Hanya sebuah cerpen tentang....
Rintik-rintik hujan mengguyur malam kota Jakarta yang tidak pernah sepi. Semakin deras, semakin banyak genangan-genangan air dimana-mana. Saluran air yang tak lagi mampu menampung air langsung memuntahkannya ke jalanan.
Dua pasang kaki kecil saling mencipratkan air satu dengan yang lainnya. Tidak ada rasa takut kotor, tak ada rasa takut sakit, dan tak ada rasa jijik sedikitpun. Senyuman tak bisa lepas dari bibir-bibir mungil yang mulai membiru dan bergetar itu.
Setelah dirasa tubuhnya menggigil kedua anak berusia 6 dan 8 tahun itu menepi. Sang kakak menarik adiknya kebawah jembatan yang sudah mulai ramai oleh pengendara-pengendara motor yang tidak berani menerobos sang hujan.
Saling menggenggam satu sama lain, itulah yang dilakukan kakak beradik itu. Sang kakak seakan tak mau berpisah dengan adik kecilnya yang sedang sibuk memeras rambut sebahunya dengan tangan kiri karena tangan kanannya berada digenggaman tangan sang kakak.
"Main lagi, yuk!" ajak sang kakak, dia berniat untuk menarik adiknya, namun niatnya terhenti saat melihat darah mengalir dari hidung adiknya. Dia terkejut, seketika dia diam karena bingung harus melakukan apa.
"Dingin, Mas." kata sang adik, tubuhnya mulai menggigil, bibirnya semakin membiru. Tangan kirinya kini memegang kepalanya. Lalu beralih ke hidungnya. Seketika tangan mungilnya terkotori darah yang mengalir di hidungnya. Matanya yang polos terus menatap tangannya yang berlumuran darah. "Mas kok ingus dedek merah?" tanyanya dengan wajah polosnya.
Sang kakak langsung membungkuk di depan adiknya. Berniat untuk menggendong sang adik, karena dia tahu adiknya sedang sakit. Dia menyuruh adiknya naik ke atas punggungnya, setelah dirasanya adiknya sudah berada di gendongannya dia langsung berdiri dan berjalan ke depan menengok ke kanan dan ke kiri, saat jalanan lengang dia langsung berlari menyebrangi jalan secepat yang dia bisa.
Fikiran sang kakak langsung tertuju pada Rumah Sakit mewah yang ada di ujung jalan sana. Hujan masih setia mengiringi langkah mereka. Selama perjalanan banyak sorot mata yang memandang mereka berdua dengan iba, ada yang hanya mengamatinya dari jauh tanpa berniat sedikitpun menolong mereka, ada yang tampak acuh dengan mereka, dan ada juga yang berteriak marah karena beberapa kali mereka hampir tertabrak mobil karena kurang berhati-hati.
Mata sang kakak tidak lepas dari gedung rumah sakit yang sudah semakin terlihat di ujung sana. Hingga dia tak menyadari kakinya yang tidak beralaskan kaki mulai menginjak serpihan kaca yang entah dari mana datangnya.
"Aww.." ringisnya kesakitan.
Kedua tangan sang kakak secara refleks melepaskan pegangannya di kaki adiknya dan langsung meraih kakinya yang kini berdarah. Genangan airpun berubah warna dari coklat kemerah-merahan.
BRUKKK!
Tubuh sang adik terjatuh di belakangnya, dengan posisi terlentang. Kepala bagian belakangnya membentur aspal dengan kerasnya, membuat kepala sang adik semakin pusing.
"Dedek maafin mas, dedek jangan mati, biar ibu aja yang mati karena ninggalin kita dijalanan kayak gini, dedek jangan mati!" sang kaka meraung di samping adiknya. Semakin bingung harus melakukan apa. Tangannya terulur kekepala adiknya yang mulai mengalirkan darah di bagian belakang.
Sang kakak mengangkat adiknya dengan tangan kanannya berada di leher adiknya sementara tangan kirinya berada di lutut adiknya. Tubuhnya yang sama-sama kecil membuat sang kakak sempoyongan dan beberapa kali hampir menjatuhkan adiknya. Sang kakak sudah tidak memperdulikan kakinya yang semakin perih karena goresan kaca itu semakin melebar.
"Dedek, mas gak kuat, ayo bangunnn!" untuk kesekian kalinya sang kakak meletakkan tubuh adiknya ke trotoar, karena tenaganya tidak terlalu kuat, setelah tenaganya sudah dirasanya cukup, sang kakak berdiri lagi dan mengangkat adiknya lagi.
