Jujur saja aku memang suka dengan dia . Tapi, selama ini tidak ada yg bisa memasuki hati nya yg sedingin lemari pendingin. Apakah aku mampu bertahan di setiap kedinginan yg menusuk hingga ke dalam badanku?
Bima
Pria tampan idaman semua gadis .
Memiliki hati sedingin es dan sekeras baja
Amara
Gadis imut ceria, namun sayangnya menderita asma
Jatuh cinta pada Bima pada pandangan pertama
Sofia
Putri kaya yg digemari semua orang.
Memiliki Sifat sombong dan suka membully
"Pagi,Bima!"
Seperti biasa nya sebelum pelajaran dimulai Amara selalu datang untuk memberikan sebuah Lollipop untuk Bima.
Ini sudah kali ke 10 nya dia datang.
"Eh si imut Rara sudah datang menemui pujaan hatinya" teman Bima , Nicko yg suka menggoda Bima jika didatangi Amara.
"Bisa tidak Lo diam aja! " pinta Bima
"Ya elah , Bim . Cuek amat lu jadi orang" Nicko kembali menggoda Bima.
"Bima nih seperti Biasa Lollipop untuk mu " Amara mengeluarkan Lollipop dari kantung bajunya
"Gak capek apa Lo kesini tiap hari " Bima masih saja dingin kepada Amara
"Meskipun amara capek , tapi tetap harus amara lakuin sampai Bima jatuh cinta pada Amara." Senyum Amara yg manis membuat Bima sedikit gugup.
"Udah ya bye , Bim"
Perlahan Amara berjalan keluar dari kelas
"Cieee, Bima ngeblush "
"Apaan sih Nick ? Mana ada gue ngeblush "
"hmm...datang lagi satu "
"Good Morning my sunshine Bimaaa"
"Lebay banget dah lu Sofia " Nicko merasa jijik dengan panggilan Sofia untuk Bima . Dibandingkan dengan Sofia yg kaya , Amara siswi biasa jauh lebih baik
"Suka Suka gue dong. Emang urusan Lo"
"Dasar mentel. Wleee 😝"
'Bim, gue bawaian Lo sarapan buatan gue. Ini dibuat dengan cinta."
"Makasih. Tapi gue udah kenyang. Silahkan pergi"
"Bim, kok lo gini sih sama gue. Lo nolak makanan gue terus ngapain Lo Nerima permen murahan dari amara ?"
"Itu urusan pribadi gue . "
"Cih, semua ini gara gara Amara kan ! " Sofia berjalan keluar dari kelas dengan kesal .
Di halaman sekolah
"Sudahlah Sofia , Jangan marah marah lagi. Nanti lo cepet tua loh"
"Gue sedang marah ,Lili. Jangan bercanda "
"iya-iya"
"Bantuin gue mikirin cara singkirin Amara itu"
"Fia,aku ada ide ! "
Keesokan Harinya
Keramaian dilapangan sekolah menarik perhatian semua orang . Semua berkumpul bersama untuk melihat apa yg terjadi.
Tapi tidak ada satu guru pun termasuk kepala sekolah yg berani membubarkannya . Karena keributan ini dibuat oleh Sofia , anak pengusaha terkaya di kota.
"Heh! Amara , gue peringati lo sebaiknya jauhi Bima . Atau gue gk akan segan-segan untuk menyiksa mu"
"Lakukan aja Siapa takut ! Hak gue kok buat deketin Bima , Lagipula siapa yg akan jadian sama Bima cuma Bima yg bisa nentuin." Amara tidak takut dengan ancaman Sofia . Ia tetap bertahan pada tujuannya
"Dasar Samp4h ! Cuman ngasih permen murahan tapi Bima kok mau ya nerima . Sedangkan makanan mahal gue ditolak . Pake Santet apa sih Lo!"
Perkataan Sofia seperti mempermalukan dirinya sendiri di depan banyak orang .
"sstt, fia . Jaga ucapan Lo" Lili berbisik kepada Sofia , tetapi Sofia tidak menghiraukan nya.
