Saya ucapkan banyak terima kasih pada kakak-Kakak tercinta yang mengijinkan namanya aku pake untuk tokoh ceritaku kali ini. Cerita ini tidak mewakili karakteristik dan juga keseharian mereka semua. Ini murni hanya cerita untuk keseruan semata.
Selamat membaca, semoga ada pesan yang bisa kita ambil dari cerita ini.
***
Siang sewaktu pulang sekolah suasana kantin tidak seramai biasanya. Mungkin juga banyak yang tidak ikut ekskul Pramuka karena hujan turun sedari pagi, jadi anak-anak lebih memilih untuk pulang saja.
"Teh anget sama bakso satu ya Bu Wati!" Pesan Ella dari tempat duduknya. Dia tidak mungkin ikut pulang bersama yang lain karena materi pelatihan hari ini adalah jadwalnya dia yang memberikan ulasannya.
"Siap mbak Ella, mau kosongan apa pake mie?" tanya bu Wati dengan tersenyum.
"Seperti biasanya" jawab Ella singkat.
Bu Wati hanya menjawab dengan mengacungkan jempolnya.
"Ini mbak baksonya" kata bu Wati dengan meletakkan mangkok bakso dan juga teh anget di depan Ella.
"Terima kasih" jawab Ella dan mulai menikmati baksonya.
"Kemaren ibu kehilangan uang lagi mbak" kata Bu Wati yang masih duduk menemani Ella.
Ella menghentikan makannya dan mendongak menatap bu Wati. Dia ingat jika dua hari yang lalu Bu Wati juga bercerita soal uangnya yang hilang.
"Uang ibu hilang lagi?" Tanya Ella memastikan pendengarannya.
"Ya Ell, padahal itu uang mau ibu pake buat bayar ke agen jajan dan agen bakso" jawab Bu Wati dengan wajah cemas dan juga sedih.
"Tadi pagi di depan pintu warung ada taburan beras kuning dan juga tanah" kata Bu Wati mulai bercerita.
Ella mendengar perkataan Bu Wati dengan serius. Bu Wati adalah salah satu pemilik kantin yang ada disekolah Ella. Kantin sekolah berjejer ada tiga. Bu Widhi, Bu Wati dan yang satunya lagi punya Bu Menik.
Kantin Bu Wati menyediakan menu bakso, kantin Bu Widhi menyediakan siomay sedangkan kantin Bu Menik menyediakan nasi pecel.
Karena Ella lebih suka bakso jadilah dia lebih sering ke kantin Bu Wati di bandingkan dengan kedua kantin yang lainnya.
"Kok bisa ya, apa ibu lupa meletakkan uangnya dimana?" Tanya Ella pernasaran.
"Tas ibu yang biasanya Ell" jawab Bu Wati kemudian memulai cerita yang sedikit tidak masuk akal.
***
Menurut Bu Wati sejak dia kehilangan uangnya dua hari lalu, setiap pagi saat membuka kantin di depan pintunya selalu ada taburan beras kuning yang bercampur dengan tanah.
Ella tidak paham maksud cerita Bu Wati tapi dia hanya menanggapinya dengan menganggukkan kepalanya dan mendengar setiap cerita sambil menikmati baksonya.
"Eh mbak Ella, ada ekskul ya!" Tegur Bu Menik yang baru saja balik dari membuang sampah.
"Ya Bu, ini lagi isi bensin biar kuat!" Jawab Ella dengan tersenyum lebar.
"Ada-ada saja mbak Ella, makan kok isi bensin!" Bu Menik berkata dengan mengelengkan kepalanya mendengar gurauan dari Ella.
Akhirnya Bu Menik ikut duduk dan mengobrol di kursi kantin Bu Wati. Keduanya bercerita tentang banyak hal. Ella hanya ikut serta sebagai pendengar.
"Wah kok kayaknya seru ini!" Sapa Bu Widhi dari arah kantinnya.
"Iya ini lho Bu Wati uangnya hilang lagi katanya" jawab Bu Menik memberi tahu tentang apa yang sedang mereka bicarakan.
"Ehh iya kah?" Tanya Bu Widhi terkejut dan segera mendekat untuk mendengarkan cerita.
Kembalilah mereka bertiga bercerita tentang uang yang hilang secara beruntun.
"Wah ini tidak biasa, dan sepertinya ini bukan manusia yang mencuri" kata Bu Menik memberikan tanggapan.
"Bukan manusia?" Tanya Bu Widhi heran.
"Ya Bu Widhi, ini tidak wajar" jawab Bu Menik dengan wajah serius.
"Terus hubungan dengan beras kuning dan tanah yang ditabur apa?" Tanya Bu Wati dengan wajah curiga pada kedua rekannya.
Ella mendapatkan sinyal tidak biasa dari nada bicara bu Wati. Seperti menuduh dan curiga dengan salah satu dari mereka berdua.
"Maksud Bu Wati apa, menuduhku?" Tanya Bu Menik dengan wajah merah karena menahan amarahnya.
"Iya, bu Wati jangan asal nuduh ya!" Teriak Bu Widhi seraya beranjak dari tempatnya duduk dan kembali ke kantinnya sendiri.
"Maaf ya mbak Ella, kamu makan dengan menyaksikan semua ini" kata Bu Wati meminta maaf dan senyum yang tidak enak pada Ella.
"Iya Bu tidak apa" jawab Ella tersenyum meskipun terlihat canggung.
"Maksud ibu yang syarat dari orang pintar apa ya tadi?" Tanya Ella bingung.
Tadi dia sempat mendengar Bu Wati membicarakan soal persyaratan dari orang pintar untuk menjegal usaha orang.
Sebab itulah Bu menik dan Bu Widhi tersinggung dan juga marah karena merasa menjadi tertuduh.
"Entahlah mbak, aku sih tidak mau begitu. Lagian kalau ibu mengunakan ilmu semacam itu ibadah ibu tidak diterima selama empat puluh hari dan tidak berkah juga" kata Bu Wati dengan wajah yang tidak bisa diartikan oleh Ella.
Dari balik etalase yang menghalangi dapur kantin Bu Wati, sekilas Ella melihat sesuatu yang tidak biasa.
***
"Ella ibu mau minta tolong bisa!" Tanya Bu Dewi yang sedang mengajar pagi ini.
"Iya bu, tolong apa ya?" Tanya Ella melihat Bu Dewi yang sedang mengelap hidungnya.
"Tolong belikan tissue di kantin. Ibu sedang pilek, tapi tissue ibu tertinggal di rumah. Di kantor tissue juga sedang habis."
"Siap Bu!" Jawab Ella sambil tersenyum.
"Terima kasih ya Ell" kata Bu Dewi dengan wajah merah menahan ingusnya.
Ella pun keluar kelas setelah menerima uang untuk membeli tissue. Ella berjalan dengan cepat ke arah kantin.
"Apa itu?" Tanya Ella dalam hati saat hampir sampai di depan kantin Bu Wati.
Ella melihat Bu Wati sedang tersenyum senang dan juga menabur-naburkan sesuatu di sisi pembatas kantinnya dengan kantin Bu Menik dan Bu Widhi.
Ella juga melihat dua anak kecil dengan tubuh putih mengkilat dan mata yang menonjol besar duduk di atas etalase bu Wati.
"Hah..." Ella jatuh pingsan sebelum sempat menegur bu Wati dan juga membeli tissue pesanan Bu Dewi.
NB: Jangan asal percaya dengan sesuatu yang kita lihat dan juga kita dengar begitu saja 🙏🙏✌️
TAMAT