Langkah yang sedikit-sedikit itu akhirnya mampu membawa dua bocah itu di depan gedung rumah sakit elit yang tadi ditujunya.
Banyak pasang mata yang mengamati mereka, tanpa mau membantunya. Mereka terlalu takut direpotkan jika membantu dua bocah ini. Di mana rasa simpati dan empati mereka yang diagung-agungkan itu? Tak adakah hati mereka yang tersentuk melihat tubuh pincang seorang anak laki-laki yang berusia 8tahun sedang menggendong adiknya yang berlumuran darah? Di mana hati mereka?
Mata sang kakak berbinar setelah sampai didepan pintu masuk gedung rumah sakit ini. Diapun meletakkan tubuh adiknya dengan sangat hati-hati di kursi tunggu yang sangat nyaman untuk diduduki. Tak heran kursi-kursi tunggu yang ada di Rumah sakit ini begitu nyaman karena rumah sakit ini adalah salah satu rumah sakit elit yang ada di Jakarta. Kota metropilitan yang dipenuhi dengan hiruk pikuk kehidupan yang sangat beragam.
"Dokter, dedek sakit, cepet sembuhin dia dokter, dia ada di sana!" kata sang kakak menghampiri meja resepsionis yang siap menyambut para tamunya. Tangannya yang kumal menunjuk-nunjuk adiknya dengan jari telunjuknya. Mau tak mau sang resepsionist menolehkan matanya kearah yang ditunjuk oleh sang kakak dari adik yang terbaring lemah di kursi tunggu.
"Maaf adik, mamanya mana?" tanya resepsionist. Dengan tatapan sedikit sinis karena yang datang padanya kali ini adalah 2 anak dekil yang biasa ditemuinya di tempat-tempat kotor.
"Saya gak punya mama dokter!" kata sang kakak lagi, dia masih memanggil nama sang resepsionis 'dokter' karena baginya semua orang yang ada di rumah sakit adalah dokter.
"Cepat dokter, dedek kesakitan!" kata sang kakak lagi, geram karena oarang yang dipanggilnya dokter tidak cepat-cepat mengobati adiknya yang semakin parah disana. Tangannya menggapai-gapai tangan sang resepsionist itu.
"Memang adik punya uang berapa? Sana bawa saja adikmu itu ke puskesmas, kami di sini tidak menerima pasien seperti kamu!" kata resepsionis dengan nada semakin sinis.
Tanpa memperduli ucapan resepsionis, sang kakak langsung menarik tangan resepsionis itu. Yang dia fikirkan kali ini adalah dokter yang ada di hadapannya ini harus mengobati adiknya sekarang juga. Dia tidak rela membiarkan tubuh adiknya terus melemah di sana.
"Minggir sana, lepasin tangan saya!" teriak resepsionist sambil menghempaskan tangan sang kakak dengan kasar. Namun sang kakak tidak memperdulikan. Dia terus menarik-narik tangan resepsionist agar segera mengobati adiknya yang semakin menggigil. Air matanya sudah beranak-pinak di wajahnya yang kumal.
Tangan resepsionist dengan lincah menekan nomor seseorang lalu mengarahkan gagang teleponnya ketelinga sebelah kirinya. "Pak, di sini ada keributan, tolong cepat kesini!" katanya tanpa mengucapkan salam terlebih dahulu, lalu mematikan sambungan.
Sang kakak masih menarik-narik reseptionist tersebut sambil memohon-mohon agar adiknya cepat-cepat diobati. Namun, nyatanya resepsionist tidak luluh juga dengan air mata yang sudah dikeluarkan sang kakak. Di seberang sana adiknya mulai bangkit, ingin menghampiri kakaknya yang masih mengemis-ngemis permohonan kepada resepsionist yang sedang berjaga sendirian.
Tak lama kemudian 2 satpam menghampiri mereka dengan tampang garangnya menunjukkan aura menakutkan bagi siapapun yang melihatnya. Mereka berdua berjalan ke arah meja resepsionist "Cepat usir mereka, Pak!" teriak resepsionist.
Satpam yang berkumis menarik paksa sang kakak yang masih mengenggam erat tangan resepsionist. Karena kekuatannya yang berbanding jauh dengan satpam berkumis, genggaman tangan sang kakakpun terlepas. Lalu satpam berkumis menarik paksa sang kakak agar keluar dari Rumah Sakit elit ini. Sementara satpam tanpa kumis menggendong adik sang kakak.
