"Aku menemuinya!"
Suara Ana lirih, namun penuh arti. Ini bukan kali pertama Ana mencoba membujukku sejak tahu tentang dia.
"Sudahlah Ana, bisakah kita membicarakan hal lain!" pintaku dengan mood yang mulai kendor.
"Misalnya apa?" tanyanya dengan tegas. Bisa kurasakan ada amarah dalam nadanya, jadi kuangkat mata hingga menemukan sorotnya yang menyimpan perpaduan amarah, kesal juga kekecewaan, "Kau selalu saja bersikap seperti itu, apa kaupikir semua sikapmu itu benar?"
"Aku hanya tak ingin membicarakannya, aku tidak mau kita bertengkar hanya karena itu," geramku menaruh sendok dengan kasar ke tumpukan makanan di atas piring.
"Jika kita harus bertengkar, itu karena kau yang terlalu keras kepala dan egois!" hardiknya, "Kau berbeda dari Arya yang selama ini aku kenal, Mas. Apakah ini sesungguhnya dirimu yang sebenarnya?" tudingnya. Rahangku mengeras, Ana belum mengenalnya, tapi lebih membela dia daripada aku.
Kami bertatapan lama dalam diam, lalu kubuang muka untuk mengakhirinya. Bisa terlihat dari ekor mataku, dia menutup wajahnya dengan kedua belah telapak tangannya dan mulai tersedu. Aku harus memutar kembali kepalaku hingga menatap lurus ke arahnya yang sedikit tertunduk dengan goncangan lembut dari tubuhnya. Aku jadi berfikir, apakah Ana mulai menyesal dengan hubungan ini?
"Ana!" lirihku.
Ana masih tersedu beberapa menit. Lalu terdiam. Ana adalah cinta pertama dan terakhirku, aku sangat mencintainya. Dan aku tak ingin kehilangan dia.
"Ana!"
"Maaf," potongnya. Aku tertegun. Ana menyeka wajahnya yang basah dengan telapak tangannya berulang-ulang, setelah selesai dia menatapku., "Aku tak seharusnya berteriak padamu, Mas." sesalnya, "hanya saja, kau tahu seperti apa hidupku. Aku tumbuh di panti asuhan, orangtuaku meletakkanku di depan pintu. Membuangku! Tak ada yang mencariku karena mereka tidak menginginkanku. Dan aku harus mempertahankan nilai tinggiku untuk bisa mendapat beasiswa sampai ke Perguruan Tinggi. Aku selalu iri, bisa memanggil seseorang dengan sebutan Ibu atau Ayah. Mereka..., hanya mimpi bagiku!" matanya mulai kembali berkaca.
"Ana," desisku.
"Mas," lagi-lagi dia memotong kalimatku. "Aku mengerti perasaanmu. Kekecewaaanmu, tapi sikapmu,___ adalah sebuah kesalahan. Kau telah menyakitinya, hatinya!"
Akhirnya aku terdiam. Sebenarnya aku tak ingin membahas masalah itu, tapi jika aku terus menghindar, Ana akan selalu mencari kesempatan untuk membicarakannya. Dan pada akhirnya, mungkin kami akan bertengkar. Jadi kuputuskan untuk membiarkannya berbicara,
"Kau seharusnya merasa beruntung, masih memiliki seseorang yang menyayangimu melebihi apa pun. Yang rela mengorbankan segalanya untukmu!"
"Itu bukan perngorbanan!" potongku ketus, "Pengorbanan adalah suatu hal yang mulia, bukan hina!"
Ana melebarkan matanya, aku tahu dia akan menentang kata-kataku. Atau dia akan meninggalkan meja makan dan naik ke ranjang, berpura-pura tidur untuk mendiamkanku.
"Ya, di mata sebagian orang, bahkan mungkin semua lapisan masyarakat, itu memang hina!" sahut Ana. Sepertinya saat ini Ana memang ingin menuntaskan masalah ini hingga bertahan dengan sikap keras kepalaku. "Tapi terkadang, hidup bahkan memberi pilihan yang sangat menyakitkan untuk seseorang. Di mana dia, harus memilih untuk menghancurkan hidupnya, atau orang yang paling disayanginya yang akan hancur!"
