Akibat Menzalimi Istri
Seperti namanya, Bejo. Hari ini ia baru saja mendapat bonus dari bosnya karena kinerja yang dinilai kompeten. Ia memandangi uang amplop berisi uang itu sambil berpikir,
"ah, Aminah mana tahu kalau aku dapet bonus ini? Lumayan, bisa buat jajan kalau kepepet. Gak harus repot-repot sama Aminah." Pikirnya.
Aminah adalah istrinya. Sama halnya dengan pasangan rumah tangga kebanyakan, ia selalu memberikan semua uang dari gajinya kepada istri yang sudah ia nikahi selama 10 tahun itu.
Sebenarnya Aminah juga bukanlah istri yang menuntut banyak. Namun memberikan semua gajinya pada istrinya itu adalah kesepakatan bersama sejak awal mereka menikah. Hanya saja, bagi Bejo, meminta uang saku pada Aminah sedikit merepotkan, apalagi jika ada kebutuhan mendadak.
*
Di rumah,
Tidak seperti biasa, Aminah menyambut kedatangan Bejo dengan senyuman yang cerah. Ia juga sangat hapal kapan Bejo, suaminya itu gajian. Otomatis ia akan mendapatkan uang yang akan mulai dikelola untuk segala kebutuhan rumah tangga mereka.
"Bahagia amat mukanya...," Sindir Bejo.
"Ya iyalah. Hari ini gajian,kan?" Tanya Aminah sambil menaik-turunkan alisnya,
Bejo menghela napas,
"Iya.., nanti mas kasih di kamar. Mas mau mandi dulu." Kata Bejo.
"Yeay !" Kata Aminah girang.
"Kak, Mami dapet gajian hari ini...," Kata Aminah pamer pada putra pertamanya yang sedang belajar di ruang tamu.
"Hadeh.., yang gajian,kan Ayah. Malah Mami kamu,tuh yang kegirangan...," Bejo mengutarakan isi hatinya pada putranya.
"Yee.., gaji suami kan sama dengan gaji istri." Kata Aminah.
"Udah.., Ayah mandi sana. Jangan lama-lama, ya..,Mami tunggu di kamar." Kata Aminah langsung pergi ke kamar.
*
Sebenarnya banyak hal yang ingin Bejo beli untuk dirinya sendiri dengan uang bonus kemarin. Namun ia menahannya dan memilih untuk mengumpulkannya saja. Jangan sampai Aminah tahu, bisa-bisa ia diinterogasi.
Saat akhir Minggu, Bejo sudah berencana memberikan service pada motor bebek, teman seperjuangannya untuk mengais rezeki. Itu adalah salah satu keinginannya yang akan ia wujudkan dengan uang bonus itu.
Mumpung Aminah sedang sibuk di dapur, Bejo menggunakan kesempatan itu untuk mengambil uang bonus yang masih ada di amplop itu yang ia simpan di antara tumpukan kaosnya. Ya, rak bajunya dan istrinya terpisah, jadi itu adalah tempat teraman.
Lapisan pertama, tidak ada, lapisan kedua tidak ada, lapisan ketiga tidak ada hingga lapisan terakhir ia masih belum menemukan amplop itu.
"Waduh. Dimana uang itu? Jangan-jangan Aminah udah nemuin!" Gumam Bejo. Sebenarnya ia agak takut, biasanya kalau dia ketawan menyembunyikan sesuatu dari istrinya, dia akan langsung diomeli.
"Ah, masa iya ! Kalo dia nemuin, pasti dia ngomel-ngomel. Buktinya, dia baik-baik aja." Kata Bejo,
"Coba aku cari lagi." Katanya lalu mengaduk-aduk tumpukan pakaiannya lagi.
Hingga akhirnya kamarnya kini sudah berubah jadi kapal pecah karena ia mengeluarkan semua bajunya.
"Wah, beneran ini ! Pasti udah di ambil Aminah. Jangan-jangan dia pura-pura diem biar aku merasa bersalah." Kata Bejo menduga-duga.
"Duh.., apa kutanyakan saja sama Aminah,ya?" Gumam Bejo lagi. Ia pun berpikir sejenak,
"Ah, tanya aja ! Daripada uangnya hilang, mending kucari tahu, dipake buat apa saja uang itu !" Kata Bejo. Ia pun pergi ke dapur.
"Mami !! Mami !!" Panggil Bejo pada Aminah.
Aminah yang sedang menghaluskan bumbu dengan cobek langsung menghentikan aktivitasnya dan menghampiri suaminya yang cari ribut pagi-pagi.
"Ada apa, sih, Mas? Makanannya belum siap? Udah laper?" Tanya Aminah.
"Tuh, di meja udah ada singkong rebus buat ganjal perut." Kata Aminah lagi.
Bejo langsung mendekati Aminah dan menarik lengannya,
"Bukan gitu, dek..," kata Bejo sambil berbisik.
"Ih, ada apa, sih? Kok ngomongnya bisik-bisik?" Tanya Aminah.
"Gini, dek.., kamu ambil amplop di rak bajuku,ya?" Tanya Bejo.
