" Kau sudah mendengarnya? "
" Ya, semua orang tahu "
" Mayat-mayat di buang begitu saja, ada banyak darah segar tumpah dimana-mana dan yang paling mengerikan semua mayat-mayat itu di kubur dalam satu lubang saja "
" Setiap malam selalu tercium bau amis, bahkan suara orang menangis, kadang seseorang meminta tolong dan suara-suara lainnya di tengah malam "
" Jika kau berjalan di tengah malam melewati lorong itu, maka menunduklah, jika kau dengar seseorang memanggil nama mu jangan pernah berpaling. Teruskan langkah mu, sebab itu bukan manusia.. itu adalah..... "
Braaakkk
Kyaaaaaaaaaa
" Anak-anak sudah ibu peringatkan jam malam berlaku untuk semua murid dan kalian harus di hukum karena telah melanggar peraturan sekolah " teriak suster Mega yang secara tiba-tiba mendobrak pintu kamar.
Tasya, Mila dan Alice masih duduk berselimut kain putih dengan wajah pucat sepucat rembulan.
" Maaf suster, kami janji tidak akan melanggar lagi " jawab Alice takut.
" Benar, kami tidak bisa tidur karena itu kami mengobrol " timpah Mila yang takut kena hukuman.
" Aku tidak ingin mendengar alasan kalian, yang aku tahu kalian telah melanggar peraturan sekolah. Sekarang cepat pergi ke tempat tidur masing-masing karena besok pagi-pagi sekali kalian harus membuat pengakuan dosa " ucap suster Mega tegas.
Segera setelah suster menutup pintu kembali dan pergi ke tiga sahabat itu tertawa cekikikan.
" Dia membuat jantungku hampir berhenti berdetak " ujar Tasya mengakui.
" Ku pikir tadi aku akan mati " balas Mila.
" Sudahlah ayo tidur, besok kita harus bangun pagi " ujar Alice.
Tasya dan Mila mengangguk setuju dan pergi berbaring di tempat tidur Masing-masing.
Teng Teng Teng
Jang dinding di aula menyatakan waktu tepat pukul 00.00 tiupan halus membelai Alice tepat di telinganya, merasa terganggu dia mencoba mengusapnya tapi tiupan itu terus saja mengganggunya hingga ia terbangun.
Suasana di kamar itu sunyi senyap, semua lampu di matikan sehingga ia butuh waktu beberapa detik agar mampu melihat dengan baik di kegelapan.
" Kemana Tasya? " gumamnya melihat tempat tidur di sampingnya kosong.
Dengan perlahan Alice bangkit dan membuka pintu kamar, melongok keluar dan menemukan Tasya sedang berjalan pergi.
" Tasya! " panggilnya, namun Tasya tak mendengar dan terus berjalan
" Tasya! " panggilnya lagi lebih kencang, namun Tasya masih tak mendengar nya.
" Astaga, sesunyi ini kau masih tak bisa mendengarku, apa telingamu di penuhi banyak kotoran? " gumam Alice kesal.
Tak ada pilihan, dia pun akhirnya mengejar Tasya yang sudah hilang dalam kegelapan. Setelah melewati lorong akhirnya Alice menemukan Tasya masuk ke dalam toilet, tanpa pikir panjang Alice mengikutinya.
Toilet itu senyap, tak ada tanda-tanda orang di dalamnya, tapi ia yakin melihat Tasya masuk ke dalam.
" Tasya, apa kau di dalam? " teriak Alice dari pintu.
Semua pintu WC tertutup ia tak tahu apakah Tasya ada di dalam di salah satu pintu WC itu, hanya dengan membuka satu persatu pintu makan ia akan menemukan jawabannya.
Alice mulai membuka pintu pertama, tapi tempat itu kosong tak ada orang. Ia berjalan dan membuka pintu ke dua tapi kali ini pun tempat itu kosong.
Tiba-tiba di dengarnya suara air di pintu ke empat, kini ia yakin rupanya Tasya berada di WC paling ujung.
KYAAAAAAAA
Alice menjerit saat tiba-tiba Mila merangkul pundaknya dari belakang.
