Kalian pernah merasa bahwa mitos sosok penunggu itu hanyalah tipuan belaka? yahh akupun pernah berpikiran seperti itu hingga akhirnya akupun mempercayainya bahwa sosok penunggu ataupun makhluk lain itu memang benar adanya.
Aku merupakan alumni dari salah satu sekolah seni ternama di Jawa Barat, yapp disini aku tidak akan menyebutkan letak lokasinya dimana. Aku merupakan siswi alumni dari jurusan seni tari angkatan 2018. dan aku merupakan seseorang yang selalu berfikir logis jadi bisa dibilang akutuh nggak terlalu percaya sama yg namanya hal pantangan kaya gitu. disekolahku sangat terkenal dengan sosok urband legend penunggu lantai 3 yakni seorang gadis cantik yang selalu memakai selendang merah. waktu itu kami sangat dilarang memakai selendang merah saat latihan menari pada waktu maghrib dan apabila kami ada latihan sampai malam setiap perempuan diwajibkan untuk mengikat rambut. karena konon katanya ketika itu semua dilanggar maka sosok penunggu lantai 3 akan menghampiri dan ikut menari.
Uji Levelling atau biasa disebut dengan UAS pun tiba. kamipun mulai sibuk untuk menghadapi ujian dengan cara berlatih sampai larut malam bahkan sampai menginap di studio sekolah kami.nggak hanya jurusan kami bahkan dari studio karawitan pun terdengar suara gambelan yang menandakan bahwa jurusan karawitan pun sedang berlatih. waktu itu aku mendapatkan UAS tari Badaya dan tarian itu terkenal dengan kesakralannya karena merupakan adopsian dari tari Bedhaya Ketawang dari Jawa. waktu itu kami latihan sampai larut malam di pendopo namun aku mengabaikan pantangan itu. kenapa? karena waktu itu aku berfikirnya mana ada hantu menari (bodohnya aku). sekitar jam 23:38 WIB tiba-tiba hal janggal terjadi yang dimulai dari suara gambelan di lantai 3 (padahal lantai 3 ga ada yang latihan sama sekali), lonceng berbunyi, bahkan selama kami latihan terus digonggongi anjing yang saling bersahutan. namun waktu itu aku ga menghiraukan semua itu karena waktu itu aku terlalu fokus untuk latihan agar lebih mendapatkan rasa dari tarian yang mau aku bawakan itu.
pukul 2:00 WIB aku tiba di kostku dan akupun langsung tidur karena merasa sangat lelah hingga akhirnya ngga kerasa sudah tiba di pagi hari untuk pergi sekolah. seperti wanita pada umumnya pasti dikamarnya selalu ada cermin besar entah untuk berdandan ataupun mencoba pakaian. waktu itu aku merasa lain di cermin kamar kostku karena waktu itu merasa kaya bukan aku yang sebenernya bahkan waktu itu aku sempet bilang dalam hati ko aku bisa secantik ini. nah satelah itu anehnya aku sering ke kamar mandi lantai 3 dan itu hanya sekedar bercermin ataupun merasakan suasana sejuknya angin dengan pemandangan pohon pinus dan jalan tol dari atas. hal gilanya sampai aku pernah berfikir bahwa sepertinya enak untuk gelantungan dari lantai 3 terus badanku terkena angin yang sejuk ini dan itu berlangsung hingga beberapa hari. sampai akhirnya UAS Praktik pun tiba, aku dan semua temen'ku siyap untuk tampil dengan percaya diri di sebuah auditorium. disanapun ada pantangan setelah kami bermake-up kami dilarang untuk bercermin di tempat rias belakang panggung auditorium. karena waktu itu kami sibuk menata rias dan akhirnya melupakan pantangan itu. hal ganjil pun terjadi dimulai dari beberapa orang kesurupan bahkan yang paling ga masuk akal lagi ada salah satu temanku yang ga hadir waktu ujian karena dia terkendala sanggul tertinggal di rumahnya dan dia terjebak diluar ga bisa masuk auditorium tapi kelompok itu malah terlihat lengkap. lantas siapa yang ikut nari? entahlah. terus ada juga yang ikut nari namun dengan kondisi tanpa kepala. sedangkan aku sendiri sehabis perform nggak sadarkan diri. setelah aku sadar badanku sangat kelelahan dan anehnya aku tiba' lumpuh. dan akhirnya salah satu temanku ada yang memanggil penjaga sekolah dan berusaha untuk menyembuhkanku namun hasilnya nihil. dan si penjaga sekolah pun bertanya,
penjaga sekolah : "neng selama ini pernah ngelakuin apa?"
aku :"aku selama ini ga pernah ngelakuin apa' pak selain latihan!"
temenku :"dia beberapa kali melanggar pantangan pak yang ga seharusnya dilakuin malah dilakuin".
kata penjaga sekolah kalo akutuh terlalu arogan sampai akhirnya aku mengusik si gadis berselendang merah dan akupun diminta untuk meminta maaf agar aku nggak pernah melakukan kesalahan yang sama. akhirnya akupun pergi kelantai 3 dengan cara di bopong sama bapak penjaga sekolah untuk meminta maaf kepada gadis selendang merah itu dan akupun udah bisa berjalan normal.
keesokan harinya akupun pergi ke kantin dan aku bercerita kepada salah seorang ibu kantin yang telah lama dia berjualan di sekolahku. dan konon si gadis selendang merah itu dulunya seorang siswi jurusan tari sekitar tahun 80-an bernama sekar namun dia dihamili oleh salah satu guru pengajar di sekolah. hingga akhirnya dia memutuskan bunuh diri dengan cara mengikatkan selendang merah di lantai 3 yakni ruangan yang sekarang dijadikan untuk jurusan padalangan hingga sekarang selendangnyapun masih ada. dan kononnya sudah beberapa kali selendang dibuang ataupun dibakar tetap kembali lagi dan pihak sekolahpun untuk mengunci lantai 3 dan baru dibuka sekitar tahun 2016.