Seorang gadis duduk tenang didepan sebuah aquarium kecil yang berisi seekor ikan hias.Bola matanya terus memandangi ikan itu,seakan tidak ingin satu detikpun pandangannya terlepas.Sudah berjam-jam ia hanya melakukan kegiatan itu,tapi matanya tidak lelah sedikitpun.
Ia mulai memasukkan tangannya kedalam aquarium kecil itu,perlahan-lahan air diaduknya,namun semakin lama adukannya semakin kencang.Ikan hias yang ada aquarium mulai bergerak tidak teratur kesana-kemari,akibat guncangan hebat dari tangan gadis itu.Setelah gadis itu berhenti mengguncangkan air yang ada di aquarium,ia menangkap ikan hiasnya dengan kedua tangannya.Diangkatnya ikan tersebut keluar dari air,lalu digenggam sekuat tenaganya dan dicampakkannya kelantai.Tidak puas,ia mengambil kembali ikan yang telah terjatuh itu dan mencampakkan ikan itu kembali kelantai.Ia tetap tidak puas,hingga akhirnya ia menginjak-injak ikan itu dengan kaki telanjang.
Gadis itu tersenyum puas sambil menatapi kematian ikan hiasnya.Ia kembali memandangi aquarium kecilnya,berharap ada beberapa ikan lagi yang bisa dimainkannya.Namun,ternyata ikannya sudah tidak ada lagi.
***
Gadis itu berjalan kekelasnya seorang diri,tidak ada seorangpun yang mau menjadi temannya,meskipun hanya untuk sekedar berjalan bersama.Semua teman-temannya takut padanya,bahkan tak jarang ada guru yang takut dan menjaga jarak dengan gadis itu.
Hari ini ia mengikuti pelajaran olahraga pada jam pelajaran pertama.Setelah mengganti pakaian olahraga,semua murid dikelasnya beranjak ke lapangan basket karena materi hari ini adalah permainan bola basket.Pak Yono,sebagai guru olahraga mereka,mengajarkan beberapa tekhnik dalam permainan bola basket.Setelah itu,satu persatu murid dibagi menjadi beberapa tim yang akan ditandingkan.
“Nela,kamu bergabung dikelompok dua,”suruh Pak Yono kepada gadis itu.
Gadis itu hanya mengangguk,tidak mengatakan sepatah katapun kepada gurunya.Ia memang sangat pendiam,mungkin akibat seringnya ia menyendiri sehingga tidak terbiasa dalam berbicara.
“Pak,saya tidak ingin sekelompok dengan Nela,”kata Ibni seakan tidak menerima gadis itu bergabung dengan kelompoknya.
“Saya juga,Pak,”sambung Tika.
“Jadi bagaimana lagi?Tidak mungkin saya pindahkan ke kelompok lain.Lagipula,ini hanya permainan,”kata Pak Roger berusaha menjelaskan.
Ibni dan teman-teman sekelompoknya bersungut-sungut mendengar jawaban dari gurunya itu.Mereka tetap bermain dilapangan,bertanding dengan kelompok satu.Namun sepertinya tak ada satupun dari mereka yang menghiraukan keberadaan Nela,meskipun gadis itu berada didalam lapangan.
Nela merasa sangat geram,emosinya meluap-luap.Saat bola terlempar keluar lapangan,ia mengambilnya dan melemparkan bola itu tepat sasaran ke kepala Ibni.Anak-anak yang lain sangat terkejut dengan kejadian ini,mereka semua melihati Nela dengan pandangan menuduh.Beberapa anak menolong Ibni yang jatuh pingsan ditengah lapangan dan membawanya ke Unit Kesehatan Sekolah.
Melihat kejadian ini,Pak Roger menghentikan permainan dan menyuruh murid-muridnya berganti pakaian sementara ia mengurusi salah satu muridnya yang mengalami kecelakaan saat berolahraga.Tapi tidak dengan Nela,ia tetap berada dilapangan basket seorang diri sambil merenung,entah apa yang direnungkannya.Tak lama kemudian,salah seorang teman sekelasnya menghampiri dan berniat menemaninya.
“Kenapa masih disini?Bukankah Pak Roger menyuruh untuk mengganti pakaian?”Tanya anak lelaki itu kepada Nela.
“Kamu sendiri kenapa masih disini?”Tanya Nela kembali.
“Kenapa malah bertanya kembali?Jawab dulu pertanyaanku.”
“Aku ingin menyendiri disini.”
“Bolehkah aku menemanimu?”
“Terserah.Tapi,untuk apa kamu disini?Untuk mengejekku, menuduhku,atau menyalahkanku atas kejadian tadi?”
“Tidak,aku tidak pernah berniat seperti itu.Aku yakin bahwa sebenarnya kamu tidak salah.”