" Wow wow, santai kawan ini hanya aku "
" Astaga Mila, kenapa kau mengejutkanku? " tanyanya yang masih merasakan jantung nya yang berdegup kencang.
" Aku tidak mengejutkan mu! justru aku membangunkan mu "
" Hah? apa? " tanya Alice tak mengerti.
" Aku melihat kau tidur sambil berjalan makanya aku ikuti, saat aku lihat kau masuk ke dalam toilet aku langsung segera ikut masuk dan berniat membangunkan mu, jika tidak ku bangunkan aku yakin besok pagi kau pasti terbangun di antah berantah " jelas Mila.
" Apa? aku tidur sambil berjalan? " tanya Alice heran.
Mila mengangguk sebagai jawaban.
" Kau pasti mengigau, aku tidak tidur sambil berjalan aku kemari karena mengikuti Tasya, aku lihat dia berjalan di lorong dan masuk ke sini karena itu aku mengikutinya "
" Tidak mungkin, Tasya ada di dalam kamar sedang tidur " jawab Mila
" Apa? tidak mungkin jelas-jelas aku lihat dia ke sini, baiklah akan ku buktikan " ujar Alice yang tak mau kalah.
Segera ia berjalan ke depan pintu yang ke empat, tadi ia sempat mendengar suara air dari sini karena itu dia yakin Tasya berada di dalam. Tanpa mengucapkan permisi atau pun memanggil nama Tasya Alice segera mendorong pintu itu hingga dapat melihat dalamnya.
KOSONG
Tak ada seorang pun di sana.
" Sudah ku bilang kan? kau yang mengigau dan tidur sambil berjalan, ayo kembali ke kamar nanti kalau ketahuan suster Mega kita bisa dapat hukuman lebih berat " ujar Mila.
' Tak mungkin, jelas-jelas aku melihat Tasya ke mari ' batin Alice.
Masih dalam kondisi kebingungan Alice mengikuti langkah Mila yang menyeretnya kembali ke dalam kamar, begitu mereka sampai Tasya membuka pintu kamar dengan wajah yang masih mengantuk.
" Hoaaaammm, kalian dari mana saja. Kok aku di tinggal sendiri di kamar sih " tanyanya sambil menguap.
" Ta, Tasya.. " gumam Alice.
" Kami cuma dari toilet ko, sudah mari tidur lagi jangan sampai besok kesiangan " jawab Mila.
Alice tidak bisa tidur dengan cepat, otaknya masih berpikir keras mencoba memahami apa yang sedang terjadi. Namun suasana yang sepi dan kamar yang gelap membuatnya akhirnya terlelap juga.
Tasya, Mila dan Alice terpaksa menyapu halaman belakang Asrama sebagai hukuman meski telah membuat pengakuan dosa.
Daun-daun kering yang berwarna coklat tak berhenti jatuh dari pohonnya saat angin bertiup kencang, sehingga mereka bekerja dengan sangat keras untuk membersihkan halaman itu.
" Aku baru saja mendengar katanya di lorong yang menuju toilet dulu ditemukan seorang siswi sekolah ini yang tergeletak begitu saja, saat di periksa rupanya siswi itu sudah meninggal. Dan kabar yang aku dengar lorong itu bisa membuat orang masuk ke dalam dimensi lain " ujar Tasya di tengah kegiatan menyapu mereka.
" Benarkah? kau dapat kabar dari mana? " tanya Mila.
" Salah seorang siswi yang memberitahuku, katanya setiap malam tepat di tengah malam setelah jam besar yang berada di aula bunyi sebanyak tiga kali, maka lorong itu akan membuka portal menuju dimensi lain "
Mila dan Alice saling menatap mendengar cerita tersebut, terlebih Alice yang tadi malam sempat mengalami kejadian aneh.
" Itu hanya rumor, kalian tahu sendiri sekolah kita gedungnya sudah tua. Tentu banyak rumor yang beredar " ujar Tasya yang melihat ketakutan di mata Mila.
