Pagi ini langit terlihat mendung, seolah sang mentari enggan menampakkan dirinya. Dan seperti biasa, keadaan ini selalu sama, seakan tak pernah ada perubahan dari hari ke hari. Hari ini Sarah datang terlalu pagi, dan seperti hari-hari sebelumnya, belum banyak manusia-manusia di sekolah. Sarah pun langsung menuju perpustakaan sekolah, satu-satunya ruangan yang selalu menenangkan hati, beruntung hari ini Bu Anna, penjaga perpustakaan sudah datang.
Mata gadis itu pun langsung tertuju pada sebuah novel keluaran terbaru di salah satu rak buku perpustakaan. Setelah menemukan tempat duduk, ia mulai menikmati bacaan novel itu. Tak lama kemudian, keasyikan gadis itu terhenti seketika saat terdengar bunyi ketukan pada rak buku di belakangnya, tapi saat ia menoleh tak ada apapun atau siapapun yang menyebabkan bunyi tersebut.
Saat itu Sarah tak begitu mempedulikannya dan meneruskan membaca novel, tapi kejadian itu terulang kembali beberapa kali dan hawa dingin mulai terasa menusuk tulang, Sarah yang tidak betah dengan hal itu pun langsung memutuskan meminjam novel tersebut dan membacanya di dalam kelas.
Saat berada di lorong menuju kelasnya, Sarah mendengar suara-suara tangisan anak kecil. Gadis itu pun mulai ketakutan dan sedetik kemudian ia langsung berlari kencang menuju kelasnya yang teryata sudah ramai oleh beberapa murid.
"Kamu kenapa Sarah? Kok kayak habis dikejar anjing gitu?” tanya Putri dan Mila, kedua sahabat Sarah.
“Eh, hemm anu... nggak ada apa-apa.” jawab Sarah terenggah-enggah.
"Bener? Cerita aja. Kita kan sahabatmu.” bujuk Putri. Setelah mengatur nafas, Sarah pun menceritakan apa yang terjadi pada dirinya. Putri dan Mila hanya menanggapi dengan anggukan tanda mereka mengerti dan mengusulkan untuk bertanya pada Bu Anna apakah tadi ada murid lain yang ada di perpustakaan dan iseng.
Sesaat kemudian bel tanda masuk berbunyi, lantas mereka pun menghentikan obrolan dan menjalani rutinitas mereka sebagai pelajar. Saat bel istirahat berbunyi, mereka pun langsung menuju ke perpustakaan dan menanyakan hal tadi, tapi jawaban Bu Anna amat sangat mengejutkan, ternyata pada saat Sarah ada di perpustakaan tadi tak ada seorang pun yang masuk dan Bu Anna juga tak mendengar suara ketukan atau semacamnya.
Sarah dan dua sahabatnya pun keluar dengan sejuta pertanyaan. Mereka memutuskan untuk mengisi perut meraka dulu karena cacing-cacing di perut sudah mulai memberontak. Dan tak terasa bel pulang akhirnya berbunyi juga.
“Eh, gimana kalau besok kita berangkat pagi-pagi dan ke perpusptakaan!” usul Putri.
“Boleh” jawab Sarah dan Mila semangat 45.
Keesokan harinya, mereka bertiga sudah tiba di perpustakaan, dan seperti biasa Bu Anna juga sudah datang. Sarah, Putri dan Mila pun mengambil beberapa buku dan membacanya, dan benar saja seperti kata Sarah kemarin, namun kali ini bukan hanya suara ketukan tapi juga suara anak kecil menangis seperti yang Sarah dengar di lorong kemarin. Sedetik kemudian lampu mulai terlihat berkedap-kedip, nyala mati nyala mati dan mereka mulai melihat sosok siluet seorang anak perempuan dan semakin lama nampak semakin nyata, kulitnya terlihat sedikit mengelupas dan wajahnya amat sangat pucat. Dan tepat di depan Sarah anak itu mengeluarkan selembar foto, seperti foto keluarga.
“To... long… b...ongkar… misteriii… ya...yang… Sss… Sud… Ahh… Lamaaa… Terkuburrr… Iii… Niii…” ucap anak itu dengan suara serak dan terbata-bata. Anak kecil itu memberikan selembar foto kemudian sosok siluet itu menghilang dan mereka terduduk lemas disana. Bu Anna menghampiri dan menatap mereka dengan heran
“Kalian kenapa? Apa kalian tidak apa-apa?” tanya Bu Anna
“E.. Enggak kok bu, permisi” jawab Sarah buru-buru sambil menarik tangan kedua sahabatnya dan memasukan foto tadi ke saku seragamnya.
