Namaku Zahwa, aku berusia 18 tahun ketika aku baru mengenal dan merasakan sebuah perasaan yang bernama cinta. saat itu aku duduk di bangku SMA. Putih abu-abu memang masa-masa yang paling menyenangkan dimana kita hanya ingin merasakan bahagia.
Aku tidak pernah menduga kalau seseorang yang selama ini aku sukai ternyata memiliki perasaan yang sama kepadaku.
Suatu hari Nanda dan aku berjalan menuju kelas kami. Dari depan berjalan sosok yang tidak asing olehku.
" Wa... wa lihat siapa yang didepan?"
Iya...Sebenarnya aku tahu siapa yang berjalan didepan. Wajah yang setiap malam menghiasi mimpi dan otak kecilku ini mana mungkin aku tidak mengenalinya. Aku hanya terdiam menunduk malu karena wajahku yang terlihat semakin memerah.
Tiba-tiba Nanda mendorong tubuhku sampai hampir terjatuh. untung saja Yahya menahan tubuhku. kalau tidak aku pasti akan jatuh ke halaman yang becek karena air hujan.
" Kamu tidak apa-apa?"
Aku hanya terdiam tidak percaya kalau didepanku saat ini adalah Yahya lelaki yang selama ini aku sukai.
" Zahwa... kamu tidak apa-apa?" tanya Yahya lagi
" Haaah... iya aku tidak apa-apa." kataku sambil melapaskan tangan Yahya yang memegang pundak ku.
Dalam hati aku berfikir, bukankah barusan Yahya memanggil namaku.
" Maaf apa kamu mengenalku?" tanyaku dengan nada polos dan lirih
" Tentu saja... Zahwa kan anak IPA ll."
Aku semakin terkejut bahkan dia tahu jurusan dan kelas aku. Kemudian senyuman terpancar dari wajah Yahya yang terlihat begitu manis.
" Ya udah aku masuk kelas dulu ya. sebentar lagi bel berbunyi." Kata Yahya sambil berjalan meninggalkan kami.
Mataku terus menatap Yahya dan tidak lupa senyuman penuh kebahagiaan tergambar diwajahku. Aku tidak mengalihkan pandangananku sampai tubuh Yahya tidak terlihat lagi.
Hari berganti dengan hari. Setelah kejadian saat itu kami saling bertukar sapa ketika bertemu. dan mungkin sudah menjadi takdir kita berada dikelas ektra yang sama.
" Sepertinya ada yang akan jadian nih." kata Nanda
" Siapa....
" siapa lagi... kamu lah."
" Aku....hahahaha. jangan bercanda kamu Nan. sama siapa aku jadian.
" Lihat Yahya. dari tadi dia terus melihat kearahmu."
Mendengar kata-kata Nanda, mataku tertuju dimana Yahya berada. Mata kami saling memandang. dia bahkan tidak memalingkan wajahnya ketika aku kembali menatapnya. malah aku yang tersipu malu dan mengalihkan pandanganku.
setelah kelas drama selesai. tiba-tiba Yahya menarik tanganku.
" Ada waktu gak hari ini?"
" Ada sih... ada apa?
" Ada yang ingin aku bicarakan denganmu."
" Masalah apa?
" Aku tidak begitu mengerti dengan penjelasan pak Indra tadi."
Kelas ektra memang diadakan setelah kelas selesai tidak menganggu jam pelajaran yang lain. jadi setelah kelas drama yang kami ikuti selesai kami langsung jalan bersama.
Aku dan Yahya menuju kesebuah toko buku. Sambil sesekali pertanyaan demi pertanyaan keluar dari mulut Yahya. tidak hanya soal kelas tapi juga soal diriku. dan dengan polosnya aku menjawab semua pertanyaan itu. sampai ketika.
" jadi kamu suka bunga mawar putih gak suka merah. hemm kamu suka apa lagi ya... kamu suka aku gak?"
Setelah kalimat itu selesai, aku menatap wajah Yahya yang tersenyum kearahku dengan begitu manis.
" Aku suka...."
"apa kamu bilang?"
" Aku bilang aku suka sama kamu." kataku sambil tersenyum malu dan menutupi sebagian wajahku.
" Aku juga suka kamu, kamu mau gak jadi cewek aku?"
