Halo
ini cerpen berjenis fantasi ini bener-bener imajinasi di luar nalar.
***
“Jangan pernah kau kembali Human,” Teriak seorang wanita paruh baya. Dengan napas terengah-engah memandang benci Human -anaknya- .
“Ibunda, tolong dengarkan anakmu ini. Aku tak bersalah, sungguh. Percayalah,” lirih Human bersujud di kaki Ibundanya. Namun, dengan rasa tak bersalah ibundanya menghentak keras Human hingga tersungkur.
“Kau! Dasar kau tidak tahu diri. Kau tahu, kau bukanlah anakku. Kau hanya anak haram yang aku asuh!. Dengar ini, Kau anak haram!” teriak sang Ibunda penuh amarah dan penekanan pada kalimatnya. Human termangu, mendengar perkataan Sang Ibunda. Sakit, perih, kecewa yang teramat dalam, semua ia rasakan. Dunianya seketika runtuh mendengar apa yang diucapkan ibundanya. Sampai pada ibundanya hilang dari pandangan, Human diam. Memandang kosong kepergian wanita yang sangat ia sayangi dan hormati. Namun, kini berganti rasa kebencian yang menguar secara tiba-tiba. Kata-kata ‘anak haram' terngiang di benaknya.
“Badai" Seruan seseorang, membuyarkan lamunannya. Ia menoleh, di sana, di ambang pintu kamarnya, seorang pria paruh baya tersenyum teduh. “Ada apa ayah, apa Ayah sudah makan?” tanyanya. Pria yang ia sebut “Ayah" itu mendekat dan memegang pundak kekarnya, menatap lekat sirat akan makna.
“Nak, Ayahmu ini sudah makan, kau jangan khawatir. Nak, usiamu sudah cukup untuk menggantikan Ayah memimpin Klan ini. Umur Ayah sudah tua, Ayah sudah tak kuat menjadi pemimpin Klan. Saatnya kau bangkit nak, ingat tujuanmu dulu,” Tegas Geledek -Ayahnya- seraya tersenyum. Badai diam tidak menjawab. Setelah itu, Geledek pergi dari kamar anaknya, anak asuhannya yang sangat ia sayangi.
Badai menatap kepergian Ayahnya sendu. Ia teringat dulu sebelum namanya berganti. Namanya adalah Human, nama yang diberikan oleh wanita yang ia sebut Ibunda, dulu. Sekarang, yang ia tahu wanita itu adalah wanita yang menyebutnya anak haram. Wanita yang tidak perduli betapa terpuruknya ia saat itu. Menangis sendu di jalanan seperti orang gila. Sampai pada seorang pria menatap simpati dan membawanya ke rumahnya. Ya, pria itu adalah Ayahnya sekarang. Pria yang mengganti namanya. Pria yang membawanya kepada keluarga yang hangat. Bukan, bukan maksud keluarga seperti keluarga biasanya. Keluarga yang ia maksud adalah Klan yang akan segera ia pimpin menggantikan Ayahnya, Klan Bencana. Ya itu namanya, Klan Bencana. Klan yang mengajarkan ia bagaimana sikap tangguh tegap seorang laki-laki.
Bersyukur, rasa itu yang selalu ada di hatinya.
**
Prang!
Ting!
Prang!
Suara gesekan pedang beradu di setiap gerakan lincah prajurit. Sekarang adalah masa latihan serius, di mana prajurit berlatih pedang yang di awasi oleh panglima perang. Setiap pertemuan kedua pedang selalu timbul gesekan dan suara nyaring yang memekakkan telinga. Pertarungan pedang selalu berganti, di mana yang kalah akan di gantikan oleh prajurit lain, dan yang kalah di bawa ke tempat penyembuhan. Lokasi berlatih pedang ini berada di sisi bagian timur Klan Bencana.
Sementara, di sisi bagian barat terdapat beberapa orang yang sedang berlatih kemampuan elemen masing-masing yang dimiliki oleh rakyat Klan Bencana. Kekuatan elemen tersebut terdiri dari api, air, pusara angin yang di bagi beberapa, serta berbagai kekuatan yang datang dari langit seperti kilat, petir dan sebagainya sesuai nama pemiliknya.
BUMM!!
