Hari ini senin tepat pukul 05.30. Aku sudah berada di tempat parkir sekolah. Aku melepas helm dan meletakkannya di atas spion motor. Pagi itu masih sepi, hanya ada aku, pak satpam dan juga tukang bersih-bersih sekolah.
Srek srek srek
Suara bapak kebersihan yang sedang menyapu lapangan sekolah dengan sapu lidi menggema. Aku berjalan melewatinya dan menyapanya dengan tersenyum, tetapi bapak itu hanya menatapku saja tanpa membalas senyumku. Rasa kecewa dan malu bercampur menjadi satu. Tapi ya sudah lah, itulah hidup kadang kita tidak mendapat timbal balik dari perbuatan baik kita secara langsung.
Aku lanjut berjalan hingga sampai di depan anak tangga. Tiba- tiba....
Sreett Sreett Sreett...
Suara seperti seseorang yang menggeser kursi.
“Sudah ada yang datang?” Gumamku.
Awalnya aku cuek saja dan ingin melanjutkan langkahku menaiki anak tangga, tetapi suara itu semakin lama semakin keras. Seperti ada beberapa orang yang sedang menggeser bangku. Akhirnya aku penasaran, dengan apa yang sedang terjadi.
Aku berjalan pelan-pelan menuju sumber suara. Ternyata suara itu terdengar lantang karena berasal dari kelas yang berada di samping tangga itu. Aku ingin mengintip dari jendela, namun ternyata tidak bisa karena jendelanya di tutup tirai. Rasa penasaranku masih belum hilang, dan akhirnya aku melanjutkan langkahku dan akan mengintip dari pintu yang sedikit terbuka itu. Namun tiba-tiba suasana menjadi mendung. Entah hanya perasaanku atau memang mendung. Firasatku pun tidak enak akan hal ini.
“Ah... sudahlah.” Ucapku.
Aku pun memutar balik langkahku dan berjalan menuju kelas. Satu persatu anak tangga aku lalui. Entah kenapa udaranya semakin dingin saat aku melewati tangga. Firasatku semakin ke sini semakin tidak enak. Aku jadi semakin takut. Aku melipat tanganku di dada dan membaca doa sebisanya. Otak dan perasaanku sedang kacau, hingga untuk berdoa pun rasanya sulit bahkan kata-kata dalam doaku jadi terbolak balik.
Langkahku semakin cepat, napasku terasa sesak, keringat dingin mulai terasa melewati pelipisku. Aku sangat takut hingga akhirnya aku sampai di anak tangga terakhir.
“Hahhh lega.” Ucapku sambil mengatur napas.
Setelah beberapa saat mengatur napas hingga tenang. Aku berjalan kembali menuju kelas. Kebetulan kelasku di lantai dua menghadap lapangan sekolah. Aku mengintip ke lapangan sekolah dan terkejutnya aku ternyata bapak kebersihan sudah tidak ada di sana dan lapangan sudah keadaan bersih. Padahal seingatku tadi masih banyak sampah daun kering.
“Cepet banget ya? Apa aku yang kelamaan jalannya?”
Lagi-lagi aku mencoba untuk berpikir positif. Tidak terasa aku hampir sampai di kelasku. Namun, mataku terpaku pada seorang siswi yang sudah ada di dalam kelas sebelum kelasku. Dia memakai seragam khas sekolah. Aku kebingungan, apakah aku salah hari atau dia yang salah pakai seragam. Tapi aku ingat jelas jika hari ini adalah hari senin. Karena sebelum ke sekolah aku mengantar ibuku bekeja dan adiku sekolah. Adik ku hari ini menggunakan putih abu-abu.
“Bisa-bisanya dia salah seragam.” Gumamku sambil berjalan menuju kelas.
***
Kring kring
Bel tanda masuk bebunyi. Kelas sudah ramai. Aku dan teman-teman bersiap ke lapangan sekolah untuk upacara bendera. Saat melewati tetangga kelasku, aku sempat melirik ke dalam mencari siswi yang salah seragam tadi. Tapi ternyata tidak ada.
“Dia pulang kali ya?” Ucapku.
“Siapa?” tanya temanku.
“Itu... tadi pagi aku lihat ada anak pakai seragam khas sekolah di kelas sebelah. Haha dia pulang kali ya karena salah seragam.” Jelasku.
“APA?” beberapa temanku terkejut dan matanya membulat sempurna.
“Sttttttt.” Ucap temanku yang lainnya.
