I don't like Monday.... Ungkapan ini sepertinya pas untuk Nindya. Ia merasa malas sekali harus bangun pagi ini.
"Nin... bangun sayang, sudah jam 5, sholat subuh dulu", kata Mamanya Nindya sambil mengetuk-ngetuk pintu kamar Nindya.
"Lima menit lagi ya Mah", sahut Nindya sambil menggeliat diatas tempat tidurnya.
Selang 5 menit kemudian....
"Nin... ayo cepat bangun... sholat dulu!" kata Mamanya Nindya sambil mengetuk-ngetuk lagi pintu kamar Nindya.
"Ya Mah", sahut Nindya. Dengan malas ia beranjak dari tempat tidurnya. Dilangkahkan kakinya dengan paksa menuju kamar mandi untuk mengambil air wudhu, lalu kembali lagi ke kamarnya dan melaksanakan sholat subuh.
Setelah selesai sholat, ia memeriksa kembali tas sekolahnya, untuk memastikan buku-buku untuk jadwal pelajaran hari ini tidak ada yang tertinggal.
Sesudah yakin semua buku sudah lengkap untuk jadwal hari ini, Nindya pergi lagi ke kamar mandi, kali ini untuk mandi pagi.
Selesai mandi, kemudian memakai seragam sekolahnya. Karena hari ini hari Senin, Nindya memakai kemeja putih dan rok putih, tak lupa memakai dasi dan topi.
"Ayo sarapan dulu Nin... Ini kotak makan siang dan botol minumnya sudah ibu siapkan, jangan lupa masukkan kedalam tasmu", kata Mamanya Nindya.
Diatas meja makan sudah terhidang sepiring nasi goreng dan telor ceplok. Dan ada juga kotak makan dan botol minum yang sudah terisi.
Nindya memasukkan kotak makan dan botol minum kedalam tasnya. Lalu ia menyantap sarapan paginya.
"Papa sudah menunggumu, cepat selesaikan makannya.
"Sudah selesai makannya Mah... aku pergi dulu ya.. Assalaamualaikum", Nindya mencium tangan Mamanya.
"Ayo Pah, kita pergi", kata Nindya kepada Papanya. Nindya memang selalu diantar oleh Papanya setiap berangkat ke sekolah, kecuali kalau Papanya sedang melakukan perjalanan dinas ke luar kota.
***
"Semangat belajarnya ya", kata Papanya Nindya ketika sudah sampai di depan sekolah.
"Iya Pah, assalaamualaikum", jawab Nindya sambil mencium tangan Papanya.
Sekolah sudah ramai, bahkan sebagian siswa sudah bersiap di lapangan upacara.
"Hai Nin, baru datang nih", kata seseorang sambil menepuk bahu Nindya.
"Eh iya Sherly, aku malas sekali bangun pagi ini", jawab Nindya.
Setelah menyimpan tas didalam kelas, Nindya dan Sherly pergi bergegas ke lapangan upacara. Mereka berbaris sesuai dengan kelasnya masing-masing.
Pagi itu cuaca sangat cerah, bahkan di lapangan upacara cahaya matahari sudah terasa panas. Para siswa sudah mulai mengernyitkan dahinya karena kepanasan dan silau karena cahaya matahari.
Saat pembina upacara memberikan wejangannya, ada satu siswi yang jatuh pingsan. Para siswa yang merupakan anggota PMR, segera membawa siswi yang pingsan itu ke ruangan UKS.
Ada juga beberapa siswa dan siswi yang merasa pusing karena kepanasan, mereka memilih bergabung masuk ke ruangan UKS.
Tak lama kemudian upacara pun selesai, para siswa dibubarkan. Mereka pun masuk kedalam kelasnya masing-masing.
Begitu pula dengan Nindya dan Sherly, mereka masuk ke kelasnya. Nindya dan Sherly adalah teman sebangku.
"Nin, kamu sudah mengerjakan PR matematika?" tanya Sherly sambil mengeluarkan buku dari dalam tasnya.
"Tentu saja sudah", jawab Nindya sambil meminum air dari botol minum yang dibekalnya. Kemudian ia pun mengeluarkan buku dari dalam tasnya.
"Nomor 5 sudah belum? Aku tidak bisa mengerjakan nomor 5, terlalu sulit menurutku", kata Sherly.
"Sudah, kalau aku pakai rumus yang ini... jadi jawabannya seperti ini", jawab Nindya sambil menunjukkan PR matematika yang sudah dikerjakannya.
Tiba-tiba... brakk... suara pintu kelas yang dibuka dengan keras. Irwan, sang ketua kelas tergesa-gesa masuk kedalam kelas.
