#Cerpen
Ditinggalkan oleh orang yang kita sayangi itu memang tidak menyenangkan. Apalagi setelah kepergiannya, hidupmu tak sebahagia seperti biasanya! Kau disiksa! Dicaci maki dan dihina! Meski yang menyiksamu bahkan mencacimu, adalah orang yang sangat kamu sayangi. Biasanya kau akan dipeluk jika dirimu dihina! Dan biasanya kau akan dikecup keningmu, ketika kau merasa lelah! Tetapi, semua itu hanya kenangan! Ya, hanya kenangan!
#Menunggumu di dalam mimpi Ayah!
"Sudah aku katakan! Jangan pulang sebelum semua gorengan itu habis!" teriak seorang wanita yang berumur sekitar 30 tahunan. Ia meraung marah, kepada remaja laki-laki yang tengah berlutut di hadapannya. Ia menatapnya benggis, layaknya seekor Elang, yang siap memakan mangsanya!
"Apa kamu tidak punya telinga? Berapa kali harus aku ulangi kalimat yang sudah bosan aku ucapanan! JANGAN PULANG SEBELUM GORENGAN ITU HABIS?! " Ia berseru marah! Sambil memukul bahkan menampar remaja laki-laki itu dengan kejam.
"Ampun! Agh! Sakit Buk! Cukup Buk!"
Sebut saja remaja laki-laki itu dengan panggilan, Revan. Remaja laki-laki yang berumur belum baru menginjak 15 tahun itu hidup tersiksa di tangan Ibu-nya yang bernama, Lasmi.
"Ampun kata kamu? Tidak ada ampun untuk orang seperti dirimu! Kamu fikir kita hanya makan batu, hah! Pulang kerumah bukannya membawa uang untuk beli beras! Tapi nyatanya kamu pulang dengan membawa gorengan yang masih banyak yang tak laku sama sekali!"
Lasmi terus memukul tubuh Revan menggunakan belahaan bambu yang selalu menjadi senjatanya sebagai alat menyiksa Revan. Apakah itu sakit? Ya, tentu saja sakit! Terkadang belum hilang bekas lebam dari pukulan itu! Revan harus menerimanya kembali. Sakit? Sangat sakit! Terbesit rasa ingin mengakhiri hidup! Namun sayang, fikiran semacam itu langsung Revan singkirkan dalam ingatannya. Ia berfikir, kalau ujian dari Allah untuknya, tidak akan melebihi batas kemampuannya!
"Revan sudah menjaulnya berkeliling Buk! Tapi tetap saja tidak ada yang mau membeli," kata Revan dengan nada suara yang begitu tampak sekali menahan sakit.
"Alah! Alasan aja terus! Kamu ini ya, masih kecil sudah pandai berbohong! Nanti kalo kamu sudah besar, mau jadi apa kamu? Mau jadi penipu, hah!" bentak Lasmi dengan kembali melayangkan satu demi satu pukulan ketubuh Revan.
"Revan tidak berbohong, Buk. Revan berkata jujur," sunggut-nya.
Percuma dan percuma! Perkataan jujur dari Revan tidak membuat Lasmi menghentikan cara kejamnya itu. Entah puas atau belum? Tiba-tiba Lasmi mengambil ember berukuran sedang, yang berisi air di dalam rumahnya. Tanpa mendapat aba-aba, Lasmi langsung menyiram tubuh Revan tanpa memiliki rasa belas kasihan.
"Dingin! Perih!" Revan merintih keperihan saat butiran-butiran air itu menerpa luka lebam di sekujur tubuhnya. Ia tak tahan untuk tidak menangis! Air matanya sudah tidak bisa ia bendung lagi di kelopak kedua matanya. Seketika cairan bening dari kedua matanya, berjatuhan bersamaan dengan air di dalam ember saat disiram ketubuhnya.
"Itulah akibatnya kalau tidak menuruti apa kataku! Anak tidak berguna! Sia-sia aku membesarkanmu seorang diri, jika akhirnya kamu tidak bisa diandalkan!" Pekik Lasmi dengan mengeluarkan caci makian kepada Revan. Seketika ia terduduk lemas di hadapan Revan. Ia menanggis, mencoba untuk menghilangkan kepahitan alur cerita hidupnya yang sangat menyakitkan untuk diingat dan begitu menyesakkan dada untuk dikenang. Apalagi Lasmi hidup sendiri semenjak ditinggal suaminya belasaan tahun lalu, ia membesarkan darah dagingnya sendiri yaitu, Revan. Dengan jerih payahnya sendiri. Namun sayang, Revan tumbuh bukan didukung dengan kasih sayang! Melainkan didukung oleh siksaan dan dilemahkan oleh caci makian. Bukan hanya sekali Lasmi menyiksa Revan, hampir setiap hari ia menyiksa Revan tanpa ampun! Terkadang teriakkan amarahnya, bisa menggundang perhatian tetangga-tetangga di samping, kiri, depan dan belakang rumahnya. Kebetulan rumah Revan berada di tengah-tengah rumah tetangganya. Jadi tak heran lagi, kalau mereka mendengar teriakkan atau tanggisan dari dirinya dan juga Ibunya.
