Mereka biasa mengenalku sebagai si gadis bermata kecil , menurutku itu adalah salah satu kelebihan fisikku yang Allah takdirkan untukku . sepatutnya aku menerimanya dengan rasa syukur. tapi sepertinya banyak orang yang salah persepsi tentang kelebihanku ini.
Bahkan tak jarang mereka suka menganggapku anak yang jelek dan tidak menarik ,tidak cocok atau orang yang tak pantas, untuk berada didalam ruang.
Awal aku merasakan hal yang hampir membuat tiap langkahku rapuh ini saat aku pertama kali menginjak bangku smp, ada seseorang yang tak sengaja keceplosan berbicara tentang kondisi fisikku. Padahal saat itu kita sedang berbincang, bercanda dan bergrup dengan teman-teman lain.
Aku tahu dia tak terlalu niat untuk mengejekku saat itu ,kecuali bercanda. tapi mungkin ini karna kebodohanku juga yang terlalu baper . atau cepat tersinggung. Sampai-sampai besoknya aku tak mau lagi berkumpul dengan grup-grup itu lagi . aku menyendiri . bersama ruang kosong . yang disana hanya ada benda mati , aku . dan tuhanku .
Terlalu banyak badai petir yang tersebar dalam otakku … mengincar siapapun yang berada dekat. Dan apapun yang berkaitan dengan itu. padahal yang cukup mereka tahu aku adalah Hairani, cukup itu saja. Si gadis pemalu, si gadis biasa. Si gadis sederhana. si gadis pendiam. Si gadis pemurung yang sangat merindukan ruang untuknya bersinggah dan diterima .
Tapi setidaknya perasaan itu sudah menjadi kepinganku dimasa lalu yang sudah terkubur . hari ini, matahari kembali menjumpaku dengan senyuman, menyapa sang pemilik hati yang kegirangan karna ini adalah hari pertamaku masuk sekolah SMA, yang untungnya juga masa orientasi sekolah sudah berlalu bersama hujan. Masa-masa memalukan itu sudah hilang terhapus jejak
‘’Hoii rani !’’
Seseorang terdengar memanggilku dari belakang , si gadis mungil dengan rambut bergerai itu Nampak berlarian menyusulku bersama dengan tas selempang yang berguncang, dan kini ia resmi berada disamping bayanganku total.
Ia terlihat kecapean , ia memburu nafas . tapi sesudahnya ia malah memakiku karna jalanku yang terlalu cepat.
Namanya riska . dia adalah satu dari teman-temanku yang keempat , yang kukenal sejak Masa orientasi seminggu yang lalu. mereka adalah empat orang yang paling dekat denganku akhir-akhir ini dikelas.
Kami saling bercanda dan menggosip . penuh tawa. Dan keseruan. Semua kami lakukan bersama .kemanapun tujuan kami . dan meski itu berakhir ke kamar mandi sekalipun .kami tetap bersama .menurutku mereka adalah orang yang baik , yang menerima ku layaknya gadis biasa. yang memberiku ruang dengan kebebasan . tanpa kehimpitan . tanpa air mata .tanpa api dan air hujan. Mereka tidak melihatku dengan fisik.
Bukan ?
Tapi disela-sela itu aku tidak pernah melupakan tuhanku . ya ... setidaknya karna Dia aku menemukan orang-orang gak jelas itu .
‘’mau kemana ?’’
‘’dhuha … mau ikut ?’’
‘’nggak deh .. gue lagi depe ‘’
‘’pfft sejak kapan riska solat … dhuha lagi ‘’
‘’eh…’’ aku tersenyum, berlalu pergi meninggalkan mereka yang saling bertikai sesudahnya.
Hari ini ada olahraga dilapangan sekolah . entah itu kelas berapa , tapi sepertinya kelas seniorku. Kelas 2A . yang katanya banyak siswa-siswi bertalenta dikelas itu . kebetulan masjid letaknya juga ada diseberang lapangan.
Tiap kali dhuha memang aku selalu melewati lapangan , bahkan terkadang aku suka kesenter bola oleh anak-anak yang sedang bermain bola . terlebih ketika kutahu itu kakak kelas . aku langsung kabur secepat kilat . aku mengubur jejakku dengan berlari kedalam masjid . bahkan bodohnya saat itu hidungku sampai mengeluarkan darah . aku sibuk hari itu berkutat dengan mimisanku yang berkali-kali kubersihkan ditempat wudhu.
Tapi syukurlah hari ini tidak . aku selamat sampai kalanya aku tiba mendarat didepan masjid . setiap hari aku selalu membersihkan masjid , karna aku lah yang paling awal menyapanya tiap kali mau sholat . padahal ini masjid .tapi terlihat sepi dan lengang. tak ada orang . apa mungkin karna aku terlalu pagi datangnya . atau apa mungkin karna ini masih awal dijam istirahat .
Yang disana banyak orang yang lebih memilih kantin ketimbang masjid . tapi memang biasanya masjid selalu ramai sesudah jam istirahat berlalu kurang lebih sepuluh menit . dijam segitu masjid memang selalu dipenuhi siswa dan siswi.
