"Pernah dengar gak? konon katanya tangga ke tiga belas dalam tangga sekolah adalah tangga angker loh. Permintaan kita bisa terkabul jika kita tepat berdiri di tangga itu" salah seorang siswi menceritakan sebuah cerita yang entah kebenarannya terbukti atau tidak di antara teman-temannya.
"Hah gimana caranya?" salah seorang siswa yang menjadi pendengar bertanya.
"Dengerin ya. Caranya kayak gini. Hmm" ia berdehem sebelum melanjutkan ceritanya.
"Tepat pukul setengah 6 sore kalian harus berada di lokasi tersebut. Pastikan sekitar kalian sepi, tidak ada orang. Setiap kali kalian menaiki anak tangga kalian harus bilang 'hai aku akan datang' hingga kalian sampai di anak tangga ke tiga belas". Ia terdiam sejenak.
"Jika kalian sudah ada di anak tangga ke 13 ketuk kaki kalian ke arah lantai sebanyak 3 kali dan bilang 'aku sudah datang' dan DUARR, selesai." Teriakan siswi di akhir ceritanya mempuat teman temannya kaget.
"Sialan lo! Ngagetin tau nggak ! Lanjutan nya gimana nih?" semua orang penasaran dengan lanjutan cerita tersebut.
"Gak tau, Gue cuma denger sampai situ aja. lagian itu kan cuma cerita, nggak penting juga. Mending kalian bubar deh" siswi tersebut membuat gesture mengusir dengan cara mengibaskan tangannya.
Pendengar yang kecewa dengan ending cerita itu hanya bisa mengeluh dan membubarkan diri. Tanpa mereka sadari, seseorang yang berada di pojok kelas telah mendengarkan cerita tersebut dengan isi kepala yang sulit di tebak.
- - - -
Jam menunjukkan pukul setengah enam sore. Langit kala itu bewarna jingga dengan daun-daun kering yang berguguran memenuhi koridor kelas.
Nampak sesosok perempuan dengan seragam sekolah yang melekat di tubuhnya sedang berdiri menghadap belasan anak tangga menuju lantai 3 di depannya. Ia terdiam cukup lama seperti memikirkan sesuatu hingga salah satu kakinya melangkah menaiki anak tangga satu persatu diiringi suara lirih 'hai aku akan datang' mengiringi setiap langkah kakinya yang terlihat bergetar.
Kakinya ia ketuk 3 kali sambil berucap 'aku sudah datang' setelah sampai di anak tangga ke 13. Lalu ia terdiam cukup lama, menunggu apa yang akan terjadi selanjutnya. Tetapi nampaknya tidak ada yang terjadi setelah itu.
" Bodoh banget sih, ngapain juga gue percaya kaya gitu" ia meruntuki kebodohannya karena telah mempercayai cerita teman sekelasnya.
Segera ia berbalik untuk meniruni anak tangga tersebut dan berniat pulang menuju rumahnya, tetapi yang terjadi selanjutnya adalah ia terjatuh dari atas dengan kesadaran yang lambat laun mulai menghilang.
- - - - - - -
Kedua kelopak mata itu perlahan terbuka. Matanya mengerjap pelan menyesuaikan cahaya yang masuk kedalam netranya. Ia bangun dari tidurnya sambil memegangi bagian tubuhnya yang sakit akibat terjatuh dan menyadari bahwa ia berada di koridor sekolah depan tangga.
"Sialan, ngapain juga gue percaya sama ucapan Kisa. Untung nggak, malah dapetnya sial!. Udah hampir jam 6 lagi. Gue pulang deh"
Ia sudah akan mengambil tas yang dia tinggal di kursi hingga sesuatu benda yang menarik perhatiannya membuat ia mengurungkan niatnya.
"Pisau? Sama kertas? Kertas apa nih?" Lantaran ia tertarik dengan kertas yang terlipat dan bewarna kusam, tanpa basa-basi ia membuka dan membaca tulisan di dalamnya.
Ia kaget dengan isi surat itu. Tidak percaya dengan apa yang di bacanya sekarang.
"Gila!! Ternyata emang bener bisa! Tapi harus ada darah buat perjanjiannya. Apa iris tangan gue aja ya? Masa bodo lah" Ia menuliskan keinginannya tanpa memikirkan resiko yang akan menimpanya.
Tangannya terulur mengambil pisau yang ada di depannya. Ujung mata pisau ia letakan di atas telapak tangan kirinya sambil memberikan sedikit tekanan dan menariknya perlahan agar darah keluar dari telapak tangannya.
"Sshhh, sakit juga" suara desisan keluar dari bibir Anna. Ia melempar pisau tadi yang mengepalkan tangannya agar darah yang ia keluarkan semakin banyak menetesi kertas tersebut. Dirasa cukup ia membebat tangannya dengan saputangan yang ia bawa dan meninggalkan kertas perjanjian itu di sana.
- - - - - - -
"Serius? Padahal kemarin ia baik-baik aja loh"
"Namanya aja kematian, siapa yang tau datang nya kapan"
Suara ribut-ribut dari kelas XI-7 terdengar dari luar kelas. Anna yang baru tiba lantas bertanya kepada temannya.
"Ada apa sih?"
"Lo belum tau? Itu si Abel meninggal karna kecelakaan. Kasihan deh anak baik loh padahal, Juara kelas lagi. Wah loh udah nggak ada saingannya dong Na"
Mendengar perkataan temannya, bukannya bersimpati ia diam-diam tersenyum miring
'rencana gue berhasil'~ batin Anna.