Suara debuman air memekakkan telinga, rakyat Klan yang sedang berlatih pun menutup telinga mereka. Suara itu diciptakan dari kekuatan Tsunami, salah satu Panglima Klan Bencana. Rakyat Klan yang melihat itu, menatap takut akan kekuatan Panglima mereka, Tsunami. Selain Panglima, Tsunami juga salah satu orang kepercayaan Geledek, pemimpin mereka. Tsunami juga, orang yang disegani serta ditakuti oleh rakyat Klan. Selain kekuatan yang hampir setara dengan pemimpin mereka, Tsunami juga orang yang mempunyai kepribadian dingin dan sulit ditebak. Auranya yang mencekam membuat siapapun di dekatnya menunduk takut.
“Berlatih lebih keras. Keluarkan kekuatan yang sekalipun terpendam jauh dalam jiwa kalian. Kita tidak tahu, musuh seperti apa yang akan kita hadapi esok atau lusa. Mengerti?!” suara lantang itu menggema, mengintimidasi setiap orang, yang di jawab sama lantang oleh rakyat Klan.
“Bagus, lanjutkan latihan kalian.” Setelah berkata demikian, Tsunami pergi dari tempat pelatihan, membuat rakyat Klan bernapas lega dan kembali melanjutkan kegiatan yang tertunda.
Selang beberapa menit, suara petir disertai angin kencang, di susul sebuah ledakan yang mampu meruntuhkan tembok kokoh dekat air terjun yang tak jauh dari tempat mereka berdiri, menyapa mereka.
DUARR!!
JEDUM!!
BLARR!!
Kekuatan yang mampu membuat mereka terpukul mundur kebelakang bahkan ada yang terluka di bagian lengan dan punggung. Belum sampai mereka mengatur napas dan berdiri, pusara topan api muncul siap melahap apapun yang ada di sekitarnya. Melihat itu, rakyat Klan panik, berusaha melawan dengan kekuatan yang mereka punya. Namun, tak mudah mengalahkan kekuatan yang entah berasal darimana itu. Dengan sisa-sisa tenaga mencoba menyatukan kekuatan satu sama lain, walau susah payah membangun tembok pertahanan yang kokoh, setidaknya itu membuat topan api mengecil.
Napas mereka terengah-engah, membuat benteng pertahanan dengan kode etik lingkar satu, menatap waspada sekitar. Kuda-kuda terpasang walau tidak sekokoh biasanya, tapi itu membuat mereka tak gentar.
Prok prok prok
Suara tepuk tangan terdengar, membuat rakyat Klan menoleh ke arah sumber suara. Tak jauh dari mereka, seorang Pria gagah, tampan dan tinggi dengan kulit kecoklatan berdiri. Matanya yang hitam legam, menatap takjub pada mereka. Pria itu tak lain adalah Badai. Calon pemimpin mereka.
“Pertahanan yang lumayan baik, walau sempat diterpa kepanikan. Tapi itu bagus, kalian sigap menghadapi situasi apapun,” Ucap Badai seraya tersenyum takjub. Rakyat Klan yang mendengar itu pun lega. Karena, mereka kira yang menyerang secara tiba-tiba tadi adalah musuh yang mencoba merangsek masuk ke tempat latihan.
“Salam kami, B" seru mereka. Badai hanya mengangguk sekilas. Hening, hingga serangan tak terduga yang di lancarkan oleh Badai membuat rakyat Klan kaget dan tak siap.
BLARR!!
JELEGERRR!
Suara petir dan kilat bersahutan. Rakyat Klan dibuat panik dan takut. Namun, sigap memasang kuda-kuda walau tidak kokoh. Memang menghadapi calon pemimpinnya itu harus siap mental dan siap badan. Jika tidak, siap-siap akan menjalani masa penyembuhan berminggu-minggu.
Belum selesai membuat pertahanan, mereka dikejutkan oleh seruan Badai yang menggelegar.
“PUSARAN ANGIN PUTING BELIUNG!” setelah itu, muncullah angin kencang berbentuk corong dengan ketinggian maksimal siap menghantam. Mereka terpaku. Menatap ngeri di depannya. Belum genap membuat perlindungan, seruan selanjutnya menyusul.
“INGAT JANGAN TAHAN KEKUATAN KALIAN.”
“TORNADO API NERAKA!”