Aku mulai mengencangkan tali sepatu hitam putih ku bersamaan dengan mendaratnya seorang anak laki-laki dengan pakaian olahraga disamping tubuhku menjinjing sepatu lalu meletakkannya lumayan dekat dengan sepatuku . aku agak merenggang disana , menggeser kea rah kanan.
Agar tak terlalu berdekatan .ia sedang memakai sepatu juga. Tanpa sedikitpun melayangkan pandangan ke arahnya pun aku sudah tahu , ia pasti baru selesai shalat dhuha juga. Tapi sesaat ketika aku memakai sepatu yang lumayan lama . ia pergi .
Aku tak terlalu memperhatikannya selain punggung dari sosok jangkung yang sudah hilang . ketika aku hendak berdiri , mataku tak sengaja menemukan sebuah sapu tangan berwarna biru yang masih terlipat rapih. Aku yakin itu milik si laki-laki tadi . aku rasa ia kelupaan . baiknya aku tak ambil , masalahnya nanti ia pasti akan datang lagi kesini untuk mengambilnya . aku berdiri dan hendak melangkah .
‘’mbak sapu tangannya ketinggalan ..’’
Sial …
Seorang gadis berkerudung katun yang baru-baru ini sedang memakai sepatu disebelahku menyodorkan sapu tangan itu ke arahku . ‘’e.eh … iya , makasih ‘’
Aku tak punya pilihan lain …. selain menerimanya
***
Akhirnya aku sampai didalam kelas , semua temanku sekilas menatap kehadiranku dan kembali bercanda . aku memang terbiasa mendapati mereka seperti itu , dengan senyum maklum dan gelengan kepala aku menyapa empat orang itu . dan kulihat salah satu dari mereka mulai mengajakku bicara
‘’tumben bawa sapu tangan.. lagi flu ? ‘’
Riska melihatku hendak memasukkan sapu tangan beserta mukena ke dalam tas . ‘’o.oh enggak … ini aku tadi nemu ..’’
Riska mengernyit . ‘’nemu ?nggak mungkin ... dari pacar ya ?’’ ia menggoda
‘’hussh sembarangan ‘’
Kelas ku sangatlah gaduh diantara jam-jam segini , padahal dikelas sebelah ada kelas 2-A . kelas paling elit dengan otak berkapasitas professor .bahkan tiap kali aku melewati kelas itu aku selalu berjalan terburu-buru atau menunduk . bukan karna ada satu dinding yang membatasiku dengan mereka.
Hanya saja , aku terlalu malu dengan kakak kelas. Atau orang-orang yang masih asing bagiku . padahal banyak teman-teman ku yang sejak masa orientasi berpacaran dengan anak kelas 2A . termasuk riska , fani , dan rhena . tak kusangka secepat itu mereka menggandeng tangan kakak kelas atau sebagai …pacar ? . mereka tak sedikitpun malu ketika berhadapan dengan kakak-kakak itu.
Ah wajar … mungkin karna mereka terlalu cantik , berani … dan pede .
Kadang kalau sudah memikirkan hal itu aku suka memasamkan senyuman ,dan mulai merasakan ribuan beton sudah menumpuk lagi diantara satu kepalaku. Mereka selalu bercerita ini itu tentang pacar mereka , seraya tersenyum , tertawa lalu terbang . mereka seakan dikelilingi oleh imajinasi. Roh mereka seakan pergi dari jasad , aku coba menangkap mereka . tapi yang ada aku hanya makin terseret untuk terus mengikuti
… seakan aku terseret untuk menjadi seperti mereka…
Ketika bel pulang sekolah sudah mulai menggema , semua rusuh seperti pasar. Mayoritas sudah mulai membereskan semua buku kedalam tas bahkan ada yang sudah menggembol tas masing-masing. keluar kelas.
Aku sadar ini adalah hari giliranku piket . tapi tak ada satupun yang datang membantuku . karna disana bukan hanya aku sajalah yang piket . Keempat temanku masih menunggu diluar pintu . mereka masih menungguku pulang ketika aku sedang membereskan kursi-kursi yang random itu .bahkan salah satu dari mereka ada yang sibuk melirik kebawah lapangan , yang disana Nampak seorang anak laki-laki sedang bermain basket sendirian . berkeringat dari peluh yang turun drastis, padahal setahunya ekskul basket masih dua jam lagi berlangsung .
salah satu dari keempat orang ini mulai kebosanan menunggu
‘’rani … kita nunggu dikantin ya ..’’
‘’eh … iya iya … tunggu disana aja … makasih sebelumnya ‘’
Aku berteriak-teriak sendirian disini . bersama debu dan angin dan ribuan mimpi dan harapan yang masih belum tersampaikan . aku mulai membenahi seisi kelas ini seorang diri. peluh menghias seperti hujan.
Ada yang bilang aku anak yang rajin. Katanya mereka beruntung punya aku dikelas mereka ,karna dengan begitu setiap hari mereka tak usah repot-repot memiketi kelas ini karna disana selalu ada aku yang duluan membersihkan kelas . keempat temanku selalu berkomentar tentang ini, bahkan mereka suka mengatakan kalau aku ini dimanfaatkan . bahkan mereka bilang aku terlalu baik dan polos .