Aminah langsung mengernyitkan dahinya,
"Amplop? Di rak baju Mas Bejo? Enggak." Kata Aminah. Bejo memperhatikan raut wajah Aminah. Wajah Aminah benar-benar menunjukkan kalau ia tidak tahu-menahu tentang amplop itu.
"Kamu beneran gak tau, dek?" Tanya Bejo lagi, menguji, apakah istrinya berbohong atau tidak.
"Ya ampun.., beneran, Mas. Lagian amplopnya isinya apaan lagi?" Tanya Aminah.
"Uhm.., duit.., isinya duit. Kamu beneran gak ambil ?" Tanya Bejo sekali lagi.
"Duit? Duit apaan, Mas? Mas gak Nerima suap,kan?" Tuduh Aminah.
"Ya Allah.., enggak, dek.., itu bonus dari Pak Haryo." Kata Bejo menyebutkan nama bosnya.
"Ooh..., Gak, tuh Aminah gak ambil." kata Aminah sambil melirik Bejo sinis.
"Terus dimana, dong? Masak hilang, dek? Itu isinya satu juta. Lumayan bisa buat servis motor Mas." Kata Bejo.
"Yah, mana Aminah tahu..., Kan Mas sendiri yang simpen..," kata Aminah yang mulai kesal karena suaminya itu berani menyimpan uang lain darinya.
"Yah.., kalo gitu bantuin cari, dek.., sayang, duit satu juta itu...," Kata Bejo.
Aminah langsung tersenyum licik,
"Aminah mau bantuin, tapi ada syaratnya." Kata Aminah.
"Apapun syaratnya, Mas turutin deh, tapi kamu bantu cari,ya." Pinta Bejo.
"Oke, apapun alasannya,ya." Kata Aminah sambil tersenyum lebar.
*
Beberapa saat kemudian,
Akhirnya amplop itu ditemukan oleh Aminah. Rupanya amplop itu ada di dalam waist-bag milik Bejo. Ia baru ingat, kalau ia sengaja memindahkannya ke sana sepulang solat Subuh dari masjid tadi. Ia pikir, kalau diletakkan di dalam tas favoritnya itu, akan lebih aman dan lebih praktis. Ia juga bisa langsung ngacir tanpa merecoki istrinya yang sibuk di dapur.
Sekarang semua uang di amplop itu ada di tangan Aminah. Aminah tersenyum,
"Nah.., ini,nih.., akibat nyembunyiin duit dari istri. Allah Maha Adil, Mas...," Kata Aminah.
Bejo menghela napas begitu disindir oleh istrinya itu,
"Coba, hitung lagi, dek.., berkurang gak? Masih sejuta, gak?" Tanya Bejo berusaha mengalihkan pembicaraan. Ia sangat tahu, kata-kata istrinya barusan adalah kalimat pembuka dari pidato omelan yang sebentar lagi akan dimulai.
Aminah langsung menghitungnya dengan jari-jarinya,
"Masih sejuta, sih Mas." Kata Aminah.
"Ya udah, dek, Mas minta buat servis motor. Lima ratus ribu." Kata Bejo sambil menengadahkan tangannya.
Aminah langsung mengambil lima lembar dari tumpukan uang berwarna merah muda itu, lalu memberikannya ke suaminya,
"Nih, Gope !" Kata Aminah.
"Ya udah, Mas pamit, mau servis motor..," kata Bejo yang berusaha kabur.
"Heit !" Namun Aminah berhasil mencegatnya.
"Apa lagi, dek?" Tanya Bejo.
"Nanti, kalo sisa, kasih lagi ke adek,ya Mas.., jangan disimpan sendiri. Nanti hilang lagi, duitnya." Sindir Aminah.
Bejo menelan ludahnya karena tertohok.
"Iya, Mas tahu." Kata Bejo.
"Bonnya jangan lupa." Kata Aminah mengingatkan.
"Ya ampun, dek.., segitu gak percayanya sama Mas?" Tanya Bejo.
"Bukannya gak percaya, Mas, cuman ngingetin, kalo rejeki suami itu adalah rejeki istri, kalo sengaja disembunyiin, ujung-ujungnya juga bakalan balik ke istri, kan itu udah hak istri." Kata Aminah,
"Ingat, Mas, Allah Maha Tahu, Allah Maha Adil. Jadi jangan coba-coba menzalimi Istri." Kata Aminah.
"Zalim darimananya, sih dek?" Bejo gagal kabur rupanya.
"Ini, zalim ini namanya, mengambil hak yang udah bukan jadi haknya." Kata Aminah.
Bejo mendengus kesal,
"Iya,iya.., Mas minta maaf." Kata Bejo menyerah. Memang itu tujuan dari pidato singkat Aminah.
"Iya dimaafin Suamiku tercinta...," Ledek Aminah sambil mencubit kedua pipi suaminya.
"Ya udah, Mas mau ke bengkel." Kata Bejo yang sebenarnya masih kesal.
"Iya,iya.., jangan lama-lama,ya.., nanti masakannya keburu dingin...," Kata Aminah.
"Iya !" Bejo pun pergi ke bengkel dengan rasa kesal sekaligus bersalah.