Hati yang tulus tak akan memilah cinta berdasar kasta yang setara. Tapi dia akan menuntunmu menuju cinta yang berharga dan menghargai dirimu.
~~
Seperti sudah menjadi takdir baik, bila seorang putri bangsawan akan selalu memiliki paras yang cantik menawan dan mampu memikat setiap pasang mata yang memandangnya. Dialah putri Mariedha Arabella Beatrix. Seorang gadis berusia 21 tahun, yang sangat terkenal di penjuru negeri. Paras cantik dengan pupil mata hijau langka yang membuatnya berbeda dengan gadis lain.
"Putri, apakah kita akan kembali ke istana sekarang?" Seorang supir muda yang sedang duduk di kursi kendali bertanya pada Marie yang duduk gelisah di kursi mobil belakang.
"Jack, kita sudah mengantar bibi pulang dan sekarang kita hanya berdua. Bisakah kau menyingkirkan kata putri di depan namaku?" Marie menatap lekat pada pantulan kaca spion tengah yang memerlihatkan kedua mata sayu milik Jack.
Jack juga menatap majikannya itu lewat pantulan spion dalam mobil. Marie pun beranjak dari kursi belakang menuju kursi depan agar bisa bersebelahan dengan Jack.
"Bisakah kau mengantarku ke taman bunga? Aku ingin melihat hamparan bunga yang indah," ucap gadis itu manja. Ia menggenggam tangan Jack dan sesekali meremasnya.
"Dengan senang hati Marie, kekasihku." Jack memberi kecupan mesra pada gadis yang seharusnya tidak ia cintai. Ia segera menarik gas dan mengendalikan mobilnya menuju padang bunga seperti permintaan Marie.
Kedua muda-mudi yang tengan dimabuk cinta itu sadar akan perbedaan kasta diantara mereka. Dua jenis kasta berbeda yang akan menjadi tembok penghalang cinta keduanya. Marie pun sadar hukuman apa yang akan diterima Jack bila sang ayah mengetahui ketidak sopanan Jack karena telah mencintai dirinya.
Jack adalah pemuda gagah yang ketampanannya dapat menyaingi ketampanan para pemuda bangsawan. Namun takdir tak seindah parasnya. Jack hanya seorang supir istana di kediaman Marie.
Kendati demikian, keduanya telah menjalin hubungan cinta terlarang sejak dua tahun lalu. Hingga saat ini belum ada satupun orang yang mengetahuinya, kecuali Amber Arabella Beatrix.
~~
"Marie, dari mana saja kamu? Kenapa bisa begitu lama hanya mengantar bibi Anne ke pelabuhan?" Amber menyidang Adik yang terpaut dua tahun darinya. Ia begitu khawatir akan keselamatan Marie.
"Kakak, aku mengajak Jack untuk melihat padang bunga. Aku ingin sekali hanya berdua dengan Jack," ucap Marie santai sembari menyisir rambut coklat panjangnya, di depan sebuah cermin rias di kamarnya.
"Astaga Marie! Kau terlalu ceroboh. Kau pikir jika aku tak mempermasalahkan hubunganmu dengan Jack, apa ayah dan ibu juga tak mempermasalahkannya? Tidak! mereka akan sangat mempermasalahkan itu. Dan Jack bisa saja dihukum berat oleh ayah!" Amber berdiri di belakang Merrie dan menatap pada pantulan bayangan Merie di cermin.
Marie menghentikan gerakan tangannya. "Hem, maafkan aku, Kak. Tadi aku tidak berfikir seperti itu. Aku hanya ingin bersenang-senang dengan Jack saja. Terima kasih, Kak Amber, kau telah mendukungku dan Jack. Aku harap Kakak bisa tetap merahasiakan cinta terlarang kami dari ayah dan ibu." Marie beranjak dari kursi duduknya di depan cermin rias, lalu memeluk sang kakak yang merupakan satu-satunya orang yang mendukung kisahnya. Bahkan saat seluruh dunia menentang cinta mereka.
