1.) Langit Deswantara, seorang pemuda berusia 16 tahun yang bersekolah di salah satu SMA swasta yang ada di Surabaya. Langit adalah pemuda pendiam yang tak banyak bergaul dengan teman sebayanya.
2.) Senjana Prastika, gadis yang berusia 16 tahun merupakan teman sekelas dari Langit, Senja merupakan gadis periang yang disukai oleh banyak siswa yang ada di sekolahnya.
3.) Awan Pradipta, salah satu senior yang ada di SMA swasta tempat Langit dan Senja bersekolah. Awan begitu menginginkan Senja untuk menjadi kekasihnya.
Dipagi yang cerah Langit tengah duduk di sebuah kursi sembari menatap layar laptopnya. Sudah hampir beberapa bulan ini Langit mengikuti kelas online akibat pandemi yang membuat pengajaran secara langsung tidak dapat dilangsungkan. Namun setiap kali mengikuti pelajaran online mata Langit selalu tertuju pada salah satu teman sekelasnya yaitu Senja. Gadis itu dapat menarik perhatian dari seorang Langit yang terkenal sangat dingin dan cuek pada siswi siswi yang berusaha untuk mendekatinya.
"Langit, apa yang sedang kamu perhatikan." ucap sang guru dari layar laptop Langit.
Langitpun tersadar dari lamunanya dan meminta maaf pada sang guru karna ia tak bisa berkonsentrasi pada pelajaran yang sedang berlangsung. Setelah dua jam berlalu pelajaranpun selesai dan Langit mematikan laptopnya.
"Kaya gini kah rasanya jatuh cinta? aneh banget mata gua cuma terfokus sama dia aja." ucap Langit yang sepertinya sedang jatuh cinta pada Senja.
Langit sedang berfikir bagaimana cara dia untuk mendekati Senja, sebenarnya rumah mereka tak terlalu jauh hanya selisih beberapa rumah saja. Dan langit juga dekat dengan kakak laki laki Senja yang biasanya ia ajak main basket bersama.
Langitpun memutuskan untuk menchat Angkara, ya Angkara adalah nama dari kakak laki laki senja.
"Pagi bang, gua boleh main ke rumah gak." sekiranya seperti itu pesan yang Langit kirimkan pada Angkara.
Namun tak kunjung ada balasan sehingga Langit mengira bahwa Angkara sedang sibuk. Selang 20 menit kemudian Langit mendapatkan balasan dari Angkara.
"Sorry gua tadi lagi nelfon sama doi, wih tumben lu mau main kerumah gua ada angin apa nih." balasan dari Angkara untuk Langit.
Angkara berucap demikian karna setelah beberapa bulan mengenal Langit, Langit belum pernah bermain kerumahnya sehingga Angkara sedikit merasa bingung mengapa tiba tiba Langit ingin berkunjung.
"Lagi suntuk aja nih bang, yaudah gua otw ya." balas pesan dari Langit Untuk Angkara.
Langitpun bersiap siap untuk pergi kerumah Angkara, namun tujuan utamanya tentu saja untuk bertemu dengan Senja. Semoga gadis itu masih ada di rumahnya. Sudah lama Langit tak melihat wajah manis senja secara langsung dan itu membuatnya galau dalam beberapa bulan terakhir ini.
Langitpun segera memacu motornya, dan tak butuh waktu lama Langit sudah sampai di rumah Angkara.
"Permisi pak, bang Angkaranya ada?." tanya Langit pada seorang satpam yang menjaga rumah itu.
"Silahkan masuk, den Angkara ada di dalam." ucap satpam itu dengan ramah.
Langitpun segera memarkir motornya dan mengetuk pintu rumah Angkara.
Tok tok tok
"Assalamualaikum, bang Angkara ini Langit bang." ucap Langit sembari terus mengetuk pintu.
Tak lama kemudian pintupun dibuka, bukan Angkara yang membukakan pintu melainkan Senja. Senja menatap heran kearah Langit ia sedang berfikir bagaimana bisa teman sekelasnya yang terkenal pendiam dan tak pernah bersosialisasi itu bisa tau rumahnya.
"Lu temennya abang?." tanya Senja dengan menaikkan satu alisnya. Bagaimana bisa abangnya itu berteman dengan es kutub utara seperti Langit.
"Iya, bang Angkaranya ada?." tanya Langit yang sedikit gugup karna jaraknya dan Senja tak terlalu jauh.
Senjapun mempersilahkan Langit untuk masuk kedalam dan ia memanggil abangnya yang sedang rebahan santai di dalam kamar.
"Abang dicariin temen lu tuh." ucap Senja yang kini berada di depan kamar Angkara.
