"Coh, ke kamar mandi, yuk. Aku pengen pipis," kata Ratih kepada Acoh, teman sekamarnya. Mereka berdua belum tidur, padahal waktu sudah menunjukkan pukul satu dini hari.
"Ayo, Tih. Aku juga mau pipis nih," Acoh menyetujui ajakkan Ratih.
Merekapun pergi ke kamar mandi gedung asrama mereka yang letaknya berada di lantai satu. Akan tetapi, sialnya lampu kamar mandi gedung asrama mereka sedang padam semua.
"Ke kamar mandi umum aja, yuk," kata Acoh sambil mentap kamar mandi gelap dan sepi di hadapannya.
Ratih mengedarkan pandangannya dan menoleh ke arah kamar mandi umum yang letak gedungnya berada di paling belakang dari gedung-gedung asrama lainnya. Kamar mandi umum berbatasan langsung dengan hutan di belakangnya, tanpa adanya pagar yang pembatas. Banyak pohon-pohon besar nan rindang seperti pohon nangka yang berdiri kokoh di sekitaran kamar mandi umum. Semak belukar yang memenuhi hutan menambah kesan horror wilayah kamar mandi tersebut. Di samping sebelah kanan gedung kamar mandi umum, terdapat sebuah sumur yang sangat besar dan selalu tertutup. Sumur itu dahulu di gunakan sebagai sumber air untuk para murid, sebelum sekolah mulai menggunakan jasa PDAM. Karena jarang digunakan, sumur tersebut menjadi tak terurus lagi. Lalu, di depan gedung kamar mandi umum terdapat lahan jemuran yang sangat luas. Karena, lahan jemuran tersebut dimiliki oleh dua gedung asrama.
Gedung kamar mandi umum memiliki dua pintu masuk. Disebelah kanan gedung dan di sebelah kiri gedung.
Angin malam menerpa Ratih dan Acoh yang pada saat itu hanya menggunakan baju tidur berlengan pendek. Membuat bulu kuduk mereka meremang.
"Ya udah, ayo kita ke kamar mandi umum aja. Tapi, aku gak mau lewat sumur," ajak Ratih.
"Siapa juga mau lewat sana. Gila aja," balas Acoh.
Mereka pun berjalan melewati lahan jemuran. Sesekali sudut mata Ratih menangkap baju-baju yang bergantungan menjadi seperti orang-orang yang berdiri. Ia jadi merasa seperti di awasi. Angin malam berhembus, membuat tengkuk dan betis mereka semakin meremang. Jalan setapak yang mereka lewati minim penerangan, tapi setidaknya tidak segelap jika mereka melewati jalan sebelah sumur tua. Ratih dan Acoh berjalan sejajar karena ketakutan, dan mereka mempercepat langkah mereka.
Tengkuk mereka terasa semakin dingin, begitupun lengan dan betis mereka. Angin berhembus, menyebabkan baju-baju bergerak seolah-olah hidup. Merekapun berlari hingga sampai ke dalam gedung kamar mandi umum.
Sesampainya di dalam gedung kamar mandi, mereka memilih dua bilik toilet yang letaknya bersebelahan. "Coh, masuk bareng ya," kata Ratih kepada Acoh. Tangan mereka berada di gagang pintu masing-masing bilik yang akan mereka masuki.
"Iya, Tih. Hitungan ketiga kita masuk bareng, ya," balas Acoh. Ratih hanya mengangguk.
Acoh lalu mulai menghitung, "Satu... dua... tiga." Acoh dan Ratih segera memasuki bilik toilet pada waktu yang bersamaan dan langsung menguncinya.
"Coh, nanti keluarnya bareng, ya," kata Ratih sambil pipis, kepada Acoh yang berada di bilik sebelah.
"Iya, Tih."
Tiba-tiba terdengar suara langkah kaki di seret dari arah sumur tua. Mereka berdua, yang sudah selesai buang air kecil terdiam sebentar. Tak berani bergerak maupun bersuara. Mereka bahkan tak berani membuka pintu toilet. Langkah kaki tersebut terdengar semakin mendekat ke arah kamar mandi. Semakin lama-semakin nyaring.
Srek....
Srek....
Srek....
Tiba-tiba suara itu menghilang. Tak ada suara langkah kaki lagi. Suasana menjadi hening kembali. Ratih dan Acoh masih terdiam.
Satu....
Dua....
Tiga....
Dalam hitungan ketiga suasana masih sangat hening. Tak ada suara apapun selain suara jangkrik yang memenuhi malam.
"Sudah aman," batin Ratih.
"Coh, kita keluar barengan, ya," kata Ratih kepada Acoh.
Acohpun mulai menghitung, "Satu... dua... tiga." Setelah hitungan ketiga Ratih dan Acoh membuka pintu kamar mandi secara bersamaan.
"AAAAAaaa...," Ratih berteriak nyaring dan membanting pintu di hadapannya. Sementara Acoh hanya menyirami kakinya dengan air dan diam tak bersuara.
Terdapat sosok gadis berbaju putih polos. Rambutnya yang panjang dan kusut tergerai, dan mengembang. Matanya yang hitam menatap datar ke arah Ratih dan Acoh.
Acoh masih menyirami kakinya dengan air. Sosok di hadapannya tak kunjung hilang. Sementara Ratih dengan kaki yang masih bergetar, membuka pintu kamar mandi secara perlahan, untuk memastikan apakah sosok tersebut masih ada atau tidak. Ternyata sosok tersebut masih ada.
"AAAAaaaaa...." Ratih membanting pintu untuk kedua kalinya.
Ratih pernah mendengar cerita bahwa apabila tepat di atas bibir dan di bawah hidung tidak terdapat lekukan, maka mahluk tersebut adalah hantu. Jadi, akhirnya dengan rasa takut yang masih menguasai dirinya, Ratih mencoba mengecek kembali sosok di hadapannya, apakah ia memiliki lekukan tersebut atau tidak.
Ratih membuka pintu dengan tangan yang bergetar. Setelah melihat sosok mengerikan di hadapannya, ia menutup lagi pintu dengan keras.
"Sepertinya ada," pikir Ratih ragu-ragu.
Sementara Ratih sibuk dengan konflik batinnya, Acoh yang berada di bilik sebelah masih diam dan hanya menyirami kakinya dengan air. Posisi berdirinyapun belum berpindah tempat sejak tadi.
Ratih yang masih diliputi rasa takut mengecek sekali lagi. Kali ini ia ingin memastikan apakah sosok di hadapanya menginjak lantai ataukah melayang. Karena berdasarkan apa yang ia lihat di film-film hantu kebanyakkan, para hantu biasanya tidak menginjak lantai. Ratih lalu membuka pintu ragu-ragu. Ia menunduk ke bawah, dan perlahan ia mendapati bahwa kaki dari sosok gadis di hadapannya menginjak lantai.
"Kamu kenapa sih, Tih?" Gadis yang berdiri di depan Ratih dan Acoh akhirnya buka suara.
"Mey?" tanya Ratih memastikan bahwa sosok di hadapannya benar-benar Mey, temannya. Bukan hantu yang meniru sosok Mey.
"Coh, aku pinjam gayung. Di toilet sebelah gayungnya gak ada," kata gadis tersebut.
Acoh menghela nafas lega, dan berhenti menyirami kakinya. Ia lalu menyerahkan gayung di genggamannya.
"Kamu Mey, kan?" tanya Ratih yang masih sedikit takut-takut.
"Astaga, Ratih! Kamu kenapa sih," seru Mey jengkel.
End/Selesai