Namaku Elisa Chandra. Nama yang terdengar cantik itu memang sesuai dengan diriku. Aku orang yang cukup bersyukur di dunia ini, aku memiliki keluarga yang menyayangiku, teman yang selalu ada untukku, dan semua kebutuhanku terpenuhi. Tidak pernah sekalipun aku merengek tentang hidupku.
Aku memiliki seorang kakak yang bernama Alisa Chandra. Kak Alisa lebih tua 4 tahun dariku. Ia adalah kakak yang sangat mengagumkan bagiku. Ia cantik, pengertian, lemah lembut, dan penuh kasih sayang.
Aku juga memiliki seorang teman laki-laki, namanya Jeremy Sarinto. Ia adalah temanku sejak aku berusia 8 tahun. Aku masih sangat ingat, pertemuan pertama kami di taman bermain.. Ia mendatangiku yang sedang bermain sendiri di ayunan. Aku dan Jeremy sangat dekat seperti saudara... tidak ada rahasia di antara kami
Namun, ada yang Jeremy tidak menyadari sesuatu... Sebenarnya, aku menyukai Jeremy. Aku juga tidak tau sejak kapan perasaan ini di mulai... Tapi kalau Jeremy tau perasaan ini... bagaimana reaksi dia nantinya ?
Di usiaku yang mencapai 20 tahun ini, aku belum juga berani untuk mengungkapkan perasaanku pada Jeremy.. Aku takut ia menjauhiku....
Suatu hari di pagi yang cerah, Kak Alisa membangunkanku untuk pergi ke kampus.
"Elisa, cepat bangun dan berangkatlah ke kampusmu. Jeremy sudah menunggu di depan."
Aku yang awalnya menutup mataku, langsung bangkit dari tempat tidurku begitu mendengar nama Jeremy...
Aku segera bersiap-siap karena takut Jeremy akan menunggu terlalu lama.
"Hosh... Jeremy.. Kau sudah.. menunggu lama ?" tanyaku begitu selesai bersiap-siap
"Santai saja, Elisa. Kau tidak. perlu terburu-buru." balas Jeremy dengan senyuman yang sudah biasa ia tunjukkan
"Sudahlah, ayo kita berangkat."
Aku berpamitan dengan kedua orangtuaku dan Kak Alisa untuk pergi ke kampus bersama Jeremy.
Aku menaiki mobil sedan berwarna hitam yang dikendarai oleh Jeremy. Saat dalam perjalanan menuju kampus, Jeremy bertanya sesuatu padaku.
"Elisa, kau ingat 2 hari lagi hari apa ?"
Aku teringat sesuatu saat Jeremy berkata seperti itu "Ah.... iya... Ulang Tahunmu yang ke-21."
Jeremy tersenyum mendengar jawabanku "Syukurlah kau masih ingat."
"....Kau ingin hadiah apa ? Aku akan membelikannya."
"Aku bertanya bukan untuk meminta hadiah padamu, tapi untuk memberikan kode."
"...Kode ? Apa maksudmu ?"
"Yah... lihat saja saat hari ulang tahunku. Ku harap kamu tidak terkejut, karena aku sudah memberimu tanda."
Aku terdiam karena tidak mengerti maksud perkataan Jeremy...
Saat sudah tiba, Jeremy menurunkanku di depan Gedung Kampus, sedangkan ia memarkirkan mobilnya di Gedung Parkiran.
"Elisa!" panggil seseorang
Aku menoleh ke arah panggilan itu, "Vio ? Kau baru datang ?"
"Iya"
Ia adalah Vio, temanku juga, kami baru kenal 1 tahun yang lalu, di kampus ini, karena Jurusan kami sama.
"Elisa, ayo kita masuk bersama." ajak Vio dengan penuh semangat
"Iya."
Di kelas, dosen sudah mulai mengajar, namun aku tidak bisa fokus. Aku terus memikirkan maksud perkataan Jeremy di mobil tadi pagi. Aku juga berpikir hadiah apa yang akan ku berikan pada Jeremy...
Vio yang duduk tepat di samping Elisa, menyadari kalau Elisa sedang tidak fokus dengan kelasnya "Elisa, kenapa melamun ? Ada masalah ?"