"Iya bentar dek." Angkarapun segera keluar dari kamarnya dan pergi keruang depan untuk menemui Langit.
Karna Senja juga merasa bosan hanya di dalam kamar saja akhirnya ia ikut bersama abangnya.
"Wih tumben lu mau main ke rumah gua." ucap Angkara sambil menepuk bahu Langit.
"Gua lagi suntuk banget di rumah bang, btw nih gua boleh lepas masker bentaran ga sih bengek lama lama." ucap Langit yang sedikit kesulitan bernafas karna memakai masker.
"Yaudah lepas aja tapi jaga jarak ya bro." ucap Angkara.
Akhirnya mereka bertigapun berbincang, dan Angkara baru tau jika Langit dan adik perempuannya adalah teman satu kelas. Dulu saat Angkara dan Langit bermain basket bersama Langit sering bercerita bahwa ia tengah jatuh cinta dengan seseorang, sekarang Angkarapun sudah faham memgapa Langit sangat sulit untuk diajak main kerumah karna Langit malu.
Terlihat dengan jelas saat sedang berbicara Langit tak berani menatap ke arah Senja, telinga Langitpun sudah memerah. Angkara hanya bisa tersenyum saja mengetahui bahwa Langit menyukai adiknya. Menurut Angkara Langit adalah pemuda yang baik, walaupun sedikit pendiam itu bukan masalah.
Setelah satu jam berada di rumah Angkara, Langit memutuskan untuk pulang karna ia harus mengerjakan beberapa tugas yang diberikan hari ini.
"Yaudah kalau gitu gua mau balik dulu ya bang, thanks gua dibolehin main." ucap Langit yang berpamitan pada Angkara.
"Kapan kapan main lagi ya lu yang lama mainnya." ucap Angkara yang merasa senang karna Langit mau mampir ke rumahnya.
Langitpun segera menaiki motornya dan segera pergi dari rumah Angkara. Senja yang dicuekin sedari tadi hanya bisa diam melihat kepergian Langit.
"Bang, emang gua ga keliatan kah sampe si bocah songong itu ga pamitan sama gua juga." ucap Senja yang merasa kesal.
"Mungkin dia malu." ucap Angkara yang membalas pertanyaan Senja dengan singkat.
"Ngapain harus malu kita kan temen sekelas." ucap Senja yang tak menyadari sikap Langit tadi.
"Mana gua tau, gua bukan bapaknya." ucap Angkara yang memilih untuk kembali ke kamar karna dia sangat malas mendengar celotehan tak jelaa dari sang adik.
Senjapun hanya bisa menahan rasa kesalnya dan kembali kedalam kamar, lalu ia mengambil ponselnya dan mulai membuka buka Whatsapp. Sebuah pesan singkat masuk dan karna pesan itu suasana hati Senja menjadi lebih baik. Pesan itu dari Rafael, dia adalah salah satu murid berprestasi yang ada di sekolah dan sudah lama Senja menyukai Rafael.
"Senja nanti malem jalan yuk gua jemput." sekiranya seperti itulah pesan singkat dari Rafael untuk senja.
"Okey fael." balas senja dengan singkat karna saat ini ia merasa sangat senang akhirnya ia bisa pergi berdua dengan orang yang ia sukai.
Jika Senja sudah jatuh hati pada Rafael itu artinya Langit hanya merasakan cinta sepihak saja, entah apa yang akan Langit rasakan jika ia tau bahwa wanita yang ia cintai sudah menaruh hatinya pada pria lain semoga saja Langit tak putus asa dalam memperjuangkan cintanya pada Senja.
Saat ini Langit sudah sampai di rumah, ia tengah berbaring di atas tempat tidurnya setelah mandi dan berganti pakaian. Setelah beristirahat sejenak Langit memilih untuk mengerjakan tugas tugas yang baru saja diberikan. Langit bukanlah siswa yang sangat pintar ataupun unggul namun Langit adalah siswa yang sangat tertib dalam hal mengumpulkan tugas tugasnya.
"Ah sial gua ga bisa fokus karna mikirin Senja." ucap Langit yang tak bisa fokus dengan soal soal matematika yang ada di hadapannya itu.
Namun Langit mencoba untuk fokus pada tugas tugasnya. Setelah selesai Langit langsung mengumpulkan tugasnya pada sang guru.
Sedangkan di tempat lain Senja sedang bersiap siap untuk bergi bersama Rafael. Senja menggunakan baju berwarna biru muda yang dipadankan dengan tas slempang kecilnya yang berwarna hitam.
"Adek lu mau pergi kemana dek, tumben lu pakek dress kaya gitu." ucap Angkara yang merasa heran dengan sikap adiknya.