"Jangan kesini lagi!" usir satpam berkumis dengan nada penuh ancaman.
"Kalian semua jahat!" teriak sang kakak. Kini adiknya sudah ada di gendongannya lagi.
Malam semakin larut, namun sang kakak masih menggendong adiknya tanpa tujuan yang pasti. Kakinya terus melangkah, melangkah, dan melangkah. Matanya semakin bersih karena dibersihkan oleh air mata yang sedari tadi terus mengalir ke pipinya.
"Mas, dedek laper!" suara adiknya menghentikan langkahnya. Perutnya juga lapar, terlebih ditambah kakinya yang semakin memberikan efek-efek perih untuk melangkah.
Hujan masih belum juga reda. Sang kakak menengadah ke tas, dalam hatinya dia terus berdoa agar adiknya tidak kelaparan lagi, karena dia tidak memiliki uang sepersenpun. Namun doanya mulai terkabul. Adiknya tidak lagi merenger. Hembusan nafas panas kini dirasakannya di leher. Badan adiknya juga semakin panas. Tapi dia bersyukur karena adiknya sudah tidur.
"Kita harus ke mana, Dek? Kaki mas perih.." kata sang kakak dengan lirih, seakan takut jika adiknya mendengar ucapannya yang begitu menyayat hati.
Kini matanya tertuju pada pasar yang sudah tutup. Dia berjalan ke dalam pasar lalu meletakkan tubuh adiknya dengah hati-hati di depan salah satu kios. Matanya mulai mencari sesuatu yang menghangatkan untuk adiknya yang semakin menggigil. Kakinya dengan cepat berlari ke arah tong sampah besar yang didalamnya terdapat gundukan kardus. Sambil terus berlari, air matanya lagi-lagi mengalir, dia menggigit bibirnya untuk menahan rasa perih di kakinya.
Setelah mengambil banyak-banyak kardus, diapun berjalan lagi ke adiknya. Menyusun kardus-kardus tersebut sampai dirasanya nyaman.
Sang kakak mengangkat tubuh adiknya lagi, dan meletakkan adiknya di tempat tidur yang baru saja dibuatnya dari kardus. Tubuh adiknya menggigil lagi. Kini tubuh adiknya mengarah ke samping dengan tanganya yang terus memegangi perut kesakitan.
Sang kakak berniat menyelimuti adiknya dengan kardus, namun sebelum melancarkan niatnya dia mencoba menyelimuti dirinya sendiri dengan kardus yang akan diberikannya kepada sang adik. Kepalanya menggeleng lemah karena dirasanya tumpukan kardus itu tidak bisa menghangatkan tubuhnya, dan itu artinya tumpukan kardus itu juga tidak bisa memberikan efek hangat kepada adiknya.
Dia kembali lagi ke tong sampah rasksasa tempatnya mendapatkan kardus. Lalu masuk kedalamnya dan mencari-cari sesuatu di sana. Tangannya tak sengaja menangkap sika-sisa bahan tak terpakai yang bisa menghangatkan tangannya. Dia tersenyum ceria. Binar matanya tak bisa disembunyikannya. Dengan cekatan dia mengambil bahan-bahan yang dirasanya masih panjang dan menghangatkan tubuh. Dia keluar dari tong sampah besar itu lalu berlari ketempat dia meninggalkan adiknya dengan mengabaikan rasa perih di kakinya.
Namun, betapa terkejutnya dia saat adiknya sudah meringkuk ketakutan di hadapan seorang preman berbadan besar dengan tato-tato menyeramkan di lengannya. Hatinya mencelos. Takut adiknya di apa-apakan oleh preman itu.
"Ada apa, Bang?" tanya sang kakak, dia merentangkan tangannya di hadapan sang adik yang sedang menangis ketakutan seakan sedang menjaga adiknya dari orang yang sangat berbahaya. Sementara di belakang tubuh panas adiknya langsung memeluknya dari belakang.
"Kalo elu mau tidur disini, elu harus bayar dulu sama gua! Kalo enggak lu bedua harus pergi dari sini!" kata preman itu dengan suara yang sangat menggelegar.
"Besok saya bayar, Bang!" kata sang kakak masih merentangkan tangannya agar preman itu tidak menyentuh adiknya.
"Oke, awas kalo enggak, adek lu ini bakalan kek!" kata preman itu sambil memperagakan pisau di lehernya. Sang kakak hanya mengangguk, dalam hatinya dia bergetar menahan takut. Adiknya semakin mengeratkan pelukannya di belakang.
