Cynthia seorang siswi baru, pindahan menengah atas dari kota lain, karena kebetulan ayahnya di pindahkan tugas ke kota itu.
Sebagai siswi yang populer akan kecantikan dan kepintaran nya di sekolah sebelumnya, itu sangat membuat dia percaya diri saat pindah ke sekolah itu, yang orang bilang sedikit angker karena ada pohon beringin di depannya.
Chintya melambaikan tangan pada ayahnya, "Jangan lupa, nanti sore jemput ayah, aku mau shopping, kamarku belum di hias apapun setelah pindah" Ayah hanya tersenyum. Chyntia memang hanya tinggal berdua dengan ayahnya setelah ibunya lima tahun yang lalu meninggal karena sakit.
"Ya sayang ayah tahu, nanti ayah jemput lagi yah, bersenang senang lah dengan teman baru mu oke!" Papa pun melambaikan tangan dan meninggal kan Chintya.Saat melewati beberapa siswa putra yang sedang berkumpul di lapangan basket, mereka meledek Chyntia yang memang cantik.
"Hai kenalan dong, murid baru yaah?" Salah seorang cowok memberanikan diri tampil dan mengulurkan tangannya.
Chintya hanya tersenyum dan melewati si cowok itu. Teman temannya tertawa.
"Syukurin Luh, di tolak kan?" Ucap temannya yang lain. "Emang Nico kepedean, baru sampai sudah mau sambar aja kaya api" Yang lain juga ikut komentar.
"Kapan lagi ada cewek secantik dia, karena yang paling cantik...." Nico tidak melanjutkan kata katanya. Ada rasa merinding yang keluar dari tubuhnya.
"Jangan ceritakan lagi, nanti dia hadir baru tahu rasa Luh!" Ucap teman Nico yang berlalu mengambil bola dan memasukkan nya ke dalam keranjang.
Chintia yang tidak tahu akan kejadian bunuh diri seorang putri yang meloncat dari lantai atas. Cuek saja saat teman barunya mengatakan hal itu.
"Kabarnya setiap sore, si cewek itu akan muncul, lebih sering setiap hari Kamis saat dia meninggal, dia masih menunggu cowok yang telah menghamilinya" Ucap Clara teman sebangku Cynthia dengan kata kata serius.
"Percaya amat si sama yang begituan, itu cuma tahayul tahu, yang sudah meninggal ya meninggal masa hidup lagi" Chintya tetap bersikukuh dengan ucapannya.
Karena sekolah sampai sore sekitar jam 3, dan Chintya harus menunggu ayahnya yang datang menjemputnya sekitar jam 4, akhirnya Cynthia memilih untuk menunggu ayahnya datang menjemput nya.
Dia berjalan keluar dari toilet sekolah, suasana tampak sepi hanya ada beberapa guru di ruang tata usaha.
Dia mendengar suara orang menangis. Saat dia mendekati, dia tidak menemukan siapa siapa, hanya suara tetes air dari kran yang belum di tutup. Chyntia pun menutupnya. Dia lalu berjalan lagi di lorong jalan kelas yang sepi.
Sementara pak satpam, masih berjaga jaga di posnya di depan gerbang sekolah. Chyntia yang melihat suasana sangat sepi tersenyum mereka pasti sudah termakan rumor yang mengatakan menjelang sore suka ada penampakan siswi yang bunuh diri itu.
Chyntia berjalan kembali, dia masih mempermainkan ponselnya. Dia merasakan ada bayangan yang melintas di sampingnya. Dia pun menengok kanan kiri, hanya lorong jalan saja yang dia lihat. Ini pasti perasaanku saja, bisik Chintya dalam hati. Diapun melangkah lagi.
Ada suara gebrakan pintu yang sangat kuat membuat dia terkejut. "Brak! Brak!" Cynthia menoleh ke arah suara itu, tidak ada yang aneh lagi.
Cynthia lalu berjalan lagi, dia melihat seorang gadis duduk di dekat pohon beringin. Rambutnya panjang, kulitnya putih, wajahnya hanya memandang ke depan dengan tatapan mata kosong.
Cynthia sangat senang karena masih ada siswi lain yang masih ada juga.
"Hai, kamu belum pulang?" Tanya Cynthia padanya. Siswi cantik itu hanya mengangguk tanpa menoleh.
Chyntia lalu duduk di samping nya, tangannya masih memegang ponsel.
"Aku Cynthia kamu siapa?" Siswi cantik itu menoleh ke arah Cynthia.
"Wulan" Jawabnya pendek. Tangannya sangat dingin.