"Gua mau jalan sama gebetan nih bang doain jadi ya bang." ucap Senja yang membuat abangnya berfikir dengan keras kira kira siapa pria yang berhasil membuat adiknya itu jatuh cinta?.
"Sama Langit?." tanya Angkara yang mengira adiknya juga suka pada Langit.
"Dih ngapain gua sama dia yang dinginnya kaya kutub utara, gua mau jalan sama Rafael nih bang." ucap Senja yang membuat abangnya terkejut.
Jika adiknya sudah jatuh cinta pada pemuda lain bagaimana dengan nasib sahabatnya itu. Bukankah Langit akan patah hati jika mengetahui hal ini.
Saat ini Senja sedang berjalan jalan bersama Rafael mereka tengah menikmati indahnya kota Surabaya di malam hari, Senja dan Rafael pergi kesebuah tempat makan mereka tak lupa mencuci tangan di tempat yang sudah disediakan.
"Kamu mau pesen apa." tanya Rafael pada Senja.
Mendengar Rafael memanggilnya dengan sebutan kamu membuat Senja merasa sangat senang, Senja mengira bahwa Rafael jatuh hati padanya.
"Umm aku sama kaya kamu aja." ucap Senja.
Setelah itu Rafael memesan makanan dan minuman sesuai dengan seleranya. Setelah memesan tak beberapa lama pesanan mereka berduapun datang Senja dan Rafael menikmati makanan mereka.
"Senja kamu tau ga kenapa tiba tiba aku ngajak kamu keluar." ucap Rafael yang membuat Senja sangat penasaran.
Gadis itu mulai membayangkan bahwa Rafael mengajaknya keluar malam ini karna Rafael ingin mengutarakan isi hatinya pada Senja. Gadis itu terlihat sudah tak sabar lagi untuk mendengar kata kata yang akan diucapkan oleh Rafael.
"Jadi aku sama Karin tadi pagi jadian, aku sengaja ngajak kamu keluar buat neraktir kamu makan buat pajak jadian aku sama Karin. Karna di kelas aku cuma deket sama kamu aja." ucap Rafael dengan senyum bahagia yang terukir di bibirnya.
Seperti disambar petir di malam hari, Senja hanya bisa terdiam dan berusaha mencerna apa yang Rafael katakan padanya. Mengapa bisa Rafael berpacaran dengan Karin? bukankah selama ini Rafael hanya dekat dengannya saja mengapa semua berjalan tak sesuai dengan keinginan Senja. Bukankah selama ini Senja sudah berjuang untuk mendapatkan hati Rafael, Senja yang selalu ada di saat Rafael sedang sedih maupun terpuruk, Senja yang selalu menemani Rafael ketika ia sedang lelah dan hendak menyerah. Namun bagaimana bisa wanita lain yang mendapatkan kasih sayang dan cinta dari Rafael? apalah dunia memang setidak adil ini, mengapa harus Karin?.
"Selamat ya Fael semoga lo langgeng sama Karin." ucap Senja yang berusaha untuk menutupi kesedihannya.
Tiba tiba Rafael mendapatkan telfon dan telfon itu dari Karin. Karin meminta Rafael untuk menjemputnya sekarang karna mereka juga memiliki rencana untuk menonton filem bersama, walau wabah belum selesai namun ada beberapa bioskop yang sudah buka tentunya dengan peraturan yang sangat ketat.
"Senja maaf ya aku harus jemput Karin, kamu bisa kan pulang sendiri?." tanya Rafael yang sebenarnya merasa tak enak hati jika harus meninggalkan senja sendirian.
"Iya ga papa gua bisa kok pulang sendiri." ucap Senja yang berusaha untuk tersenyum.
Rafaelpun pergi meninggalkan Senja, sedangkan Senja memilih untuk berjalan menuju sebuah taman yang tak jauh dari rumah makan tadi. Disana Senja duduk di sebuah bangku taman yang panjang, gadis itu menghadapkan kepalanya ke langit menatap langit malam yang penuh dengan bintang, ia tersenyum dengan miris dan tiba tiba saja air matanya keluar tanpa nisa dibendung lagi.
"Kenapa sih bukan gua yang ada di hati lo, kenapa lo gak peka sama perasaan gua selama ini. Gua lakuin semua itu karna gua sayang sama lo Fael kenapa harus orang lain yang dapetin lo." ucap Senja yang sedang menumpahkan keluh kesahnya pada langit malam. Entah perasaannya benar benar hancur ia tak tau lagi harus berbuat apa.