"HAHAHA , berarti Bima lebih milih gue daripada elo!"
diparkiran motor
"Bim, cepat si Sofia dan Amara bertengkar di lapangan sekolah karena lo"
"Terus?" Bima cuek dan tidak terlalu peduli dengan pertengkaran itu
"Ini bisa menjadi berita viral kalau tidak dihentikan. Hanya Lo yg bisa menghentikan mereka"
"Kenapa harus gue ?Hah, ya udah lah" Bima berlari kelapangan sekolah dengan emosi karena merasa terganggu.
Sekelompok orang mulai menyadari kedatangan Bima
"Bima, Lo datang demi gue kan " Sofia langsung berpura pura lemah begitu tahu ada Bima
"Jangan kegeeran deh Sofia"
"Amara , Lo kalau Iri ya Bilang dong. Ga usah nyindir juga"
"Iri? Gak Mungkin"
"DIAM!"
"Bim,…" Amara terkejut dengan teriakan Bima
"BISA GAK SIH LO BERDUA GAK GANGGUIN HIDUP GUE. DENGAR YA , AKU BIMA DIANTA ! TIDAK AKAN PERNAH MENYUKAI KALIAN. KALAU BISA SEBAIKNYA KALIAN MENGHILANGKAN DARI HIDUP GUE KARENA KEHADIRAN KALIAN MENGGANGGU KETENANGAN HIDUP GUE !!!" Bentak Bima
"Bima, Lo sadarkan apa yg Lo ucapin?" Nicko berusaha memperbaiki keadaan karena ia takut kalau perkataan sahabat nya ini bisa menyakiti perasaan kedua gadis itu
"My honey Bima, kok tega bentak Sofia. Sofia kan cuman ingin bersama Bima tapi si penganggu ini datang"
"Menyingkir , Aku males lama lama disini" Bima berjalan pergi dari kerumunan sedang Amara masih terbenam dalam pikirannya
"Bima Lo yakin mau gue pergi ?" ucap Amara dengan suara kecil dan tidak bisa didengar siapapun
Kemudian Amara juga berjalan pergi diikuti oleh sahabatnya Dea
"Ra, Lo mau kemana . Tungguin gue "
Amara duduk dibangku taman yg saat itu memang sedang sepi
"Ra... Lo gak pa pa kan ?"
"huhuhu , Dea aku sangat sedih. "
Amara menangis dipelukan Dea
"Sudahlah. Sekarang pilihan mu Amara . Mau lanjut atau menyerah ?"
"Tentu saja aku akan lanjut. Seorang Amara tidak akan menyerah"
"Ya udah ayo kita balik ke kelas"
"hmm..."
BRUKK...
"Amaraaaaa , Lo kenapa? Bangun jangan nakutin gue. Gue masih butuh Lo untuk ngasih contekan ujian "
Dikelas Bima
"Bima, Lo yakin dengan perkataan Lo tadi?"
"Gue yakin"
"Nanti kalau mereka beneran menghilang dari hidup Lo gimana. Kalau gue gak masalah Sofia hilang tapi gak tega kalau si imut Amara yg pergi "
"Lo suka sama Amara? Ya udah buat Lo aja,Nick "
"Bukan itu maksud gue ,Bim . Gue cuman suka sama Dea . Tapi Lo terlalu kejam sama Amara . Amara adalah gadis polos dan imut. Kamulah orang pertama yg disukainya . "
"Dia sendiri yg mau suka sama gue. Bukan gue nyuruh "
"Yakin nih ? Gue perhatiin seperti nya lo ada perubahan semenjak ketemu Amara. Bim, gue cuman mau ngasih tau cinta itu bisa membuat orang bingung. Bisa aja Lo gak tau gimana perasaan Lo pada Amara"
"Terserah" Bima tidak peduli dengan apa yg dibilang Nicko, karna ia berpikir kalau Amara tidak mungkin akan pergi .
"Bomat lah gue bicara sama Lo. "
Keesokan Harinya
"Pagi Dea"
"Nicko? Minggir Lo ngapain Deket gue"
"Dea , lagi bete ya? Aku salah apa "
"Lo sama aja kayak Bima"
"Ih jangan bete lagi. Nih bunga untuk Lo"
"Nicko... Lo gak bakalan marah ke gue seperti yg Bima lakuin kan ?" Dea memeluk Nicko
"Dea ku sayang, Untuk apa aku marah? Di hatiku kamu adalah yg paling sempurna" Nicko membalas pelukan dea
"hmm. Makasih"
Setelah Nicko mengantarkan Dea kekelasnya , Nicko masuk ke kelasnya dan melihat Bima sudah tiba duluan
"Bim, Si Amara udah nyamperin lo belum ?" Nicko melirik laci meja Bima dan belum menemukan ada Lollipop disana.
