Senja menyapa di ujung sepi, ada rindu yang menggebu yang hadir dalam bayangmu yang semu.
Aku terpaku meratapi diri tentang keraguan pada sebuah nama yang terpatri dalam hati. Ingin rasanya aku menjerit meminta keadilan akan takdir yang pahit dalam hidup, ketika semua orang melihat begitu sempurna hidupku.
Berulang kali aku mencoba meyakinkan diri bahwa aku baik-baik saja. Namun, tidak bisa di pungkiri hati ini begitu rapuh.
Haruskah aku menyalahkan takdir Tuhan?
Keysa Kirana
Itulah namaku. Aku adalah seorang remaja putri yang sebentar lagi akan menginjak usia tujuh belas tahun. Usia yang sangat istimewa bagi sebagian besar remaja lainnya. Dimana di usia itu, kita akan menginjak masa kedewasaan dan memperoleh pengakuan resmi dari negara dengan mendapatkan kartu tanda penduduk (KTP).
Begitu juga denganku, aku ingin menjadikan hari ulang tahunku yang ke- 17 ini menjadi ulang tahun yang terindah dan tidak akan penah aku lupakan seumur hidup.
Kehidupanku yang serba tercukupi, bahkan bisa dikatakan mewah, membuatku mudah untuk mendapatkan apa pun yang aku mau. Banyak teman-teman yang kagum dengan kehidupanku. Hidup mewah dengan segala fasilitas yang ada, orang tua yang lengkap, yang begitu menyayangiku, sahabat yang selalu menemani dan seorang kekasih yang menjadi idola di sekolahku. Sungguh sempurna bukan?
Meski hidup dalam kemewahan, orang tuaku selalu mengajarkan agar aku tidak lupa untuk selalu bersyukur kepada Tuhan dan jangan pernah memandang rendah siapa pun. Jangan pernah memilih teman karena status sosial mereka. Karena sejatinya, dihadapan Tuhan semua manusia sama saja derajatnya, hanya iman dan takwa yang menjadi pembeda. Apa yang kita miliki hanyalah titipan dari Tuhan, kapan pun Tuhan berhak untuk mengambilnya. Itulah yang selalu ditanamkan mereka padaku.
Hidupku terasa begitu sempurna dengan limpahan kasih sayang dari kedua orang tuaku dan orang-orang sekitar.
*****
Siang itu, sepulang sekolah aku ingin sekali cepat sampai ke rumah. Bagaima tidak, tepat hari ini adalah hari ulang tahunku yang ke- 17. Mama sudah menyiapkan pesta yang meriah untukku malam nanti. Semua undangan untuk teman-teman sudah kubagikan, tentunya dengan bantuan Adelia, sahabatku dan Alvin, kekasihku.
Siang ini cuaca begitu panas. Cahaya matahari menusuk kulit saat aku berjalan melewati gerbang sekolah menuju mobil jemputanku.
"Key..., tunggu!" Suara Adel membuat langkahku terhenti. " Aku gak bisa bareng kamu ya, aku harus antar Ibu ke dokter. Hari ini jadwal ibu buat periksa," sambung Adel sambil mengatupkan kedua tangannya di depan dada.
"Ya ampun, aku lupa. Biar aku sama Pak Ujang yang antar kamu, ya!" tawarku pada Adel.
"Gak usah, Key. Nanti malam kan hari istimewa kamu, kamu juga perlu siap-siap. Biar aku sama Ibu naik Angkot aja." tolak adel sambil memelukku. "Maaf ya, gak bisa bantuin kamu," sambungnya dengan rasa bersalah, karena tidak bisa menemaniku mempersiapkan pesta.
"Ibu lebih penting, Del. Kamu hati-hati ya! jangan lupa kasih kabar aku." Adel pun mengangguk dan mengacungkan kedua jempolnya. Ada rasa bersalah di hatiku karena tidak bisa menemani nya.
Adelia, dia adalah sahabatku sejak aku masih duduk di bangku Sekolah Dasar. Dia adalah remaja yang luar biasa di mataku dan teman-teman yang lain. Bagaimana tidak, dia masuk sekolah unggulan kami dengan beasiswa murid berprestasi. Dia juga sudah mengharumkan nama sekolah kami dengan prestasinya di ajang perlombaan yang membawa nama sekolah. Kesederhanaan, ketegaran, dan keramahannya membuat kagum semua orang. Meski ayahnya telah meninggal tiga tahun yang lalu, dan ibunya kini harus berjuang melawan sakit, Adel tidak pernah menyerah atau pun putus asa. Dia begitu ikhlas menerima takdir Tuhan.
Aku kini sudah duduk di kursi belakang mobil yang dikemudikan Pak Ujang, supir pribadi keluargaku.
"Pak, Papa udah pulang, 'kan?" tanyaku pada Pak Ujang.
"Sudah, Non." jawab Pak Ujang sambil tersenyum melihat wajah ceriaku siang itu.