“Sumpah gila!! Apa itu tadi? Dan apa maksudnya?” ucap Mila yang terlihat sangat ketakutan.
“Entahlah, nanti saat istirahat kita coba tanya Pak Udin. Dia kan sudah lama bekerja di sini, mungkin ia tahu….” jawab Putri. Sarah hanya menganggukan kepalanya.
Mereka lekas kembali ke kelas dan saling terdiam, terhanyut dalam pikiran masing-masing. Kemudian saat istirahat tiba
“Ke kantin yuk, laper nih!” seru Mila
“Ish ! Sabar napa. Kita tanya ke pak Udin dulu…” usul Sarah.
Lalu mereka langsung menarik tangan Mila menjauhi kantin dan menghampiri pak Udin yang sedang menyapu halaman sekolah, dan saat mereka jelaskan dan menunjukkan selembar foto. Pak Udin terlihat sangat terkejut dan tidak mau menceritakannya. Tapi setelah dipaksa akhirnya pria paruh baya itu baru mau menceritakannya.
“Dulu sekitar delapan tahun yang lalu di sekolah ini mereka berdua menghilang...” ucap pak Udin sambil menunjuk dua orang anak di foto itu.
“Dan seminggu setelahnya, mereka baru ditemukan, tapi mereka sudah meninggal. Kematian mereka sangat ganjil. Leher mereka tampak seperti bekas dipelintir, dijerat dengan seutas tali dan tubuh mereka penuh luka tusukan pisau tajam dan panjang. Isi perut mereka, usus dan sebagainya tidak ditemukan. Kemudian selang beberapa jam di rumah sakit, mayat mereka tiba-tiba hilang dari kamar autopsi. Dulu polisi sempat menyebutkan dalang dibalik semua kejahatan ini mungkin adalah Ibu tiri mereka yang tak menyukai anak-anak tirinya dan hanya mengincar harta keluarga anak-anak tersebut. Meski ini belum pasti. Lalu polisi memutuskan menghentikan penyelidikan mereka dengan berbagai alasan yang tidak masuk akal. Kasus ini pun ditutup dan lama tak muncul lagi. Dan juga baru-baru ini beredar rumor bahwa Miss Rita, guru Bahasa Inggris adalah Ibu tiri dari kedua anak ini.” terang pak Udin panjang lebar.
“Terus ayah kandungnya dimana pak? Dan kalau boleh tahu siapa nama kedua anak ini?” tanya Sarah
“Ayahnya meninggal karena kecelakaan lalu lintas dalam perjalanan menuju ke rumah sakit waktu itu. Kalau saya tidak salah ingat. Nama mereka adalah Toni dan Rio” jawab pak Udin.
“Oh, terima kasih ya pak. Eh iya oak. Kalau boleh, nanti malam kami mau mencari tahu kebenaran dari pembunuhan itu. Ini keinginan dari mendiang anak itu yang ia katakan saat pertama kami bertemu di ruang perpustakaan. Tapi kami tidak bisa masuk kesana jika tak ada kuncinya." ucap Putri.
“Baiklah, pulang sekolah saya berikan kuncinya. Tapi saya sarankan untuk berhati-hati.”
“Iya pak, terima kasih”
Sore hari sepulang sekolah sesuai janjinya pak Udin memberikan kunci serep ruang perpustakaan dan sesuai rencana pula mereka bertiga pergi ke perpustakaan sekolah malam itu.
“Kalian yakin mau masuk lagi kesana?” tanya Mila dengan keringat dingin.
“Kenapa? Takut? Ayolah Im." bujuk Putri.
“Ya sudahlah” jawab Mila pasrah.
Malam itu terasa sangat sunyi senyap, hanya terdengar suara jangkrik dan semilir angin menemani mereka bertiga. Saat mereka mulai memasuki ruang perpustakaan. Hawa dingin yang menusuk tulang mulai menyerang, di susul semerbak harum melati dan kemenyan. Sukses membuat bulu kuduk mereka berdiri. Perlahan namun pasti Sarah, Putri dan Mila memasuki perpustakaan itu seraya menutup hidung.
