Irene memasang muka cemberut, seharian dia diomelin ibunya karena mendapat IPK paling rendah.
"Iren, kau ke kampus ngapain saja? Mengapa IPK mu sangat rendah sekali, bikin mama malu saja," omel bu Tuti.
Bu Tuti malu karena di kampus diumumkan orang yang paling rendah IPK ya. Irene adalah salah satunya.
"Irena juga gak tau ma... Irene saja terkejut," ucap Irene beralasan.
"Kalau nilaimu seperti itu, lalu untuk apa selama ini kau kuliah lebih baik mama gak kuliah kan kamu. Habis uang mama tapi gak ada perubahan," kesal bu Tuti.
"Maaf ma... Irene berjanji. Irene akan perbaiki nilai Irene dengan baik," ucap Irene.
Irene sudah sangat bosan mendengar Omelan mama nya. Dari tadi tidak mau diam dan terus menyalahkannya.
"Ma.. mama kan tadi sudah janji. Kalau Irene akan berubah," ucap Irene.
"Baiklah nak, mama hanya tidak ingin kau tidak lulus-lulus. Biasanya laki-laki yang sering dapat nilai buruk. Ini malah kamu," ucap ibunya kembali mengomel.
"Mama!" Irene sudah tidak ingin mendengar Omelan lagi. Dia akhirnya menutup kuping dengan tangannya.
"Dari tadi tidak mau berhenti mengomel," ucapnya dalam hati.
Setelah ibunya pergi Irene kembali bangun. Dia tidak akan melakukan kesalahan lagi. Dengan tidur semua akan terulang kembali. Mulai besok adalah hari pertama mereka libur.
Irena keluar dan mengambil sepatu olahraganya. Dia memakai sepatu itu, dia ingin lari sore hari ini.
Irene berlari dan terus berlari sampai keringatnya membasahi bajunya.
Tag tig tag tig tag tig tug. Suara sepatu Irena.
"Hu, capek juga."
Irene mampir ke toko makanan dan minuman. Disana dia membeli minuman. Dia pergi setelah membayarnya dan tiba-tiba.
Bug...
Minuman yang dia beli terjatuh.
" Apaan nih orang," ucapnya mengambil minuman yang jatuh.
Dia melihat ke atas, dia sedikit terkeju. Orang yang pernah menolongnya tepat dihadapannya.
"Apa-apaan kau, kalau jalan mata dibesarkan," ketusnya pergi meninggalkan pria itu.
Elfrano Swedda hanya menggelengkan kepala.
"Wanita ini, seharusnya aku yang marah. Kok malah dia."
Elfrano juga habis olahraga. Makanya baju yang dia pakai basah.
Dia melanjutkan lagi lari sorenya, sampai akhirnya dia pulang.
Irene masih belum pulang. Dia kelelahan dan tertidur di kafe.
Banyak orang yang memperhatikannya Irena yang sedang tidur, tapi tidak ada yang berani untuk membangunkannya.
Entah malaikat apa yang sudah membangunkannya Irene membuka matanya.
Dia melihat jam tangannya sudah menunjukkan angka 07.
"Tidak.... aku akan pulang. Kalau tidak mama kembali mengomel lagi," ucapnya dalam hati.
Dia menyuruh sopirnya cepat menyetir. Hanya beberapa menit mereka sampai dirumah Irene.
Irene mandi dan turun kebawah untuk makan. Dia melihat ibunya sudah berada disana.
"Irene, kau sudah mama jodohkan dengan seseorang. Kau tidak bisa menolaknya, ini demi kebaikanmu," ucap bu Tuti tak ingin dibantah.
"Tapi ma-" lirih Irene.
" Diam saja, ikuti rencanaku,"
Irene hanya tunduk. Dia tidak berani membantahnya.
"Aku dijodohkan tanpa kutau siapa dia. Bagaimana sifatnya dan bagaimana ciri-ciri tubuhnya," keluh Irene dalam hati.
***
Perjodohan pun dimulai, Irene sudah memakai gaun yang indah. Gaun itu sangat pas pada tubuhnya. Dia memperhatikan tubuhnya dicermin.
"Tidak ada, aku sudah terlihat sempurna," ucap Irene dalam hati.
Ibunya datang, dan memuji penampilannya kalau dia sangat cantik.
"Wah, putri mama cantik juga. Papa saja tertari melihat apalagi dia yang akan menjadi calon suamimu."