Setengah jam berlalu , aku sudah menutup pintu kelas , aku menjinjing tempat sampah bergunungan kertas itu menuruni tangga. Ada banyak yang berjatuhan karna aku jalan terburu-buru . bahkan sampai lelah aku terus memungutnya .
aku hampir tak sadar disana ada dua orang laki-laki yang sedang bermain basket, diam-diam mereka jadi mengalihkan pusat perhatian nya kearahku.
‘’ itu adek kelas kan ya … rajin amat..’’
Laki –laki jangkung itu sudah terdiam sejak awal ditengah-tengah lapangan ,mulai saat ketika ia melihat ku berulangkali memungut sampah yang terjatuh . ia memandangku intens . bahkan ia hampir tak sadar harus merespon apa dari perkataan temannya barusan.
‘’eh menurut lo ..si hairani ..kenapa ya gak pernah pacaran ?’’
‘’ya mana gue tau … lu Tanya aja ke dia ‘’
Riska manyun . ternyata yang bertanya duluan itu adalah riska.
Mereka berempat kini saling melingkar ditempat duduk masing-masing . padahal kantin sudah tutup sejak lima belas menit yang lalu. meski disana sepi tapi mereka tetap sibuk dengan aktivitas masing-masing yang gak jauh dari hape dan pacar .
‘’tapi gue yakin dia gak pede ‘’
‘’kok bisa ?’’
‘’lu liat aja dia kemana-mana pake tuh kacamataaa mulu . padahal setahu gue mah itu bukan kacamata min…matanya juga gak min ‘’
‘’eh .. masa sih ? gue kira itu kacamata min..’’
‘’enggak kok … ‘’
‘’pantesan’’
‘’maksud lo itu Cuma gaya-gayaannya aja gitu ?’’
‘’bukan ! buat nutupin sesuatu …dia kan matanya begitu ’’
‘’kayak lobang celengan maksud lu … pfft ‘’
‘’wah wah parah lu… temen lu sendiri juga …’’
‘’lah lu duluan sendiri kan yang ngomong dia matanya begitu ‘’
‘’yya tapikan gak gitu juga…’’
‘’trus trus .. sama gue cakepan mana ? gue ya?’’
‘’ddiih … pede banget lo ‘’
‘’yye benerkan cakepan gue .. gue kan matanya bulat , wajah tirus , pipi cubby . dia kalah dong ’’
Semua saling memuntah-muntahkan pandangan . dan ekspresi . dan menggelak sekali lagi .
Kupikir memang tak ada ruang untukku … Rasanya terlempar kedunia lain lebih aku inginkan dibanding berada disini… ini bukan duniaku .
detik itu juga Aku berlarian mendahului angin , menerjang semua mimpi ,harapan dan fantasi yang makin membuat air hujan menggenangi diri.
Aku mulai mengerti kenapa hanya Tuhan yang kupercaya untuk hari ini dan kedepannya . karna hanya Dia yang selalu menerimaku apa adanya .
Dunia ini ibarat dongeng kosong, hidup dalam lingkupan imajinasi dan khayalan yang penuh . tak pernah surut. Kita dikelilingi oleh ketidak puasan terhadap diri , padahal semua kelemahan dan kekurangan itu adalah wajar , itu semua lah yang menjadikan kita dekat dengan Tuhan . dengan yang Maha Sempurna untuk melengkapi. Segala kebutuhan. Makanya kita hidup serba bergantung . kepada . Allah.
Dan hari ini … adalah sekian kalinya aku menangis karna ketidak terimaanku dengan…kenyataan itu .
Aku masih belum dewasa …
Aku berlari sekencang mungkin dengan kepala tertunduk untuk menghalangi air mata ini dilihat , sampai akhirnya aku benar-benar melewati lapangan , aku menabrak seseorang .
Aku tak berani melihatnya dengan kacamata yang bertumpukan air mata.’’maaf…maaf …maaf …maafkan aku ….maaf …’’ aku berdiri didepan pemilik sepatu sport itu
Aku tak tahu harus mengungkapkan apa dengan kata . aku juga tak sadar sudah mengucapkan kata-kata itu berulang kali. aku merasa bodoh . aku berdiri sebentar didepannya lalu pergi.
Ia tak berkata apa-apa , seakan-akan ia hanyalah bangunan yang kosong . tapi ketika ia melihat ke bawah. Ia mendapati ada sapu tangan biru sudah mejeng didekat sepatunya .
satu hal yang sangat ia familiar . kembali lagi kehadapan matanya.
***
Sekumpulan awan seakan mewakilkan semua perasaanku , sudah seminggu ini aku tak bersama dengan mereka . aku tak mendiami mereka atau bukannya tak mau bertegur sapa dengan mereka . aku selalu menegur mereka kemanapun aku pergi .dan mereka pun begitu . tapi ada yang berubah , aku sudah tidak sedekat lagi dengan mereka . seperti halnya kemarin-kemarin. Aku hanya ingin menyendiri bersama untaian debu.