“Eh takut nih...” bisik Mila dengan suara bergetar.
“BERISIK!!! ” bentak Putri. Setelah mendapat bentakan itu, Mila pun tak berani bersuara lagi.
Beberapa saat kemudian angin malam terasa semakin kencang dan dingin. Keadaan terasa makin mencekam, lemari-lemari pun terlihat mulai bergetar-getar dan sosok siluet itu muncul kembali namun kali ini mereka muncul berdua dan membawa sebuah buku. Sarah mengambil buku tersebut dan membacanya, ternyata itu adalah buku harian kedua anak itu, disana pun tertulis bahwa Ibu tiri mereka menculik dan menyiksa mereka tanpa ampun dan belas kasihan.
TAP TAP TAP
Tiba-tiba dari belakang mereka terdengar suara langkah kaki. Saat mereka membalik badan ternyata itu adalah Miss Rita.
“Apa yang ia lakukan di sekolah malam-malam begini? Apa mungkin ia memang pembunuh anak tirinya dan ia tahu kalau kami ingin membongkar misteri ini, lalu ia berniat menghabisi kami juga? Oh Tuhan!!” pikir Sarah
“Wah wah, Pintar juga kalian sudah tahu sampai sejauh ini dan kalian juga berani datang mencari tahu hal ini. Kalian pasti berniat membongkar semunya dan melaporkannya ke polisi kan? Bagus! Tapi itu tidak akan terjadi! Karena nasib kalian akan sama seperti Toni dan Rio!! Kalian akan menghilang di telan waktu dan membusuk di sudut ruangan ini selamanya!! Hahahaha” teriak Miss Rita.
“Orang itu tidak waras!!” ucap Putri
“A…Ayoo pergi !” ucap Mila sambil menahan tangisnya karena ketakutan.
“Mau kemana kalian hah!? Kalian tak kan lolos!” ucap Miss Rita saat ia mengayunkan pisau ke arah Sarah. Sayang gadis itu terlambat menghindar. Pisau itu terlanjur menggores lengannya.
Tawa Miss Rita semakin keras seperti orang kesetanan, sangat berbeda saat ia mengajar di kelas begitu sabar dan lemah lembut.
BUGH!
Pak Udin memukul kepala Miss Rita dengan pemukul baseball, seketika itu juga Miss Rita jatuh tak sadar kan diri.
“Maaf aku tak sanggup menahan semua dustaku selama ini, dan aku tak mau terus-menerus ada di bawah ancamanmu!” ucap pak.Udin
“Apa maksud bapak?” tanya Mila
“Dulu saya mengetahui semua kejahatan yang ia lakukan, tapi karena ancamannya saya baru berani mengatakan hal ini pada kalian tadi. Maaf…” sahut pak Udin sambil melihat siluet dua anak itu.
“Lalu apakah bapak tahu dimana mayat mereka?” tanya Sarah
“Ya saya tahu. Mayat mereka ada di sudut kiri ruangan ini. Ditimbun oleh semen dan bebatuan.” sambung pak Udin.
Besoknya Miss Rita ditangkap dengan barang bukti buku harian yang diberikan mendiang Toni dan Rio malam itu dan juga dari pengakuan pak Udin. Ruangan itu dibongkar dan benar saja disana ditemukan tulang belulang yang tersemen. Pak Udin ikut senang karena ia sudah tak mempunyai beban lagi.
Saat penguburan jenazah Toni dan Rio, sekilas Sarah melihat siluet mereka. Mereka melambaikan tangan kepada Sarah dan mengucapkan terima kasih. Sarah membalas dengan senyuman. Akhirnya mereka tenang di alam sana.
Tamat
.
.
.
Selesai membaca tolong tinggalkan jejakmu ya😊
Jika kamu suka, jadikan cerita ini favoritmu. Like, dan komen.
Baca juga novel karya ku ya
🌼 Kirana Tetaplah Disisiku
🌼 Cinta Sepotong Donat
🌼 Rasa Cinta
🌼 Kumpulan Cerita Horror
Dukungan kalian sangat berarti bagi ku.
Jangan lupa follow instagram ku @ordinarychacha86 untuk mendapat informasi update tentang novel ini.
Kalau kalian inbox atau DM inshaAllah aku akan balas kalau nggak sibuk ya, hehehe
Terima Kasih*** 😘❤