"Tina... yang tadi pingsan saat upacara, sekarang sedang kesurupan! Bahkan murid-murid yang yang ikut masuk ke UKS karena merasa pusing, satu persatu mulai ikut kesurupan", kata Irwan sambil terengah-engah.
"Sekarang para guru sedang memindahkan mereka yang kesurupan ke mesjid sekolah, bahkan Pak Ade sedang mencari ustadz di sekitar sekolah yang bisa menyadarkan orang yang kesurupan", kata Irwan lagi.
"Nin, ayo kita lihat ke mesjid... yuk", kata Sherly sambil menarik tangan Nindya.
"Ah sebentar lagi pelajaran dimulai, nanti Pak Wanto marah kalau kita nggak ada", kata Nindya, ia enggan mengikuti kehendak Sherly. Nindya takut dihukum oleh Pak Wanto sang guru matematika yang terkenal sebagai guru killer.
"Ah sebentar saja... Pak Wanto juga pasti ikut sibuk mengurusi murid yang kesurupan", kata Sherly sambil menarik-narik lagi tangan Nindya.
Akhirnya Nindya pun mengalah, ia mengikuti langkah Sherly menuju ke mesjid sekolah.
Ternyata banyak siswa lain yang mengintip kedalam mesjid melalui kaca jendela mesjid. Sherly menerobos kerumunan siswa, ia ikut mengintip lewat kaca jendela, tangannya masih saja memegang tangan Nindya.
Didalam mesjid terlihat beberapa yang bertingkah aneh, ada yang tertawa cekikikan, ada yang menangis seperti dalam keadaan sedih yang luar biasa, ada juga yang menari-nari.
Tak lama kemudian Pak Ade datang beriringan dengan seorang bapak yang memakai peci dan tergantung kain putih dilehernya. Itu mungkin Pak Ustadz yang akan mencoba menyadarkan para siswa yang kesurupan.
"Ayo anak-anak segera masuk ke kelasnya masing-masing, jangan bergerombol disini!" Pak Ade memerintahkan para siswa untuk bubar.
"Ayo kita kembali ke kelas!" Sekarang Nindya yang memegang tangan Sherly, menariknya untuk kembali ke kelas.
Ketika melewati ruang lab fisika, Nindya dan Sherly melihat seorang anak laki-laki kira-kira berumur 7 tahun yang berpakaian kumal.
Nindya merasa aneh. "Kenapa ada anak kecil yang bisa masuk ke lingkungan sekolah? Kan di gerbang sekolah ada satpam yang berjaga," pikir Nindya. Tapi ia tidak menghiraukannya.
Tapi, Sherly malah mendekatinya. "Dek mau kemana? Cari siapa?" Sherly bertanya pada anak kecil itu.
Anak kecil itu tidak menjawab pertanyaan Sherly. Ia malah tersenyum menyeringai. Syeett... anak kecil itu seperti menabrakkan badannya pada Sherly. Whuss... anak kecil itu menghilang.
Tiba-tiba tubuh Sherly limbung dan terjatuh. Tentu saja Nindya sangat kaget.
"Sherly... Sherly," Nindya mengguncang- guncangkan tubuh Sherly.
Tiba-tiba Sherly bangun dan duduk, tapi ia menangis dan menjerit-jerit.
"Huhuhu... huhuhu," kedua kakinya digerakkan, seperti anak kecil lagi ngamuk.
Nindya sangat ketakutan. "Tolong... tolong," Nindya berteriak. Beberapa siswa datang menghampiri. Begitu pula dengan Bu Intan, guru PKN, ia datang menghampiri karena mendengar teriakkan Nindya.
"Ada apa?" tanya Bu Intan.
"Se-sepertinya... Sherly bertingkah sama dengan teman-teman yang ada di mesjid tadi," jawab Nindya sambil menangis, ia tidak tega melihat sahabatnya seperti itu.
"Ayo anak-anak... tolong Ibu mengangkat Sherly ke mesjid," kata Bu Intan. Beberapa siswa laki-laki membantu Bu Intan mengangkat tubuh Sherly ke mesjid. Mereka tampak kewalahan karena Sherly terus meronta-ronta.
Dengan langkah gontai Nindya kembali ke kelasnya. Setelah duduk dibangkunya, Nindya merenungkan peristiwa tadi. Kalau tadi ia yang bertanya sama anak kecil itu atau membuat kontak dengannya, mungkin dirinya yang kesurupan.
Nindya teringat kembali perkataan mamanya. "Rajin-rajinlah berdoa dalam setiap keadaan dan setiap melakukan kegiatan! Agar jiwa kita tidak kosong dan kita senantiasa dilindungi."
-TAMAT-