ᴀᴋᴜ ʙᴇʀʟᴀʀɪ sᴇᴋᴜᴀᴛ ᴛᴇɴᴀɢᴀ ᴜɴᴛᴜᴋ ᴍᴇɴɢʜɪɴᴅᴀʀɪɴʏᴀ. ᴀᴋᴀɴ ᴛᴇᴛᴀᴘɪ ᴀᴋᴜ ᴊᴜsᴛʀᴜ ᴍᴇʟɪʜᴀᴛɴʏᴀ ʙᴇʀᴀᴅᴀ ᴅɪᴀɴᴛᴀʀᴀ ᴋᴇʀᴜᴍᴜɴᴀɴ ᴘᴀʀᴀ sɪsᴡᴀ, ᴅᴇɴɢᴀɴ ᴡᴀᴊᴀʜɴʏᴀ ʏᴀɴɢ ᴘᴜᴄᴀᴛ ᴅᴀɴ ᴋᴜʟɪᴛɴʏᴀ ʏᴀɴɢ ᴛᴀᴍᴘᴀᴋ ᴛᴇʀᴋᴇʟᴜᴘᴀs. ᴛɪʙᴀ-ᴛɪʙᴀ ᴅɪᴀ ᴍᴇɴᴀᴛᴀᴘ ᴛᴀᴊᴀᴍ ᴋᴇ ᴀʀᴀʜᴋᴜ ᴅᴇɴɢᴀɴ ʙᴏʟᴀ ᴍᴀᴛᴀɴʏᴀ ʏᴀɴɢ ʙᴇʀᴡᴀʀɴᴀ ᴍᴇʀᴀʜ ᴅᴀʀᴀʜ. ᴀᴘᴀᴋᴀʜ ɪɴɪ ᴀᴅᴀʟᴀʜ ᴀᴋʜɪʀ ʜɪᴅᴜᴘᴋᴜ?
.................
"Astaga! El akhirnya kamu sadar juga,"ujar Clara yang tampak bahagia melihat teman baiknya telah siuman.
Sedangkan Eliana sendiri justru masih bingung sambil melihat ke sekelilingnya.
"Aku berada di mana?"tanya Eliana.
"Kamu ada di ruang UKS sekarang El, kamu tadi ditemukan pingsan di dalam kelas seorang diri. Apa yang kamu lakukan di sana El? Bukankah kamu bilangnya hanya mengambil buku yang tertinggal di loker kelas. Kenapa malah kamu ditemukan pingsan di sana?"tanya Clara yang menyerocos saja melihat temannya telah siuman.
"Aku melihat Gebi di sana, Cla,"ucapan Eliana sontak membuat Clara terkejut dibuatnya.
"Kamu jangan mengada-ada El, kamu tahu bukan jika Gebi sudah meninggal dunia dua bulan yang lalu. Mana ada dia hidup kembali dan terlihat olehmu. Kamu pasti sedang berhalusinasi saja El,"kata Clara meyakinkan Eliana bahwa apa yang dia lihat hanyalah imajinasinya terhadap sosok Gebi.
"Tidak Cla, aku beneran melihat Gebi. Dia menangis di bangku tempat dia duduk, dia sepertinya hendak mengatakan sesuatu kepadaku tetapi..."
"Cukup El! Cukup! Cukup! Sudah! Aku akan mengantarkanmu pulang sekarang,"putus Clara tidak ingin lagi mendengarkan omongan halusinasi dari Eliana.
Dia tahu jika Eliana sangat berduka atas kepergian Gebi. Clara tahu tidak akan mudah bagi seorang Eliana untuk melupakan sosok Gebi begitu saja. Mereka adalah teman sejak kecil bahkan Eliana sempat bersama dengan Gebi sebel gadis itu dinyatakan tewas oleh pihak kepolisian.
Clara mengantarkan Eliana sampai di depan pintu gerbang rumahnya.
"Kamu jangan banyak pikiran ya El, segera istirahat,"pesan Clara yang begitu perhatian dengan Eliana.
"Terimakasih Cla,"sahut Eliana hendak keluar dari mobil milik Clara.
"Oya, bolehkah aku meminjam catatan milikmu, aku tadi bel sempat mencatat semua materi kimia yang ditulis di papan, besok aku kembalikan,"ucap Eliana.
"Iya, iya, El, ini bawa saja dulu,"kata Clara sambil menyodorkan buku catatan Kimia miliknya.
