Disetiap sekolah pasti ada cerita atau kasus yang mistis tersendiri yang diceritakan dari mulut ke mulut sehingga menimbulkan teori-teori yang berbeda.
Walaupun demikian sekolah tetap menjadi pilihan orangtua untuk menitipkan anaknya agar bisa menimba ilmu di sana dan tidak mengindahkan cerita-cerita mistis yang mereka dengar. Karena biasanya mereka tidak percaya akan hal mistis atau mereka berfikir jika kita disana berniat baik dan bisa menjaga sikap maka semestinya tidak akan terjadi apa-apa.
***
Sekolah saya termasuk sekolah yang cukup baru karena kira-kira berdiri tahun 2000-an dan menjadi satu-satunya SMA yang berdiri di kabupaten itu.Lokasinya itu menanjak seperti di bukit namun masih ada rumah penduduk disekitar sekolah itu. Jadi jika dilihat dari bawah seperti gunung yang di potong atasnya sedikit ( bayangin saja).
Waktu itu aku masih baru memasuki SMA sehingga harus melakukan serangkaian ritual salah satunya adalah MOGD.
" Hufhhh hari ini mungkin adalah hari yang melelahkan untukku, kenapa tidak langsung saja sekolah dan mulai pelajaran? Sudahlah aku harus cepat berangkat." Aku menuruni tangga dengan membawa tas yang cukup besar karena akan menginap di sekolah.
" Bu, aku berangkat ya? besok pagi aku baru pulang karena akan menginap di sekolah." Ucapku seraya mencium tangan ibuku.
" Iya, hati-hati jangan sembrono! Mengerti?" Nasihat dari ibuku.
" Iya Bu, assalamu'alaikum"
" Waalaikumsalam" lalu aku berangkat menuju sekolah.
Aku berangkat dengan mengendari motor sambil menikmati udara pagi yang sangat sejuk. Sampai di sekolah aku langsung menuju lapangan atas ( lapangannya ada 2, lapangan atas dan bawah. Yang atas itu masih baru dibangun dan itu puncak tertinggi di sekolahku)
Setelah beberapa saat dan semua sudah kumpul, acara penjelajahan dimulai. Aku dan kelompokku perlahan berjalan menelusuri rute dengan berbekal denah yang diberikan oleh pembina.Perlahan kami memasuki hutan dan sudah melewati beberapa pos untuk beristirahat.
Hari sudah semakin sore kami sudah selesai berjelajah dan berlomba, kini semua berada di kelas yang sudah disiapkan untuk beristirahat.
" Ehh ayo mandi sebentar lagi udah gelap " ucap salah satu temanku.
" Ayo, badanku sudah lengket semua" ucapku menyetujuinya.
Kami pun menuju kamar mandi sekolah, saat sudah berada di kamar mandi ternyata airnya tinggal sedikit hanya cukup untuk satu orang.
" Yahh air nya tinggal sedikit gimana nihh?" Ucap temanku( jadi hanya ada aku dan satu temanku disitu.
" Gini saja aku mandi duluan kamu nunggu disini nanti aku temani kamu cari kamar mandi yang ada airnya, bagaimana?" Usulku.
" Ya sudah sana mandi, aku tunggu disini. Jangan lama-lama." Ucap temanku yang bernama tari.
" Iya..iya bawel"
Aku pun mandi, dan suasana sangat sepi. Saat aku mandi terdengar suara air yang mengalir dari toilet sebelahku. Dan aku berfikir itu temanku yang mandi, aku pun melanjutkan untuk mandi.
Namun setelah beberapa saat suaranya hilang dan aku tidak mendengar suara orang mandi lalu aku berinisiatif untuk memanggil temanku.
" Tar?...tari?....tar?..." tidak ada jawaban. Aku langsung bergegas untuk menyelesaikan ritual mandi ku.
Setelah selesai aku keluar dari kamar mandi namun tidak ada orang di situ temanku pun tidak ada. Aku melihat toilet sebelahku juga tidak ada orang di situ dan tidak ada air yang mengalir ataupun air yang sudah tertampung.
" Lahh...... tadi aku dengar suara air mengalir tapi kok tidak ada airnya" gumanku.
" Mungkin aku salah dengar tapi jelas-jelas aku tadi mendengar nya, sudahlah aku kembali saja" namun saat aku mau melangkah aku mendapati tempat sampah yang di dalamnya ada pembalut yang dibiarkan terbuka tidak dibungkus plastik ataupun di gulung.
" Ihhhhh.... Buang begituan sembarangan, apalagi ini disekolah." aku langsung menuju ke kelasku dengan cepat karena aku sudah mulai merasa tidak enak.