"Kamu menunggu seseorang juga?" Yang bernama Wulan itu menganguk.
"Sama aku juga sedang menunggu ayahku, sedari tadi belum muncul" Ucap Chyntia memandang ke arah depan.
Tak berapa lama ayahnya datang memarkirkan mobilnya di tempat parkir, suasana sudah sangat sore, saat menghampiri Cynthia raut wajah ayahnya sangat terkejut melihat seseorang yang di samping Cynthia yang duduk disampingnya.
"Ayah! akhirnya datang juga" Cynthia sangat senang melihat ayahnya, dengan telunjuknya dia menunjukkan ayahnya pada Wulan teman barunya itu. Tapi apa yang terjadi? Tanpa sengaja dia memegang tangan Wulan yang semakin dingin. Kukunya berubah panjang dan matanya yang merah menatap Cynthia dengan dendam kemarahan. Dan Chyntia tidak melihat perubahan itu hanya ayahnya saja yang melihatnya.
Ayah yang melihat itu langsung berlari ke dalam ruang kelas yang tidak jauh dari tempat itu. Cynthia pun mengejarnya tak tahu apa yang sedang terjadi. "Ada apa ayah itu temanku, kenapa ayah ketakutan?" Chyntia menatap ayahnya dengan raut wajah yang bingung.
"Kamu tidak tahu teman yang di sebelahmu itu sangat menyeramkan, apa kamu tidak menyadari nya?" Ayah menutup pintu kelas. Dia berharap akan ada yang lewat, karena saat pintu itu di buka lagi ternyata tidak bisa dia buka.
"Pak!Hallo Apa ada orang di luar?" Ayah menggebrak gebrak pintu kemana pak satpam dan guru guru yang lain, apa mereka tidak mendengar suara kami? Ucap Cyntia dalam hati.
Tapi hingga magrib menjelang pintu itu tidak bisa di buka. Suasana sudah sangat menyeramkan. Beberapa kali angin berhembus membuat bulu kuduk semakin merinding.
Ada suara desahan napas yang terdengar dari luar semakin mendekat dan mendekat. Cynthia mulai ketakutan, dia memegang tangan ayahnya dengan erat.
Tiba tiba pintu terbuka dan Cynthia melihat gadis itu yang baru dikenalnya dengan baju seragam sekolah, di bibirnya ada tetesan darah mengental yang menetes jatuh ke seragam Putihnya.
Rambutnya yang panjang terurai dan mata yang sangat menyimpan dendam.
"Ampuni aku! Maafkan aku! Wulan!" Ucap Ayahnya tiba tiba. Tapi justru ayahnya terangkat ke atas dan terlempar ke dinding. Ayahnya sangat kesakitan dan memegang dadanya lagi.
Wulan gadis menyeramkan itu semakin mendekat kearahnya dan menyingkirkan Cynthia hingga terjatuh. Dia lalu mengangkat kerah ayahnya dengan tangan satunya dan mencabik cabik wajah ayahnya, hingga banyak goresan darah yang membekas di wajah ayahnya.
Chintya yang bingung dan tidak tega melihat ayahnya seperti itu memeluk ayahnya.
"Lepaskan ayahku! Lepaskan dia Jika kamu punya dendam, lampiaskan padaku jangan ayahku!"
Cynthia meminta pada Wulan dengan bersimpuh pada Wulan.
"Ayah yang salah, ayah yang salah ayahlah yang menghamili Wulan tak bertanggung jawab apa yang telah ayah lakukan padanya" Ucap Ayahnya sambil menatap wajah Cynthia.
"Ayah, jadi rumor tentang gadis itu benar adanya ayah dan ayah adalah lelaki yang di tunggu nya selama ini" Ucap Cynthia menatap tak percaya lalu dia tergeletak tak sadarkan diri.
Saat sadar Cynthia sudah ada di sebuah rumah sakit dengan salah seorang guru yang menemaninya.
"Dimana ayahku Bu, dimana dia?" Bu guru membelai rambut Cynthia.
"Ayahmu sudah mempertanggung jawabkan perbuatannya di kantor polisi, pak satpam yang mengantarnya, ibu harap setelah kejadian ini tak ada lagi Wulan yang akan muncul di sore hari hanya untuk mengejar orang yang telah menghamilinya."
Ternyata ayah Cynthia mempunyai affair dengan Wulan. Dan saat tahu Wulan hamil, dia tidak mau mempertanggung jawabkan perbuatannya, itulah yang membuat Wulan tertekan dan memilih mengakhiri hidupnya dengan meloncat dari lantai atas sekolahnya.