Setelah dirasa cukup mengancam kedua bocah itu. Preman itu pun pergi. Sang kakak membalikkan tubuhnya, kristal-kristal air di rambutnya masih terus berjatuhan, mengingat hujan yang tidak juga berniat berhenti sedikitpun.
"Dedek disini dulu, mas mau nyari makan buat dedek.." katanya seraya mengusap pucuk rambut adiknya. Air matanya kembali menetes tapi raut wajahnya dibiarkannya berbinar untuk meyakinkan adiknya bahwa semuanya akan baik-baik saja.
"Dedek takut, Mas, dedek takut mas ilang kayak mama." ujar sang adik sambil menghapuskan air matanya, dan lagi-lagi darah dari hidungnya keluar lagi.
Sang kakak langsung langsung membersihkan hidung adiknya dengan kain bekas yang dibawanya dari tong sampah. Selesai membersihkan darah di hidung adiknya, dia langsung membaringkan adiknya lagi, lalu menyelimutinya dengan kain-kain sisanya yang lain.
"Dedek di sini dulu, mas gak bakalan ninggalin dedek, tidur dulu ya, sebentar doang kok." kata sang kakak meyakinkan adiknya, dan setelah adiknya menganggukkan kepalanya, dia berlari keluar pasar mencari rumah makan yang bisa memberikannya makanan.
"Aw!" ringisnya. Menjatuhkan tubuhnya di trotoar yang sepi.
"Sakit" ringisnya, air matanya turun lagi, kakinya lagi-lagi menginjak benda tajam dan kali ini paku. Dengan memejamkan matanya dia mencabut paku yang yang menancap di telapak kakinya yang sama terkena pecahan beling sebelumnya.
Hujan masih menyelimuti kota, dalam hatinya dia ingin segera mendapatkan makanan untuk adiknya. Sakit hatinya melihat adiknya mengigil kedinginan lebih kuat dibandingkan sakit kakinya yang tertancap paku dan pecahan kaca yang masih menyisakan darah mengalir dari telapak kakinya.
Kakinya menangkap sebuah kedai pecel lele yang ramai dikunjungi para pelanggan di sebrang sana. Sambil menahan sakit di kakinya dia mulai menyebrang, menghampiri kedai tersebut.
"Pak, ade saya kelaparan.." katanya, mencoba meluluhkan salah satu pelanggan yang sedang bersuka ria dengan teman-temannya sambil menyantap pecal ayam yang sudah tinggal separuh.
"Sana pergi!" teriak pelanggan tersebut. Dan dengan berat hati dia menjauhi si pelanggan angkuh itu. Karena merasakan sia-sia jika meminta-minta seperti yang dilakukannya tadi, dia pergi menuju tempat cuci piring. Matanya lagi-lagi berbinar melihat banyak piring yang masih menyisakan makanan di atasnya.
Dia menengok ke kanan dan ke kiri mencoba mencari sesuatu yang bisa digunakan untuk membawa mkanan itu. Tapi tak ada satu plastikpun yang dijumpainya, dia sempat ingin meminta plastik kepada sang pemilik kedai yang sedang sibuk menggoreng lele dan ayam di sana, namun fikirannya dibuangnya jauh-jauh karena dia takut diusir lalu kesempatannya membawa makanan untuk adiknya sirna begitu saja.
Matanya menangkap bajunya sendiri. Lalu dengan cepat dia melepas bajunya, membentangkan bajunya di rumput-rumputan lalu menuangkan makanan-makanan sisa yang ada di semua piring yang ada di sana.
Saat dirasanya makanan itu cukup untuk dimakan berdua, dia menarik setiap sudut bajunya dan direkatkan jadi satu, kini bentuk bajunya sudah menyerupai guci yang gembung di bawah dan mengerucut di atas.
Kemudian dengan cepat, dia berlari, namun di tengah-tengah jalan raya kakinya berdenyut lagi, hingga dia menghentikan langkahnya. Dan dari arah bersebrangan mobil melaju dengan cepatnya menyerempet tubuh kurusnya yang tidak memakai baju.
Buntalan makanan yang ada ditangannya terlepas. Sementara tubuhnya terhempas ke samping jalan.
"Sakit!" rintihnya sambil memegangi pinggangnya yang diserempet mobil barusan. Mata polosnya terus menatap mobil yang menyerempetnya hingga hilang ditelan malam. Dia memejamkan matanya menahan sakit tubuhnya.