Bersama benteng-benteng yang sudah membentang antara aku dan mereka.
Mereka juga tidak terlalu memaksakan dengan ada atau tidak nya aku disana . tapi untuk saat ini aku lebih memilih masing-masing .dan tidak terlalu dekat dengan seseorang . menjadi musafir.
Mungkin itu adalah yang paling baik….
Seusai menalikan sepatu , aku lantas mengambil tas mukenaku dan hendak pergi dari masjid.
‘’mbak .. itu sapu tangannya ketinggalan lagi ..’’
‘’e.eh ? … ‘’
Ia menyodorkannya kepadaku ‘’ini mbak … mbaknya udah pikunan nih..masa barang nya sendiri aja sampe dilupain ‘’
‘’eh …ah..hahaha ..i,iya iya ‘’
Aku menggaruk kepala. Aku tahu aku baru saja mengiyakan pendapatnya kalau aku itu nenek-nenek.
Tapi kok bisa ada lagi disampingku ? padahal kan kemarin-kemarin hilang . apakah laki-laki berkaos olahraga kemarin juga duduk disampingku barusan ? kok ia seperti hantu ya … kehadirannya bahkan tak terdeteksi sama sekali olehku.
Esoknya aku sudah menempel diatas kursi bis . paling pojok sebelah kanan .bernomor tiga puluh sembilan . aku lebih memilih duduk didekat jendela dibanding harus ditengah-tengah . karna disana aku bisa melihat pemandangan , semua tanda-tanda kekuasaan Allah yang membentang . meliputi ruang .
Tiba-tiba seseorang duduk disamping kiri kursiku yang kosong . aku sengaja memilih dikursi berjumlah dua . aku lebih suka kesunyian . tapi aku sempat tak menyangka disana aku duduk bersama riska . ia terlihat cantik dengan kaus merah panjang dan senyumannya . ia mulai menyapaku yang baru tersadar dari lamunan ‘’hei ..gue boleh kan duduk disini ‘’
‘’eh .. riska..i.iya silahkan ‘’ aku tersenyum .
setelahnya hatiku mulai terserang demam .
hari ini adalah event LDKS khusus untuk anak-anak kelas satu , tapi ada sebagian siswa-siswi kelas dua yang diajak ikut sebagai panitia . termasuk kakak-kakak kelas yang sejak tadi duduk dibelakang kursi ku. Kenapa mereka harus memilih dibelakangku? terlebih ini mayoritas laki-laki . Entah mengapa Disini aku mulai merasa sesak , ada riska dan para senior laki-laki dibelakangku . apa yang harus kulakukan? kalau begini . lebih baik aku memilih duduk dipaling depan sejak awal .
bis satu sudah melaju kencang dengan genggaman doa dan harapan keselamatan untuk sampai tujuan . aku pun demikian .sepanjang perjalanan semua asyik bergembira dengan snack dan bekal masing-masing . ada yang bermain gitar , bernyanyi juga tertidur . para guru bergosip didepan sana . riska juga sibuk mencantelkan headphone ditelinganya seraya bertatap muka terus dengan ponsel.
aku sendirian disini , bersama kepingan masa-masa yang silam . yang terbawa angin dan udara diantara perjalanan sang kaca. Tiba tiba aku ingat dengan percakapanku yang lalu dengan almarhum ibu.
‘’bu … apa ada orang yang mau bu sama rani ?’’
‘’lho…lho…maksud kamu apa sih ?’’
‘’y..ya aku kok ngerasa gak pantes aja ya punya pasangan ‘’
Saat itu jawaban ibu hanya gelengan . ibu tahu pertanyaanku memang rada menyebalkan untuk didengar . ibaratnya ,ini mungkin adalah cobaan untuknya bisa punya anak segak jelas ini . tapi aku tahu saat itu ibu hanya berusaha menutupinya dengan senyuman maklum .
‘’rani … setiap orang pasti punya pasangan . ya kalo didunia dia tidak dipertemukan dengan pasangan itu , berarti diakhirat …kamu kenapa sih segala repot-repot mikirin itu . ngomongin itu ituuu mulu …ibu sampe pegel ngedengernya ‘’
‘’hufft … tauk deh , aku hanya gak yakin aku bakalan punya ‘’ aku tersenyum mewek
‘’emang siapa sih yang bilang kamu jelek ? kamu diejek apa lagi sama mereka ? ya Alloh rani , ibu harus ngomong apa lagi sih sama kamu … kamu itu cantik nak ,apalagi itu dibarengi dengan akhlak dan budi pekerti …’’
‘’ibu gak tau … ibu hanya gak ngerti apa yang sedang aku rasain …’’
Tanpa dirasa plang berwarna hijau yang bertuliskan bogor sudah terlewati beberapa detik yang lalu . butiran air mata mengalir tanpa jeda kearah pipi. Kurasa alirannya mirip buliran air hujan yang lalu pergi . kepalaku sengaja disandarkan ke dekat kaca . aku galau sendirian ditengah hamparan orang yang berwisata duluan kealam mimpi.