Aku tersadar karena pertanyaan Vio, "Ah, tidak.. tidak ada masalah.. aku hanya melamunkan sesuatu."
"Melamunkan apa ?"
"..... Sebenarnya..... 2 hari lagi Jeremy ulang tahun, aku bingung mau memberikan dia apa..."
"Mau ku bantu ?"
"Eh... boleh...."
"Baiklah kalau begitu, bagaimana kalau pelajaran hari ini sudah selesai, kita pergi ke mall ? Aku akan membantumu."
"Baiklah!"
Aku bisa sedikit lega karena ada yang membantuku untuk mencari hadiah, tapi tentang kode itu....
Aku mencoba untuk mengumpamakan ceritaku pada Vio, "Vio, kemarin kakakku cerita."
"Kakakmu ? Kak Alisa ?"
"Iya."
"Cerita apa ?"
"Kata kakakku, beberapa hari yang lalu, ada seorang laki-laki bertanya pada dia 'Kamu ingat besok adalah hari apa ?' lalu kakakku menjawab 'Hari ulang tahunmu'kan ? Kenapa ? Ingin sesuatu' setelah kakakku bertanya seperti itu, laki-laki itu membalas 'Tidak, aku hanya ingin memberi kode agar kamu tidak terkejut' nah, kalau begitu apa maksud laki-laki itu ?"
"...Hm.. itu sering terjadi di sinetron-sinetron, kalau yang aku tonton sih... maksud kode dari laki-laki itu, artinya si laki-laki itu menyukai kakakmu! Kemungkinan saat ia berulang tahun, ia akan menyatakan perasaannya pada kakakmu!"
Aku tersentak dan tidak bisa berkata-kata, seketika aku merasa wajahku memanas, dan kedua sudut bibirku terangkat...
"Eh... Elisa, kau kenapa ? Kau sakit ?"
Aku tersadar, "Oh, tidak.. hanya saja aku senang, kakakku sudah punya pacar."
"Woah, jadi teoriku benar ?"
"Justru dari teorimu aku yakin Kak Alisa sudah punya pacar! Pantas saja akhir-akhir ini dia suka tersenyum sendiri, ternyata ini alasannya."
"Oh.. begitu... selamat untuk kakakmu..."
Setelah semua mata pelajaran hari ini selesai, aku berniat pergi ke mall bersama Vio. Saat berjalan keluar kelas, aku sudah bisa melihat jelas sosok Jeremy yang menungguku sambil bersandar di dinding.
"Jeremy!" panggilku
"Sudah selesai kelasmu ?"
"Sudah!"
"Ayo pulang, aku antar."
"Tidak, hari ini aku ada janji dengan Vio. Aku lupa memberi tahumu, maaf ya... Tidak apa-apa kan kau pulang sendiri ?"
"... Begitu ya.. ya sudah, kau jalan-jalan saja, aku tidak apa-apa pulang sendiri."
"Baiklah kalau begitu, sampai jumpa besok." ucapku langsung menarik tangan Vio dan pergi dari pandangan Jeremy
Setelah menghilang dari pandangan Jeremy, aku dan Vio berhenti melangkah.
"Dia tidak akan curiga ?" tanya Vio
"Aku tidak terlalu peduli mau dia curiga atau tidak. Dia pasti tau koq aku akan memberikannya hadiah ulang tahun. Karena aku sudah pernah berjanji padanya dulu."
"Begitu ya...."
"Kalau begitu, ayo kita langsung pergi ke mall! Aku harus segera kembali sebelum malam tiba!"
"Iya."
Di mall, aku dan Vio sudah berkeliling ke banyak tempat tapi belum juga menemukan hadiah yang cocok untuk Jeremy. Awalnya aku ingin memberinya jam tangan, tapi aku sudah pernah memberikannya, baju, topi, sepatu, bola basket, gitar, semuanya sudah pernah aku berikan padanya sebagai hadiah ulang tahun.
Saat sedang berkeliling, aku teringat sesuatu "Ah... aku terpikirkan sesuatu... Jeremy pernah bilang kalau saat ini dia sedang belajar melukis, lebih baik aku belikan dia alat melukis!"
"Ide bagus, kalau begitu, ayo segera ke toko alat lukis!" balas Vio
"Iya." ucapku bersemangat
Karena aku akan memberikannya peralatan melukis, bagaimana kalau aku melukis sedikit untuk dia ? Sepertinya akan bagus!