"Ya. Apapun yang membuatmu bahagia, aku akan mendukungnya." Amber memeluk erat sang adik yang sangat ia sayangi. Ia rela menjadi tameng untuk melindunginya.
~~
Hari beranjak gelap. Marie yang tengah berada di lantai atas, menelisik dibalik tirai panjang yang menghalangi kaca besar pada jendela kamarnya. Ia melihat mobil para bangsawan berjajar rapi di sepanjang halaman istana.
Sementara itu Amber masih terduduk di depan cermin. Ia tak bisa menghampiri sang adik karena para perias masih harus menyelesaikan riasan di wajahnya. Sesekali Amber melirik adiknya yang terlihat sangat gelisah. Ia mengerti bahwa inilah saat-saat yang paling tidak diinginkan oleh Marie. Yaitu tradisi para bangsawan untuk saling mengenal secara formal dan mencari pasangan.
"Sudah selesai?" tanya Amber pada kedua wanita perias yang sedang memasukkan beberapa alat make up ke dalam peti make up.
"Sudah Putri," jawab kedua perias tersebut seraya menundukkan badannya.
"Kalau begitu pergilah." Amber tak bermaksud mengusir kedua perias itu. Tapi ia tak tahan ingin segera menghampiri Marie yang telah lebih dulu menyelasaikan riasan. Ia tak tahan melihat kegelisahan yang terpampang jelas di wajah cantik sang adik.
"Marie, apa kau gelisah?" tanya Amber seraya menyentuh pundak Marie yang sedang terduduk di atas kasur.
"Ya. Aku takut Ayah akan mengenalkanku pada seorang pemuda," ungkap Marie dengan raut cemas di wajahnya.
"Aku tau kau sedang memikirkan perasaan Jack. Tenanglah, semua akan baik-baik saja." Amber menggenggam tangan Marie bermaksud memberinya keyakinan.
Tak lama kemudian, mereka keluar dari dalam kamar dan menuruni anak tangga menuju ruang tengah. Ruang dimana tempat berlangsungnya pesta perkenalan para bangsawan. Tak hanya pemuda bangsawan, tapi juga gadis-gadis bangsawan turut hadir dalam pesta. Mereka semua menatap kagum pada kedua saudara itu. Terlebih lagi pada Merie yang memiliki kecantikan luar biasa.
"Inilah kedua putri cantikku Amber Arabella Beatrix dan putri bungsuku Mariedha Arabella Beatrix." Raja Willem memperkenalkan kedua putrinya di depan para bangsawan yang hadir.
Kedua kakak beradik itu mengangkat topi bulu yang dikenakannya dan sedikit menundukkan badan sebagai tanda hormat mereka kepada para tamu istana.
Suara lantang Raja Willem sontak membuat Jack membalikkan badan dan melayangkan atensinya pada pusat acara. Kala itu Jack sedang berdiri di luar istana untuk menyambut para tamu bangsawan. Dia menatap kagum pada sang kekasih yang menjadi pusat perhatian, karena paras cantiknya yang tak terbantahkan. Jack tersenyum kearah Marie yang juga terpaku menatap padanya. Mereka beradu pandang untuk sesaat sebelum Marie berpindah tempat karena titah ayahnya.
Acara perkenalan berjalan sesuai etika para Bangsawan. Merie merasa bosan dan pandangannya tak pernah lepas dari sosok Jack yang masih berdiri di luar gedung. Tanpa sadar langkah kakinya perlahan maju dan ingin mendekati Jack. Namun seseorang berhasil menghentikannya.
"Putri Marie, suatu kehormatan bila Anda mau berdansa denganku," ucap Jhansen.
Pemuda tampan itu mengulurkan tangan kanannya ke arah Marie. Gadis itu ingin sekali menolak, tapi ia urung karena mendapati dirinya kini sedang menjadi pusat perhatian oleh semua tamu dalam ruangan. Akhirnya Marie menyetujui hal tersebut dan berdansa dengan terpaksa.
"Baiklah, satu kali ini saja," ucap Marie penuh keterpaksaan.
Mereka berdua berdansa dalam lantunan lagu romantis yang memabukkan. Marie dan Jhansen berdansa dengan sangat lihai. Keduanya tampak romantis dibawah lampu ruangan yang sengaja diredupkan.