Disana aku hampir tak sadar .
kalau ada satu orang yang terus menstalk seluruh pergerakan air mataku dari belakang . ia bahkan tepat berada dibelakang kursiku dengan naungan wajah misterius yang setengah darinya ditutupi topi merah .
Yang kukira disana … air mata ini hanya dapat diketahui oleh aku saja …dan tuhan
Semua berkumpul dengan gunungan ransel yang memuncaki punggung mereka . aku sendiri memakai tas biasa disini . aku dan riska dan semua murid kelas satu sedang diberi instruksi oleh pemandu dan para panitia kegiatan ldks . sepanjang pembicaraan sang pemandu dan guru , aku terkesan dengan semua pemandangan yang ada disekitarku saat ini . mataku berkeliling melihat pepohonan besar menggantung , persawahan dan gunung . seluruh burung menyapaku dengan beragam macam tasbihnya .
Tak sadar tubuhku sampai dibuat berputar kegirangan merasakan ini semua . tapi sesuatu tak seimbang mendadak hampir merubuhkan tubuhku, aku langsung hilang keseimbangan . tubuhku langsung menubruk tubuh riska yang saat itu berada tepat tak jauh dariku .
aku menyeretnya terjatuh secara tiba tiba kedalam selokan . semua orang jelas tersontak , apalagi disaat tahu itu karna kebodohanku yang diucapkan secara terang-terangan oleh riska .
‘’lo apa apaan sih rani! Lu gila aja muter-muter kayak orang ayan gitu ,make segala bawa-bawa gue lagi … Yyah kan jadi basah semua celana gue… ahh pokoknya cuciin nanti gue gak mau tau !!’’ cerocosnya mirip petir .
Semua orang melihat kami berdua dengan gelengan kepala dan setengah kesal . mungkin menurut mereka . kami memalukan.
‘’orang alay …’’
‘’nggak pernah jalan-jalan ke puncak kali ‘’
‘’masa kecil kurang bahagia tuh ‘’
‘’anak rumahan …’’
Semua saling membisik ibarat ular derik dipadang pasir ,tersembunyi diantara gunungan batu ketika bernaung. Berbeda dengan satu orang diujung sana yang masih khas dengan topi merahnya . diam-diam tangannya digunakan tetap untuk menahan tawanya . bersahaja. bayangannya hampir-hampir tak dihiraukan semua orang . ia sendirian didalam ruang .
Disana kami mengawali semua dengan beragam macam permainan . mulai dari ,lomba lari , jalan diatas satu tali , jalan tiarap ditengah kubangan lumpur, melewati jaring-jaring dan bambu dan masih banyak lagi . semua berakhir, mengujungkan kita pada kelelahan yang parah . itu terbukti saat waktu istirahat sudah mulai didentingkan oleh para guru , tak terasa malam sudah larut .
seluruh anak kelas satu sudah bernaung ditenda masing-masing . berselimutkan dingin dan sunyi. Semua tertidur . berbalik denganku yang masih belum bisa tidur . aku teringat dengan suasana rumah , yang disana selalu ada kakak dan ayah . aku rindu dengan mereka.
Aku coba paksa pejamkan mata , tapi hasilnya malah pegal sendiri . mataku terbuka lagi . dua kaki ini lantas mulai ancang-ancang keluar tenda . yang sebelumnya aku coba sabarkan sejenak sampai riska dan tiga orang yang satu tenda denganku pulas tertidur . aku mulai buka resleting tenda.
Tiba tiba sekumpulan kakak kelas sekitar lima orang sedang mengerumuni api unggun .
Itu adalah kakak-kakak kelas yang duduk dibelakangku sewaktu didalam bis . kini mereka menyadariku . malu . aku cepat-cepat menutup kembali resletingnya . mereka laki-laki semua
‘’yang ditenda biru , kamu kenapa belum tidur ? ‘’
Aku dicecar . gugup .
Aku tak membalas pertanyaan kakak senior itu , selain memaksa untuk tidur lagi . dengan selimut .
***
Hari ketujuh puncak dari segala event berakhir , banyak yang dinobatkan sebagai yang terbaik dalam hal ini . panitia nya juga demikian , nama kak Rana tiba tiba memuncak sebagai yang paling hangat karna kenomorsatuannya dalam membimbing para juniornya.
Waktu dzuhur sudah terlewat sejam ,dalam perjalanan pulang , bis bersinggah sejenak ke sebuah masjid . kami beserta guru seluruhnya shalat berjama’ah.
Lima menit berselang aku kembali duduk memakai sepatu , mengikat tali sepatu dengan khusyuk. Ada sesuatu yang tiba tiba melintas dipikiran . aku teringat dengan orang yang menjatuhkan sapu tangan biru waktu itu . laki-laki berpostur tubuh tinggi yang memakai kaos olahraga. Selintas aku langsung melihat ke sebelahku . aku tersadar .tidak ada siapapun .