Aku sampai di kelas dan mendapati temanku sudah duduk di kelas seorang diri dan terlihat sudah mandi.
" Kamu tadi ninggalin aku sendiri?"
" Hehehe iya maaf karena kamu lama sih keburu aku tidak dapat air untuk mandi" ucap tari.
" Jahat sekali anda" aku kesal karena ditinggal sendiri.
" Maaf dehh"
" Iya aku maafin, berarti bukan kamu yang buka airnya?"
" Bukan, memang kenapa?" Jawab tari
" Hmmmm tidak apa-apa"ucapku namun masih terfikir kan kejadian tadi.
Malampun tiba, acara yang ditunggu-tunggu sudah siap.Semua peserta mengelilingi api unggun dan bernyanyi bersama setelah selesai dilanjutkan dengan pementasan seni yang ditampilkan oleh setiap kelompok.
Semua berada di lapangan tidak ada yang berada di kelas saat acara pementasan di mulai, namun karena aku dan tari tidak ingin melihat pementasan tersebut, kami memutuskan untuk tetap berada di kelas sambil tiduran.
Kelas yang aku tempati dan lapangan berjarak lumayan jauh jadi kami hanya mendengarkan sayup-sayup suara lagu diputar dari arah lapangan.
" Kapan pementasan diselesaikan? Aku sudah lelah" ucapku
" Sama aku juga" ucap tari.
" Ini bau apa sih?" Tanyaku.
" Emang bau apa? Aku tidak mencium"
" Ehh ini bukannya bau dupa ya?" Aku sambil mencium-cium baunya.
" Hidungmu bermasalah ya?" Bukannya membenarkan argumenku malah mengejek aku. Aku hanya melirik sekilas dan kembali menatap langit-langit.
Anehnya aroma dupanya menghilang, tidak berapa lama muncul lagi dan kali ini tari menciumnya.
" Aku mencium bau dupa ternyata hidungmu tidak bermasalah"
" Hmmmm" aku sudah malas untuk menanggapinya.
Namun tiba-tiba ada suara orang berjalan. Kami hanya terdiam, karena berfikir jika ada orang yang lewat. Tidak berselang lama terdengar suara orang berjalan lagi lalu tiba-tiba terdengar seperti berlari.
Aku dan tari saling pandang kami menegang saat melihat bayang-bayang orang berdiri di depan pintu kelas tidak bergerak.
" Ada yang bisa kami bantu?" Tanyaku pada orang tersebut. Namun tidak ada jawaban. Malah bayangan itu nampak berlari namun anehnya tidak ada suaranya padahal tadi saat dia berlari suaranya sangat keras.
"Mungkin salah kelas dia lupa ha..ha..ha.." ucap tari dan tertawa yang terdengar hambar.
"Mungkin" ucapku membenarkan.
Lalu kami kembali berbaring. Tidak lama kemudian ada yang mengetuk pintu kelas.
Tok..tok..tok
" Siapa?" Tanyaku. Tidak ada jawaban sama sekali.
" Kok perasaanku tidak enak ya" ucap tari.
"Hushhh diam" ucapku. Ketukan pintu terdengar lagi.
Tok...tok..tok
" Siapa sihhh?" Tanyaku.
" Mana aku tahu" jawab tari dengan entengnya. Aku beranjak mendekati pintu dan tari mengekor.
Terlihatlah seorang kakek yang membawa tongkat sambil membungkuk sampai wajahnya tidak terlihat.
" Kek, ada yang bisa saya bantu?" Kakek itu diam tidak menjawab.
" Kek?" Panggilku.
" Mungkin dia tidak bisa bicara" ucap tari.
" Kalau memang yang diucapkan teman saya benar, jawab saja pertanyaan saya dengan ketukan tongkat kakek. Satu ketukan untuk jawaban iya dan dua ketukan untuk jawaban tidak. Bagaimana kek?" Tanyaku.
Tok
Kami pun merasa lega karena kakek masih bisa di ajak komunikasi.
" Kenapa kakek berada di sini? Apakah ada urusan?"
Tok
"Tapi urusan apa" tanya tari padaku.
" Mana aku tahu" jawabku.
" Hmmmm... apakah urusan kakek disini karena menunggu sekolah ini"
Tok
" Ohhh ternyata" ucap tari.
" Sejak kapan kakek menjadi petugas di sini, apakah sudah dari awal sekolah ini berdiri?" Tanyaku.
Tok...tok
" Berarti masih baru?" Tanyaku lagi.
Tok...tok
Dari sini kita mulai merasa tidak enak, lalu tiba-tiba tari melemparkan pertanyaan.
" Apakah kakek sudah disini sejak ratusan tahun?" Tanya tari gugup.