Banyak hal yang aku ketahui tentang Jeremy, banyak juga yang Jeremy ketahui tentang aku. Aku mengingat setiap hal yang ku tau tentang Jeremy, karena aku sudah menganggapnya lebih dari teman. Terkadang, aku kesal karena Jeremy tidak pernah menganggapku sebagai seorang perempuan. Di mata Jeremy, aku benar-benar hanya seorang sahabat atau adik, tidak lebih. Tapi 2 hari lagi..... aku sudah tidak akan menjadi temannya lagi... Aku sangat tidak sabar menantikannya.....
Setelah penantianku yang terasa lama, akhirnya hari ulang tahun Jeremy tiba.
"Elisa, apa kamu sudah siap ?" tanya Kak Alisa yang sudah siap dan sedang menungguku di Ruang Tamu
"Sebentar kak!" teriakku dari kamarku
Aku masih sibuk merias diriku karena bagaimanapun, hari ini akan menjadi hari spesial... Hari ini adalah pertama kalinya aku merias diri dengan sungguh-sungguh.
Memakai gaun biru yang mencapai telapak kakiku dengan model gaun seperti seorang putri. Rambut bergelombangku yang digerai dan mencapai pinggang dihias dengan sebuah pita kecil untuk poniku...
Aku bercermin dan melihat diriku sendiri. Aku sendiri bahkan tidak mengenali diriku saat ini....
Setelah selesai berias, aku keluar dan turun ke Ruang Tamu. Ketika aku menuruni tangga, semua anggota keluargaku tercengang melihatku. Mata mereka terbuka lebar dan tidak berkedip sama sekali.
"Wah... Apa ini benar-benar Elisa ?" tanya ibuku
"Tentu saja, aku putri ibu."
"Kalau kamu berias seperti ini, kamu benar-benar seperti adikku." ucap Kak Alisa dengan senyum
Hari ini Kak Alisa juga tidak kalah cantik denganku. Gaun putih kak Alisa yang mencapai telapak kakinya juga memiliki model yang sama denganku. Rambut lurus kak Alisa digerai dan mencapai pundaknya tidak dihiasi apapun tapi terlihat sangat alami...
"Kakak hari ini juga sangat cantik." ucapku
"Tidak secantik kamu." balas Kak Alisa
Karena semua anggota keluargaku sudah siap, kami langsung menuju ke Rumah Jeremy.
Ketika sampai di Rumah Jeremy, keluarga kami di sambut hangat oleh keluarga Jeremy. Ayah dan ibuku sibuk berbincang dengan orangtua Jeremy. Aku yang tidak melihat Jeremy, pergi mencarinya.
Saat melewati taman, aku melihat Jeremy. Aku terdiam sejenak karena penampilan Jeremy. Ia memakai jas yang membuatnya terlihat berwibawa, rambutnya yang rapi membuat dia terlihat dewasa, dan Jeremy memiliki tubuh yang sempurna sebagai seorang laki-laki. Namun, Jeremy terlihat sedang mondar-mandir, dan terlihat gelisah. Aku mendatangi Jeremy
"Jeremy!" panggilku
Jeremy terkejut mendengar panggilanku
"Elisa ? Apa yang kamu lakukan di sini ?"
"Bukankah seharusnya aku yang bertanya padamu ? Kau yang berulang tahun, kenapa kau ada di sini ?"
".....Tidak sedang apa-apa....."
Jeremy terlihat kebingungan, mungkin ia bingung bagaimana cara untuk menyatakan perasaannya...
"Ppffttt" tawaku tanpa sadar
"...Kau kenapa tiba-tiba tertawa ?"
"Tidak apa-apa, kenapa ? Tidak boleh ?"
"Tidak, boleh koq."
Aku memberikan hadiah yang sudah ku bungkus dengan rapi kepada Jeremy, "Ini."
Jeremy menatap hadiahku dan mengambilnya
"Itu hadiah ulang tahunmu, semoga kau menyukainya... Selamat Ulang Tahun, Jeremy."
