Di tengah langit senja yang perlahan menghantar mentari kembali ke upuk tempat ber'istirahatnya tampak....
Di sebuah jalanan ada sekelompok siswa dan siswi yang asik bercanda gurau bercakap-cakap membahas suatu hal.
"Eh Lin itu tugas dari buk Ani di kumpulinya kapan?" - tanya seorang gadis berambut ponytyle coklat , bermata hijau dan berkulit putih juga bertubuh cukup tinggi dan ramping pada temannya yang berambut pendek sebahu bernama Linda yang berjalan ber'iringan di sampingnya.
" Seninlah Vid -kan besok libur ," - jawab Linda pada temanya Vidya.
"Oh gituh, Omg! Sepertinnya aku melupakan sesuatu yang lebih penting dari melupakan dia yang telah pergi, Omg! ... Omg!"- seru Vidya teringat sesuatu yang sepertinya telah ia lupakan.
Pletak! ... Aduh! Sakit My Beauty Head!..., ringis Vidya yang baru saja di jitak oleh salah satu teman lelakinya yang bernama Alpi.
"Apa sih Vid berisik banget sih lu kerasukan lu ya?"- Sungut lelaki berambut hitam pendek dengan tubuh agak gemuk dan memakai kaca mata itu berujar kesal pada Vidyan yang tiba-tiba histeri tidak jelas di hadapan teman-temanya itu.
"Duh ... haduh Pi-Alpi jangan sembarangan jitak-jitak My beauty head lah!, nanti kalau gue Amnesia gimana beraninya dirimu berbuat demikian hiks!... hiks!...," -ujar Vidya agak mendrama-tisir perbuatan temanya itu padanya yang membuat teman-teman lainya hanya menggelengkan kepala malas akibat kelakuan dua teman mereka yang hobi bertengkar itu.
"Gak usah banyak cingcong jelasin kenapa lu tiba-tiba histeris suara lu udah kayak tikus kejepit gak usah di perjelas pake toa yang lu telen!" - sungut Alpi pada Vidya.
" Betewe honey busway gue baru inget ninggalin buku tugas kelompok kita di kelas he...he...," - jelas Vidya pada teman-temanya sembari menggaruk belakang kepalanya yang tak gatal.
"WHAT THE F****!..., apa? lu ninggalin buku tugas kelompok kita di kelas!" - seru Alpi kesal.
" Piss man 😁✌ maafkanlah ke Amnesiaan Vivid yang Gemoy ini gak sengaja bener deh," - jelas Vidya pada teman-temanya .
"Kalau gitu kita harus buruan ambil karena lusa udah di kumpulin dan besok libur sekolah bakal di gembok,"- jelas teman lainnya yang bernama Rio mengingatkan mereka.
"Aduh kita harus buruan balik ke sekolah dan ngambil itu buku-buku kalau gak kita bakal di cincang Buk Ani!"- seru Alpi takut dengan memikirkan jika harus di marahi oleh Bu Ani si Guru Killer yang terkenal garang di sekolahnya itu.
"Hayuklah kita ambil bareng!"- ajak Vidya pada teman-temanya.
"Ogah lu aja!, kan lu yang udah ninggalin,"-tolak Alpi pada ajakan Vidya.
"Kita-kita sih gak bisa ikut soalya ada acara dan yang lain gak boleh pulang malem,"- jelas Rio pada Vidya.
"Yah kok gitusih kalian, kalau kamu gimana Lind gabisa juga?," - tanya Vidya pada sahabatnya itu.
"Aku sih bisa-bisa aja, yuk lah Pi temenin kita gak kasihan apa masa mau biarin dua anak perawan pergi malem-malem sendirian!,"-bujuk Linda pada Alpi.
"Hemmm ... gimanayah?"-ujar Alpi menimbang-nimbang dengan pose berpikir.
"Temeninlah Pi kasian masa mereka berdua doank ntar kalau kenapa-napa gimana?, ada Rumor katanya sekolah kita itu bekas makam belanda gak kasihan lu nanti mereka di culik Om-om pedo belanda,"- cerita Wati salah-satu teman mereka yang berhijab menceritakan kisah seram sekolah mereka.
"Apaan sih Wat nakut-nakutin kita aja,"-sungut Vidya yang jadi cemberut mendengar cerita seram tentang sekolah mereka dari Wati.
"Apasih gituh aja takut ok deh gua temenin lu pada cewek-cewek penakut yang butuh kesatria tampan Alpi untuk menjaga,"- celetuk Alpi membanggakan dirinya.