"Mama apaan sih, orang belum kenal malah dijodohin. Awas yah ma... kalau saja dia bukan seperti yang aku inginkan, aku batalin perjodohan ini," ancam Irene dalam hati.
Dia ingin sekali menolak perjodohan itu, dia masih tidak ingin menikah. Dia masih ingin fokus dengan kuliahnya.
"Ma... gimana kalau perjodohan ini dibatalkan saja," ucap Irene.
"Apa? Apa kau bilang? coba ulangi biar mama tempeleng kepalamu yang keras kepala itu!" bu Tuti panas mendengar ucapan Irene yang ingin membatalkan perjodohan itu.
"Ma... aku tidak tau siapa dia. Aku tidak suka ma, jangankan suka, kenal saja belum," ucap Irene mengatupkan kedua tangannya untuk memohon.
"Gak, perjodohan ini tetap berlangsung."
Bu Tuti meninggalkan Irene sendirian dikamar.
Irene bertanya dalam hatinya apakah dia akan menerima perjodohan ini dan menutup masa jomblonya. Atau melanjutkannya tapi dia tidak tau siapa yang akan dijodohkan untuknya.
Satu jam kemudian, semua orang sudah kumpul dibawah. Bu Tuti naik keatas dan menyuruh putrinya agar turun.
"Nak.. bukain pintunya, saatnya kamu turun kebawah. Semua orang ingin melihat wajah dan bagaimana penampilan mu. Mereka sudah tidak sabar ingin melihatmu," ucap bu Tuti dari luar.
"Iya ma." Irene membuka pintu. Penampilannya itu membuat ibunya tercengang.
"Nak, kamu cantik sekali," puji ibunya.
"Ahk mama bisa saja," ucap Irene.
Irene dan ibunya turun. Semua orang memperhatikan Irene yang terlihat sangat cantik dan anggun.
"Wah... cantik sekali dia," puji orang-orang yang melihatnya.
"Pasti anaknya nanti cantik seperti ibunya," ucap seorang ibu dengan menyunggingkan senyum.
Irene memperhatikan di sekelilingnya, orang yang dia cari belum terlihat.
"Apakah dia yang akan menjadi suamiku," ucap Irene dalam hati saat melihat seseorang mendekati ibunya.
"Lumayan, ya lumayan ganteng," lirih Irene.
Acara itu sudah dimulai sejak Irene masih dikamar, tapi sampai sekarang belum ada yang memulai agar mereka bisa bertemu dan saling mengenal satu sama lain.
"Kenapa belum dimulai?" tanya Irene dalam hati.
Tiba-tiba ibu dari pria yang ingin dijodohkan padanya, membatalkan perjodohan itu. Dengan alasan anak mereka tidak mau datang.
"Syukur," ucap Irene senang.
Semua orang terkejut mendengarnya. Irene menyunggingkan senyum, dia melirik kesana-sini agar bisa berpaling dari tatapan mereka.
Orang tua pria itu meminta maaf pada ibunya Irene. Anaknya sudah berani menolak perjodohan itu. Mereka akhirnya pulang, para tamu undangan juga pulang.
Bu Tuti memperhatikan Irene dari tadi senyum-senyum sendiri. Ibunya menggelengkan kepala.
Perjodohnnya dibatalkan malah senang," ucap Bu Wati dalam hati.
Irene kembali kekamar. Dia senang perjodohan itu dibatalkan. Dia merebahkan tubuhnya ke ranjang miliknya lalu tertidur pulas.
***
Esoknya, orang tua pria itu datang. Mereka tidak sendirian. Mereka bersama anak yang akan dijodohkan pada Irene.
"Ha..., dia ngapain disini? ucap Irene dalam hati. Dia terkejut melihat pria yang itu. Dari tadi dia mengintip dari atas tangga.
"Apa dia calon suamiku?" tanya Irene dalam hatinya. Lagi-lagi dia bingung.
Bu Wati memanggil Irene, dia menyuruh putrinya itu agar segera turun. Dia menyetujuinya dan menghampiri mereka. Pria itu terkejut melihat Irene.
"Apakah dia yang akan menjadi calon istriku?" tanya El dalam hati. Ternyata pria itu Elfrano Swedda.
"Tunggu dulu, apa iya bukan dia yang nilai IPK nya lebih rendah?" El tidak percaya kalau calon istrinya adalah orang terbodoh dikampusnya.
"Gak, gak ma... El gak mau dijodohin sama wanita bodoh seperti dia!" hardik El.