"Terimakasih Cla,"kata Eliana.
"Ingat buat istirahat ya El,"ucap gadis manis itu dari dalam mobilnya. Eliana melambaikan tangan ke arah Clara yang beranjak meninggalkan rumahnya.
Clara dan Eliana berkenalan sejak mereka duduk di bangku SMA. Sedangkan Eliana dan Gebi berteman sejak kecil. Eliana tidak pernah mempermasalahkan status Gebi yang berasal dari keluarga biasa. Gebi adalah anak pembantu di rumah Eliana. Karena itulah mereka menjadi sangat dekat. Sejak kecil mereka selalu bermain bersama-sama. Bahkan kedua orang tua Eliana begitu menyayangi Gebi. Mereka bahkan menyekolahkan Gebi sama dengan putri tunggal mereka, Eliana.
Gebi adalah anak yang sangat pintar. Dia selalu meraih juara di setiap jenjang pendidikannya. Eliana begitu mengagumi Gebi. Bahkan Gebi selalu mengajari Eliana dalam kesulitannya belajar.
Namun naas, suatu hari Eliana sedang terburu-buru untuk pergi ke tempat les tari baletnya. Gebi yang saat itu tidak bisa pulang bersamanya karena dia ketinggalan buku di loker kelasnya. Akan tetapi, Eliana justru mendengar kabar yang sangat mengejutkan. Gebi dinyatakan tewas bunuh diri dari atap sekolah. Motif yang menyebabkan dia bunuh diri adalah kegagalannya dalam meraih juara tahunan sehingga membuat beasiswa yang diberikan kepadanya dicabut.
Eliana menangis sejadi-jadinya dan masih menyalahkan dirinya sendiri hingga detik ini. Eliana merasa bersalah tidak memperhatikan Gebi. Padahal Gebi selama ini selalu perhatian kepada dirinya. Eliana merasa bersalah setelah membaca pesan terakhir yang ditulis oleh Gebi saat itu. Seharusnya dia mendampingi dan memberikan semangat kepada Gebi saat dia mengalami masa-masa sulitnya. Tetapi dia malah sibuk berlatih tari balet dan melupakan Gebi. Itulah yang menjadi penyesalan dalam diri Eliana.
Malam itu Eliana menyalin catatan dari buku Clara. Sejak kepergian Gebi, Clara lah yang setia bersama dengannya dan membantunya jika dia terlambat dalam mencatat tulisan guru di kelas. Clara adalah siswa terpandai setelah Gebi.
Karena sudah terlalu lelah menulis. Eliana pun beranjak tidur. Akan tetapi lagi-lagi Eliana bermimpi didatangi oleh sosok Gebi. Gadis itu tampak sedang terkurung di dalam sebuah kelas dengan seragamnya yang terkena noda darah akibat luka dari tubuhnya. Dia disandera oleh sesosok makhluk yang begitu menyeramkan. Gebi merintih kesakitan dengan sekujur tubuh penuh luka.
"Eliana....tolong aku....Eliana....tolong aku....,"begitu rintih Gebi.
Mendengar sebuah nama disebut membuat sosok menyeramkan itu menoleh dan mencari keberadaan Eliana yang sedang bergetar ketakutan bersembunyi di balik dinding kelas.
"Aaaarrrrrrkkkkkkkkkkhhhhhhj!!!!"Eliana berteriak histeris saat sosok gadis menyeramkan bermata merah darah itu menemukan keberadaan dirinya.
Eliana berlari sekuat tenaga melewati lorong sekolah.
"Tolong aku! Tolong aku!"teriak Eliana sambil meminta pertolongan kepada para siswa di sana tetapi tidak ada satupun yang peduli kepada dirinya.
Tiba-tiba Eliana melihat gadis menyeramkan itu menatap ke arahnya dengan sorot matanya yang tajam penuh darah.
"Tidaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaakkkkkkkk!"teriakan Eliana itu membuatnya terbangun dari tidurnya. Eliana masih terengah-engah saat dirinya justru mendapati sosok Gebi yang sedang duduk di kursi belajarnya memunggungi dirinya.
Keringat dingin mengalir dari dahi Eliana melihat hal gaib itu tepat di depan matanya. Eliana mendengarkan Gebi bersenandung lagu kesukaannya. Dan tiba-tiba Gebi menoleh ke arahnya dengan tatapan mata berdarah.
"Tidaaaaakk!!!!!!"jerit Eliana ketakutan.