Semua orang yang menyaksikannya ikut terhanyut dalam keserasian diantara mereka berdua. Tak lama kemudian, semua pasangan juga ikut memenuhi ruangan dan mereka berdansa dengan pasangan masing-masing. Tak terkecuali Raja Willem beserta istrinya Ratu Emma yang merupakan orang tua Marie.
Jack geram saat melihat tangan pria itu menyentuh pinggang Marie. Ia juga cemburu ketika Marie meletakkan kedua tangannya pada bahu Jhansen. Jack merasa emosinya membuncah dan ingin segera menghentikan mereka. Namun ia sadar dirinya tak memiliki kuasa apapun untuk mencegah Marie yang sedang terpaksa menerima tawaran pemuda itu. Seketika Jack membuang muka dan pergi meninggalkan tempat posisi berdirinya sekarang.
Marie dapat menangkap aura kekesalan di wajah Jack. Dengan sigap ia melepaskan tangannya di bahu Jhansen, dan menyingkirkan tangan pria itu dari pinggangnya. Marie berlari meninggalkan Jhansen di saat semua orang sedang hanyut bersama pasangan mereka masing-masing. Beruntung tan ada satupun yang menyadari kepergian Marie selain Jhansen.
Marie berhasil keluar melewati pintu belakang istana. Pandangannya tak henti-henti mengarah ke setiap sudut untuk menemukan sosok Jack. Ia kemudian berlari kala melihat Jack yang sedang bersandar pada sebuah pohon di halaman belakang istana.
"Jack!" Marie menghampiri Jack yang sedang menatap langit.
"Marie, apa yang kau lakukan disini? Ini sangat bahaya!" Jack terkejut namun tetap merendahkan suaranya agar tidak terdengar oleh penjaga lain.
Marie segera menarik Jack untuk memasuki kebun belakang istana yang sangat minim dari pencahaan lampu. Ia tak ingin mereka tertangkap basah dan menyebabkan masalah untuk Jack. Mereka sampai di dalam kebun yang lumayan jauh dari kawasan gedung istana.
Marie menatap wajah tampan Jack dibawah sinar rembulan. Perlahan ia meletakkan kedua tangan jack tepat di pinggangnya. Kemudian tangan gadis itu melingkar di bahu Jack. Sama seperti posisi ketika ia berdansa dengan Jhansen. Mereka berdua berdansa dalam balutan suasana romantis tanpa suara musik dan hanya berpadu dengan terang sinar rembulan.
"Jack, apa kau cemburu melihatku berdansa dengan pria lain?" Marie menatap lekat kedua netra milik Jack.
"Ya aku cemburu," balas Jack singkat.
"Kalau begitu malam ini kau bisa berdansa sepuasnya denganku. Ya, itu sebagai permintaan maafku." Marie tersenyum diikuti oleh Jack yang ikut mengembangkan senyumnya.
Keduanya berdansa dengan begitu romantis di tengah kebun istana. Temaram, dan hanya diterangi sinar rembulan malam. Sinar redup ribuan kurang-kunang menambah romansa cinta diantara keduanya. Mereka beradu pandang satu sama lain. Menikmati waktu berdua yang cukup tenang, bahkan ini adalah kali pertama mereka bisa berdansa bersama.
Jack menatap lembut pada kekasihnya yang begitu cantik. Perlahan Marie menurunkan tangannya dan beralih memeluk Jack. Begitupun Jack membalas Marie dengan mengeratkan pelukannya pada sang kekasih.
Kebersamaan mereka yang tanpa batas membuat keduanya lupa waktu. Entah berapa lama keduanya telah meninggalkan istana. Mereka terkejut saat mendengar suara langkah dari beberapa orang mendekat ke arahnya.
Tap ... tap ... tap ...
Sontak Jack dan Marie melepaskan pelukan mereka dan saling menatap dengan panik. Marie segera menarik Jack untuk keluar dari kebun melewati jalur lain.
Hosh ... hosh ... hosh ...