"Ciuh amit-amit!,"-ledek Vidya sembari berpura-pura akan muntah mendenfar ucapan Alpi.
"Yaudah kalau gitu kami pulang duluan Hati-hati Lu Pi di entar sekap Tante -Kun hahaha!,"-goda Rio berjalan pergi bersama wati dan teman lainya yang juga tak bisa ikut.
"Wah Bang*** tuh bocah satu,"-sungut Alpi kesal.
"Yuk lah guys kita ambil buku-buku keramat dari Bu Ani, dari pada kita kena sembur lava!,"- seru Vidya menggandeng kedua temanya di kiri dan kanan lalu berjalan menuju arah sekolah yang tak terlalu jauh dari jalan rumah mereka.
Tak lama mereka pun sampai di depan gerbang sekolah yang menjulang tinggi tampak lampu remang-remang yang menerangi gedung sekolah yang memperlihat kan suasana seram sekolah di malam hari.
"Oy lu Vid yakin mau ngambil sekarang gak besok aja?,"- tanya Alpi agak takut melihat suasana seram sekolah di malam hari.
"Besokkan Minggu woy!,"-ujar Linda mengingatkan Alpi.
"Apaan sih baru juga sampe udah takut aja lu katanya kesatria gituh aja takut!," ledek Vidya pada Alpi yang di balas dengusan kesal lelaki itu sembari menatap kiri dan kanan takut-takut akan munculnya sesuatu.
Krek...! Kriettt....! Kreeeeeeeetttt!....
Perlahan mereka pun membuka gerbang dan mulai melangkah masuk melewati halaman dan lapangan luas sekolah itu hingga sampailah mereka pada lorong sekolah yang tampak cukup gelap dan menyeramkan tak ada suara serangga apa pun sangat sunyi dan terasa hawa yang tidak enak membuat perasaan mencekam mulai menyelimuti mereka.
"Duh kok serem banget yah guys apa kita pulang aa yah?,"-ujar Vidya takut-takut melihat sekeliling.
"Aduh kita udah sampai sini masa mau pulang dengan tangan kosong ayoklah jangan takut kan kita bareng!,"-ucap Linda menyemangati.
Perlahan mereka melangkah perlahan di lorong lantai satu yang cukup gelap tiba-tiba tampak!....
Syut! Wosh! ..., tampak sebuah bayangan lewat di belakang mereka yang membuat ketiganya menengok kebelakang merasakan hawa yang membuat bulu kuduk ketiganya merinding namun tidak ada apapun yang mereka lihatm. Mereka terus berjalan hingga sampai di pertigaan lorong dengan rute tujuan berbeda satu sisi menuju tangga untuk ke kelas yang berada di lantai dua dan satu lagi menuju kantin, tak sengaja mereka memincingkan mata menatap ke ujung lorong menuju kantin tampak siluet wanita tinggi besar bergaun merah dan bermata merah menatap mereka dari kejauhan dengan tatapan mata tajam yang hanya dapat di lihat jelas oleh Linda yang diam-diam adalah seorang anak Indigo yang ternyata kemampuanya dari teman-temanya.
"Li-lind Ka-kayanya ad-da Or-orang!"- bisik Vidya yang juga di angguki Alpi dengan keduanya hanya dapat melihat bayangan hitam saja di ujung sana.
"Sst~ tenang-tenang jangan ada yang teriak jangan lihat-lihat ayok kita buruan ke kelas,"--bisik Linda menginstruksikan kedua temanya yang mulai bergetar ketakutan.
Mendengar instruksi Linda ke duanya pun hanya menganggukan kepala lemah sembari menelan ludah kasar dengan tubuh yang agak gemetaran. Perlahan mereka pergi menyusuri lorong menuju tangga lantai dua menaiki satu demi satu anak tangan dengan tangan saling bergandengan.
Huft!.... Tadi itu apa ya?,"- tanya Vidya setelah sedikit merasa lega dengan penasaran bertanya pada Linda yang sepertinya tahu sesuatu.
"Nanti saja kita bahas itu ayo kita ambil bukunya dan cepat-cepat pergi dari sini hawanya gak bagus,"- ucap Linda pada kedua temanya.
"Iya hayuk buruan gak kuat gue lama-lama di sini,"- ujar Alpi pada kedua temanya yang di angguki Vidya.