"Astaga!" Eliana beranjak dari tidurnya.
Ternyata itu semua hanya mimpi dalam tidurnya. Eliana menatap ke sekeliling tempat tidurnya dan tidak mendapati siapapun berada di sana. Eliaan mengusap wajahnya dengan kasar. Akhir-akhir ini Gebi selalu meneror dirinya. Sepertinya dia memiliki sebuah pesan yang ingin disampaikan Tetapi Eliana tidak tahu apa itu.
"Astaga kenapa lampunya masih menyala,"ujar Eliana yang baru menyadari jika lampu meja belajarnya menyala. Eliana turun dari ranjangnya hendak mematikan lampu di meja belajarnya. Akan tetapi mata Eliana tertuju kepada sebuah catatan dibuku dan selembar kertas yang tergeletak di sana. Mata Eliana seketika membulat.
"Astaga............ apa ini???????"ucap Eliana yang begitu terkejut menemukan sebuah kenyataan.
...................
Eliana sedang berjalan di koridor ruang guru saat dia melihat Clara sedang bercakap-cakap dengan salah seorang guru di sekolah itu.
"Ini adalah uang tutup mulut untuk kematian Gebi,"kata Clara kepada salah satu guru tersebut.
Mendengar nama Gebi disebut membuat Eliana berhenti dan sengaja menguping pembicaraan mereka berdua. Suasana sekolah saat itu sudah sangat sepi karena sore hari.
"Jangan lagi membahas anak miskin itu. Ini adalah pertemuan kita yang terakhir. Atau ayahku akan mengeluarkan anda dari sekolah ini jika anda sampai berani membuka mulut tentang kematian Gebi yang bukan terjadi karena bunuh diri. Aku tidak mau diriku masuk penjara karena telah mencuri soal-soal ujian!"ancam Clara kepada sang guru.
"Aku....aku.... mengerti,"sahut guru itu dengan nada takut.
"Aku akan membantu anda membayar biaya operasi ibu anda. Jika anda benar-benar tutup mulut. Ingat itu!"ancam Clara kembali.
"Iya ..... aku mengerti..."
Sungguh Eliana sangat tidak menduga akan apa yang diperbuat oleh Clara. Jadi dugaan dia benar adanya. Petunjuk semalam yang dia dapatkan tentang tulisan pesan Kematian yang ditulis oleh Gebi sebelum dia dinyatakan bunuh diri dengan tulisan di catatan buku Clara benar-benar sama.
Jadi.... Jadi.... Jadi....
Tiba-tiba handphone Eliana berbunyi membuat Clara dan guru itu mengetahui keberadaan dirinya. Eliana segera mematikan dering teleponnya.
"Eliana?"sapaan Clara itu membuat Eliana berdiri dengan wajah ketakutan karena ketahuan. Eliana bergegas berlari menjauhi Clara dan sang guru. Eliana berlari sekuat tenaga menghindari kejaran kedua orang itu. Dia tahu jika dirinya sampai tertangkap maka nasibnya akan sama halnya dengan Gebi.
Kedua orang itu sengaja membuat langkah Eliana berlari menuju ke atap sekolah. Karena Eliana merasa dirinya telah terjebak di atas sana. Eliana melihat sosok Clara yang menatapnya dengan sorot mata tajamnya. Tatapan Clara itu mengingatkan Eliana akan sosok yang menghantui dirinya dan menyekap Gebi dalam mimpinya.
"Kamu mau lari kemana sekarang El, kamu sudah tidak memiliki langkah untuk berlari,"ejek Clara kepada Eliana yang sudah tidak bisa berkutik kembali.
"Aku tidak menyangka kamu akan melakukan hal itu kepada Gebi, Cla. Kamu tega membunuh orang lain hanya demi sebuah nilai!"ujar Eliana dengan nada kecewa. Akan tetapi Clara justru tertawa mendengar ucapan Eliana tersebut.
"Hahaha ..... itu sudah pantas didapatkan oleh anak miskin tidak tahu diri seperti Gebi. Dia sudah lupa daratan karena merasa dirinya pintar. Sehingga dia lupa jika dia berasal dari kaum rendahan yang bahkan tidak pantas menginjakkan kakinya di sekolah elite ini. Semua itu karena kebodohanmu yang terlalu baik kepada dirinya, El. Temanmu itu menjadi lupa diri karena kesalahanmu!"ucap Clara dengan bengis.