Aku perlahan mengangguk. Dan sekilas aku lihat wajah Yahya yang tersenyum begitu manis. aku beruntung mendapatkan lelaki seperti dia. tidak hanya baik, pinter tampan pula. Mungkin dikehidupan sebelumnya aku telah menyelamatkan dunia. wkwkwk
Hubungan kita berjalan dengan sangat baik. ya seperti pasangan yang lainnya. kita sering jalan bareng. malem mingguan dan perlahan aku tahu kalau Yahya sangat pintar main gitar dan suaranya juga tidak kalah bagus dengan suara-suara penyanyi di televisi.
Tidak terasa kita sudah kelas 3 dan ujian akhir sekolah sudah usai. Setelah lulus kami telah memutuskan untuk masuk ke Fakultas yang sama agar kita bisa saling bersama.
Hatiku berdebar tidak karu-karuan ketika aku berdiri didepan sebuah papan pengumuman dimana hasil ujian kami akan diumumkan lulus atau tidaknya. Aku menghembuskan nafas panjang dan membuka mataku. perlahan mataku mengikuti nama-nama yang tertera dipapan itu. aku telah menemukan nama Yahya dengan nilai yang sangat bagus tapi dari tadi aku belum juga menemukan namaku ada dipapan itu. aku mulai merasa sedih karna tidak kunjung menemukan namaku.
" ini dia...."
kata Yahya yang tiba-tiba mununjuk namaku yang berada dipapan.
" Kamu melewatkannya tadi."
Betapa senangnya aku membaca namau ku Zahwa Salsabilla. Yang mendapat nilai cukup bagus meski tidak sebagus Yahya.
" Setelah ini, ada yang ingin aku bicarakan denganmu."
" Ada apa..."
" Kita pergi dulu."
Sambil tersenyum dan mengandeng tanganku kami pergi meninggalkan tempat itu dan menuju kertanab sekolah. Setelah sampai disana wajah Yahya terlihat berubah menjadi sedikit sedih.
" Ada apa?" tanyaku dengan nada cemas.
" Maafkan aku... sepertinya aku tidak bisa mengandeng tanganmu kekampus. membocengkanmu kekampus. dan menunggumu didepan kelas setelah kelasmu selesai. kata Yahya sambil menggenggam tanganku
" Kenapa?"
tiba- tiba tanpa aku sadari air mataku menetes. Yahya mengusapnya dan memandangku dalam-dalam.
" Aku harus kuliah di Jakarta." katanya pelan
" Bagaimana denganku?"
" Apa kamu mau menungguku kembali? aku pasti akan kembali kalau kau bersedia menungguku." mata yahya terlihat meyakinkan dan membuat hatiku menjadi luluh.
" Bukankah hanya Jakarta Surabaya, aku pasti akan menunggumu kembali. kita bisa Vidio call. dan saling mengirimkan pesan kan."
Yahya memelukku. Tidak tahu kenapa hati ku sakit aku masih bisa tersenyum tapi aku merasa ada yang hilang dalam diriku. hanya sebuah jarak. sejauh apa pun tidak akan memutuskan hubungan kita tidak akan melunturkan cinta kita. kata itulah yang terfikir olehku dan seakan menjadi mantra yang menguatkan hatiku.
Hari perpisahan untuk kami pun telah tiba. Yahya pamit kepadaku kalau besok dia akan berangkat ke Jakarta. Aku hanya bisa tersenyum berusaha sekuat mungkin agar tidak menitikan air mata. pelukan hangat tubuh Yahya semakin membuatku tidak rela untuk melepaskannya. tapi tidak apa. aku percaya kepada Yahya dia akan kembali kepadaku. dia pasti selau ingat janji-janjinya.
Hari berganti hari bulan berganti bulan, hubungan kami masih hangat seperti dulu hanya saja tubuh kami yang tidak dapat bertemu. ya mungkin seperti inilah orang-orang yang menjalin hubungan jarak jauh yang dinamakan LDR.
Libur semester sebentar lagi. aku dan Yahya memutuskan untuk bertemu di Surabaya. Aku sudah tidak sabar menanti datangnya hari itu. aku telah melingkari tangan dengan warna merah yang tebal agar aku dapat mengingat nya.
Hari yang ditunggu-tunggu pun akhirnya datang juga. sudah banyak baju yang aku coba agar aku terlihat manis saat bertemu dengan Yahya nanti. tasan pink dan bawah biru Dongker pun telah menjadi pilihanku.