"Maafin Revan, Bu. Maafin Revan! Revan janji besok akan berjualan gorengan sampai habis dan tidak akan pulang kerumah sebelum gorengannya habis! Revan janji, Bu."
Revan berjalan merangkak mendekati Ibunya, ia peluk kedua kaki Ibunya yang sudah mulai keriput dimakan usia. Namun apa yang Revan dapat? Ia langsung ditendang! Sehingga kedua tangannya tak lagi memeluk betis wanita yang sudah melahirkannya itu.
"Malam ini kamu tidur di luar!" perintah Lasmi sambil berjalan masuk kedalam rumah dan mengunci pintunya dari dalam.
Revan berusaha berjalan menuju pintu, dengan langkah yang tak bisa ia seimbangkan lagi dengan tubuhnya. Sungguh ia merasakan sekujur tubuhnya sakit dan perih!
"Bu, buka pintunya!" Revan mengedor-gedor pintu rumahnya. Tapi sayang, Lasmi sama sekali tidak kunjung membukakan pintu sampai adzan magrib berkumandang.
"Alhamdulillah, adzan magrib sudah berkumandang. Sebaiknya aku sholat dulu, mudah-mudahan setelah aku selesai sholat nanti, Ibu mau membukakan pintu," kata Revan sambil berajak menuju masjid yang berada tak jauh dari rumahnya.
****
"Agh! Perih, " rintihnya sambil menahan rasa perih kembali saat ia ingin membasuh kedua tangannya saat ingin berwudhu.
"Kalo perih jangan dipaksa," kata salah satu Bapak-Bapak yang tengah berdiri di samping Revan.
Revan menoleh, sambil tersenyum. "Nggak papa kok, Pak. Ini belum terlalu perih dibanding siksaan di neraka," jawab Revan ramah.
"MasyaAllah, semoga Allah memberikan ketabahan dan keikhlasan menjalani semua ini. Jujur saja, terkadang saya merasa kasihan saat melihat kamu disiksa oleh Ibumu. Tetapi kamu tidak mengeluh," rutuknya.
Lagi-lagi Revan tetap memberikan senyuman. "Apapun yang Ibu saya berikan kepada saya, baik itu siksaan atau bukan. Saya akan tetap mensyukurinya," jawab Revan.
"Andai saja Ayah kamu masih hidup, beliau pasti sangat senang memiliki sosok anak sepertimu," pujinya sambil berjalan meninggalkan Revan di tempat wudhu.
"Ayah? Hem... aku kangen Ayah," kata Revan yang seketika teringat dengan sosok Ayahnya.
****
"Nak Revan kok tidur di luar?" tanya Pak Ridwan selalu ketua RT di tempat Revan tinggal, ia tak sengaja melihat Revan di depan rumahnya saat ia hendak pulang kerumah. Kebetulan rumah Pak Ridwan berada tak jauh dari rumah Revan.
"Nggak papa kok Pak," jawab Revan cengengesan.
"Dimarahin lagi sama Ibumu?"
"Nggak kok," sahut Revan sambil menggeleng-gelengkan kepala.
"Kamu yakin?"
Revan mengangguk, ia berusaha menunjukkan kalau dirinya baik-baik saja.
"Yasudah kalau begitu, saya pamit pulang dulu ya. Assalamu'alaikum," ucapnya seraya berpamitan.
"Wa'alaikumussalam. Hati-hati Pak RT," kata Revan yang langsung mendapat reaksi senang dari Pak Ridwan.
Belum lama Pak Ridwan hilang dari pandangan. Tiba-tiba Lasmi keluar. Ia berdiri tepat di depan pintu dengan memegang sekelipak bambu di tangan kanannya. Revan terkejut saat ia berbalik badan. Ia menelan ludah pahit! Ia langsung menunduk saat Ibunya berjalan mendekatinya.