-----
Sudah seminggu setelah kematian Abel sang juara kelas. Dapat dilihat, suasana kelas yang biasanya ramai saat jam kosong menjadi sedikit suram karena mereka baru saja kehilangan salah satu temannya.
Oh tidak, sepertinya hanya Anna yang nampak biasa saja dengan kejadian itu. Terlihat ia sedang asik mengisi lembar soal yang ada di buku nya. Tanganya sibuk mengetuk meja dengan mulut bersenandung kecil. Salah satu tangannya terulur untuk membalikkan lembar soal yang ada di depannya.
Matanya tanpa di duga membulat sempurna setelah ia membaca tulisan yang tertampang jelas di depan nya. Tubuhnya mulai bergetar dengan bibir bawah yang ia gigit seperti menahan teriakan. Otaknya mencoba mengingat-ingat sesuatu yang ia lupakan. 'Sial, gue lupa sama konsekuensinya'
Ia mengatur nafasnya mencoba menenangkan diri dari ketakutannya. Tanganya berusaha mensobek halaman kertas yang berisi tulisan "TIDAK LUPA KAN DENGAN JANJIMU" yang sepertinya di tulis dengan darah. Ia remas kertas itu dan membuangnya ke tempat sampah.
- - - -
Anna menjadi semakin waspada dengan sekitarnya. Ia ingin sekali segera pulang kerumahnya. Tapi seperti di timpa kesialan hari ini ternyata ada jam tambahan dan ia mendapat tugas piketnya. Suasana sekolah menjadi senyap karena seluruh murid telah pulang kerumahnya masing-masing.
Langit mendung dan suara gesekan daun yang terkena angin menjadi suasana kala itu. Langkah kakinya yang ringan membawanya menelusuri koridor, hingga ia sampai di depan tangga menuju lantai 3.
Badannya berhenti tanpa disadarinya. Matanya menangkap sosok wanita dengan pakaian putih yang telah di lumuri darah, kedua mata yang tak terdapat di tempatnya, wajah hancur, tangan memegang sebilah pisau, dan senyum yang tampak menyeramkan berdiri di anak tangga ke 13.
Kaki Anna melangkah mundur, berlari menghindari sosok yang mengejarnya. Disertai badan yang bergetar dan air mata yang menetes dari kedua matanya ia mencoba berlari sekuat tenaga. Sungguh naas, kakinya yang ia gunakan untuk berlari tanpa sengaja tergelincir membuat tubuhnya jatuh menghantam lantai dengan keras.
Ia berusaha menghindar dengan menyeret badannya karna tak kuat berlari lagi. Kepanikannya bertambah saat menyadari bahwa di depannya adalah tembok yang menandakan tidak ada jalan keluar.
"Jangan ambil. Gue mohon jangan, gue nyesel" Kata-kata itulah yang terus menerus keluar dari bibir Anna. Kedua telapak tangannya menutupi wajahnya, sikunya ia letakan di kedua lututnya. Badannya tak berhenti bergetar. Suara menyeramkan menyahut perkataan.
"Tenang, gak sakit. Aku hanya butuh kedua mata kamu." Sosok menyeramkan itu sudah berdiri tepat di hadapan Anna. Tangannya yang rusak terulur ke pipi Anna, mendongakan wajahnya agar Anna bertatapan dengannya. Dengan jarak satu jengkal Anna dengan jelas dapat melihat wajah yang hancur serta kedua mata yang melorot.
Mata pisau tajam yang dibawa sosok dihadapannya sudah menempel di pipinya. Seolah sedang mengetes apakah pisau itu tajam atau tidak sosok di depannya membuat gerakan naik dan turun, menciptakan rasa yang amat sangat perih pada pipi Anna, mengakibatkan darahnya keluar.
Semakin lama ujung mata pisau itu tepat menghadap pupil mata sebelah kiri Anna. Dengan gerakan yang sangat cepat pisau itu menancap di salah satu mata Anna. Mencoba mencongkel mata Anna.
"AAAARGG" teriakan kesakitan Anna menggelegar. Pisau tersebut ditarik keluar dengan sangat pelan mengakibatkan rasa sakit yang bertambah.
"Cukup, sakit. Aku mohon" Seolah tak mengindahkan perkataan Anna. sosok di depannya masih bermain dengan pisaunya.
Ujung pisau sudah berpindah ke depan mata kanan Anna. Secepat kilat pisau itu mendarat di bola matanya. Tidak seperti gerakan yang sebelumnya, kali ini pisau itu ditarik dan ditancapkannya berulang kali. Membuat Anna yang tak kuasa menahan kesakitan nya hanya terus berteriak hingga kesadarannya habis.
"AAARGhhhhh"
"Na lo gapapa?" Sebuah suara membangunkan Anna dari tidurnya. Ia menoleh ke samping dan melihat teman baiknya Dena melihat nya dengan wajah khawatir.
"Kayaknya lo demam deh, badan lo juga panas.Tadi lo tidur udah 3 jam di kelas untung jamkos" jelas Dean teman baik Anna.
Anna mengedarkan pandangannya dan matanya menatap Abel yang berbincang bersama temannya. Ia menghela nafas.
"Untung cuma mimpi"
~TAMAT~
Karangan Fiktif. Bukan untuk di contoh ok 👌