Dengan senang aku berjalan menyusuri pinggir jalan. Taman tempat kami berjanji ada diseberang. aku sudah tidak sabar untuk melihat wajah Yahya disana dan memeluk tubuhnya yang hangat.
Karna terlalu senang aku tidak sadar lampu penyebrangan telah berganti dan tiba-tiba sebuah mobil dengan kecepatan yang tinggi datang menghampiri ku.
Ketika aku tersadar aku sudah berada di rumah sakit. Ibu ku berada di sampingku terus menggenggam tanganku dan terlihat matanya yang sembab.
" Bu.... Zahwa dimana?
" sayang... kamu sudah siuman...aku akan panggil dokter dulu ya."
Aku melihat sekeliling hari terlihat sudah gelap aku melihat jam yang ada didinding menunjukan pukul 8 malam. aku buru-buru menyibak selimut dan ingin turun agar bisa menemui Yahya. dia pasti sudah menungguku saat ini.
Ketika aku akan turun dari ranjang aku terjatuh. betapa kaget dan hancur hati ku. melihat satu kakiku sudah dibalut dengan perban dan lebih hancur lagi melihat hanya tinggal satu kakiku saja yang tersisa sekarang.
" Sayang...." suara ibuku menyadarkan aku dalam lamunanku yang tadinya tidak percaya dengan apa yang aku lihat ini.
Ibu membangunkan ku dan kembali meletakan aku ditempat tidur bersama para suster dan dokter.
" Bu... ini mimpi kan, kaki ku... dimana kakiku Bu?" air mata tidak tertahan lagi terus keluar dari mataku
" Sekarang bagaimana aku menemui Yahya nanti, dia pasti sudah menunggu ku saat ini.
" Sayang... tenang. Kamu sudah berada disini selama 3 hari dan tidak sadarkan diri. mungkin Yahya pasti sudah kembali ke Jakarta.
" 3 hari... bagaimana mungkin aku sangat ingin bertemu dengan Yahya Bu...."
Karna aku terus histeris dokter memberikan aku obat penenang dan aku pun sudah tidak sadarkan diri dan kembali terlelap.
Hari berikutnya ketika aku sadarkan diri, aku juga sadar kalau aku kini sudah tidak pantas lagi untuk Yahya. aku tidak lagi menghubunginya. dan aku meminta kepada orang tuaku untuk pindah rumah agar Yahya tidak dapat menemukanku nanti.
Meraka pun setuju dengan permintaanku.
Setelah aku keluar dari rumah sakit, kami segera pindah ke Malang. disana tempatnya dingin cocok untuk memulihkan kondisiku fisik dan mental ku itu kata dokter. padahal aku merasa mental aku tidak apa-apa cuma sedikit hancur karena kejadian ini.
Aku berhenti kuliah. aku tidak ingin semua orang tahu tentang diriku yang saat ini sudah menjadi gadis cacat. hanya memiliki satu kaki. aku tidak ingin dipanggil buntung nantinya.
Bulan berganti bulan. Akhirnya aku menghabiskan waktuku dengan menulis novel. awalnya iseng-iseng hanya untuk mengisi waktu saja. namun kini telah banyak novel yang aku tulis dan ada beberapa yang disukai penerbit agar bisa diterbitkan. sudah 2 tahun lebih. mungkin saat ini Yahya sudah lulus kuliah dan mendapat pekerjaan. dan mungkin saat ini dia juga sudah mendapatkan pasangan yang menemani hari-harinya.
Masih teringat jelas wajahnya, senyumannya dan hangat dekapannya. hati ini masih sakit ketika memikirkan dia. namun aku mencoba tersenyum dan mengikhlaskan semua. aku tahu Allah punya rencana yang lebih baik lagi.
2 novelku telah terbit menjadi sebuah buku. Ternyata banyak sekali yang menyukai tulisanku. dan novel ketigaku akan terbit seminggu lagi. pihak penerbit mengingatkan aku datang untuk memberikan tanda tangan kepada para pengemar yang sudah setia membaca cerita-cerita aku. Aku pun langsung menyetujuinya. aku tidak pernah memikirkan akan seramai apa disana nanti. Yang aku pikirkan apakah mereka akan menerima aku dengan kondisi kakiku yang hanya satu ini.
Aku menghela nafas panjang menatap wajahku dibalik cermin dan tersenyum.