Jeremy terdiam sejenak, ia hendak berbicara padaku, namun belum juga ia mengatakan sepatah kata, ia langsung berlari melewatiku. (tap tap tap)
"Jeremy ?! Kau mau kemana ?" tanyaku yang terkejut karena Jeremy berlari sekencang angin
Aku berjalan ke arah yang mungkin di lewati Jeremy, dan saat itu juga.....
"Aku menyukaimu......... Alisa....." ucap Jeremy yang berlutut di depan Kak Alisa
Aku tersentak melihat Jeremy dan Kak Alisa....
"Jeremy.... aku... tidak ingin berpacaran." jawab Kak Alisa
"....Kalau begitu aku akan membuatmu ingin berpacaran." ucap Jeremy yang bangun dari posisinya. Jeremy menarik Alisa ke pelukannya dan mencium bibir Alisa.
Aku... tidak percaya dengan hal yang ku lihat sekarang.. Jadi selama ini, Jeremy menyukai Kak Alisa ? Bukan aku ? Lalu kode itu, itu untuk Kak Alisa ? Ia mengingatkanku agar tidak kaget jika dia menyatakan perasaannya pada Kak Alisa ? Jeremy...... apa aku bisa menyamakanmu dengan baj*ngan ? Atau aku yang terlalu percaya diri ?
Alisa melepas pelukan Jeremy.
"Jeremy, apa yang kamu lakukan ? Aku lebih tua darimu ! Berperilakulah lebih sopan" tanya Alisa
"Aku menyukaimu, sangat menyukaimu. Aku tidak peduli kau lebih tua atau lebih muda, aku hanya menyukaimu."
"Apa hubungan kita tidak apa-apa bagi Elisa ?"
"Apa maksudmu ? Elisa akan sangat senang, ia dari dulu mengharapkan kita bertiga menjadi keluarga."
"...Bukankah Elisa menyukaimu ?"
"Tidak, ia tidak mungkin menyukaiku. Lagipula aku yakin ia sadar kalau aku tidak menganggapnya sebagai perempuan...."
"Tapi..."
"Alisa, ku mohon, beri aku kesempatan, aku ingin membuatmu bahagia, dan aku ingin bahagia bersamamu, ku mohon...."
".........Baiklah....."
Raut wajah Jeremy terlihat sangat bahagia, begitupun dengan Alisa. Walaupun pada awalnya Alisa menolak, tapi ia juga tidak dapat menyembunyikan fakta bahwa ia juga menyukai Jeremy...
Pesta ulang tahun Jeremy berakhir dengan sangat menggembirakan. Namun, Jeremy menyadari kalau selama berlangsungnya pesta ulang tahun, Elisa tidak hadir. Jeremy pun mencari Elisa karena keluarganya juga sudah mau pulang.
Jeremy melewati taman rumahnya yang terdapat ayunan dan mendapati Elisa sedang duduk di ayunan itu. Namun, raut wajah Elisa terlihat sangat sedih. Jeremy mendekati Elisa dengan perlahan
"Elisa ?"
Aku tersentak karena tiba-tiba Jeremy datang, "Jeremy ? Kenapa di sini ?"
"Hei, pestanya sudah selesai, keluargamu sudah mau pulang, cepat keluar, mereka menunggumu."
".... Bisa aku bicara sebentar ?"
"Haduh.. ini sudah malam, besok saja."
"....Terakhir kali... mungkin ini yang terakhir kali." ucapku yang tanpa sadar meneteskan air mata
Jeremy terkejut karena aku yang tiba-tiba meneteskan air mata
"He..hei.. apa ada ? Ada yang membuatmu sedih ? Apa ? Siapa ?" tanya Jeremy melangkah mendekatiku
"..... Jeremy, kau ingat pertama kali kita bertemu ? Kau mendekatiku seperti ini dan kau mengajakku bermain bersama."
"Iya aku ingat, kenapa ?"
"Aku rasa.... dari situ... di mulai..."
"Di mulai ?"
"Perasaanku padamu...." jawabku dengan tangisan yang semakin deras
Jeremy tersentak dengan ucapanku
"Perasaanmu ? Kau menyukaiku ?" tanya Jeremy
Aku bangun dari posisi dudukku, "Iya, aku menyukaimu, sangat menyukaimu! Setiap saat, setiap detik bersamamu terasa indah untukku! Tapi aku tau, kau tidak akan pernah menganggapku perempuan... Kau tau ? Aku yang bodoh ini mengira kalau hari ini kau akan menyatakan perasaanmu padaku, tapi... ternyata kau menyatakannya pada kakakku! Kau tau betapa malu, kesal, dan bencinya aku ? Kau tau betapa menyesalnya aku tidak mengatakan perasaanku dari awal ?!" ucapku dengan tangisan yang sangat deras
".......Elisa.... maaf... aku benar-benar minta maaf."