Aku mulai bermimpi lagi …
Terlebih sapu tangan biru itu tak sengaja kuhilangkan kemarin . aku merasa paling bodoh ketika sadar sapu tangan yang baru akan kukembalikan itu sudah hilang lagi untuk yang kedua kalinya.
Tak terlalu jauh dari tempatku bersepatu , seorang laki-laki baru saja memakai sepatunya secepat kilat lalu pergi . aku tak sengaja menoleh . dan aku sadar kedua mataku melotot saat melihatnya. aku menemukannya kembali .
si sapu tangan biru .
cepat-cepat aku mengambilnya dan menyusul laki-laki berjaket coklat itu .
aku meneriakinya dari belakang . ia tinggi dan menjulang . dan. itu persis punggungnya .
‘’tunggu !... tunggu ! kau meninggalkan sesuatu !’’
Hampir-hampir aku tersedak ketika mataku melihatnya menoleh.
Sungguh aku tak mengenalnya !
‘’i..ini …sapu tangan …’’
Ia mendiamiku sesaat . dan ia mulai tersenyum .teduh .
Pancaran wajahnya yang bersih menghias perjalanan sang mentari ketika bersinar .
‘’bukan … maaf ..itu bukan punya saya ‘’
Selintas aku seperti disihir untuk masuk kembali ke dalam ruangku. Ruang yang jauh dari rasa memalukan seperti ini.
Ia mulai pergi . melangkah dan terhenti ‘’t..tapi ..kenapa selalu ada sapu tangan biru ini ketika ada .. kakak ? ‘’ .
Ia berhenti. tanpa sedikitpun menoleh .atau memastikan yang berbicara barusan itu adalah aku lagi.
‘’apalagi yang membuat kamu yakin itu saya ?’’
Aku gugup ketika ditatap olehnya . ia mirip seperti pangeran.
‘’ka..kakak hari rabu ada olahraga ? ‘’
Ia mengangguk dengan mata memicing . aku tahu aku merasa paling tidak sopan disana , aku terpojokkan .
‘’w..waktu itu aku melihat orang yang memakai kaus berolahraga tak sengaja meninggalkan sapu tangan ini , dan tu..tubuhnya tinggi dan perawakannya juga m..mmirip sama kakak ..’’
Ia masih memicing . aku tak tahu harus bagaimana . banyak siswa yang berlalu lalang dari masjid. Sebagian darinya mulai berbisik-bisik tentangku. Terlebih itu siswi seniorku . aku bahkan takut mereka salah paham tentangku . termasuk dari kaum junior juga. Aku takut mereka mengira-ngira kalau aku sok kegenitan disana . padahal aku Cuma ingin mengembalikan ini.
Tiba tiba teman dari kakak kelas berjaket coklat ini ikut memicing ke arahku . ia menghampiri temannya dan aku tahu ia akan bertanya-tanya kenapa .
‘’ ada apa ran ?’’
Nama depannya mirip denganku … kelas 2A… astaga …jangan bilang dia
Laki-laki berjaket coklat ini tiba tiba menepuk-nepuk pundak temannya barusan. Seraya berkata sambil tersenyum ‘’dia tinggi , dia juga sholat bareng saya…jadi disini bukan hanya saya aja yang harus diinterogasi …‘’
Eh ?
Dia melangkah pergi ,dua tiga langkah ke depan . lalu berhenti lagi.
‘’ ada tiga orang yang berpostur tubuh sepantaran dengan saya dikelas . kamu bisa tanyakan tentang itu kepada mereka … termasuk dia ‘’
Dia pergi lagi dengan Tanda Tanya yang mengukir jelas dari semua rasa penasaranku yang mulai jatuh karna hari ini . aku terpatung bersama satu temannya yang baru-baru ini muncul tanpa dapat penghargaan disana . ‘’maksud nya apa sih ?’’
‘’rana maksud lu apeh ?!’’
***
Rana … ?
Wajah ,telinga dan pipi bagian kananku menempel pada meja makan. Padahal disana ada piring dan nasi yang sejak tadi kuabaikan sejak beberapa puluh menit yang lalu. bahkan kakakku yang tak sengaja melihatku seperti itu sepulang kerja langsung menggeleng-geleng lalu meneguk minumnya .
‘’kamu kenapa ? stress ? ‘’
‘’aku malu kak … aku baru aja bikin diriku sendiri dipermaluin …’’
Setahuku nama Rana adalah yang paling mendunia akhir-akhir ini . ia adalah idolschool , yang selama ini tak pernah kuperdulikan sepanjang waktu , bahkan aku tak tahu seperti apa wajah dan rupanya .
aku hanya mendengarnya selintas dan setengah-setengah dari keempat temanku yang lalu. termasuk dari riska .dialah yang paling banyak membicarakan dan mengagung-agungkan namanya bak tuan raja, padahal ia sudah punya pacar . terlebih itu teman sekelas kak rana sendiri .