Perlahan ketiganya kembali menyusuri lorong -lorong lantai dua melewati kelas-kelas adik kelas satu untuk menuju tangga ke lantai tiga karena di situlah ruangan untuk siswa kelas dua dan kelas mereka berada. Sesaat sembari mereka berjalan dengan hati-hati dan melirik kiri dan kanan dengan Handphone mereka yang menjadi senter penerang yang membantu mereka menyusuri sekolah yang cukup besar ini dengan cukup mudah. Tiba-tiba!....
Bruk!... Bruk!... Aw?!...., ketiganya terjaduh setelah merasakan ada sesuatu yang mencekal kaki mereka lalu setelah mereka mulai bangkit dengan posisi bertumpu pada kedua lutut dan saling memegang satu sama lain sembari mereka menyenteri lantai mencoba mencari tahu apa yang membuat mereka terjatuh tiba-tiba Vidya dan Alpi kembali terduduk lemas melihat apa yang baru saja mereka lihat?....
Kyaaa!... Huaaa!... teriak Vidya dan Alpi yang terkejud akan apa yang mereka lihat.
Tampak banyak tangan yang muncul dari sela-sela bawah pintu kelas itu tangan-tangan merah berlumur darah yang berusaha meraih tangan mereka bersamaan dengan suara-suara aneh yang berkata.
Masuklah ke rumah kami!....
Masuklah ke rumah kami!....
Masuklah ... Masuklah ...!
"Vid! Al Ayo lari!....,"- teriak Linda yang menarik mereka menuju tangga lantai tiga dan buru-buru berlari naik hingga sampailah ketiganya di lantai tiga tempat kelas mereka berada.
Hah ... Hah .... Hah ...., deru nafas mereka setelah sampai di lantai tiga dengan wajah pucat dan peluh yang membasahi wajah ketiganya.
"Aduh ap-apa itu tadi Lind?,"-tanya Vidya yang masih ngos-ngosan.
"Tentu aja setan bodoh,"-potong Alpi yang menjawab pertanyaan Vidya.
"Gila serem banget gimana kalau kita tertangkap, tidak-tidak gimana kita pulangya?'- ucap panik Vidya memikirkan cara mereka bisa keluar dari sekolah ini. Belumm juga Linda menjawab tiba-tiba....!
Wush ... Wush!....
KALIAN HARUS TETAP TINGGAL!, seru sosok wanita yang tadi berada di ujung lorong kantin yang kini menghampiri mereka terbang bagai angin dan tiba-tiba mendekati mereka yang langsung terkejud dan berlari cepat memasuki ruang kelas mereka.
Drap!... Drap!... Drap!... Drap!....
Brak!... Cklek!... Brak!....
"Aduh gimana nih siapa itu serem banget,"-ujar Vidya ketakutan bersama ketdua temanya bersembunyi di dekat jendela kelas mereka dengan sangat ketakutan.
Tiba-tiba....!
.
.
.
Wush! Brak! Hahahaa!....
Kalian tak akan bisa keluar dari sini!, ucap sosok seram itu datang bersama dengan beberapa sosok yang berpakaian ala-ala jaman koloni belanda dengan wajah pucat namun bermata merah ber'aura gelap yang perlahan mendekati mereka yang sudah tak dapat bergerak kemanapun lagi.
Hiks... hiks...hiks.... mereka hanya dapat menangis dan meringkuk bersama di sudut tepi jendela.
" To-tolong ja-jangan sakiti kami "- ucap Linda memohon pada Sosok wanita seram yang menatapnya tajam dengan senyum lebar yang menakitkan. Sedangkan kedua temanya berusaha berdoa sebanyak yang mereka bisa berharap akan datangya pertolongan dari tuhan.
Tap!... Tap!... Tap!... Tap!...
Brak!.... Drap... Drap... Drap...
CRASH!... CRASH!.....!
AKKKK! BERANINYA KAU! amuk sosok menakutkan itu pada sesosok pria paruh baya yang memakai seragam putih yang membawa sebotol Air yang di siramkanya pada sosok wanita menakutkan yang tampak kesamitan akibat air yang di siramkan kepadanya.
"Rasakan ini berani-beraninya kau mencoba mengganggu anak-anak ini di dalam pengawasanku,"- ucap sang lelaki dan menyiramkan air pada sosok-sosok yang perlahan berubah menjadi asap hitam setelah di siram air yang entah
apa itu.
Tap... Tap... Tap...!
"Apa kalian tidak apa-apa?, kenapa kalian ada di sini malam-malam?,"- tanya lelaki itu menatap Vidya, Linda dan Alpi sembari menyorotkan senternya kepada mereka.