Kubalas sorot matanya yang mengandung kepedihan, dia seperti bisa membaca apa yang akan kukatakan sehingga dia memotong kalimatku lagi sebelum sempat mulut ini bersuara,
"Dia tak mengatakan apa pun kepadaku, Mas. Tapi...," Ana mengeluarkan sesuatu dari pangkuannya, sebuah buku usang. Dia meletakkan buku itu di atas meja lalu mendorongnya ke hadapanku, kutatap buku bersampul coklat setebal dua cm itu lalu kukembalikan pandangan ke wajah Ana. Seperti biasa Ana bisa membaca pertanyaan yang muncul dalam benakku.
"Ini miliknya, aku mengambilnya di meja samping tempat tidurnya saat dia lengah. Sebaiknya kau sudi membacanya, Mas. Setelah itu, terserah kau menganggap dia sebagai apa. Dan aku tidak akan membujukmu lagi," katanya lalu bangkit dari duduknya dan mulai melangkah meninggalkan ruang makan.
Aku hanya terpaku menatap tempat Ana duduk yang kini menjadi hampa, lalu pandanganku jatuh merambat ke buku usang itu. Sebuah buku harian, terka-ku!
***
Entah sudah berapa lama aku masih diam di meja makan dengan hidangan yang mendingin. Ana juga tak muncul untuk membereskan meja dan dapur, mungkin dia masih menyisipkan rasa kecewa terhadapku. Tapi siapa yang mau berada di posisiku?
Duniaku seakan runtuh saat aku tahu siapa sebenarnya orang yang selama ini selalu aku banggakan di depan teman-teman. Hatiku hancur! Aku baru tahu kenapa selama ini dia mengirimku ke sekolah asrama, tidak membiarkanku berada di sisinya. Dan semua uang yang digunakan untuk membiayai sekolahku, ternyata....
Seandainya dari awal aku tahu, aku tak akan menerima semua itu. Aku akan lebih memilih tak bersekolah tinggi.
Sejak hari aku tahu siapa sebenarnya dia, aku pergi darinya dan tak ingin mengetahui apa pun lagi tentangnya. Tapi sejak Ana tahu tentang dia setelah melihat foto usangnya terselip di antara buku-buku lamaku di gudang, Ana mulai mencecarku tentang dia. Hingga aku terpaksa mengatakan siapa dia. Siapa-dia-sebenarnya! Sejak saat itu, Ana mencari tahu sendiri keberadaannya hingga pembicaraan di meja makan ini terjadi dan berakhir dengan sebuah buku harian usang.
Buku yang saat ini teronggok di hadapanku. Buku yang tak pernah terfikir olehku ada.
Kubuka dengan gemetar sampul coklat tua itu, halaman pertama kosong.
Aku terdiam.
Lalu kubuka halaman berikutnya, tertera tanggal yang terjadi sekitar puluhan tahun lalu,
11 November 1993
Aku benci dunia ini, aku tak tahu lagi harus berbuat apa! Suamiku menjualku kepada Pak Darta, rentenir bejat itu, untuk membayar hutangnya.
Jika aku tak mau, dia akan memisahkanku dari Arya. Menjualnya kepada Pak Darta sebagai budaknya, semua orang tahu siapa Pak Darta. Aku tidak mau Arya tumbuh menjadi seperti ayahnya atau bahkan Pak Darta. Aku tidak mau putraku hancur!
Ulu hati ini tertohok membaca tulisan pertama yang masih kukenal itu. Dan di halaman-halaman berikutnya, sungguh membuat hati ini teriris. Mataku memanas, hingga sebuah alasan mulai terkuak.
21 Februari 1998
Arya mulai bertanya kenapa aku sering keluar malam. Dia semakin tumbuh besar, dan ayahnya semakin gila menjajakanku. Aku ingin lari, dan lagi-lagi Bang Rudi mengancamku tentang Arya. Aku berfikir, mungkin sebaiknya kusekolahkan saja Arya di asrama.