Semenjak saat itu aku jadi mengenal nama itu , kemana-mana aku selalu malu ketika disana ada anak kelas 2-A . seakan aku sudah mencap semua anak kelas 2-A itu bernama Rana . sampai detik ini pun aku masih menyimpan sapu tangan biru itu digenggaman .
aku sering menggunakan sapu tangan itu ketika sedang berpeluh Aku sudah menganggapnya sebagai milikku. Sebagai keluargaku yang tidak pernah sekalipun aku lupakan kehadirannya seperti kemarin .
Hari ini dikelasku sedang jam olahraga . padahal saat itu yang disuruh memiketi kelas adalah semua , tapi ujung-ujungnya ya aku lagi . aku selalu yang terbelakang diantara mereka .
Tapi ditengah itu ,aku tak sengaja melihat sebuah bayangan yang baru-baru ini mengintaiku sepanjang perjalanan peluh dan usapan keringat ketika sedang mengepel. ia tersenyum kepadaku dari dalam kelas . aku tahu itu adalah hal yang agak tidak masuk akal . tapi aku yakin itu… Rana
Ketika aku menyadarinya ,ia langsung bersegera mengalihkan pandangannya kearah temannya . dan mengajaknya berbicara .seakan-akan disana tak ada masalah apa-apa denganku. ia memutuskan semua.
Aku mempercepat pergerakan mengepelku ,lalu buru-buru ke kelas.
Jantungku berdebar cepat … aku terus mengingat senyuman itu. yang penuh tanda Tanya , yang penuh misteri ,yang penuh fantasi dan yang selalu membuatku salting
Semenjak saat itu , aku mulai mengingat apa-apa yang tak seharusnya aku harus . aku merasa ada yang aneh dengan perasaanku ,mengapa aku tiba tiba memikirkan kalau kak rana punya perasaan seperti itu padaku . hanya karna aku melihatnya tersenyum . kepadaku .lantas aku jadi salting. bukankah itu hanya senyuman biasa yang tak punya kadar apa-apa . ?!
Aku jadi gugup ketika bertemu dengannya , aku selalu menunduk ketika tak sengaja bertemu mata , bahkan tak jarang aku suka melengoskan pandangan dengan tangan ketika sedang berjalan , sampai kepalaku sendiri terbentur dinding karna korban rasa gak jelas ku itu. aku malu . lalu pergi . tapi yang sempat kusadari disana . ia tertawa.
Aku semakin salting .semua hampir melewati batas wajar. aku dikelilingi oleh ruangan berbunga ,berpelangi ,berlangit biru , yang disana aku bisa bebas terbang kemanapun . seperti layangan .bahkan sekarang perasaan ini hampir bisa disamakan dengan perasaan yang riska rasakan selama ini .
Tapi yang kutahu … aku mulai kehilangan sesuatu …
Cinta Allah yang hadir semestinya …
….. semua seakan menjadi hal mudah untuk bisa kutepis .hanya karna aku tahu dia anak yang shaleh , sering sholat dan aktif dalam kegiatan agama . yang dengan itu aku pikir terus bisa berhubungan dengan Allah . bahkan bertambah dekat karnanya . pikiranku mulai berkata yang tidak tidak tentang ini. sampai kalanya orang kedua yang selalu memperhatikanku dari belakang ikut sadar dengan pergerakan awan dihatiku . riska . dalam sekali pandang pun ia tahu mataku selalu mengincar kearah rana dan tersenyum diam. Tak kusadari ia lantas memicing kearahku. Lalu kedua tangannya menghantam meja kantin secara bersamaan . sampai semua orang yang duduk bersamanya terkejut bukan kepalang .
Ia menghampiriku yang sedang senyam-senyum sendiri .
‘’heh rani’’
Aku menoleh , yang kudapati ia sedang melipat dua tangannya diperut.
‘’kok gue ngerasa ada yang aneh ya sama gelagat lu akhir-akhir ini … oh..lu suka sama kak rana.. iya ?hanya karna lu dikasih sapu tangan itu ? gue hanya mau ngasih tau aja ran … kak rana itu baik banget sama semua orang … semua orang selalu dibantu sama dia … bahkan gak jarang banyak orang yang salting karna dia .. gue juga tau kenapa kak rana bisa-bisanya sampe ngasih sapu tangan yang baru-baru kemarin ini gue kasih ke dia ’’
‘’eh .. j,jadi ini…’’
‘’yaelah rani lu polos banget sih .. dia itu Cuma kasihan sama lo .. bukan karna rasa suka atau apapun … dia Cuma ngerasa bersalah aja karna waktu dulu pas lu kesenter bola lu nyampe mimisan .. dia itu Cuma pengen minta maaf sama lu doang … lewat sapu tangan itu …gak ada yang lebih … gak ada yang perlu lu senyumin dari itu semua! ‘’
Semua runtuh .
Untuk yang terakhir kalinya riska datang menghancurkan semua ruang mimpiku. Yang sendiri kuciptakan , yang sendiri kuindahkan ,yang sendiri kuimajinasikan ,yang sendiri kupancangkan ,yang sendiri kumaniskan .semua kisah dongeng ini lenyap oleh keperkasaan tangannya.
Disitu … aku mulai kembali kepada tuhan .