Glek!. Rakyat Klan menelan saliva susah payah, melihat Tornado Api di hadapan mereka. Mereka bertanya-tanya, inikah yang disebut Tornado Api dari Neraka?. Ini kali pertama mereka menyaksikan kekuatan Tornado Api dari Neraka. Mengerikan. Hanya kata itu yang dapat menggambarkan kekuatan yang ada di hadapan mereka.
“HANCURKAN!”
Mereka terkesiap. Ketika dengan lantang kata “Hancurkan" keluar dari bibir calon pemimpin mereka. Dengan sigap, mereka menyatukan kekuatan, sebisa mungkin meminimalisir panas yang di keluarkan oleh kekuatan api tersebut.
BUMM!!
Dua kekuatan saling beradu. Saling melawan, berusaha mengalahkan satu sama lain. Rakyat Klan kesusahan menahan kekuatan besar di depannya. Peluh membanjiri tubuh mereka. Menahan serangan besar bukanlah agenda dari pelatihan. Namun, di saat calon pemimpin mereka ingin menguji kemampuan mereka, apa boleh buat. Hanya satu jawabannya, yaitu melawan.
JEDARR!!!
Rakyat Klan terhempas kesana-kemari karena tak dapat menahan serangan. Napas mereka terengah-engah, pasrah jika mereka di lahap habis oleh Tornado Api dari Neraka milik Badai. Mereka sudah tidak kuat.
Hening beberapa saat. Yang terdengar hanya sapuan kencang dari Tornado Api, yang semakin lama, semakin mengecil dan hilang.
Badai menatap datar pada rakyat Klan. Setelah itu, ia berbalik dan menghilang. Sebelum menghilang, ia sempat mengatakan sesuatu yang membuat rakyat Klan tercekat.
“Kekuatan kalian masih berada di level bawah. Kerahkan kekuatan kalian. Jika masih ingin hidup.”
**
Tiba saatnya, Stadion Klan sudah ramai di hadiri rakyat Klan Bencana. Tak lupa juga pemimpin dan calon pemimpin mereka yang duduk di deretan kursi khusus berwarna coklat keruh. Serta merta para panglima Klan. Panglima Klan terdiri dari 5 orang, yaitu Tsunami dan Tsunam Tsusu II sebagai Panglima Klan dengan kekuatan elemen berdiri di sebelah kanan pemimpin mereka, Peerang sebagai Panglima perang dengan kekuatan pedangnya berdiri tegap di sisi kiri calon pemimpin mereka, tak lupa Tropis Cempaka dan Abrasi sebagai Panglima perang dengan kekuatan air suci berdiri kokoh di belakang pemimpin dan calon pemimpin mereka.
Pagi ini di adakan acara sakral, yaitu pergantian pemimpin lama dengan pemimpin baru yang tak lain adalah Badai. Acara kali ini disambut antusiasme rakyat Klan. Mereka sudah tidak sabar seperti apa rasanya di pimpin oleh Badai -anak asuh Geledek, ayahnya- .
Acara dimulai dari penyambutan awal, selanjutnya yaitu pertunjukan kolaborasi antara elemen api dan air yang di lakukan oleh perwakilan rakyat Klan yang terpilih. Sampai pada acara inti penyerahan kekuasaan pemimpin atau disebut LAD. Dimulai dari penyerahan kode etik L dan tanda tatto dengan bentuk abstrak di telapak tangan bagian kanan.
Rakyat Klan yang melihat itu begitu antusias. Sorak-sorai ramai terdengar dari segala penjuru. Antusiasme itu ditunjukkan untuk pemimpin baru mereka. Namun, antusiasme itu terhenti ketika terdengar ledakan keras dari arah pintu Stadion. Di sana, di luar Stadion ada yang berusaha merangsek masuk ke Stadion Klan.
BUMM!!
BUMM!!
Suara ledakan dan debuman saling bersahutan. Membuat Rakyat Klan waspada. Tak luput para Panglima ikut menatap waspada dan menerka apa yang akan terjadi. Sedangkan Geledek tersenyum tipis. Berbeda halnya dengan Badai, air mukanya semakin datar dan sulit di tebak. Tatapannya semakin tajam.
BUMM!!
BUMM!!
BUMM!!