"Makanan buat dedekkk!!!" teriaknya langsung berlari kearah makanan yang sudah berceceran di jalan.
"Dedek maafin mas, makanannya jatuh." katanya sambil memunguti makanan yang berserakan di jalan itu.
"Dedek mas ditabrak." katanya masih sambil memunguti sisa-sisa makanannya itu. Air matanya kini mengalir lagi, kali ini hujan tidak bisa menghapus air matanya karena hujan sudah terhalang oleh jalan layang berada beberapa meter di atasnya.
Beruntung jalanan semakin sepi, mengingat malam yang semakin larut.
"Dedek mas mau mati aja, tapi nanti dedek sama siapa?" katanya mengambil butiran nasi terakhir yang masih masih bisa dimakan. Lalu dia membuntal makanan itu seperti semula. Dia berdiri, lalu mulai berjalan menuju pasar. Berjalan terseok-seok karena perih dikakinya semakin terasa dan tubuhnya yang terasa ingin patah akibat diserempet hingga jatuh oleh pemilik mobil mewah yang tiadk mau tanggung jawab.
Dia masih bertahan, berlari sebisanya karena takut adiknya menjadi bahan jailan preman-preman pasar. Dia begitu menyayangi adiknya. Semenjak ibunya yang kejam membuangnya di kolong jembatan beberapa bulan yang lalu, hanya adiknyalah sisa keluarganya yang dimilikinya. Dia ingin sekali kembali kepada keluarganya, tapi bagaimana caranya?
Jujur hatinya terasa sangat sakit ketika mengetahui dirinya dan adiknya sengaja di buang begitu saja oleh orang tuanya. Dia dan adiknya tidak tau arah jalan pulang, sering mereka bertanya pada beberapa orang yang lewat didepannya, menanyai dimana Ibu mereka tapi yang didapatnya adalah sorotan jijik dari semua orang yang ditanyainya. Dan satu hal yang akhirnya membuat mereka menyerah mencari keberadaan ibunya 'Tak ada satu orangpun yang mau membantunya'.
"Dedek mas dateng!" gumamnya pada diri sendiri saat memasuki area pasar. Dia terus berjalan, walau sambil meringis kesakitan.
"Dedek mas dateng!" gumamnya lagi seakan meyakinkan hatinya. Dia langsung berlari menyingkirkan rasa sakit di tubuhnya.
Begitu melihat tubuh adiknya yang masih terbaring lemah di sana. Badannya jatuh begitu saja di samping adiknya. Air matanya semakin deras seperti hujan yang masih betah mengiringi kisah mereka.
"Dedek bangun!" kata sang kakak. Dia mengguncang tubuh adiknya yang semakin panas.
Tubuh adiknya tambah meringkuk seperti bayi, lalu sang kakak menepuk pipi adiknya dengan pelan, berharap pipi adiknya tidak tersakiti oleh tangannya yang mulai kasar.
"Dek bangun, mas bawa makanan." katanya lagi. Mendengar kata makanan adiknya langsung membuka mata. Mata coklatnya menatap mata kakaknya dengan berbinar, bibirnya semakin pucat.
Sang kakak membantu adiknya duduk. Tubuh adiknya yang lemah menyender di pintu kios. Ketika adiknya sudah benar-benar duduk, sang kakak langsung membuka bungkusan makanan yang dibawanya. Saat melihat makananan yang dia bawa sudah tidak berbentuk lagi, dia menunduk tak berani menatap mata adiknya.
"Maafin mas, Dek, tadi makanannya jatoh di jalan." sambungnya masih dengan kepala tertunduk.
Melihat kakaknya sudah berjuang keras mendapatkan makanan, adiknya tersenyum lalu menyuapkan nasi itu ke dalam mulutnya.
"Ayo, makan sama-sama mas!" kata sang adik menyodorkan tangan lemahnya yang sudah berisi nasi. Dan dengan mata berbinar sang kakak langsung membuka mulutnya, memakan nasi yang disodorkan adik tersayangnya.
"Dedek haus mas.." kata adiknya. Dengan cekatan kakaknya langsung berdiri pergi meninggalkan adiknya lagi. Sesampainya di depan pasar. Logikanya mulai bekerja, dia tidak mau meninggalkan adiknya terlalu lama untuk mendapatkan minum. Mengingat warung-warung sudah tidak ada yang buka dan kedai pecel lele tadi begitu jauh dari sini, sang kakak mendesah kecewa.