Orang tua El menunduk melihat sikap El yang tidak bisa diajak kompromi.
"Hei, siapa juga yang ingin menikah dengan mu. Ogah kali," ucap Irene sombong.
Irene ingin pergi dari tempat itu, tiba-tiba ibunya menghentikan langkahnya.
"Iren... jangan pergi," ucap bu Tuti seperti mengancam saja. Irene mendengar perintah ibunya dan duduk disebelah El gugup.
"Dari sekian banyak pria yang kutemui, hanya pria inikah yang diterima mama?" tanya Irene heran.
"Ya sudah deh, ikutin saja."
Irene tidak ingin menolaknya lagi. Dia takut ibunya kenapa-kenapa.
Irene duduk di kursi tepat disebelah El. Ibunya memaksanya duduk disitu. Kalau dia menolak, ibunya akan marah. Kalau dia mau pria ini akan geer. Tidak ada yang bisa dipilihnya. Dan akhirnya menuruti perintah ibunya itu.
"Ngapain kau duduk disini?" tanya El marah.
"Siapa juga yang mau duduk denganmu! Ini karena mama yang meminta."
El tidak lagi menjawab dan membiarkan Irene duduk.
Ibunya Irene dan orang tua El membahas perjodohan itu. Kalau mereka mengundang orang-orang seperti yang kemarin, bisa-bisa perjodohan itu akan gagal lagi.
"El, sekarang keputusan mu. Apakah kau mau menerima wanita ini sebagai calon istrimu?" tanya
ayahnya El, pak Bryan.
El menganguk tanda setuju. Pak Bryan lalu bertanya pada Irene.
"Apa Irene mau dengan anak om?" tanya pak Bryan senyum.
Sama dengan El dia hanya menganguk.
"Oke sekarang kalian sudah resmi dijodohkan," ucap pak Bryan.
Orang tua El dan ibunya Irene tertawa bahagia.
***
PERNIKAHAN
Acara tunangan sudah berlalu dan sekarang adalah hari pernikahan Irene dan El.
Keluarga El sudah datang. Mereka berjalan memasuki rumah. Banyak sekali tamu undangan yang datang. Banyak orang yang terpesona dengan ketampanan Elfrano Swedda. Sebelum akad nikah di mulai. Mereka terlebih dahulu memanggil calon wanita pengantin.
"Irene turun dan semua mata tertuju padanya..
Wahhh cantik sekali dia......" puji semua orang yang melihat Irene.
"Ternyata dia cantik juga," ucap El dalam hati.
Pernikahan itu pun selesai dan Irene sudah sah menjadi istri El.
"Orang yang sudah menjadi suamiku ini, apakah dia bisa membahagiakanku?" tanya Irene dalan hati.
El mencium kening Irene didepan semua orang. Ada tepukan meriah saat El mencium kening Irene.
"Akhirnya kalian sudah resmi sepasang suami istri semoga langgeng anak cucu, dan semoga malam pertamanya indah," ucap tamu undangan yang menyalam Irene dan El lalu pergi.
Jantung Irene berdegup kencang. "Apa maksud pria ini? dan apa, malam pertama?" Irene memegang dadanya, terasa degup jantungnya yang semakin kencang.
***
Sudah hampir dua tahun tahun mereka menikah, tapi Irene belum punya anak. Irene dan El sudah lulus S1. El masih melanjutkan S2 sambil mengurus perusahaan ayahnya, sedangkan Irene tidak melanjut lagi. Dia lebih fokus pada rumah tangganya. Untuk apa dia bekerja, kalau suami sudah memiliki segalanya. Irene juga sudah lumayan pintar karena Elfrano mengajarinya tiap malam. Orang tua El memaksanya untuk mengajari Irene. Dari kebersamaan mereka saat belajar, dari sanalah tumbuh benih-benih cinta.
El sangat menantikan anak dari kandungan Irene. Dia selalu berharap dan terus berdoa.
Hingga pada suatu hari, Irene pun mengandung. Semua anggota keluarga sangat bahagia. Apalagi dengan El, yang sudah hampir dua tahun belum dikarunia anak, dan sekarang dia akan menjadi ayah. Benihnya sudah tumbuh dan berkembang di perut Irene. Irene sangat bahagia. Ternyata dia yang akan calon suaminya, akan menjadi orang yang penting dan paling dia cintai dalam hidupnya.
Tamat.
Jangan lupa like, komen dan juga vote sebanyak-banyaknya.😊😊😊
Salam🙏🙏