Kembali suara ledakan dan debuman terdengar lebih keras dari sebelumnya. “Sepertinya pintu Stadion di buka paksa. Prajurit penjaga tak mungkin dapat menahan serangan itu,” seru Badai pelan, namun terdengar oleh orang di dekatnya. Para Panglima menoleh, menunggu perintah apa yang akan di turunkan oleh LAD baru mereka.
BUMM!!
Sekali lagi suara debuman yang sangat keras terdengar bahkan memekakkan telinga.
“LAD apa yang ha...’’
“CEMPAKA LINDUNGI RAKYAT KLAN DENGAN TAMENG HERUCAN!” Seruan lantang dari Badai memotong ucapan Peerang.
Tropis Cempaka yang mendengar perintah pun segera berlari ke setiap titik sudut untuk membuat tameng perlindungan. Tak butuh waktu lama, ia kembali ke posisi semula.
“Kita harus berge...” lagi, ucapan Peerang terpotong karena seruan lantang seseorang. Bukan, bukan Badai LAD mereka, melainkan seseorang diikuti rombongan yang tadi berusaha masuk ke Stadion Klan.
“Wow. Kalian sedang apa? Berdiskusi? Satu dua, atau berapa? Ck ck ck pertahanan kalian sangat lemah. Oh hai apa kabar LAD G, yah kuharap baik-baik saja, karena setelah ini, aku yang akan menghabisimu.” Seriangaian licik terlukis di wajahnya. Semuanya diam. Badai mengepalkan tangannya, berusaha menahan emosi yang siap meledak.
“Wow, Badai oh maaf maksudku LAD B, hahaha. Kalian tak akan bisa melawanku. Dasar Klan lemah. Serang mereka, habisi tanpa tersisa!” Lagi, suara lantang itu menggema.
Pasukan musuh menyerang, berusaha menembus tameng perlindungan yang di buat oleh Cempaka. Rakyat Klan yang di dalam tameng juga membantu menahan serangan dengan menyatukan kekuatan.
BLARRR!!
Tameng perlindungan pecah. Rakyat Klan dengan sigap menahan serangan tanpa tameng perlindungan. Untuk itu, mereka sudah terlatih dengan serangan tiba-tiba.
Prang!
Ting!
Gesekan pedang terdengar bersahutan. Pasukan musuh tak mau kalah, mereka terus melancarkan serangan-serangan untuk melumpuhkan rakyat Klan. Sekuat tenaga rakyat Klan menahan serangan.
Di sisi lain, Badai berdiri gagah di hadapan seseorang. Para Panglima Klan sudah membaur membantu melawan musuh. Ayahnya -Geledek- pun ikut turun tangan melancarkan serangan balik terhadap lawan. Badai menatap tajam orang yang ada di depannya. Lalu terkekeh pelan.
“Tak kusangka, kau begitu licik. Aku menyesal telah menyebutmu Ibu dulu.” kilatan amarah terlihat di mata orang itu, yang tak lain adalah wanita yang dulu sempat mengusir dan menghempas Badai dari keluarganya sendiri. Ah, wanita itu juga yang menyebutnya ‘anak haram' .
“Ah, anakku. Kau sudah tumbuh besar ternyata. Bagaimana kalau kau kembali padaku dan melawan rakyatmu sendiri. Sepertinya itu menyenangkan” ucap Ba-njir, Ibunda Badai, dulu. Badai yang mendengar itu menggertakkan gigi. Sudah cukup ia menahan amarah dan kekecewaan terdalam, kali ini ia akan menghabisi semua yang menghalangi jalannya.
“Jangan pernah kau memanggilku anak”
“Ah, Human kau jangan memasukkan ke hati kata-kataku waktu itu. Aku...”
“Stop. Aku Badai bukan Human yang kau sebut anakmu!”
BLARR!!
Kilatan petir menyambar dengan kuat. Membuat pertarungan terhenti sejenak.
“Kau benar-benar tumbuh dewasa. Baiklah mari kita bertarung dan lihat seberapa kuat dirimu” ucap Ba-njir tersenyum tipis. Tanpa dicegah, pertarungan antara ibu dan anak terjadi.
“Kau akan merasakan akibatnya” sahut Badai pelan namun terdengar oleh Ba-njir.
“HERUCAN LANDAI" Seruan Ba-njir. Pusaran angin bercampur air muncul dengan kecepatan tinggi menuju Badai. Badai tak mau kalah, ia melawan serangan itu dengan gerakan cepat.