Aku kebingungan dengan tingkah mereka. Tiba-tiba mereka menyeretku sedikit kasar hingga sampai di lapangan sekolah.
“Tau gak? Katanya kalau ada yang lihat anak pakai seragam khas sekolah waktu hari senin di dalam kelas. Tandanya kelas itu akan ketiban sial.” Bisik salah satu temanku.
“Waktu itu kelasnya masih kosong kan?” Tanya temanku lainnya.
Aku hanya mengangguk.
“Fix bener tuh kelas bakalan kena sial.”
Seketika teman-temanku ramai berbisik membahas itu. Aku lihat beberapa dari mereka mememeluk dirinya sendiri dengan ekspresi ketakutan. Aku hanya memperhatikan mereka satu persatu. Beberapa dari mereka juga mencoba menenangkanku. Mereka pikir aku akan syok. Yah memang benar aku syok, di tambah aku mengingat kejadian tadi pagi.
Sepanjang hari aku merasa ketakutan, was-was dan bersalah telah bercerita tentang itu. Perasaanku tidak tenang. Aku selalu bertanya kepada diriku sendiri. Apa benar kelas itu akan sial? Satu hari berlalu begitu panjang syukurlah tidak terjadi apa-apa denga kelas itu.
“Hah... itu hanya mitos.” Gumamku.
Bebanku sedikit hilang. Aku pun pulang dengan perasaan sedikit lega, meski masih tersisa rasa takut bahwa mitos itu benar.
***
Keesokan harinya semua berjalan normal. Aku semakin yakin bahwa itu hanyalah mitos. Namun, baru saja aku lega tiba-tiba murid-murid berlarian keluar kelas. Mereka berlari menuju tetangga kelasku.
“Anak kelas sebelah ada yang nelen jarum.” Teriak teman laki-laki di depan kelasku.
Sontak seisi kelasku ikut keluar melihat keadaan kelas sebelah. Aku pun ikut berlari memastikan apakah berita itu benar atau tidak. Dan benar saja, aku melihat darah berceceran di meja lantai dan kursi. Tiba-tiba aku terdorong oleh anak PMR yang membawa kotak P3K. Mereka berjalan menuju murid yang bergerombol di depan kelas. Aku masih penasaran wajah anak yang menelan jarum itu.
“Bubar-bubar semua. Ini bukan tontonan. Kembali ke kelas masing-masing.” Teriak guru dari lorong.
Kami pun akhirnya membubarkan diri. Baru beberapa langkah aku kembali menuju kelas.
“Tolong beri jalan!” Teriak salah satu anak PMR.
Spontan aku dan teman-teman menoleh ke arah sumber suara. Aku masih tidak bisa melihat wajah murid yang terluka itu. Aku hanya melihat punggung guru yang sedang menggendong murid yang terluka itu. Aku juga melihat ada banyak darah di telapak tangannya.
Seketika aku merinding ketakutan. Aku takut mitos itu benar. Aku harus bagaimana? Apa ini salahku? Oh tidak? Bagaimana ini bisa terjadi. Tiba-tiba ada temanku yang memeluku dari samping.
“Udah... udah... tenang oke.” Ucapnya.
Dia mencoba menenangkanku. Dia adalah teman yang menceritakan mitos itu kepadaku. Jujur aku semakin merasa bersalah. Sekali lagi seharian penuh aku di hantui rasa was-was, bersalah dan takut.
***
Tidak di sangka keesokan harinya terjadi lagi sebuah kecelakaan. Lagi-lagi murid kelas itu yang menjadi korban. Katanya ada dua orang siswa yang terpeleset di kamar mandi. Kebetulan dua siswa itu memakai kamar mandi bersebelahan. Mereka terpeleset karena terguyur dari atas hingga basah kuyup, terpeleset dan jatuh. Satu kepalanya terbentur kloset dan satunya lagi terbentur tembok. Mereka pingsan di tempat.
Setelah di telusuri ada kejanggalan terjadi. Salah satu siswa menggunakan bilik yang di pojok. Dan satunya bilik di sebelahnya. Anehnya dari mana asal air yang banyak itu hingga tubuh mereka basah kuyup. Sedangkan bilik satunya sedang rusak. Jejak air hanya membasahi tembok pemisah antara dua bilik.