" Tariii"
" Hanya bercan..." Belum sempat menyelesaikan ucapannya suara ketukan terdengar.
Tok
Kami gemetaran mendengar jawaban dari kakek tersebut yang sedari tadi menunduk. Entah kenapa kami tidak lari namun malah melempar pertanyaan lagi.
" Apakah kakek disini sendiri?" Tanya tari.
Tok..tok
Kami saling pandang, keringat sudah bercucuran.
" Kakek disini bersama berapa orang? Satu ketukan untuk satu teman" ucapku.
Tok..tok...tok to tok tok tok tok tok tok tok tok tok tok tok tok tok tok tok to tok tok tok tok tok tok tok tok tok tok tok tok tok tok tok to tok tok tok tok tok tok tok tok tok tok tok tok tok tok
Bersamaan dengan suara ketukan yang tidak berakhir kakek itu mulai menegakkan badannya, kami perlahan berjalan mundur menuju lapangan.
Terlihat wajah yang di penuhi rambut dengan mata yang merah sedang menatap tajam seolah sedang marah kepada kita. Suara ketukan tetap terdengar kami tetap berjalan mundur. Lalu kakek itu berbicara.
" PERUSUHAN"
Kami pun langsung lari menuju lapangan dengan sangat cepat sambil berteriak.
"Aaaaaaaaaaaaa"
"Aaaaaaaaaaaaa"
Setelah kami tepat berada di lapangan sontak semua menolehkan kepalanya menatap kami dengan datar nafas kami tersengal-sengal. Namun tiba-tiba semua siswa mendadak berteriak histeris sambil menangis.
" Aaaaaaaaaaaaa hiks... hiks..aaaaa" kami kebingungan dengan semua yang terjadi.
Terlihat pemain barong yang lagi tampil mulai bersikap aneh, pemain barong itu tidak terusik sama sekali dengan teriakan siswa tersebut malahan semakin lincah memainkan barongnya.
Kami ketakutan melihat semua kejadian itu lalu aku dan tari ditarik oleh salah satu guru yang mengerti tentang hal-hal yang seperti itu untuk menjauh dan melafalkan do' a-do' a.Kami menurutinya.
Kami menunggu semua itu berakhir kira-kira 2 jam-an itu pun masih ada beberapa yang belum sadar. Semua disuruh masuk ke kelas untuk beristirahat
" Bagi yang sudah sadar langsung masuk ke kelas dan jangan keluar, pintu ditutup rapat" kata guru pendamping.
" Iya, pak" ucap serentak siswa.
Semua berhamburan menuju kelasnya masing-masing. Namun saat semua sudah mau memejamkan mata, kami disuruh pindah kelas yang berada di samping ruang guru atas.
(Ruang yang paling atas itu ditempati kelas X dan di sampingnya ada lapangan yang luas lalu dibawahnya ditempati sebagian kelas XI, ruang guru, dan koprasi sekolah. Lalu ada tangga yang tinggi untuk penghubung kelas bawah. Ruang bawah ditempati kelas XII dan Kelas XI, masjid, dan ruang guru( jadi ada 2 ruang guru). Lanjut.)
Semua pindah ke ruang kelas yang sudah di sediakan. Kami menurut saja karena keadaan masih sangat rawan.
" Yaampun ini jam berapa sih" tanah tari. Aku melihat jam di ponselku.
" Ini jam 01:00 pagi" jawabku santai.
" APA" tari kaget dan sedikit berteriak.
" Jangan teriak!" Ucapku.
" Iya, maaf" untung saja kami berada jauh dari kakak pembina.
Kami memasuki kelas tersebut dan berniat untuk langsung tidur. Terdengar kakak yang berjaga mondar-mandir di depan pintu. Aku mendengar salah satu kakak yang berbicara.
" Ini adalah pertama kalinya sekolah ini mengadakan acara bermalam di sekolah ini" ucap kakak 1
" Iya, tidak aku sangka menjadi seperti ini" ucap kakak 2. Tidak terdengar lagi suara percakapan dua insan itu karena sudah pergi dari depan pintu.
Semua hampir terlelap dalam mimpi namun tiba-tiba pintu kelas di buka dengan sangat keras
BRAKKK
Semua langsung menoleh ke asal suara. Terlihatlah salah satu siswa yang masih kesurupan dengan rambut acak-acakan dan perlahan berjalan mendekat sambil membungkuk lalu berkata.
" PEGANGGU" tersirat kemarahan yang teramat dalam.
Kami semua terdiam mematung sambil saling berpelukan tidak ada yang berani melihatnya. semua siswa disetiap ruangan sudah pindah di kelas bawah dekat masjid, tinggalah kelompok kami yang masih berada di atas.