Setelah sampai di depan rumah, aku segera berlari menuju pintu utama. Aku tak sabar ingin melihat seperti apa dekorasi pestaku nanti malam. Aku rindu pelukan Papa yang seminggu ini selalu disibukkan dengan urusan kantor.
"Kamu tega, Mas. Hari ini adalah hari istimewa Keysa, putri Kita! Kamu memilih pergi menemui perempuan dan anak itu?" teriak Mama yang seketika membuat langkahku terhenti di ambang pintu.
"Anak itu sedang sakit parah dan dia butuh aku! Aku tidak bisa meninggalkannya. Dia hanya ingin aku di sisinya, disisa usianya. Aku harap kamu bisa mengerti! Selama ini aku selalu ada untuk Keysa, tetapi aku juga tidak bisa mengabaikan Aqilla, dia juga putriku!"
DUAR
Bagai disambar petir di siang bolong. Kakiku lemas, tubuhku terhuyung, aku terduduk lemas takmampu menahan tubuhku. Dada ini terasa sesak, hatiku begitu hancur.
"Tidak, ini pasti hanya mimpi. Ini pasti hanya sebuah sandiwara kejutan dari mereka di hari istimewaku. ini hanya mimpi."
Kupukul dada yang terasa sesak, ternyata ini nyata!
Aku melihat mama sudah berlutut di hadapan papa. Dia menangis terisak, tangannya erat memegang kaki papa.
"Aku mohon, Mas. Jangan pergi! jangan kecewakan Keysa. Aku janji setelah ini aku akan ceritakan semua padanya. Kamu adalah cinta pertama dan sosok ayah yang selalu dia kagumi." Mama semakin terisak.
Aku tak kuasa melihat mama yang berlutut di hadapan papa. Hatiku perih, sakit. Belati yang tajam telah menghujam hatiku.
Apa sebenarnya yang mereka sembunyikan dariku? siapa Aqilla sampai papa rela meninggalkan aku? semua pertanyaan muncul dalam benakku.
Mama masih terus berlutut memohon agar papa tetap tinggal. Mama terus menahan kaki papa yang akan beranjak pergi.
" CUKUP! biarkan dia pergi! jangan pernah memohon lagi untuk diriku, Ma," teriakku.
Aku terus terisak menahan sakit di dadaku yang semakin sesak. Aku taksanggup lagi melihat Mama terus memohon. Mereka tersentak melihatku.
Mama berlari memelukku. "Maafkan, mama, Sayang."
Kulihat papa yang menghampiriku. Aku bangkit dan berlari ke kamar, menutup pintu dan menguncinya. Ku jatuhkan tubuh yang lemas di atas tempat tidur, membenamkan wajah pada bantal dan menjerit sekuatnya.
Tuhan ... rasanya begitu sakit mendengar kenyataan pahit ini! Aku abaikan ketukan pintu dan teriakan dari kedua orang tuaku. Saat ini aku hanya ingin menangis.
Tanpa terasa aku menangis hingga terlelap. Saat terbangun, jam sudah menunjukkan pukul 17.10 WIB. Sore itu di luar hujan begitu deras. Perlahan aku beranjak, saat aku melihat suasana rumah cukup sepi. Sepertinya Mama juga sedang istirahat. Aku menggunakan kesempatan itu untuk pergi dari rumah. Aku butuh Adel sahabatku. Aku ingin menangis di pelukannya.
Aku berlari dari rumah menerobos derasnya hujan sore itu. Biarlah tetes hujan membasahi tubuh ini, menghapus setiap rasa sakit.
Aku terus berlari tak peduli kilatan petir dan gemuruhnya.
Aku sudah tiba di depan rumah Adel, cukup tersentak melihat sepeda motor yang sangat ku kenal. Aku melangkah semakin mendekat melihat plat nomor yang tertera.
"Bukankah ini motor Alvin?" Batinku.
Ku melangkah mendekat ke arah pintu. Terdengar jelas suara perdebatan di dalam rumah.
" Maaf, Vin. Sepertinya kita harus mengakhiri hubungan kita. Aku gak bisa terus mengkhianati Keysa, dia sahabatku. Diantara semua, hanya dialah yang paling tulus bersahabat denganku. Hubungan kita sudah salah, Vin."
Deg... Jantungku berdetak semakin kencang. Apa maksud semua ini?
" Gak, Del. Aku sayang sama kamu, aku sudah memendam perasaan ini sejak kita masih SMP dan kamu tahu itu. Aku tahu kamu dan Keysa bersahabat, tapi sampai kapan kamu mengorbankan perasaanmu? Kita memiliki perasaan yang sama, bukankah kamu juga berhak bahagia?"