"Apa yang kamu katakan kepada Pak RT? Apa kamu mengatakan kalau Ibumu ini sudah menyiksamu?" tanya Lasmi dengan mencengkam dagu Revan kuat, membuat Revan merintih kesakitan.
Bugh! Bugh! Bugh!
"Ampun Buk! Sakit!" teriak Revan kesakitan saat pukulan demi pukulan kembali ia rasakan.
"Cih! Lemah! Apa yang kamu katakan kepada Pak RT? Hah!"
"Aku nggak mengatakan apa-apa kok, Buk."
"Bohong!" teriak Lasmi.
Bugh! Bugh! Bugh!
"Ayah!" teriak Revan memanggil Ayahnya, saat Lasmi kembali memberikan pukulan menyakitkan itu di atas tububnya yang sudah lemah.
Revan terjatuh lemas ketanah. Air matanya menetes, ia sudah menyerah dengan hidupnya yang sudah hampir disiksa. Revan menutup matanya rapat, berharap rasa sakitnya akan hilang saat ia membuka mata nanti.
"Revan, bangunlah! Ayah di sini, Nak."
Revan tersentak. Ia membuka kedua bola matanya pelan. Ia tidak merasakan sakit atau perih lagi disekujur tubuhnya. Bahkan ia tidak melihat luka lebam ditubuhnya. Apakah ia tengah bermimpi? Entahlah, yang jelas ia merasa senang dengan keadaannya yang sekarang.
"Revan!" panggil seseorang yang tengah berdiri di belakang Revan.
Revan berbalik dan betapa kagetnya Revan, saat ia melihat sosok Ayahnya. Revan langsung berlari dengan butiran air mata yang sudah lebih dulu menetes.
"Ayah!" panggil Revan sambil memeluknya erat.
"Ayah, Revan sangat kangen dengan Ayah," lanjutnya.
Ayah Revan menghelus lembut kepala Revan sambil memperkuat pelukkannya.
"Ayah juga kangen sama Revan," jawabnya.
"Aku menunggumu di dalam mimpi Ayah! Agar aku bisa melihatmu dengan pejaman mata. Bahkan aku selalu berdoa, semoga Allah mempertemukan kita di dalam mimpi. Apakah aku sedang bermimpi?"
Ayah langsung melepaskan pelukkannya dari tubuh munggil Revan. Ia berjongkok di hadapannya, sambil memegang kedua tangan putranya itu.
"Entah, Ayah tidak tau apakah ini mimpi atau bukan. Yang jelas, Ayah ingin mengucapkan terima kasih, karena kamu sudah mau menunggu Ayah di dalam mimpimu," ucapnya.
"Jangan tinggalkan Revan," kata Revan menanggis.
"Nggak kok, Revan akan tinggal bersama Ayah! Ayah tidak akan meninggalkanmu lagi," sahutnya menatap ramah kearah Revan.
"Tapi...."
"Tapi kenapa?" tanya Ayah sambil berdiri.
"Bagaimana dengan Ibu? Ibu pasti sedih kalo aku tinggal sama Ayah," kata Revan yang mendadak kepikiran dengan Ibunya.
"Ibumu biarlah dia menyesali dengan apa yang ia lakukan! Ayah tidak ingin kamu disiksanya lagi, jadi Ayah ingin kamu tinggal bersama Ayah! Kamu maukan?"
"Aku mau Ayah! Aku sangat senang bisa tinggal bersama Ayah," kata Revan dengan begitu riangnya.
"Kalo begitu? Ayo ikut Ayah!" ajaknya sambil memegang tangan Revan dan membawanya melangkah bersamanya.
"Iya, Ayah." Revan mengikuti langkah Ayahnya dengan melompat-lompat senang.
Revan terus mengikuti langkah Ayahnya yang semakin jauh dan jauh! Sehingga ia benar-benar tidak lagi kembali membuka matanya saat ia dipukul oleh Ibunya Lasmi. Kini, tumbuhlah rasa penyesalan dan penyesalan! Saat Lasmi melihat tubuh Revan sudah mulai kaku dengan keadaan tak bernyawa.
"Bangun, Nak. Maafkan Ibu," sesalnya sambil menanggis tersedu-sedu.
"Maaf, Ibu. Aku sudah bahagia tinggal bersama Ayah, aku harap Ibu bisa berubah menjadi orang yang lebih baik lagi." Revan menyahut sambil berjalan menjauh dari rumahnya dan juga menjauh dari raganya yang sudah ditutupi oleh sehelai kain putih.