Kami semua lemas karena ketakutan. Terlihat siswa tersebut duduk di bangku guru menatap pintu masuk seolah sedang berjaga agar tidak ada yang masuk. Hingga kami mendengar ada yang menyuruh kami lewat pintu belakang untuk keluar dari ruangan itu dengan berbisik.
" Ayo semua keluar lewat pintu belakang tapi pelan-pelan" semua pun mengikuti anjuran itu, aku dan tari berada di paling belakang. Saat aku dan tari sudah berada di ambang pintu tiba-tiba tanganku ada yang menarik masuk lagi. Aku kaget setengah mati saat mengetahui yang memegang tanganku adalah siswa tadi dan dia bilang.
" Ketangkap, hahahahha" aku lemas seketika setelah mendengar suara itu.
Namun dari arah belakang ada guru yang menyelamatkan aku, aku pun bisa terlepas dari genggamannya.
Aku langsung keluar dan berkumpul kembali bersama kelompokku.
" Hosh hosh hosh" nafasku memburu.
" Yaampun kamu tidak apa-apa" tanya teman ku dan hanya aku jawab dengan gelengan.
" Baiklah kalau sudah lengkap kalian segera turun ke bawah dan menempati kelas tepat di samping masjid. Turun dengan pelan jangan ada yang bersuara gunakan penerangan lewat lilin ini jangan ada yang tertinggal semua berpegangan tangan satu sama lain. Apapun yang terjadi jangan menaiki tangga lagi tetap turuni tangga dan jangan bersuara sedikitpun" ucap pembina.
" Baik" ucap kami serentak.
Kami pun perlahan menuruni tangga tanpa hambatan sampai di pertengahan tangga kami melihat ada pocong yang sedang berdiri ditengah jalan dan tidak bergerak sama sekali.
Kami pun ragu untuk melanjutkan langkah, kami hanya bisa berisyarat untuk tetap melanjutkan langkah, namun ada teman kami yang berteriak
"Aaaaaaaaa"
lalu melepaskan diri dari kelompok dan berlari menaiki tangga kami hanya bisa terdiam sambil menatap kepergiannya tanpa bisa menahan untuk mengejar ataupun bersuara untuk memperingati.
Setelah tidak terlihat lagi punggungnya kami meneruskan perjalanan dan masih berhadapan sesosok yang sangat menyeramkan.
Tiba-tiba terdengar suara teriakan yang sangat keras, sontak kami melihat ke asal suara tersebut.
" Aaaaaaaaaaaaaaaaaaaa"
Terlihat teman kami yang tadi berlari sedang berdiri mematung lalu perlahan mendekati pembatas tangga dan membenturkan kepalanya hingga darah mengalir begitu derasnya. kami ketakutan, kami hanya bisa menangis melihat semua itu. Lalu dengan berat hati kami melanjutkan langkah kami.
Sosok itu tidak terlihat jadi kami leluasa untuk berlari karena sudah tidak tahan lagi dengan keadaan.
Kami berlari dengan sekuat tenaga, saat hampir selesai menuruni tangga ada suara yang menggelinding. Aku menoleh dan melihat ke atas, aku terkejut melihat pocong yang menggelinding menuju kearahku.sontak aku langsung berlari menuruni tangga seorang diri dan melepaskan tanganku. Lilin masih berada di tanganku karena aku yang bertugas membawa lilin tersebut.
Terdengar suara teriakan temanku dan di selingi suara cekikikan yang sangat keras. Aku tetap berlari sekuat tenagaku sambil menjaga lilin agar tetap menyala. Namun aku tersandung lalu terjatuh, darah keluar dari lutut dan hidungku. Perlahan penglihatan ku buram lilin pun padam.
Beberapa saat kemudian terdengar suara orang memanggilku.
" Nak..nak"
"Hufhh hufhhh hufhh" aku bernafas tidak teratur kepalaku terasa sangat sakit.
" Bagaimana keadaanmu nak" tanya orang yang menjaga UKS.
" Aku baik-baik saja, apa yang terjadi dengan saya pak?" Tanyaku.
" Kamu pingsan di dalam kelas seorang diri dan ditemukan salah satu temanmu" ucap kakak tersebut.
" Hahhhh terus temanku dimana?" Tanyaku. Kakak itu bingung lalu berkata.
" Kamu di dalam kelas sendirian dan aku melihat kamu berjalan ke arah kelas sendiri" ucap kakak itu.
" Tidak aku bersama temanku" ucapku.
" Sudahlah kamu kecapean mungkin, setelah kuat kamu boleh pulang" ucap kakak itu.
Aku masih tidak percaya dengan semua yang terjadi terasa nyata bagiku.
" Lalu selama ini aku bersama siapa?" Ucapku dalam hati.