Akhirnya gosip pun menyebar kemana-mana. Setiap aku berjalan menelusuri lorong sekolah semua mata tertuju padaku. Mereka semua tau bahwa aku orang yang melihat penampakan itu. Aku pun merasa risih dengan tatapan mereka. Ingin rasanya aku kembali ke masa lampau.
Bruk!
Tiba-tiba aku menabrak seorang guru yang keluar dari suatu kelas. Guru itu membawa beberapa speaker di tangannya. Untunglah speakernya tidak jatuh.
“Maaf pak.” Ucapku.
“Iya gak apa-apa lain kali hati-hati ya.” Ucap guru itu berlalu.
“Untung speakernya gak jatuh.” Ucap temanku.
Aku hanya menghela napas panjang. Sambil melirik ruangan dimana guru itu keluar. Aku merasa dejavu dengan itu. Aku pun memastikannya dengan melihat seutuhnya. Dan aku terkejut, ternyata ruangan itu adalah ruangan yang berada di sebelah tangga.
“Ini kelas apa?” Tanyaku.
“Kelas? Ini itu gudang penyimpanan perangkat komputer. Tapi emang sih dulu ini kelas.” Jelas temanku.
Seketika aku merinding mengingat kejadian kemarin. Aku merasa tersetrum di sekujur tubuhku hingga aku tidak bisa berkata apa-apa lagi. Namun, aku masih sanggup berjalan ke kantin.
Hari itu juga aku pulang sore karena ada ekstra kulikuler. Lagi-lagi aku kebagian mengunci ruangan itu. Aku sangat membencinya, karena itu membuatku pulang terlambat. Biasanya aku santai meski pulang terlambat. Namun kali ini aku benar-benar takut mengingat kejadian kemarin hingga sekarang.
Tiba-tiba aku mencium bau kemenyan. Seketika aku melihat keseliling mencari siapa yang membawa kemeyan namun ternyata dia adalah bapak petugas kebersihan. Dia dengan santainya membawa sesajen di tanggannya. Aku menatapnya heran dan bertanya-tanya.
“Mau ikut saya?” Ucap bapak itu yang ternyata sudah di depanku.
“Kemana pak?”
“Sebaiknya kamu ikut, biar tidak ketempelan.”
Aku pun terkejut mendengar kata itu. Ingin sekali aku segera pergi. Tetapi kata-kata itu membuatku ingin ikut bapak itu. Tanpa berucap lagi. Bapak itu pergi meninggalkanku yang masih bimbang dengan pemikiranku sendiri. Namun akhirnya aku mengikutinya.
“Ah... kayaknya aku harus ikut.” Ucapku menyusul.
Meski menyusul aku berjalan dengan jarak satu meter. Aku tidak tahan dengan bau kemenyan. Semakin lama atmosfirnya semakin mengerikan bagiku. Aku berjalan hingga sampai di suatu tempat yang asing. Tempat yang jarang di kunjungi orang. Tempat itu di sudut sekolah. Di sana ada pohon mangga yang cukup besar. Bapak itu menaruh sesajennya di sana.
Aku masih berdiri di jauh di belakangnya. Memperhatikan setiap gerak-gerik bapak itu. Tidak lama kemudian, bapak itu selesai dan kembali. Dia datang menghampiriku. Rasa takut dan was-was datang lagi. Aku sangat ketakutan hingga tidak mampu untuk menggerakkan kakiku. Tiba-tiba bapak itu mengusap udara di atas dan belakang kepalaku.
“Sudah.” Ucapnya.
“Hah?”
“Anak-anak itu selalu nakal ya. Salah satu anak di kelas yang itu memporak porandakan sesajen. Maka dari itu kelas itu di ganggu.” Jelas bapak itu.
Aku terkejut mendengarnya. Ingin sekali aku kabur dari sini. Namun ternyata kakiku berat seperti terjebak lumpur.
“Anak yang kamu lihat adalah anak saya. Dia korban pembunuhan di sekolah ini. Dia di bully karena dia mendapat beasiswa anak berprestasi yang berasal dari keluarga miskin seperti saya.”
“Dulu kelasnya berada di dekat tangga. Yang sekarang beralih fungsi jadi gudang.”
“Cukup kamu saja yang tau. Jika orang lain tau hidupmu tidak akan damai.”
Setelah kalimat terakhir kakiku melemas. Sesegera mungkin aku berlari meninggalkan sekolah itu. Setelah kejadian itu aku tidak mau masuk ke sekolah pagi-pagi. Aku memilih untuk menunggu di depan sekolah sampai ada murid yang masuk duluan.