Teng Teng Teng
Jam besar di aula telah menunjukkan waktu tepat pukul 00.00
Tiupan angin begitu lembut membelai telinga Alice, namun dinginnya membuat dia bergidig dan terbangun seketika.
" Ke-kemana lagi Tasya? " gumam Alice melihat tempat tidur Tasya kosong.
Dia mencoba tidak menghiraukan nya dan ingin tidur kembali, tapi rasa penasaran akhirnya mengalahkan ketakutan yang ada.
Pintu kamar di buka dan dia melihat Tasya berjalan di kegelapan. Antara penasaran ingin mengikuti kemana perginya Tasya dan takut jika hal aneh kemarin terulang lagi.
Akhirnya Alice hanya berdiam di depan pintu sampai Mila memanggil namanya.
" Alice, apa yang sedang kau lakukan di situ? "
" Mi-mila, aku... aku tidak sedang apa-apa " jawabnya terbata.
" Hei kemana perginya Tasya? " tanya Mila yang kaget melihat tempat tidur itu kosong.
Alice terkejut mendengar pertanyaan Mila, rupanya kali ini ia tidak salah lihat Tasya memang sudah pergi.
" Aku.. aku tadi melihatnya pergi ke sana " jawab Alice menunjuk ke arah kegelapan.
" Apakah ia pergi ke lorong yang menuju toilet? " tanya Mila.
" Aku rasa iya, kamar kita adalah yang paling pojok dan jika Tasya pergi ke arah sana tidak salah lagi ia pasti menuju ke lorong itu "
" Pukul berapa sekarang? " tanya Mila.
Mereka segera mencari jam dan menemukan waktu yang sudah menunjukkan tengah malam, mata mereka saling beradu pandang dengan penuh rasa khawatir dan takut.
" Kita harus cepat menemukan Tasya, dia terlalu berani untuk melakukan hal-hal yang konyol " ucap Mila.
Alice mengangguk tanda mengerti, akhirnya mereka mengumpulkan semua keberanian dan berjalan bersama keluar kamar.
Dengan pasti mereka melewati lorong yang gelap itu menuju toilet, sesampainya di sana mereka membuka satu persatu pintu WC tapi tak menemukan tanda-tanda keberadaan Tasya.
" Bagaimana ini? dia tidak di sini " tanya Mila.
" Sebaiknya kita kembali ke kamar dulu " jawab Alice.
Kembali berjalan beriringan mereka berhasil sampai ke dalam kamar dengan selamat, namun mereka tetap tidak menemukan Tasya di sana.
" Menurut mu kemana perginya Tasya? " ujar Mila kembali bertanya.
" Aku tidak tahu " aku Alice.
Mereka telah mendengar rumor tentang lorong itu yang membuka portal ke dimensi lain, rasa khawatir berkecamuk di kepala. Takut bila Tasya benar-benar telah pergi ke dimensi lain.
" Apa sebaiknya kita cari dulu di seluruh tempat di sekolah? " ujar Mila menyarankan.
" Entahlah, jujur aku merasa takut "
" Aku juga, tapi kita tidak bisa berdiam diri saja "
" Kau benar, sebaiknya kita cari dulu dan jika masih tidak ketemu kita harus memberitahu suster Mega " jawab Alice.
" Setuju " jawab Mila yakin.
Berbekal sebuah senter mereka mulai mencari.
* * *
" Apa kau yakin tidak melihat apa-apa lagi? " tanya suster Mega untuk kesekian kalinya.
Ia tak bisa menutupi rasa khawatir yang terus menyerang benaknya.
Ini sudah dua hari dalam masa pencarian tapi mereka tak menemukan satu jejak pun, berita kehilangan sudah tersebar luas dan rumor baru mulai beredar.
" Aku bersumpah, terakhir kali aku melihat mereka saat kami hendak tidur dan begitu aku bangun di pagi hari tempat tidur mereka sudah kosong. Aku pikir mereka meninggalkan ku, tapi aku tidak menemukan mereka saat pergi mandi, sarapan bahkan setelah pelajaran usai dan hingga sore saat aku sadar mereka hilang " jawab Tasya.