Kriiinnngg..... Kriiinnngg
Bel berbunyi
"Udah bel nih. Tumben Amara belum nyamperin lo"
"Baguslah " Ucap Bima
"Bagus? Tapi raut wajah Lo kayak lagi nyariin Amara"
"Mana ada"
3 hari kemudian...
Bima duduk di pojok kantin dimana itu merupakan tempat yg paling tenang
*sudah tiga hari , Amara gk nyamperin gue . Dia juga gak datang sekolah* ucap Bima dalam hati
"Ngapain disini sendirian?" Nicko dan Dea datang menghampiri Bima
"Cuman pengen duduk aja"
"Dea , Amara kemana aja sih beberapa hari ini ?" tanya Nicko
"Gak tau , Nick"
"Ayolah Dea sayang. Kasih tau gue " Nicko merengek rengek sambil bersandar di bahu Dea
"Gak Mau ! "
"Dea, Amara tinggal di Mana ? "
Tiba tiba Bima bertanya dan langsung mengejutkan Dea Dan Nicko
"HAH?!" teriak Nicko dan Dea serempak
"A.. Amara tinggal di... . Gue gak bakalan ngasih tau"
"Kenapa?"
"Itu rahasia " Dea bersikeras tidak mau memberitahu
Bima kemudian pergi dengan kecewa
"Nick, sepertinya Bima mulai menyukai Amara deh . Iya kan?"
"Iya nih. Eh Dea sebenarnya Amara dimana sih sekarang? "
"Amara... Nanti gue kasih tau lho deh waktu pulang" Dea mengelus kepala Nicko seperti anak kecil
12.30
Pulang Sekolah
"Dea , yuk gue anterin"
"Oke. Tapi kita ke rumah sakit ya bukan ke rumah gue "
"lho , mau ngapain?"tanya Nicko
"ada deh "
Sesampainya dirumah sakit
Dea mengajak Nicko naik ke lantai dua dan berhenti tepat didepan ruangan ICU
"Amara!" Nicko terkejut melihat Amara melalui kaca
"Di sanalah Amara berada. Sekarang Lo sudah tau kan ? " Dea memegang kaca , melihat Amara dengan sedih
"Apa yg sebenarnya terjadi?" Nicko memapah Dea untuk duduk dibangku depan ruangan
"Waktu itu tepat setelah bentakan Bima. Amara pergi ketaman dan menangis di sana. Aku menghiburnya Hingga dia berhenti menangis . Tetapi setelah itu Amara pingsan .Gue pun panik. Setelah dibawa ke rumah sakit , dokter berkata asma nya kambuh karena depresi. Aku ingat kalau Amara memang menderita asma sejak kecil. Tapi Aku tidak tau , kalau kambuh nya kali ini sangat parah. Ia sudah koma selama 3 hari dan belum sadar juga " Dea bercerita sambil menangis memikirkan Betapa malangnya Amara .
"Jangan menangis Dea. Masih ada aku . Aku akan selalu menemani mu " Nicko memeluk Dea .
"hmm"
"Dimana orang tua Amara ? "
"Orang tua Amara sibuk bekerja di luar negeri. Bahkan mereka tidak pernah peduli pada Amara. Amara selalu hidup kesepian . "
"Jadi saat ini siapa yg merawatnya ? "
"aku dan orang tua ku "
"Ternyata Dibalik Amara yg ceria ada Amara yg kesepian"
"Nicko ayo kita masuk kedalam."
"Baiklah"
"Amara... Gue bawa Nicko datang ngunjungi Lo "
"Ra, Lo kok bisa jadi gini , kamu yg ceria , kamu yg imut ada di mana ?"
"Amara , cepat lah bangun . Kami mohon"
Mereka duduk dan berdoa disamping Amara yg tengah dipasang alat bantu pernapasan
besoknya...