Hingga akhirnya matanya menangkap talang air sebuah rumah yang menumpahkan air hujan dari atas atap seng rumah itu. Dia buru-buru mencari botol untuk menampung tetesan air hujan itu. Dan hari ini dunia sedang berpihak pepadanya dengan cepat ditemunya botol air mineral yang masih berisi setengah lalu dia berlari ke pancuran air hujan tadi lalu mengisinya hingga penuh.
Setelah dirasanya cukup dia berlari lagi ke arah adiknya. Adiknya masih di sana dengan jumlah nasih yang sama seperti sebelum sang kakak meninggalkannya. Dia dengan setia menunggu kakaknya kembali. Sang kakak berlari lagi ke arah adiknya dengan kaki yang masih terpincang-pincang.
Sang kakak langsung menyodorkan airnya kepada adiknya, lalu dengan cekatan sang adik langsung meminumnya. Sang kakak mengamati adiknya, tapi tiba-tiba matanya menangkap sepasang sayap putih dipunggung sang adik. Sayap-sayap yang sangat cantik, namun ntah mengapa melihat sayap cantik itu, sang kakak langsung memeluk adiknya, perasaannya tak karuan. Air matanya juga semakin deras.
"Mas kenapa nangis? Ayo, makan lagi.." kata sang adik.
Sang kakak melepas pelukannya lalu memandangi punggung adiknya lagi, syap-sayap cantik yang begitu menakutkan itu sudah menghilang. Namun, air mata sang kakak masih terus mengalir walaupun sudah sering kali dia menghapusnya.
"Mas cepet makannya, aku udah dipanggil dari tadi." kata sang adik.
Lagi-lagi tanpa mengerti apa yang sedang dikatakan sang adik, sang kakak memeluk adiknya lagi, kini lebih erat dibanding sebelumnya. Rasanya sang kakak tidak mau melepaskan adiknya, terlalu takut kehilangan adik kecilnya yang semakin berkata ngelantur.
"Iya sebentar yaaa, dedek masih pengen peluk masnya dedek sebentar aja." katanya lagi. Mata polosnya menatap sosok serba hitam yang seakan sedang menjemputnya dibalik punggung kakaknya.
"Dedek ngomong sama siapa?" tanya kakaknya. Masih dengan memeluk adiknya. Ingusnya sudah bercampur dengan air matanya.
"Dedek udah dijemput ayah." kata Adiknya lagi.
DEGGG!
Tubuh sang kakak menegang mendengar nama ayahnya yang satu tahun lalu meninggal karena penyakit jantung.
"Dedek jangan ikut ayah, mas ama siapa nanti?" kata sang kakak mulai histeris, suaranya bergetar. Dia masih tidak mau melepaskan pelukannya terhadap adiknya.
"Dedek cape mas, dedek mau ikut ayah.." kata adiknya begitu menyayat hati. Air mata kakaknya semakin menderas, seperti hujan yang kini deras kembali. Seakan menangisi dua anak yang sudah diujung batas perpisahan.
"Yaudah mas ikut dedek sama ayah aja." kata sang kakak histeris.
Adiknya melepaskan pelukan kakaknya. Dengan senyum malaikatnya sang adik mencium kening kakaknya dalam "Dedek sayang mas" katanya. sang kakak membeku karena mulai melihat sayap putih mengerikan di bahu adiknya lagi.
Sang kakak terdiam. Tangannya msaih sibuk menghapuskan airmata dan ingusnya. Adiknya yang tadi lemah, sekarang segar bahkan ada ada kilauan di wajahnya, adiknya semakin cantik. Tiba-tiba adik memeluk kakaknya "Dedek sayang mas." katanya lagi. Tiba-tiba dirasakannya tubuh dingin adiknya di badan sang kakak.
Sang kakak melepaskan pelukannya. Lalu badan adiknya jatuh begitu saja di tempat tidurnya tadi. Wajah adiknya begitu damai, wajahnya tersenyum kearah kakaknya yang beradaa disebelah kanannya.
"Dedeeek!" sang kakak mengguncang tubuh adiknya yang sudah membeku.
"Dedeeek, jangan tinggalin mas!" kata sang kakak lagi, dia mengguncang tubuh adiknya lebih kencang lagi. Namun adiknya tetap tidak mau bangun.
"Dedeeeeekkk!" teriaknya sambil memeluk tubuh adiknya yang sudah mulai kaku. Air matanya kembali mengalir dengan derasnya. Lebih deras dari hujan yang masih mengiringi kisah kedua adik kaka tersebut.
=Tamat=