Di satu sisi Langit sedang berada di taman yang sama dengan Senja. Langit baru saja pergi kesebuah minimarket yang tak jauh dari sana. Saat Langit mengedarkan pandangannya keseluruh taman ia melihat seorang gadis yang tengah duduk sendiri dengan punggung yang bergetar. Langit mencoba mendekati gadis tersebut dan ia mendengar semua yang diucapkan oleh sang gadis, ia sadar bahwa gadis yang sedang menangis itu adalah Senja, wanita yang akhir akhir ini membuatnya tak bisa tenang.
"Senja lo kenapa?." ucap Langit yang berusaha untuk tidak kalut saat mendengar pengakuan dari Senja.
Senja yang saat itu masih menangis meratapi betapa malangnya ia merasa terkejut ketika ada seseorang yang memanggil namanya, Senjapun menengok kebelakang dan menemukan Langit yang sedang menatapnya dengan ekspresi kebingungan.
"Lo nangis? siapa yang udah bikin lo nangis kaya gini?." tanya Langit yang sedikit merasakan amarah di hatinya.
"Bukan apa apa, lo kok ada di sini sih es kutub utara?." tanya Senja pada Langit gadis itu sengaja ingin mengalihkan pembicaraan.
"Jawab gua siapa yang bikin lo nangis kayak gini? cowo brengsek mana yang udah bikin adeknya Angkara nangis." ucap Langit yang masih ingin tau lebih detail mengapa Senja menangis dan mengapa ia bisa sendirian di taman itu.
"Ternyata gini ya rasanya jatuh cinta ke orang yang salah, gua kira Rafael suka sama gua sama kaya gua suka sama dia tapi nyatanya dia pacaran sama orang lain." ucap Senja yang sangat sedih karna cintanya bertepuk tangan begitu saja.
Langit menatap Senja dengan penuh perhatian andai saja Senja jatuh cintanya pada Langit mungkin ia tak akan sakit hati seperti itu. Langit memeluk Senja dengan erat mencoba untuk menenangkan gadis itu.
"Gua anterin lo pulang ya pasti abang lo khawatir banget." ucap Langit yang berniat mengantar Senja untuk pulang.
Senjapun menerima tawaran dari Langit,mereka pulang bersama sama. Diperjalanan Senja memeluk Langit dengan erat sehingga wajah Langit sedikit memanas karna ia merasa malu.
Setelah sampai di depan rumah Senja Langit pamit untuk pulang kerumah karna hari sudah sangat larut.
"Makasih ya es kutub utara lo udah mau nganterin gua." ucap Senja yang kemudian masuk kedalam rumah.
Angkara yang saat itu menunggu kepulangan sang adik merasa heran bukankah adiknya tadi berangkat bersama Rafael mengapa ia pulang diantar oleh Langit.
"Kamu kok pulang bareng sama Langit?." tanya Angkara yang penasaran dengan apa yang sebenarnya terjadi.
"Rafael tadi pergi sama pacarnya, untung aja adek ketemu sama Langit pas lagi ditaman akhirnya Langit yang nganterin adek pulang." ucap Senja yang kemudian masuk kedalam kamarnya.
Semenjak kejadian itu Senja dan Langit semakin dekat Langit merasa sangat senang karna bisa dekat dengan Senja. Dua bulan berlalu dengan begitu cepat hari ini Langit ingin mengungkapkan isi hatinya pada Senja. Ia sudah menyiapkan sebuket bunga mawar dan juga sebuah kotak yang berisi coklat.
Langit yang sampai di depan gerbang masuk rumah Senja terkejut ketika Senja menerima sebuah bunga dari pria lain. Pria itu adalah Awan senior mereka disekolah. Yang lebih membuat Langit sakit hati adalah ketika mengetahui bahwa selama ini Senja juga dekat dengan Awan. Berarti selama ini Langitlah yang sudah terlalu berharap pada gadis itu.
"Hah harusnya gua sadar diri gua emang ga layak buat Senja." ucap Langit yang langsung pergi kemudian membuang bunganya tak jauh dari rumah Senja.
Saat ini Senja sedang berbahagia karna ia menjalin hubungan dengan pria yang ia suka. Setelah kejadian itu Senja berusaha untuk melupakan Rafael dan ada dua pria yang mendekatinya yaitu Langit dan juga Awan. Meskipun begitu Senja lebih tertarik pada Awan karna Awan adalah sosok yang ceria dan juga perhatian, selain itu Awan juga lebih dewasa daripada Langit. Karna itu saat mendapat pengakuan cinta dari Awan, Senja langsung menerimanya.
Langit berusaha untuk mengikhlaskan Senja, membiarkan Senja bahagia dengan pilihannya. Seperti Langit yang ada di atas sana dia juga akan menerima jika Senja ingin kembali padanya. Semoga Langit bisa tetap cerah walau sedang berduka.