Sejak awal aku sudah mulai sadar , kalau yang kulakukan ini salah , aku tak seharusnya terlalu berlebihan . saat itu aku kembali menyendiri diwaktu dhuha. Menangis sepuas hati ditengah jam istirahat . dalam kesendirian ruang aku bergelinciran air mata . dengan tangan menengadah ,aku memuji namaNya yang kembali nomor satu dihatiku .aku tak mau menomorduakan cinta Allah lagi .
aku tak mau sakit hati oleh orang yang sama sekali tak menganggapku ada. Aku hanya ingin mencintai Allah saja , karna allah lahyang selalu mencintaiku tanpa syarat . allah yang selalu menerimaku. aku ingin cinta Allah lagi , aku ingin cinta Allah …
Yang dengan itu Allah kuasa melabuhkanku pada rasa cinta yang tanpa sedikitpun …pengharapan palsu.
Aku kembali kepada jalan Allah …
‘’selamat tinggal sapu tangan !! ‘’
Aku melempar sapu tangan biru itu dari balkon atap sekolah .dan ia melayang-layang dan terjatuh oleh gravitasi. aku merasa puas . meski agak sesak aku harus membiasakan semua ini sebagai kenyataan .
Selamat tinggal kenangan tentang kak rana …
Seseorang berteriak dari bawah lapangan
‘’kau menjatuhkan ini …’’ kepalanya menengadah seraya menunjukkan sapu tangan yang baru kulempar sudah ada ditangannya . ia tersenyum
Mataku serentak melotot .
aku bingung harus bagaimana selain mengalihkan pandangan . aku takut rasa cintaku kepada Tuhan hilang lagi . sampai detiknya ia menghampiriku ke atas atap , aku masih menguatkan diri dalam kuatnya iman . seperti gunung yang dipancangkan oleh kekuasaan Allah.
Kami saling berdiam dengan jarak yang lumayan jauh .saling melengos dengan ribuan persepsi yang diam-diam menyerbu. aku hanya sekilas menangkap bayang-bayangnya dengan sepatu sport ,jam tangan hitam , seragam putih abu-abu dan sebuah ransel. Aku tak berani melihat wajahnya . aku takut rasa cinta ku kepada Allah diganggu lagi .
Tolong kuatkan hamba ya Allah …
‘’maaf waktu itu saya berbohong ..’’
Aku masih melengos .
‘’mungkin waktu itu kamu sempat bertanya-tanya tentang sapu tangan biru yang berturut-turut muncul ini…’’
‘’aku tahu kak ..’’ aku tersenyum pilu . lalu melengos lagi. dia melihatku bingung .
‘’apa kamu sudah tahu alasan saya memberikan sapu tangan ini kepadamu ?’’
Aku mengangguk malas . ‘’semua pun tahu … kak rana hanya merasa kasihan kepada saya , hanya berniat ingin meminta maaf karna waktu itu kak rana yang menendang bola kearahku sampai aku berdarah ‘’
Aku tahu ekspresi kak rana pasti sekarang mengangguk . atau merasa perkataan yang harusnya ia lontarkan sudah duluan aku sampaikan .
‘’benar … tapi itu hanya kesekian‘’
‘’eh ?’’
‘’karna…. saya menghargai setiap kebaikan yang kamu keluarkan lewat keringat ..dan air mata’’
Hening , aku terdiam dan berguncang batin .
‘’sepanjang perjalanan saya baru menemukan tipe orang seperti itu , seakan saya sudah menemukan tipe orang impian itu didalam kamu …’’
Krusial … aku dibuat bertanya-tanya lagi . meski sampai detik ini pun aku tak boleh melihatnya .
‘’saya kagum dengan perjuanganmu dan keshalihanmu …‘’
Kini gilirannya yang mengalihkan pandangan ketika ku terawang .
Aku tak mengerti .
‘’tunggu lah….. sampai saya menjelaskan semua perasaan ini kepadamu ..’’
Aku terpatung …
Dia pergi ….
Aku kembali ditinggal bersama ribuan teka teki yang menyeruak , hembusan angin dan air mata , makin menambah keserasiannya ketika salah satu diantaranya jatuh kebumi . aku menyesak sembari tersenyum kepada langit. Berguyuran lagi dengan rasa cintaku kepada Allah yang menurutku sangat mengagetkan . aku diterima .
Dijalan ini aku diterima layaknya orang biasa. Tak ada yang membedakan antara aku dan mereka. Tak ada benteng yang membentang , tak ada tawa hina dari sang iblis , tak ada kisah cinta yang rumit , tak ada fantasi yang berujung pengharapan palsu , tak ada perbandingan putih dan hitam , kaya-miskin , cantik ataupun buruk.
Semua memberiku ruang untuk bernafas dan tinggal . ternyata benar kata ibu … yang menilai semua bukan karna kecantikan dan sampul . melainkan budi pekerti dan akhlak . yang berada didalam jiwa masing-masing. termasuk cintanya kepada Tuhan .
Terimakasih Allah … Engkau memberiku banyak pelajaran lewat ini ….
Note: Maaf ya tulisan belepotan, ditulis pas masih polos 😚