"Jangan minta maaf, Jeremy, aku yang tidak maju dari awal, aku juga yang tidak mengatakan apa-apa, dan menerima semua perilakumu padaku. Semua itu salahku. Tapi Jeremy, aku benar-benar tidak menyangka kamu akan menyatakan perasaan ke kakakku, meskipun tau itu semua salahku, aku tidak bisa berhenti merasa kesal dan benci pada orang lain! Aku sudah menahan perasaan selama bertahun-tahun, tapi ini balasannya.... Jika boleh memutar waktu, aku tidak akan mau bermain bersamamu, aku tidak mau bertemu denganmu, karena bagaimanapun aku berusaha mendekatimu, kamu tidak akan pernah menganggapku sebagai perempuan. Apa aku benar ?" meskipun aku mengucapkan kata-kata seperti ini, aku tidak bisa menahan air mataku yang tidak tau akan berhenti kapan...
".....Maaf... aku juga tidak tau kenapa aku tidak menganggapmu sebagai perempuan."
"Kau sudah terlalu nyaman denganku, kau menganggapku sahabat sekaligus saudara. Kau sudah tau semua tentangku, kau mengenalku terlalu baik. Maka dari itu, kau tidak bisa menganggapku sebagai perempuan. Soal bagaimana aku menyukaimu, itu adalah perasaan yang muncul karena cinta pada pandangan pertama. Awalnya ku kira hanya bertahan sebentar, namun... ternyata bisa selama ini..... Aku menyesal terlalu dekat denganmu. Bagi laki-laki dekat dengan perempuan dan membagi rahasianya itu mungkin hal yang biasa. Namun, pernahkah kamu memikirkan perasaan perempuan ? Perempuan itu akan menganggap dirinya spesial bagimu karena kamu terbuka pada perempuan itu... Tidak'kah kamu memikirkannya ?"
"..........Maaf, aku benar-benar tidak bisa berkata-kata lagi."
Aku mengusap air mataku yang dari tadi tidak berhenti mengalir, "Maaf, mungkin ini terakhir kalinya kita berbicara seperti ini, ke depannya, aku tidak mau semakin tersakiti..." ucapku pergi meninggalkan Jeremy
Jeremy.... ia bahkan hanya bisa berkata maaf dan maaf. Ia sama sekai tidak menjelaskan apa-apa, ia tidak menahanku. Bila Kak Alisa yang ada di posisiku, pasti Jeremy akan berlutut memohon pada Kak Alisa'kan ? Sekarang aku ragu.... apa kita benar-benar sahabat ? Jika benar, kenapa dia membiarkan sahabatnya pergi begitu saja ? Apa karena dia tau dia bersalah ? Tidak.... setidaknya berikan penjelasan jika aku memang sahabatmu, Jeremy....
Beberapa hari kemudian, Elisa dan Jeremy sudah tidak lagi saling menghubungi. Elisa pergi ke luar negeri untuk belajar. Keluarganya bingung karena sifat Elisa berubah seusai pesta ulang tahun Jeremy, Elisa juga keluar dari rumah Jeremy dengan mata yang sangat bengkak. Namun, satu-satunya keinginan Elisa saat itu adalah pergi keluar negeri untuk belajar, merekapun tidak bisa menghentikan Elisa.
Elisa salah karena tidak mengatakan apa-apa pada Jeremy. Jeremy salah karena tidak memikirkan perasaan Elisa. Karena kesalahan keduanya, mereka kehilangan satu sama lain, dan tidak akan pernah kembali seperti dulu..... Mereka kehilangan karena kesalahan, karena kesalahan mereka kehilangan. Jika mereka menyadari kesalahan itu lebih awal ? Akankah mereka berakhir seperti ini ? Sepertinya tidak... karena keduanya memang mengetahui kesalahan mereka dan tidak mengubahnya.....
~SELESAI