Beberapa lembar setelahnya kosong. Memang hanya moment-moment tertentu saja yang tertulis di lembaran buku itu.
15 Oktober 1999
Bang Rudi meninggal karena keracunan miras oplosan bersama beberapa temannya. Hatiku tertawa bahagia, karena aku akan bebas.
8 November 1999
Aku salah. Kupikir jeratan ini akan berakhir dengan perginya Bang Rudi. Tapi rupanya dia masih saja meninggalkanku dalam neraka. Kebiasaan buruknya berjudi menyisakan hutang menumpuk pada beberapa orang, yang beberapa di antaranya adalah pria-pria hidung belang yang menjadi langganan tubuhku. Mereka memaksaku membayar semua hutang itu dengan tubuhku, dan jika aku menolak, maka lembaran-lembaran foto syurku yang mereka buat akan tersebar ke seluruh asrama Arya.
Maret 2003
Aku tidak tahu kenapa Tuhan tidak mengirimkan seorang penolong untukku?
Apakah dulu aku kurang baik menjadi hambanya?
2005
Aku sangat bahagia karena Arya berhasil diterima di sebuah universitas ternama di Ibukota. Dia bilang dia akan pulang, tapi tidak! Aku tak bisa membiarkannya pulang. Aku yang akan ke sana! Tapi bagaimana, sekarang Pak Darta menguasaiku. Tapi mungkin dia akan mengijinkanku beberapa hari menemui Arya!
Aku tertegun. Membiarkan memoriku menggerilya menguak keping ingatan. Dia memang pernah datang di awal semester, dan tidak sendiri. Ada seorang pria yang bersamanya, yang saat itu mengaku sebagai teman Ayah yang pernah bekerja di Jakarta. Karena dia tak pernah datang ke Ibukota sebelumnya, jadi takut nyasar.
Ternyata..., itukah alasan sesungguhnya?
Bahkan setelah itu, dia selalu melarangku untuk pulang kampung. Tapi dia juga tak bisa datang mengunjungiku. Hingga suatu hari, aku nekat pulang kampung tanpa memberinya kabar lebih dulu. Saat itu handphone belumlah merebak seperti saat ini. Jadi biasanya kami masih berkirim surat.
Semua warga yang kutemui membuatku bertanya dalam hati. Apalagi saat kutanyakan tentang alamat itu. Karena dia mengatakan padaku bahwa rumah kami yang dulu sudah disita karena hutang Ayah, jadi dia sengaja mengontrak rumah. Tapi tanggapan warga membuat hatiku bingung dan kian penasaran, mereka tidak secara terbuka memberi tahu. Dan semua keanehan itu terjawab ketika aku sampai di rumah yang selama beberapa tahun terakhir menjadi alamat kami berkirim surat.
Rumah bordil!
Itu adalah hari terakhir aku melihat wajahnya. Juga mendengar suaranya.
Kesadaran kembali membawaku harus menatap lembaran berikutnya.
Juli 2008
Hari ini Arya mengetahui segalanya. Kenapa dia harus pulang?
Dan dia membenciku!
Putraku
Duniaku sudah tak berarti lagi.
Februari 2010
Dokter berkata aku mengidap Alzaimer. Sebuah penyakit lupa. Yang perlahan akan merenggut memori-memori dalam ingatanku.
Karena penyakit itu, Pak Darta yang kini tak hanya menjadi rentenir, tapi juga seorang germau tak lagi membutuhkanku. Lagipula, aku sudah tua.
Kuputuskan untuk pergi ke Ibukota, aku ingin bertemu putraku. Sebelum penyakit ini merenggut ingatanku tentang Arya, aku ingin bisa melihat wajahnya yang tampan. Meski hanya dari jauh.
Desember 2011
Hampir dua tahun, kalau aku tak salah menghitung. Selama itu aku hanya bisa melihat Arya tanpa bisa menyapanya, dibalik pakaian lusuh dan gerobak barang bekas. Aku merasa beruntung karena Arya belum pindah dari kontrakannya meski sudah bekerja mapan.