“Entah kenapa,mereka selalu takut padaku,menjauhiku,mengejekku,dan menganggapku aneh.Bukankah kamu juga seperti itu?”
“Sejak kapan aku seperti itu?Buktinya,saat ini aku menemanimu disini.”
“Menemaniku?Oh,seperti inikah rasanya ditemani?Aku tidak pernah tau.”
“Kenapa begitu?”
“Aku tidak memiliki teman.Bahkan,kedua orang tuaku sengaja mengirimku kesini seorang diri,hanya ditemani seorang pembantu dan seorang supir saja.Mereka tidak ingin serumah denganku semenjak kakakku meninggal.”
“Kakakmu meninggal?Apa penyebabnya?Ia menghidap suatu penyakit?”
“Tidak.Aku yang membunuhnya.”
“Apa?Kamu membunuh kakakmu sendiri?Tapi kenapa?”
“Ya.Karena dia tidak pernah mau menemaniku,sama seperti teman-temanku yang lain.Ia selalu menjauhiku,dan mengejekku aneh,karena aku sangat sering membunuh ikan-ikan hias milik ayahku dan juga kelinci-kelinci lucu milik kakakku sehingga mereka semua mati.Lalu,disuatu malam aku menusuknya dengan pisau karena aku merasa sangat kesal padanya,”Nela berusaha menjelaskan.Biasanya ia tidak pernah mau berbicara banyak kepada siapapun,namun tidak kepada Fadlan yang kini duduk disampingnya.
Fadlan menelan ludah mendengar penjelasan Nela,yang bahkan tidak terlihat menyesal telah membunuh kakaknya.Gadis ini benar-benar psikopat,pikirnya.Namun ia tidak merasa takut dan sama sekali tidak berusaha menjauh.Ia malah merasa sangat nyaman berada didekat gadis itu,entah kenapa.
***
Siang ini hujan turun dengan sangat deras.Tak heran,karena memang musim penghujan telah datang.Semua orang berusaha mencari tempat berteduh yang nyaman,begitu pula dengan Nela.Ia terpaksa menunggu angkutan umum didepan sekolahnya,karena supir pribadinya sedang sakit dan tidak bisa menjemputnya kesekolah.Namun,karena hujan yang tiba-tiba turun,membuatnya terpaksa untuk mencari tempat-tempat berteduh.Untunglah ia berhasil mendapatkannya sebelum ia benar-benar basah terkena air hujan.
Tidak sedikit murid-murid lain yang mengikuti jejaknya dan berebut tempat berteduh.Namun,beberapa orang yang mengenalnya tetap menjaga jarak karena merasa takut.Nela sudah merasa terbiasa dengan hal ini,meskipun ada rasa dendam dihatinya dan keinginan untuk mencelakai mereka.Tapi ia berusaha menahan dirinya,agar orang tuanya tidak merasa kecewa lagi.
Cuaca yang sangat dingin seperti ini membuatnya merasa sangat kedinginan,ia ingin segera pulang kerumah dan menghangatkan dirinya.Untunglah,tak lama kemudian angkutan umum yang ditunggunya datang,lalu ia menaikinya.Ia merasa cukup lega,karena tidak perlu menunggu lebih lama,lalu membetulkan posisi duduknya agar terasa lebih nyaman.Sesekali ia memandangi penumpang lain yang sebagian besar adalah pelajar,sama sepertinya.
Awalnya keadaan angkutan umum tersebut baik-baik saja.Tapi,tiba-tiba kendaraan tersebut berhenti ditengah jalan.Para penumpang terlihat panik,karena hujan diluar masih sangat deras dan dapat membasahi sekujur tubuh mereka.Namun,supir angkutan umum tersebut menyuruh para penumpangnya untuk turun karena kendaraannya telah mogok.
Dengan sangat terpaksa,Nela bersama para penumpang yang lain turun dari angkutan umum itu.Mereka tak henti-hentinya meluapkan kemarahan kepada sang supir.Namun tidak dengan Nela,ia terlihat santai dan dapat mengontrol emosinya dengan baik.
Setelah para penumpang angkutan umum yang mogok itu turun,mereka mulai berhamburan mencari tempat yang terlindungi hujan,begitu juga dengan Nela.Ia berusaha mencari-cari tempat untuk berteduh,namun selalu ramai dan akhirnya tidak ada tempat yang tersisa untuknya.Ia tetap mencari dan terus berjalan,meskipun sekujur tubuhnya sudah sangat basah.
***
Sepulang sekolah,Fadlan mengendarai mobilnya menuju rumahnya.Ia merasa sangat bersyukur karena tidak perlu basah-basahan terguyur hujan seperti kebanyakan orang yang dilihatnya selama diperjalanan.
SEKIAN