Tampak raut wajah seramnya yang kini telah nampak. Jadi selama ini wajah ceria, ramah dan manis yang ditampilkan oleh Clara hanya untuk menutupi sifat asli dirinya yang bengis, kejam bahkan sangat egois.
"Aku akan melaporkan tindakanmu itu, Cla! Kamu akan mendapatkan balasan yang setimpal!"ancam Eliana tanpa rasa takut. Clara kembali tertawa dengan nada mengejeknya.
"Kamu lupa kamu berhadapan dengan siapa El. Kamu akan mengetahui jika ajalmu telah tiba kini,"setelah mengatakan hal tersebut, Clara tiba-tiba menerjang tubuh Eliana dan sengaja mendorong Eliana sehingga kini dia berada di atas tubuh Eliana sambil mencekik lehernya.
Eliana tidak mampu melawan kekuatan menggila dari seorang Clara yang sudah sangat kesetanan itu.
"Kamu harus mati El, bukankah kamu merindukan Gebi, sepertinya aku akan mengabulkan permintaanmu itu,"kata Clara dengan senyum devilnya.
"Ti...tid....tid....aakkkk...."
Eliana berusaha melawan akan tetapi dia kalah tenaga dari Clara yang kesetanan itu. Eliana tidak mampu bernapas dengan benar. Cekikan dilehernya membuatnya tidak berdaya.
"KAMU YANG HARUS MATI, CLARA!"
Dalam kondisi hampir tidak sadarnya, Eliana melihat sang guru yang disuap oleh Clara tersebut tampak kalap menerjang Clara dan menghajar Clara dengan sebuah balok kayu yang dia bawa. Berkali-kali guru itu memukulkan balok kayu ke kepala Clara sehingga gadis itupun meregangkan nyawanya di tempat tersebut.
Sang guru yang melihat kejadian mengenaskan itu justru tertawa terbahak-bahak sampai dia sendiri kehilangan kesadaran dirinya.
Eliana yang masih tidak mengerti akan apa yang terjadi di sana hanya terdiam melihat kejadian mengenaskan di depan matanya itu. Sebelum Eliana kehilangan kesadarannya, dia sempat melihat sosok Gebi yang tersenyum ke arahnya.
Pagi itu seluruh sekolah menjadi gempar dengan berita pembunuhan yang dilakukan oleh seorang guru kepada muridnya. Sang guru kemudian dibawa ke kantor kepolisian sedangkan keluarga Clara yang mengetahui kematian putri semata wayangnya itu menjadi sangat syok dan tidak bisa menerima kejadian yang menimpa sang putri.
Eliana yang mendapatkan bukti hasil rekaman antara Clara dan juga sang guru menyerahkan bukti tersebut kepada pihak kepolisian. Sehingga mengungkap misteri dari kematian Gebi yang mana ternyata Clara lah yang mendorong Gebi jatuh dari atap sekolah. Kasus kematian Gebi yang dianggap sebagai kasus bunuh diri pun menjadi jelas bahwa itu adalah sebuah kasus pembunuhan. Dimana ada salah satu guru yang membocorkan soal-soal ujian kepada salah satu siswa dan itu diketahui oleh Gebi secara tidak sengaja dia juga menjadi korban atas perbuatan curang mereka.
..................
Seminggu telah berlalu sejak kejadian mengerikan tersebut. Eliana tampak menaburkan bunga di makam Gebi.
"Tenanglah di sana sahabat ku, maaf jika harus selama ini kamu menunggu. Semua itu karena aku bodoh tidak bisa menangkap petunjuk-petunjuk yang kau berikan kepadaku. Namun sekarang semua sudah terbukti. Yang bersalah sudah mendapatkan hukumannya. Jangan khawatirkan kedua orang tuamu. Aku akan menjaga dan menyayangi mereka seperti orang tuaku sendiri."
Eliana beranjak dari makam sang sahabat dan berjalan meninggalkan area pemakaman. Setelah kepergian Eliana tampak sosok arwah Gebi yang menatap kepergian Eliana dengan senyum bahagia.
ᴛᴇʀɪᴍᴀᴋᴀsɪʜ sᴀʜᴀʙᴀᴛᴋᴜ, ᴜɴᴛᴜᴋ sᴇᴍᴜᴀ ʏᴀɴɢ ᴛᴇʟᴀʜ ᴋᴀᴜ ʟᴀᴋᴜᴋᴀɴ ᴜɴᴛᴜᴋᴋᴜ.
👻 TAMAT