"Maaf Pak Iwan ka-kami hanya ingin mengambil buku ya-yang tertinggal,"- jelas Vidya terbata-bata.
"Kalian seharusnya tidak ke sini malam-malam dan harusnya meminta izin saya dahulu bukanya main masuk sembarangan,"- omel Pak Iwan sang Satpam Penjaga malam sekolah itu.
"Ma-maaf Pak ka-kami kira bapak sedang tak ada dan gerbanya juga tak di kunci maaf Pak,"- jelas Linda yang menundukan kepala bersama kedua temanya.
"Hah untung saja saya cepat datang kalau tidak entah apa yang akan terjadi, kalau begitu lekas ambil buku kalian dan akan saya atar kalian sampai kepuar gedung ini orang tua kalian sudah menunggu di bawah!" suruh Pak Iwan yang lekas mereka turuti dan mengikuti pria paruh baya itu hingga sampai
Lah ketiganya di depan gerbang sekolah.
Sesampainya mereka di depan gerbang langsung saja ketiganya di peluk oleh orang tua masing-masing beserta omelan-omelan yang menyertainya.
"Aduh ndok-ndok kenapa kalian gak langsung pulang sih buat kami khawatir saja untung bapak ketemu nak Rio dan untung juga kami alumni sekolah ini jadi langsung mengerti dan buru-buru ke sini,"- jelas Ayah Vidya pada ketiganya dengan wajah Khawatir dan lega.
"Maaf yah Vidya salah Piss Yah 😁✌ jangan potong uang jajan Vidya soalnya Vidya gak bisa hidup tanpa kuota dan Ciki-ciki enyak kesayangan,"- celetuk Vidya berharap tidak dapat pemotongan uang jajan.
"Iya deh terserah kamu aja,"- balas sang Ayah lelah dengan kelakuan anak gadisnya satu ini.
"Iya untung saja bapak-ibu kalian ketemu saya kalau gak bagaimana saya tahu kalian menerobos saat saya sedang tidak di pos,"- jelas Pak Iwan.
"Untung saja kamu gak apa-apa kan Lind ibu khawatir banget setelah mendengar penjelasan Ayah-ibu Vidya saat mencarimu kerumah mereka,"- ujar Ibu linda memeluk anaknya sayang.
"Iya gak apa-apa Bu maafin Linda yah,"- ucap Linda membalas pelukan ibunya.
"Baguslah kamu gak apa-apa kan Pi?, gak ngompolkan?"- tanya Mamanya yang membuat si anak agak malu dengan pertanyaan konyol sang ibu.
"Duh ya enggak lah Mih Apaan sih malu tau masa gituh sih bikin malu Alpi yang handsome ini aja,"-sungut Alpi cemberut yang hanya di gelengi Mama dan Papanya.
Plak!... Aw!.... "Oy adek gak ada akhlak lu gak papakan otak lu gak ilangkan?," ujar Roni kakaknya Vidya.
"Yaudah pak Iwan makasih bantuanya untung aja ada bapak ialau gak kami gak tahu lagi harus apa hah ... kami tidak tau bagaimana harus membalas kebaikan anda ,"- ucap Ayah Vidya yang juga di angguki orang tua lainya yang sangat berterima kasih pada satpam itu.
"Tidak apa itu sudah tugas saya, oh iya jangan lupa ini begitu pulang suruh mereka lekas mandi dan minum air-air doa ini agar energi-energi negatif yang terserap pada mereka di bersihkan juga untuk menjaga agar tak terulang lagi lebih baik jangan kesini malam-malam kalau butuh sesuatu atau mau ambil sesuatu datanglah pagi atau siang saat saya atau pas Yos berjaga soalnya kalau lagi sepi bahaya di sini," - peringat dan anjur Pak Iwan memberikan tiga botol air mineral yang harus mereka minum.
"Baik pak terima -kasih kami undur diri selamat malam,"- pamit mereka.
"Iya sampai jumpa dan hati-hati,"- balasnya.
Sejak saat itu tak ada lagi Siswa dan Siswi yang berani untuk ke sekolah di malam hari.
Sejakk ketiga sekawan itu menceritakan pengalaman mereka dan jadilah cerita-cerita itu menjadi salah satu Urband Lagend nyata di sekolah mereka juga Pamali tentunya ke sekolah di malam hari.
.....
Tamat.
Bagaimana pendapat kalian?.
Komen di bawah👇🏻 jangan lupa votenya.