“LA-P INDO MUNCULAH.”
“HANCURKAN!!”
BUMMM!!!
Dua kekuatan saling beradu.
“L-UMPUR. SERANG DAN HANCURKAN!!” lagi Badai berseru lantang.
JEBUMMMM!!!
Kekuatan besar tak terhindarkan. Kekuatan yang bercampur emosi dan kekecewaan di dalamnya. Ba-njir terpukul mundur. Ia terbatuk. Dari mulutnya keluar sepercik darah. Lalu bangkit kembali, menatap Badai penuh emosi.
“TORNADO AIR SUCI" suara lantang Ba-njir tak mau kalah. Pusaran Angin bercampur air dengan bentuk Tornado meluncur dengan kecepatan tinggi melawan kekuatan Badai.
BLARRR!!!
BALAK BUMM!!
Kekuatan itu tak terhindarkan, membuat terhenti pertarungan pasukan mereka. Rakyat Klan dan pasukan musuh menatap ngeri pertarungan sengit antara Ba-njir dan Badai. Geledek yang melihat itu, membantu melancarkan serangan balik terhadap musuh. Diikuti panglima Klan. Pasukan musuh terkesiap dengan gerakan tiba-tiba itu, membuat mereka terpental karena tidak sempat membuat pertahanan. Banyak dari pasukan musuh yang terluka.
BUMMM!!!
Serangan itu di lancarkan oleh Panglima musuh. Geledek yang terkena serangan langsung terkapar tak sadarkan diri dengan hidung dan telinga mengeluarkan darah. Badai yang melihat itu terpaku. Konsentrasinya terbagi hingga ia pun ikut terpental karena serangan Ba-njir.
“LAD!!” seruan rakyat Klan.
Badai terbatuk pelan. Dadanya sesak melihat kondisi ayahnya. Tidak, ia tidak boleh gagal. Ia harus menang melawan musuh. Yah, harus menang, batin Badai.
Badai kembali berdiri. Menatap benci pasukan musuh.
“Kerahkan kekuatan kalian. Habisi mereka!!” lantangnya mutlak. Mendengar perintah itu, rakyat Klan kembali semangat. Serangan demi serangan mereka lancarkan. Banyak pasukan musuh yang tumbang. Mereka tak memberi ampun pada pasukan musuh. Begitupun Badai.
“TORNADO API DARI NERAKA! MUNCULLAH DAN HANCURKAN MEREKA YANG MENGHALANGIKU. HANCURKAN!!” teriaknya penuh amarah. Tornado Api berkobar di tengah-tengah pertarungan. Ketinggiannya maksimal. Meluncur dan melahap habis pasukan musuh dengan kecepatan tinggi. Bahkan panglima dari pasukan musuh pun sudah terkapar tak berdaya. Tersisa Ba-njir dan tangan kanannya yang bersusah payah untuk berdiri. Badai tak memberi kesempatan untuk itu, maka dengan cepat ia menambahkan kekuatan.
“GUNTURA PETIRR HITAM!! BERSATULAH! HANCURKAN MEREKA!!” Petir berwarna hitam dan suara menggelegar bersatu dengan Tornado Api menghancurkan pasukan musuh tanpa sisa.
Rakyat Klan tercekat. Kekuatan di depan mereka sangat besar. Susah untuk dihancurkan. Mereka tak salah memilih pemimpin. Inilah pemimpin mereka.
Pasukan musuh kalah telak. Bahkan Ba-njir sudah terkapar tak berdaya dengan napas terengah-engah. Pasukannya banyak merenggut nyawa. Perlahan matanya mengabur dan menutup. Badai yang melihat itu bernapas lega dan ada rasa kecewa. Ia bertanya dalam hati, berdosakah ia melawan wanita yang pernah ia sebut Ibunya, dulu? Entahlah. Ia terduduk lemas. Tenaganya terkuras. Pundaknya ditepuk oleh seseorang. Badai menoleh, ternyata itu Tropis Cempaka yang tersenyum lembut.
“Kau hebat Badai" Ucap Cempaka menenangkan.
***
wkwk sangat gaje dan gak masuk akal emang, tapi kalo bacanya sepenuh hati pasti seru. suer deh.
terima kasih.