" Vin ..., aku mohon. Kita harus mengakhiri semua ini! Bagiku Keysa lebih penting dari perasaanku. Biarlah rasa kita menjadi sebuah kenangan manis dalam hatiku. Aku sudah bersalah menerima uluran tanganmu dan menggenggamnya. Aku tak ingin semakin lama membohongi Keysa. Satu bulan sudah cukup bagiku yang selalu di hantui rasa bersalah pada Keysa."
"Apa kamu yakin, Del. Demi Keysa kamu mengorbankan perasaanmu sendiri? Aku sayang sama kamu, Del. Demi kamu aku rela mengorbankan perasaanku, mengungkapkan cinta yang tak seharusnya aku ungkapkan pada orang yang tidak aku cintai."
" Cukup ...,Vin! Keysa sayang banget sama kamu.
Vin ..., Cinta itu tidak harus memiliki. Cinta hanya memberi dan tak pernah mengharap balasan. Kalau kamu sayang sama aku, cintailah Keysa. Aku mohon, Vin!"
Deg... Tubuhku semakin lemas.
Tuhan ..., kenyataan apa lagi ini? Semua terjadi pada hari yang seharusnya menjadi hari bahagiaku. Aku tak kuasa menerima kenyataan yang ada. Aku berlari sekencang-kencangnya. Deras hujan seakan menjadi saksi begitu perihnya hati ini. Tiba tiba aku merasa ada sesuatu yang menabrak tubuh ini dan tubuh ku terhempas. Gelap hanya itu yang aku rasa.
Enam bulan berlalu setelah kecelakaan malam itu.
Sebulan lamanya aku koma. Kenapa tuhan tidak mengambil saja nyawaku? Kalaupun aku masih di beri kesempatan untuk hidup, kenapa tidak buat saja aku hilang ingatan! agar aku lupa akan semua kepedihan dan rasa sakit itu.
Namun, nampaknya tuhan ingin menjadikan aku pribadi yg lebih dewasa lagi.
Perlahan aku mulai menerima kenyataan pahit dalam hidupku. Aku mulai menerima tentang Pengkhianatan papa kepada kami. Aku tak pernah menyangka di balik semua kasih sayang yang mereka berikan, mereka menyimpan rahasia besar dariku.
Mama mampu menahan luka yang dalam sendirian. Mama adalah wanita luar biasa yang mampu menerima pengkhianatan papa dan bertahan demi kebahagiaan ku. Meski pada akhirnya kebohongan itu pasti akan terungkap juga.
Mama wanita yang luar biasa. Mama selalu meminta agar aku tak pernah membenci papa.
"Setiap manusia pasti pernah melakukan kesalahan dalam hidupnya, dan mereka berhak untuk mendapatkan kesempatan agar lebih baik lagi." Itulah yang selalu mama katakan padaku.
Saat Mama tahu papa mengkhianati kami, saat wanita itu datang pada mama dan meminta pertanggung jawaban papa atas janin yg ada dalam rahimnya, mama dengan besar hari meminta papa untuk bertanggung jawab dan menikahi wanita itu. Jika ditanya apakah tidak hancur hatinya? Tentu saja mama sangat hancur saat itu!
Tetapi, mama tak bisa egois membiarkan nyawa yg tak berdosa terlahir tanpa seorang ayah dan tumbuh tanpa kasih sayang orangtuanya. Sungguh mulia hati wanita yang ku panggil Mama...
Aqilla ..., itulah nama gadis kecil yang berusia 7 tahun yang kini tengah terbaring tak berdaya. Penyakit kangker darah yang di deritanya membuat dia harus menahan sakit yang luar biasa.
Aku tidak tahu, apakah ini ujian atau teguran untuk papa atas apa yg dia lakukan.
Tentang hubunganku dengan Alvin ..., aku sudah mengakhirinya. Dari mama aku belajar tentang sebuah keikhlasan. Kecewa pasti ada, tetapi bukan untuk membenci. Aku tak ingin terus larut dalam kesedihan dan kekecewaan yang aku rasakan. Aku tak ingin kecewaku membuatku berburuk sangka akan takdir tuhan.
Aku pun tak bisa menyalahkan Adel sahabatku atas perasaannya. Karena setiap insan berhak atas rasa cinta yang tuhan berikan. Mama selalu menguatkan ku.
Cobaan yang tuhan berikan membuat aku semakin dewasa dan mengerti bahwa tak ada kebohongan yang abadi.
Di Setiap cinta yang ada, pasti akan ada luka yg terselit.
Semua yang ada di dunia ini tak ada yang abadi.
Ujian hidup membuatku semakin menghargai arti sebuah rasa dan kejujuran dalam hidup ini.
Pengorbanan dan keikhlasan. Dua kata yang tak dapat dipisahkan dari sebuah cinta yang sesungguhnya.
Cinta yang tulus yang tak pernah mengharap balasan, tetapi tuhanlah yang akan membalas dengan kebahagiaan yang luar biasa setelah derai airmata yang kamu keluarkan.
Semoga kita bisa memahami makna cinta yang sesungguhnya.