Nafas Marie dan Jack memburu ditengah pelarian mereka yang secara sembunyi-sembunyi.
Tiba-tiba Jack menghentikan langkahnya dan melepas genggaman tangan Marie. "Marie, sebaiknya kau keluar lebih dulu. Jangan sampai kita terlihat bersama. Atau kita berdua akan celaka," ujar Jack mencoba menjelaskan pada Marie.
"Tapi Jack jika mereka mencurigaimu, kau juga akan celaka!" tegas Marie sembari mengguncangkan tubuh kekasihnya.
"Setidaknya, kau akan tetap baik-baik saja, Marie." Jack mengecup kening Marie. Ia tak ingin kekasihnya juga terlibat.
"Tapi...."
Tap ... tap ... tap ...
Ucapan Marie terhenti kala derap langkah kaki itu terdengar kembali mendekati mereka.
"Pergilah Marie, aku pasti baik-baik saja." Jack mendorong perlahan tubuh Marie supaya segera berlari.
Marie pun berlari menjauhi suara langkah kaki itu. Ia berlari sembarang mencari jalan keluar dengan jalur lain untuk dapat kembali ke istana. Sesekali ia menoleh ke belakang untuk melihat jejak Jack. Dia terus berlari dan tiba-tiba...
Bukk!
Tubuh Marie terpental saat membentur tubuh seseorang di hadapannya.
"Bawa Putri Marie ke istana!" ucap Pria bersuara berat itu dengan tegas.
"Ayah!" Marie terkejut saat mengetahui seseorang yang ada di hadapannya adalah sang Ayah, Raja Willem.
Dengan pasrah Marie bersedia digiring oleh kedua pengawal istana untuk menuju ke kediamannya. Tak lama kemudian, dari sudut lain beberapa pengawal berhasil menggiring Jack. Pemuda itu sedari tadi mencoba melepaskan genggaman erat para pengawal yang mencengkram kedua lengannya. Mereka membawa Jack menemui Raja Willem yang saat itu masih akan memasuki pintu belakang istana.
"Ooo ... Jadi rupanya kalian bersama?" tunjuk Raja Willem pada Jack dan putrinya. Namun mereka berdua tetap bungkam "Jawab! Apa kalian bisu? Jawab aku sekarang! Jawab! Apa kau dan putriku menjalin hubungan terlarang?" Raja Willem meninggikan suaranya dan mendekat ke arah Jack, membuat Marie menangis ketakutan.
"Maafkan hamba Yang Mulia, jika hamba telah lantang mencintai Putri Marie." Jack berucap tegas dan pasrah dengan wajah tak berani diangkat.
"Ayah, maafkan aku, Ayah. Ini salahku, bukan salah Jack," ucap Marie memohon.
"Bahkan bibirmu pun tak pantas memuji putriku. Hiyaaak!" Raja Willem mendaratkan kepalan tangannya tepat di perut Jack. Sontak lelaki itu jatuh tengsungkur membentur tanah.
"Jack!" Marie berlari mendekati tubuh Jack yang tersungkur, namun tangannya segera ditahan oleh sang Ayah.
"Bawa laki-laki miskin ini ke penjara dan siksa dia. Supaya dia sadar bahwa dia tak akan pernah pantas untuk Putriku!" Titah Raja Willem menggema hingga mengejutkan Marie.
"Ayah, jangan lakukan itu pada Jack. Ayah kumohon ...."
"Bawa Putri Marie ke kamarnya dan kurung dia disana." Raja Willem melempar tubuh putrinya ke hadapan para pengawal istana. Ia lalu melangkah masuk dan tak menghiraukan tangis Marie yang terisak karna terus memohon.
Mereka berdua pun digiring oleh para prajurit. Marie tak kuasa kala melihat Jack yang digiring menjauh darinya untuk menuju penjara Istana. Sedangkan ia digiring untuk dikurung dalam kamarnya sendiri.
~~
"Jaaaaaaack!" Marie terbangun dari tidurnya dan lagi-lagi ia bermimpi buruk tentang sang kekasih. Tak ada satupun yang dapat membantunya mengetahui keadaan Jack. Dimana pemuda itu telah satu minggu terkurung dalam penjara istana oleh sang Raja.