Coretan berikutnya, tak ada bulan atau pun tahun. Tapi ada sebuah foto bocah lelaki yang usang, usia bocah itu sekitar 9 tahunan.
Aku tak ingat kapan terakhir melihat Arya, sepertinya kemarin. Ah, tidak! Rasanya minggu lalu. Sebelum rumah kontrakan itu berpindah ke orang lain. Entah, ke mana Arya pergi!
Ouh...,
Halaman berikutnya...,
Penyakit ini kian menggerogoti memoriku, aku bahkan tak ingat seperti apa rupa Aryaku yang dewasa. Seperti apa rupanya saat bocah, jika foto itu tak kutempel di sini, aku bahkan tak akan ingat aku pernah memilikinya.
Halaman berikutnya,
Ah, siapa aku?
Kenapa denganku?
Arya!
Dalam buku ini..., Arya adalah putraku. Aku memiliki seorang putra?
Tapi....
Siapa namaku?
***
Aku berdiri termangu menatapnya, wajahnya pucat, tubuhnya jauh lebih kurus dari yang kuingat. Pandangannya kosong, menatap ke jendela. Kata-kata Ana kembali menggelitik telingaku,
“Aku mencarinya karena aku merasa pernah melihatnya, Mas. ____ Di sini."
"Aku menemukannya, Mas!"
“Jangankan untuk berobat, beliau bahkan tersesat saat berjalan ke luar. Jadi, beberapa warga terkadang mengawasinya, dan memberinya makan!"
"Aku terpaksa membawa ambulans untuk bisa membawanya ke rumah sakit. Tapi dokter bilang...."
Hatiku sangat teriris. Aku hidup berkecukupan dengan jabatanku sekarang, dan wanita itu, dia..., Aku bahkan tak ingin tahu seperti apa dia menjalani kehidupannya!
Aku lebih mementingkan apa kata orang, dan mengabaikan semua yang telah dilakukannya untukku. Aku lebih mementingkan ego dan harga diri daripada pengorbanannya. Dia, mengorbankan hidupnya, harga dirinya, untukku! Hanya agar aku bisa menjadi orang yang baik, menjadi orang yang sukses, dan jauh dari kehancuran.
Wanita itu hanya melakukan tugasnya sebagai seorang Ibu, melindungi anaknya, bahkan dari suaminya sendiri. Aku tak seharusnya menyalahkannya! Karena yang bertanggungjawab atas semua itu adalah Ayah. Atau justru....
Aku!
Karena adanya diriku. Dia melakukan itu untukku. Sebagai seorang anak laki-laki, seharusnya aku bisa melindunginya, melindungi ibuku!
Bukan membencinya. Bahkan, aku tak datang meminta restu darinya saat melamar Ana dan menikahinya. Aku bilang, ibuku sudah lama meninggal!
Kulangkahkan kaki mendekat padanya, menatap wajah ayu yang saat kecil aku kagumi. Yang kini memudar karena usia dan juga keadaannya. Mulutku gemetaran, bibir ini bergerak-gerak tak karuan, tapi lidahku terasa begitu kelu, meski akhirnya kata itu terucap juga,
"Ibu!"
Perlahan wajah itu bergerak, mengarah padaku. Mata kami bertautan, dia menatapku seperti dulu, hangat, dengan mata sayunya.
"Kau siapa?" tanyanya lemah.
Hambar!
Datar!
Asing!
Dan membuat hati ini sakit. Mataku yang memanas sedari tadi tak bisa lagi bertahan, bulir bening jatuh berurai seiring kujatuhkan diri di pangkuannya. Memeluk perutnya. Membiarkan diriku sendiri tersedu seperti anak kecil.
"Ibu..., ini Arya, Bu...," tangisku menderai ke seisi ruangan.
Aku bisa terima jika Ibu tak bisa memaafkanku, tapi mengetahui bahwa dia bahkan tidak ingat siapa aku, ternyata begitu menyakitkan!
Beberapa kalimat mengiang di telingaku.
"Arya, tunggu! Jangan pergi, Nak. Jangan tinggalkan Ibu!"
"Kau bukan ibuku. Kau, hanya seorang pelacur!"
_____o0o_____