( 1 hari tanpa Amara , aku merasa aneh . 2 hari tanpa Amara aku semakin khawatir. 3 hari tanpa Amara , aku mencarinya . 4 hari tanpa nya , aku merasa kehilangan )
Pagi ini hujan deras. Bima berdiri di depan kelas menatapi hujan , dirinya merindukan Sosok Amara yg ceria . Bima menyadari kalau dirinya telah jatuh cinta pada Amara . Dia sendiri lah yg membuat nya kehilangan Amara .
"Andai aku bisa bertemunya lagi ..."
"Bima, makan bareng yuk nanti " Sofia tiba tiba datang dan menghancur semua halusinasi Bima
"Maaf . Aku gk mau "
"Bim, kenapa sih Lo masih aja gini. Sekarang Lo hanya punya gue. Si Amara udah gak ada kan "
"Seumur hidup gue. Gue gk bakalan mau sama Lo"
"Pasti gara gara amara kan . Apasih kelebihan cewek murahan itu daripada gue ?!" Sofia memegang tangan Bima, menghentikan nya untuk pergi
PLAAKKK...
Pipi sebelah kiri Sofia bengkak akibat tamparan keras dari Bima .
"Hah!? Berani nya Lo nampar gue ? "
"JAGA MULUT LO . YANG MURAHAN ITU ELO BUKAN AMARA ."
Semua orang menyaksikan tamparan yg diberikan Bima kepada Sofia.
"Hei , Lo brengs3k beraninya Lo mukul cewek gue." Andrew yg merupakan mantan Sofia meninju Bima
"Cih" Bima mengelap ujung bibirnya yg berdarah.
"Bim, ayo pergi jgn ribut lagi disini " Nicko menarik narik Bima untuk pergi.
"URUS CEWEK LO BAIK BAIK . SURUH DIA JANGAN JADI SEORANG P3L4CUR !" Bima melototi Andrew dan kemudian pergi .
"Bima ayo kita ke UKS buat obati luka Lo "
"Gak usah Nick . Bantuin gue ijin aja gue mau pulang "
"Oh yaudah "
Bima mengambil tasnya dan menuju parkiran
Saat itu masih hujan , bima merasakan ketenangan dan tanpa sadar ia memikirkan Amara.
Sebelum Pulang Bima terlebih dahulu ke rumah sakit untuk mengobati lukanya .
Setelah diobati , ia berkeliling dan tidak sengaja melewati ruang ICU .
"A...amara ! " Langkah Bima terhenti karena melihat gadis mungil dan ceria itu terbaling lemas di ranjang rumah sakit .
Segera ia masuk dan memastikan kalau itu benar Amara .
"Amara..." ucap Bima dengan suara pelan
Bima mengelus wajah Amara yg pucat dengan selang oksigen terpasang di hidungnya .
"Amara, kenapa kamu tidak bangun? "
Amara masih saja tidak membuka mata
"Ada apa dengan mu , kenapa kamu tidak bisa bangun "
"Ehemm" Seorang dokter tiba tiba masuk
"Tuan , kalau boleh tau . Anda siapanya nona Amara ya ?"
"Eh,itu .Sa..saya pacarnya."
"Kenapa saya baru melihat anda hari ini? Padahal nona Amara sudah koma disini selama 4 hari "
"Saya... " Bima menunduk tidak tau mau menjawab apa lagi .
"Sudahlah. Biarkan saya memeriksa nya dulu "
beberapa saat kemudian
"Dokter , ada apa dengannya ?"
"Penyakit asma nya kambuh karena depresi . Dan kenapa dia bisa depresi seharusnya anda tau sendiri" Ucap dokter sambil melangkah keluar
"Oh, terimakasih dokter"
Bima duduk di samping Amara sambil menggenggam tangan nya. Perlahan Bima tertidur. Sudah lebih dari satu jam Bima tidur disana.
"Bim, bangun " Nicko menggoyang goyangkan badan Bima
"Nicko, kenapa kamu disini?"
"Ayo kita ngobrol di luar saja"
"Bima , gimana Lo bisa tau Amara ada sini?" tanya Dea
"Aku tidak sengaja lewat tadi. Justru kalian , mengapa kalian merahasiakan ini dari gue"
"Emang Lo siapa nya Amara sampai harus tau. Lagipula kata terakhir dikatakan Amara sebelum koma adalah untuk tidak memberitahu mu hal ini"
"Amara, dia. Dia depresi karena apa?"
Mendengar pertanyaan Bima , Dea dan Nicko terkejut berjamaah .