Ceklek !
Tiba-tiba kunci pintu kamar Marie terbuka. Ia bersiap menunggu siapa yang akan muncul di balik pintu itu.
"Marie," ucap Amber seraya mengintip dari balik pintu. Lalu secepat mungkin segera menutup pintu kamar Marie secara perlahan.
"Kakak!" Marie lantas menghambur ke arah sang kakak dan memeluknya. Gadis itu menangis karena ia begitu rindu pada Amber.
"Kau baik-baik saja kan? Marie dengarkan aku, aku tak bisa berkama-lama disini. Karena aku sengaja mengambil kunci ini di kamar ibu." Amber melepas pelukan Marie, ia segera mengambil sesuatu yang disembunyikannya di dalam rok gaun panjangnya. "Ambil ini, pakailah nanti ketika menjelang tengah malam, dan jaga supaya kau tidak terlelap. Aku akan membantumu dan Jack untuk melarikan diri." Amber segera berdiri dan meninggalkan Marie. Namun sang adik berhasil menarik tangannya.
"Kak, apa itu artinya kita tidak bisa bertemu lagi?" Marie menatap Amber dengan mata berkaca-kaca. Hatinya gelisah antara harus bahagia atau sedih dengan pengorbanan sang kakak.
"Marie, aku rela melakukan apapun untuk dirimu. Aku tau kau sangat mencintai Jack. Hanya ini satu-satunya cara untuk mempersatukan cinta kalian. Marie, apa sekarang hatimu telah goyah untuk Jack?" Amber menatap kedua mata adiknya yang semakin nanar menahan tangis.
"Tidak, aku sangat mencintai Jack, Kak. Aku tidak ingin berpisah dengannya," ucap Marie seraya terisak karena tak tahan lagi menahan sendu.
"Baiklah, bersiaplah saat hampir tengah malam nanti. Tetaplah untuk tidak terlelap, oke." Amber segera beranjak dan berlari menuju pintu. Namun tiba-tiba langkahnya terhenti. Ia membalikkan badannya sekali lagi dan berlari menuju Marie yang masih terduduk di atas tempat tidur. Amber memeluk erat tubuh sang adik sebagai ucapan selamat tinggal. "Marie, saat Jack menemuimu nanti, pergilah sejauh mungkin dari kota ini. Jika bisa pergilah ke negeri lain. Semoga kau dan Jack selalu bahagia. Jangan khawatirkan ayah dan ibu, karena aku yang akan menjaga mereka. Dan jangan khawatirkan aku, aku akan selalu baik-baik saja jika kau juga baik-baik saja. Selamat tinggal adikku, kakak akan selalu merindukanmu." Amber mengecup kening sang adik.
Mereka menangis tersedu-sedu dan kembali melepas pelukannya. Kini Amber berdiri di ambang pintu melambaikan tangan pada sang adik. Marie membalas lambaian tangan dari sang kakak untuk terakhir kalinya.
~~
Jam menunjukkan pukul 11.35 tengah malam. Marie mengganti pakaiannya dengan pakaian yang diberikan Amber tadi sore. Ia tampak menggunakan baju kumal yang hanya digunakan oleh rakyat menengah kebawah. Marie paham, mungkin Amber ingin ia menyamar agar penampilannya tak mencolok saat kabur nanti.
Di tempat lain, Amber tampak menyamar dengan mengenakan pakaian pelayan dan wajah yang ia dandani dengan riasan yang begitu jelek. Ia membuka pintu kamarnya dan memeriksa keadaan sekeliling istana yang telah gelap. Kedua netranya melirik kesana-kemari.
Amber melangkah pelan dan menutup pintu kamarnya dengan perlahan, hingga tak menghasilkan bunyi decitan sedikitpun. Ia berjalan dengan penuh waspada. Lampu istana yang dibiarkan mati memberinya keuntungan besar dalam misinya kali ini.
