Riak kecil air laut yang menyentuh batu karang dengan semilir angin pantai menimbulkan suara yang syahdu senja sore ini. Aku duduk sendiri di atas batu karang sambil melihat lukisan alam yang memanjakan mata sambil mengucap syukur kepada yang Kuasa.
Sambil memejamkan mata, aku coba meresapi rasa yang ada sambil sesekali menahan gejolak di dada yang akan menghasilkan bulir bening di ujung mata.
Ya Tuhan ku, tolong angkat rasa sesak di dada biar aku pulang dengan hati yang lapang selaksa oase di gurun sahara.
We let the waters rise
We drifted to survive
I needed you to say
But I let you drift away
My love where are you? My love where are you?
whenever you're ready, whenever you're ready
whenever you're ready, whenever you're ready
Can we, can we surrender
Can we, can we surrender
I surrender
no one will win this time, I just want you back
I'm running to your side
Flying my white flag, my white flag
My love where are you? My love where are you?
Whenever you're ready, whenever you're ready
Whenever you're ready, whenever you're ready
Can we, can we surrender
I surrender
Sambil memejamkan mata ku coba meresapi untaian kalimat di lagu SURRENDER yang di nyanyikan oleh Nathalie Taylor.
Begitu mengena di jiwa yang sepi karena suatu alasan yang pasti, ku coba melalui semua ini tapi apa daya diri ini yang tak mampu menghadapi semua ini.
"Maaf, yang mas terlambat", kata seseorang yang baru datang.
"Gak papa Mas, Adik ngerti kok kerjaan Mas gak bisa di tinggal", jawabku sambil tersenyum.
"Udah pesan makanan? kok Mas lihat mejanya sepi gini!" katanya lagi.
"Sudah sebentar lagi datang, katanya tadi di suruh pesan dulu dan Aku pesan makanan kesukaan Mas", kataku sambil tersenyum.
"Makasih ya, kamu memang yang paling mengerti Aku," jawabnya.
🎶🎶🎶🎶🎶Suara telepon berdering.
" Sebentar ya Dik Mas angkat telepon dulu", meminta ijin sambil menggeret kursi kemudian berjalan menjauh.
Ku angguk kan kepala ku sambil menatap punggung yang perlahan menjauh. Ada apa ini? hatiku bertanya-tanya karena tak biasanya Mas Brian menerima telepon menjauh dariku.
" Permisi mbak, ini pesanan nya " kata Mbak waiters sambil meletakkan pesanan ku di atas meja.
" Terimakasih ya Mbak " jawabku
" Sama-sama Mbak, selamat menikmati " katanya sambil tersenyum ramah.
Kulihat waktu sudah setengah jam tapi yang di tunggu tak kunjung berlalu dari tempatnya berdiri sambil tersenyum dan sesekali tertawa seakan dunianya hanya berpusat di benda yang berada telinga.
Seketika rasa tak enak menyerang dadadada, entah mengapa yang aku rasakan Mas Brian sedikit berubah, hanya perasaan ku saja apa ada sesuatu yang terjadi dan aku tak tahu apa itu. Akhirnya Ku lihat Mas Brian berjalan mendekat.
" Maaf ya Dik Mas angkat telepon nya lama".
" Gak papa Mas, memang dari siapa? ".
"Teman Mas".
"Pasti cewek ya?"
"Kenapa?"
"Ya aku merasa kalau akhir-akhir ini Mas berubah".
"Berubah gimana?".
"Ya enggak kayak yang dulu, kalau aku chat kadang lama banget balas nya, di ajak keluar ada aja alasan nya", jawabku.
"Ohhh jadi kamu curiga kalau aku selingkuh?"
"he em".
"Mas kayak gitu ya gara-gara kamu juga tau nggak?" jawabnya dengan nada yang sedikit tinggi.
"Maksudnya Mas?"
"Ehh dengar ya aku dapat laporan kalau kamu juga ada main sama teman satu kantor mu".
"Astagfirullah Mas, Aku gak pernah ada main sama cowok lain Mas, aku setia sama Mas" sanggah ku
"Halah alasan, lagian aku punya buktinya kok ada yang kirim ke aku".
"Terus Mas percaya? tanpa minta konfirmasi ke Aku gitu dan Mas langsung percaya begitu saja? siapa dia Mas yang begitu tega memfitnah aku?" kataku dengan bibir gemetar karena menahan amarah.
"Kamu gak perlu tau siapa dia, dan Mas sangat percaya sama dia karena dia sangat dekat denganmu pastilah bukti itu benar adanya".
"Hahahaha biar aku tebak, setelah bukti yang dia kirimkan Mas jadi dekat dengan dia kan?"
"Kalau ia kenapa?"
"Tak habis pikir aku Mas, kukira hampir 2 tahun kita menjalin hubungan Mas mengerti aku luar dalam, ternyata dan ternyata hanya karena aduan cewek lain tanpa tanya dulu ke aku Mas percaya begitu saja, asli kecewa aku Mas".
"Ya sudah sekarang terserah kamu, Mas kasih solusi kita bisa break sebentar tapi Mas gak memaksa Kamu untuk bersama Mas lagi karena Mas nyaman sama teman kamu," jawabnya enteng
"Oke Aku punya solusi sendiri Mas".
"Apa itu?"
"Aku minta PUTUS karena suatu hubungan yang di dasari rasa saling tidak percaya yang ada hanya saling menyalahkan meskipun salah satu diantara kita benar tapi di mata yang lain salah, dan aku ucapkan banyak terimakasih atas perhatian dan pembelaan yang telah Mas lakukan".
"Akhir kata semoga Mas langgeng sama dia, Assalamu'alaikum".
Tanpa menunggu jawaban Mas Brian aku langsung angkat kaki dengan membawa torehan luka dihati.
Ku putar memori beberapa jam yang lalu, sungguh tak ku sangka akan begini akhir cerita cinta ku. Lelaki yang selama ini aku cintai dengan tulus ikhlas dengan pengorbanan yang menguras hati dan pikiran ternyata berakhir dengan sebuah penghianatan.
Perlahan ku hembuskan nafas, mengurai rasa sesak di dada. Ya akhirnya aku menyerah membiarkan dirimu bersama orang yang engkau suka walaupun meninggalkan goresan luka di dada.
Kulangkahkan kaki ku bersama sang Surya yang bergerak ke peraduan bersama do'a yang ku ucap semoga Allah memberi orang yang tulus mencintai tanpa ada keraguan di hati.
Selamat tinggal kenangan
🕊🕊
Alhamdulillah selesai sudah copas cerpen ku yang ke 3 ini karena awalnya mau aku kirim ke lomba cerpen yg diadakan kak Erka dikarenakan tingkat ke tidak PD an ku yang tinggi akhirnya tak jadi aku kirimkan🤧.