Ada gosib beredar di SMP ku yang muncul sejak beberapa tahun terakhir. Gosib itu menyebar setelah ditemukannya seorang kakak kelas yang melakukan suicide di toilet perempuan. Letak toilet itu tepat berada di sebelas kelas 3.
Meskipun kasusnya cukup besar, namun seakan pihak sekolah menyembunyikan fakta kejadian yang ada. Jadi hanya ada desas desus yang beredar di antara murid-murid yang bersekolah disana saja yang tahu. Orang luar tidak tahu hal tersebut.
Gosib yang ada berbunyi, bahwa jika kau masuk ke toilet di sebelah kelas 3 itu lewat jam tiga sore. Maka kau akan melihat penampakan kakak kelas yang tergantung di langit-langit, meminta untuk diturunkan. Bila kau tidak menurunkannya, dia kan mengikutimu terus. Bila kau menurunkannya, kau lah yang akan tergantung di langit-langit menggantikannya.
Karena itulah tidak ada murid yang berani menggunakan toilet tersebut. Meskipun di siang hari dan letaknya dekat. Pintu toilet itu selalu tertutup rapat. Meskipun begitu, ada saja anak-anak yang menjadikan tempat itu sebagai tempat uji nyali. Terlebih gerombolan anak laki-laki. Seakan jika kau berhasil masuk dan keluar dengan selamat dari sana, kau dianggap hebat.
Sore ini pun begitu. Ada segerombol murid laki-laki yang masih mengenakan seragam mereka berkumpul di depan toilet sebelah kelas 3. Padahal sekolah sudah usai lebih awal sejak pukul 12 tadi. Murid yang tertinggal di sekolah juga hanya segelintir saja. Itupun berada di perpustakaan untuk mengerjakan tugas.
Sekarang sudah pukul 14.50 WIB. Sepuluh menit sebelum pukul tiga sore. Aku mendengarkan percakapan gerombolan murid laki-laki itu dengan seksama.
“Yang kalah suit masuk duluan. Diam di dalam toilet selama limat menit. Belum lima menit tapi sudah keluar atau melarikan diri artinya gagal. Nanti hukumannya keliling lapangan tanpa baju atasan.” Kata seorang murid laki-laki yang merupakan ketua dari gerombolan itu.
“Siap boss ku!” Setuju yang lain.
Mereka mulai melakukan hompimpa, lalu diakhiri dengan suit dua orang. Murid laki-laki yang masuk pertama kali melakukan peregangan ringan. Menggerakkan tangannya ke atas dan bawah bergantian.
“Banyak lagak kau!” ledek temannya. “Buruan masuk sana!”
“Berisik ah, ini juga mau masuk.” Jawabnya.
Tepat pukul tiga sore. Murid laki-laki itu pun masuk. Selama lima menit dia berapa didalam toilet angker tersebut. Lalu keluar setelah waktunya habis. Terus bergiliran mereka masuk hingga akhirnya murid laki-laki terakhir yang masuk. Setelah lewat lima menit pun dia keluar dengan santai-santai saja. Tidak terjadi apapun padanya.
Gerombolan itu pun mulai membahas pengalaman mereka berada di dalam toilet itu sendirian. Agak dilebih-lebihkan. Hanya yang sama adalah tidak adanya penampakan yang di gosibkan akan muncul.
“Gimana kalau sekarang kita masuk bareng-bareng,” usul salah satu dari mereka.
“Berani aku kalau bareng-bareng. Mau sampai pagi juga boleh!” jawab yang lain.
“Paling kau yang pertama lari kalau ada penampakan,” sindir yang lain lagi.
Mereka mencapai kata sepakat. Masuk dengan percaya diri ke dalam toilet itu. Aku pun mengikuti di belakang, lalu mengunci pintu toiletnya saat mereka lengah. Mengurung mereka disana. Kulihat mereka mulai panik. Mencoba mendobrak pintu untuk bisa keluar.
Aku pun tertawa, “Siapa yang mau menurunkanku dari sini?” tanyaku.
“ARRGGGGHHHHH!!!”
Jerit mereka pun menggema. Harusnya mereka mencari tahu lebih detail tentang gosib keberadaanku. Bahwa aku hanya akan muncul bila ada yang masuk secara bergerombol. Sebab aku mati karena terbunuh oleh segerombolan murid waktu itu.
“Hahahahhaha!”
# # # #
Tamat.