"Ehem, itu . Pada malam sebelum pertengkaran Sofia dengan Amara . "
Flashback
"ayah ibu , bisa kah kalian menemaniku di natal kali ini?" Amara berbicara dengan orang tua nya ditelepon
" Amara , Ayah dan ibu punya rapat penting jadi kami tidak bisa "
"Tapi..." Tut Tut Tut panggilan telepon ditutup oleh ibunya
"Huhuhu, mengapa , mengapa mereka tidak pernah peduli pada ku "
Flashback Stop
"Amara menelponku malam itu dan menangis . Tapi pagi nya dia kembali menunjukkan senyum cerianya dan hendak pergi mencari Bima . Lalu segerombolan orang menghalangi kami , pertengkaran dimulai . Setelah itu kamu mengatakan kalau hidupmu terganggu dengan kedatangannya . Depresi nya bertambah berat. "
" Hei mengapa kalian semua tegang sekali" Nicko mencairkan suasana yg canggung.
"Dea ku sayang. ayo kita pergi berkencan. Biarkan Bima saja yg menjaga Amara."
Nicko membawa Dea pergi . Dan sekarang hanya tersisa Bima di sana.
Sudah 1 Minggu berlalu dan Amara masih belum sadarkan diri . Selama satu Minggu ini Bima selalu marah bila ada perempuan yang mendekati dirinya . Bima juga merawat Amara setiap hari . Membacakan nya cerita, menyanyi lagu . Dan sebelum Bima pulang Bima selalu mencium kening Amara dan mengucapkan kata
"Aku mencintaimu"
Hari ini , hari Minggu Bima ingin menghabiskan seharian bersama Amara .
"Ra , kapan kamu akan bangun ? Aku merindukan senyuman mu "
"uh" jemari tangan Amara bergerak
Perlahan matanya terbuka . Kilauan cahaya menyinari matanya . Dan orang pertama yang ia lihat adalah Bima.
"Bi..Bima ?"
"Amara, akhirnya kamu sadar . Aku sudah menunggu mu sangat lama."
"Bima, wajahmu kenapa ? " Amara menyentuh ujung bibir Bima yg masih agak lebam
"aku tidak apa apa " Bima menyentuh tangan Amara yg ada diwajahnya sambil tersenyum.
"Eh, kenapa kamu bisa ada disini ? Jangan jangan Bima sudah suka dengan Amara ya ? " Tanya Amara sambil mendekati Bima
"Err, itu . Aku pergi beliin kamu makanan dulu" Bima Segera kabur karna gugup dengan pertanyaan Amara
"Eehhh , Bima "
••••
"Amara, aku sudah kembali..." Bima membuka pintu ruangan dan menyadari Amara menghilang
"AMARA! Kamu Dimana?" Bima berlari keluar dan mencari cari Amara
Dia berhenti di sudut ruangan dan melihat Amara sedang mengobrol ditelepon
"Ibu, aku tidak mau dijodohkan. Hanya karena itu orang kaya , kalian sudah menjodohkan ku dengan dia . Pokoknya aku tidak mau . Kalau kalian memaksa ku maka aku akan memutuskan hubungan dengan kalian "
Amara mematikan teleponnya dan duduk menyembunyikan wajahnya sambil menangis.
"Huhuhu, kalian tidak pernah peduli pada ku. Sekarang bahkan kalian ingin menikahkan ku hanya karna uang . Apakah kalian tidak tahu betapa menderitanya aku. "
Bima mendengarkan segalanya.
Setelah Amara selesai menangis ,ia kembali tersenyum manis untuk menyembunyikan kesedihannya
"Bi.. Bima. Kenapa kamu ada disini ? ayo kembali"
Bima menarik tangan Amara dan menjatuhkannya kedalam pelukan .
"Amara , jangan menanggung semua sendiri. Menangis lah , itu akan membuat mu merasa lebih baik "
"Bima, huhuhu"
Mereka berpelukan disana selama 15 menit
Lalu mereka kembali ke kamar Amara
"Ra, Kita pacaran ya ?" Bima memegang tangan Amara
"Hmm, iya " Amara tersenyum senang karena akhirnya si dingin Bima sudah menjadi Hangat
"Perjuangan sesulit apapun pada akhirnya akan Mendapatkan hasil Yang sempurna" ~ Amara