baru aku lihat kembali !!" ucapan Rian dan membuat Adrian menoleh kearah Rian.
"benarkah?" tanyanya untuk meyakinkan.
Rian hanya menganggukkan kepalanya dan Adrian kembali lagi dengan senyuman yang entah memikirkan apa?, sedangkan Rian harus berpikir bagaimana dengan Putri, adiknya Raina dan sahabatnya, mana yang harus dikorbankan.
Bagian 4
Bertemu Adrian
Tak disangka saat itu Adrian harus berkunjung kerumah sahabat sekaligus sekertarisnya karena ada kendala baju yang dipakai Adrian kotor dan tak mungkin Adrian rapat dengan baju penuh lumpur dan kebetulan restorannya dekat dengan rumah Rian, dengan terpaksa Adrian harus berkunjung dan ini pertama kalinya bagi dia datang kerumah sahabatnya. Tak hanya itu keluarga Rian sangat menyambutnya dengan baik.
" Nak Ad ?" tanya ibu Rian yang sedang menonton.
" iya Tante, gimana kabarnya?" tanya Adrian sedikit sungkan karena sudah lama tak datang ke rumah sahabatnya ini.
" Tante dan paman sehat semua, kok kamu jarang main kesini?" tanyanya lagi.
" Ya Tante, Ad sedikit sibuk di kantor jadi jarang berkunjung dan Ad kesini gara-gara ada masalah dengan baju, sedikit malu apalagi Ad tidak bawa apa-apa" jawab Adrian.
" ya ampun Ad, tak usah sungkan seperti itu " kata ibu Rian.
skip
Sedangkan Rian sedang sibuk mengetuk pintu kamar adiknya.
tok ... tok...tok
" Ana buka pintunya" teriak kak Rian.
" ada apa?" tanya Ana sambil teriak.
" kamu tak buka pintunya?" tanya kak Rian sambil memaksa.
" tidak akan, aku sangat males bertemu dengan kak Rian" jawabnya dengan nada kesal.
" baiklah, kakak hanya ingin kamu pinjamkan kemeja yang berwarna biru itu" katanya.
" Tidak mau itu punya pacarnya Zahra " jawabku.
" please Ana 🙏, ini sangat urgent nanti kakak yang akan bilang sama Zahra atau kakak ganti" jawabnya dengan nada memohon.
" Tidak mau, kemeja kakak banyak dan bagus-bagus" jawabku.
"seandainya itu cukup dengan bos kakak, mungkin kakak tidak akan meminta padamu" katanya.
" ya sudahlah" katanya dengan nada menyerah.
Ana termenung dan bangkit menuju lemari baju, mengambil baju kemeja biru.
skip
Ana membuka pintu dan menuju keruangan sambil membawa kemeja, saat itu ibunya akan ke kamar Ana untuk bantu membujuknya.
" astaga, kamu Ana mengagetkan saja" kata ibu.
Ana tak menjawab karena sedikit kesal pada keluarganya.
" kak, ini kemejanya" kata Ana sambil memberikan kemeja.
sedangkan Adrian begitu kaget karena wanita yang dia suka adalah adik sahabatnya.
" Benarkah? terimakasih 🙏" jawab Rian.
Ana hanya menganggukkan kepalanya dan pergi ke kamar.
kring..kring..kring
bunyi handphone Ana
"hallo ini siapa?" kata Ana.
"Ana ini aku Putri, kamu melupakan sahabatmu yang imut ini?" jawabnya sedikit kesal.
" Ayo, kita bertemu di toko Baek !" ajakan nya.
"baik, aku siap-siap dulu ya" kataku.
"oke" katanya.
Tut.. Tut.. Tut
pembicaraan terputus
Ana pun pergi bersiap-siap dan keluar dari kamar saat keluar begitu banyak pertanyaan yang ibunya lontarkan.
"Ana kau mau kemana?" tanya ibu.
" Emang ibu masih peduli dengan Ana?" membalikkan pertanyaan pada ibu
" Ana kau ini sedikit sopan pada ibu, kak Rian tak suka mendengarnya" nasehat kak Rian.
"hu'uh" jawabku hanya dengan hembusan nafas sambil memakai sepatu.
" kamu pergilah dengan kakakmu, ibu akan sedikit lega" kata ibu.
" tak usah, aku bisa pergi sendiri dan ibu tak usah khawatirkan aku jika aku tidak ada juga tak begitu berarti bagi keluarga ini" kataku sambil pergi keluar.
entah apa yang terjadi, setiap hari bagaikan neraka buatku, saat itu kakakku dan bosnya itu terus-menerus memanggil namaku sedangkan aku mengabaikan mereka.