" Aku masih cantik kok... cuma buntung aja."
gumamku sambil melihat kearah kakiku.
" Sayang apa kamu sudah siap?"
" Iya bu..."
Sekarang aku menjadi anak yang manja kemana pun aku selalu ditemani ibu yang setia mendorong kursi rodaku. Dan aku sangat berterima kasih dengan itu. ibuku lah yang terbaik.
" Maaf Bu... Zahwa tidak pernah bisa membalas jasa-jasamu meski sampai tua seperti ini aku masih saja merepotkan ibu."
Ibu menggenggam tanganku dan tersenyum. aku tahu ibu ikhlas melakukannya. dan aku bersyukur memiliki ibu seperti dia.
Kami telah sampai ditempat acara. Belum ada seseorang pun disana karena pihak toko belum membuka tokonya. aku diberikan tempat yang mana semua orang bisa langsung melihatku disana.
Setelah toko dibuka dan mulai ada antrian para pengemar ku. aku menghela nafas panjang dan memasang senyuman termanis ku agar semua orang semakin menyukaiku.
Satu persatu maju dan aku langsung mendandatangani buku novelku satu persatu. terlihat antrian panjang didepanku. meskipun capek aku tidak merasakannya karna sambutan dari pembaca yang mengatakan semakin menyukai karya-karyaku setelah bertemu denganku.
satu persatu maju dan akhirnya giliran orang terakhir yang ada didepanku. dimemberikan novelnya.
" Siapa nama kamu?" aku bertanya tanpa melihat wajah orang itu karena aku senang dia adalah orang terakhir aku bisa beristirahat setelah ini.
" Asrofi Yahya."
Ketika mendengar nama itu dan suara orang itu, aku langsung melihat sosok pria yang kini berdiri didepanku. nama yang tidak asing dan suara yang tidak asing. ternyata benar suara Yahya orang yang selama ini aku rindukan siang dan malam kini berada didepanku. tanpa sadar Air mataku terjatuh, terus terjatuh sampai aku tidak dapat menahan tangisanku. aku meminta ibu untuk segera membawaku pergi dari tempat itu.
" Zahwa... tunggu aku... jangan pergi."
aku tidak mendengarkan kata-katanya dan terus menyuruh ibuku untuk lebih cepat mendorong kursi rodaku. tapi tangan ibu terlepas dan aku pun terhenti. aku melihat wajah ibuku yang terdiam dan menitikan air matanya. dari wajahnya aku bisa tahu kalau aku tidak boleh lari lagi sekarang. tapi aku tidak bisa, aku tidak bisa bertemu dengan Yahya dengan kondisi ku yang seperti ini.
Karna ibu tidak mau mendorong aku berusaha dengan keras mengerakkan kursi itu dengan tanganku. Dan akhirnya Yahya duduk jongkok didepanku dan menghentikan laju kursi rodaku.
" Jangan mendekati... pergi dariku." teriak ku kepada Yahya.
" Zahwa... aku sangat merindukanmu. apa kamu tidak ingin bertemu denganku."
" Aku tidak ingin bertemu denganmu, apalagi dengan kondisiku yang sekarang ini. kamu pasti akan jijik. pergi dariku... jangan menghalangiku... pergiii."
" Zahwa... serendah itu kah kamu menilai cintaku. aku tulus mencintaimu... kamu tahu setelah hari itu aku terus mencari keberadaanmu sampai sekarang. dan akhirnya aku melihat novel yang kamu tulis. Allah masih mempertemukan kembali kita karna hanya kamu yang ada di hatiku.
" kamu tidak lihat aku sekarang cacat... aku tidak pantas untukmu... pergi kamu... pergi cari yang lebih baik dari aku..."
" Zahwa... lihat aku, aku tahu kamu masih menyayangiku. dan aku pun demikian. kenapa kalau kamu cacat sekarang. kalau kamu tidak bisa berjalan dengan satu kaki sekarang kamu mempunyai tiga kaki untuk berjalan... Zahwa berjalanlah bersama ku."
Air mataku terus mengalir. hingga akhirnya tatapan Yahya kembali meluluhkan hatiku dan aku memeluknya. kalau aku hanya punya satu kaki sekarang tapi aku punya teman hidup sekarang yang akan berjalan bersamaku. menemani langkah kakiku yang kini hanya tinggal satu.
***TAMAT***