Amber berhasil menuju penjara istana setelah hampir setengah jam melancarkan aksinya. Sebelum menuju ke tempat Jack ditahan, ia telah memberikan minuman yang telah bercampur obat tidur, kepada seluruh pengawal istana yang sedang berjaga. Kini ia berjalan membawa nampan berisi minuman yang juga telah diberinya obat tidur.
Amber memberanikan diri menuju para pengawal yang terlihat sedang lengah. Mereka sangat asik berbincang dengan para pengawal lain.
"Silahkan diminum, supaya Tuan-tuan tidak mengantuk malam ini," ucap Amber sembari menundukkan pandangannya. Ia membalikkan badan dan berjalan menjauhi para pengawal itu.
"Tunggu!" Salah satu pengawal mencoba menghentikan Amber yang hampir sampai di ambang pintu ruang penjara. Seketika langkahnya terhenti, namun ia tak berani membalikkan badan.
"Ada apa?" tanya Amber sembari tetap memunggungi mereka.
"Apakah kami boleh minta tambah? Kami sangat haus, Nona, hahahaha," ujar salah satu pengawal yang disusul gelak tawa teman-temanya yang lain. Amber tak meladeni candaan para pengawal itu, ia berjalan keluar dan menunggu saat yang tepat ketika para pengawal itu tak sadarkan diri.
Gluk ... gluk ... gluk...
Para pengawal menenggak habis isi minuman yang dibawa Amber. Entah apa yang menjadi topik pembicaraan mereka, sesekali para pengawal itu terlihat bercanda bahkan sampai harus berguling-guling menahan tawa.
Perlahan-lahan mereka mulai merasa mabuk, lalu pusing hingga akhirnya tak sadarkan diri. Para pengawal itu kini tergeletak lemas di lantai dan bertumpuk menjadi satu.
Amber melangkahkan kakinya dengan sangat hati-hati. Ia meraih kunci pintu sel tahanan yang digantung di dinding tepat di sebelah tempat mereka tak sadarkan diri sekarang. Amber mencoba satu-persatu kumpulan kunci itu untuk membuka pintu yang menahan Jack disana.
Ceklek !
Akhirnya tepat pada kunci ke 15, pintu ruang sel tahanan Jack berhasil terbuka. Ia seketika terjaga mendengar decitan engsel jeruji besi yang mulai berkarat.
"Hah, siapa kau?" tanya Jack dengan ekspresi terkejut. Ia mencoba menerawang dengan matanya yang masih terasa berat.
"Jack, ini aku, Amber!" Amber mendekati Jack seraya memeriksa keadaan diluar tahanan.
"Putri Amber? Apa yang kau lakukan disini?" tanya Jack kebingungan.
"Jack dengarkan aku baik-baik. Cepatlah keluar dari sini sebelum para pengawal itu sadar. Aku telah memberi obat tidur kepada mereka. Kau pergilah dengan Marie sejauh mungkin. Aku telah menyiapkan seekor kuda yang kutanggalkan di luar istana. Tinggalkan negeri ini, dan jangan kembali lagi." Amber menjelaskan dengan tergesa gesa.
"Tapi bagaimana? bukankan Marie masih dikurung dalam kamarnya?" Jack nampak masih kebingungan dengan cara apa dia harus membebaskan sang kekasih.
"Kau harus menggunakan tali ini untuk memanjat ke kamar Marie lewat luar. Tenang aku sudah memberikan para pengawal itu obat tidur. mungkin mereka akan tertidur hingga beberapa jam lagi. Jadi cepatlah, Jack." Amber segera menarik Jack dan menutup kembali pitu jeruji besi itu hingga tak tampak begitu mencurigakan.
Jack sungguh tak menyangka, ia masih memiliki hari keberuntungannya. Pemuda itu bertekad akan menggunakan kesempatan yang langka ini dengan sangat maksimal.
"Jack, aku hanya bisa membantumu sampai disini. Jika aku ikut tertangkap, nantinya aku tidak akan bisa membantu kalian lagi. Berjuanglah Jack. Demi cintamu, demi Marie," ucap Amber seraya meninggalkan Jack.
"Putri Amber, terima kasih." Jack menundukkan badannya, memberi hormat dan sebagai tanda terimakasih untuk Amber. "Aku berjanji akan selalu menjaga Marie dan selalu membahagiakannya."
Amber tersenyum puas akan jawaban Jack. Ia pun bergegas kembali ke dalam istana sebelum ada seseorang yang datang dan memergokinya.
Sementara itu, Jack mulai melancarkan misinya. Ia keluar dari tempat yang telah menahannya selama seminggu. Dilihatnya semua pengawal yang berjaga terduduk lemas dengan mata terpejam.
Jack mulai berjalan mengendap-endap. Ia memastikan bahwa keadaan malam itu aman baginya.
Kini Jack berdiri tepat di bawah lantai kamar Marie. Ia segera melempar jangkar yang mengait pada tali yang diberikan Amber.
Hap !
Cukup satu kali lemparan jangkar tali itu mengait kokoh di pagar pembatas kamar Marie, yang berada di lantai 2. Tak lama kemudian, tampak Marie membuka jendela kaca tersebut. Ia tersenyum ke arah Jack.
"Marie, apa kau bisa turun ke bawah dengan tali ini?" Jack berucap dengan merendahkan nada suaranya. Ia juga menggerakkan tangannya layaknya sedang berkomunikasi dengan seorang tunawisma.
"Aku bisa Jack," ucap Marie yakin.
Marie segera meraih tali itu dan sekarang badannya telah berdiri di sisi luar pagar. Ia menggengam erat tali yang telah menggantung kokoh dan perlahan mulai menurunkan badannya dengan bertumpu pada kedua kakinya.
Sebagai Putri dari seorang Raja dan Bangsawan, melakukan hal ini bukanlah masalah untuknya. Ia telah terlatih sejak kecil oleh sang Ayah. Akhirnya Marie berhasil turun menggunakan tali itu.
Jack dan Marie berlari perlahan menghampiri para pengawal yang sedang menjaga gerbang istana. Beruntung, para pengawal itu belum sadarkan diri. Dengan mudah Jack menemukan kunci gerbang di meja mereka.
Ceklek !
Kunci gerbang berhasil terbuka. Mereka berdua segera berjalan menghampiri seekor kuda yang telah disiapkan oleh Amber. Mereka lalu membuka ikatan tali yang menahannya. Jack dan Marie menaiki kuda tersebut dengan posisi Jack berada di depan mengendalikan tali kuda.
"Marie, apa kau siap?" Jack setengah menoleh kepada Marie yang duduk di belakang kendalinya.
"Asal selalu bersamamu, aku siap, Jack!" ucap Marie seraya melingkarkan tangannya erat ditubuh Jack.
Cyat !
Jack menghentakkan tali kuda yang digenggamnya. Sontak kuda itu membawa mereka melaju kencang menembus hawa dingin di tengah gelapya malam. Jack berfokus pada kendalinya, sementata Marie semakin mengeratkan pelukannya pada tubuh Jack.
Sekarang tak ada lagi yang dapat menghentikan keduanya. Mereka telah memutuskan untuk membina dan membesarkan cinta yang dianggap terlarang.
~~
6 tahun berlalu sejak kepergian Marie dari istananya. Ia dan Jack dikarunia sepasang putra kembar yang diberi nama Alfred Collin dan Albert Collin. Mereka telah berusia 5 tahun dan sangat menggemaskan. Jack dan Marie juga mengubah nama mereka menjadi Alexander Collin dan Jessica Collin. Itu semua dilakukan untuk menghapus jejak masa lalu keduanya.
Mereka hidup bahagia setelah mengalami banyak kesulitan. Mereka juga harus beberapa kali berpindah tempat untuk menghindari kejaran para utusan istana oleh Raja Willem, ayah Marie. Dan akhirnya mereka memilih menetap di sebuah negeri yang jauh dari istana dan membangun bahtera kecilnya disana.
"Kak Amber, terima kasih. Karena pengorbananmu kini aku dan Jack hidup bahagia dengan kedua putra kami. Semoga kelak kau juga dapat memeluk kedua keponakanmu ini. Terima kasih Kakak."
-TAMAT-