( Halu)
Brian merasa bahagia sekali karena cintanya di terima oleh sang pujaan hati tepat di hari Valentine.
Seikat bunga mawar putih dan coklat sebagai lambang Valentine, menjadi saksi bisu keromantisan mereka saat jadian.
Valeria, gadis pujaan hati yang dikagumi Brian sejak SMA, kini telah menjadi kekasihnya.
"Sayang.. terimakasih sudah menerimaku. Aku sangat bahagia sekali!" ucap Brian setelah mengungkapkan isi hatinya pada Valeria.
"Sama sama sayang, aku gak nyangka kamu se romantis ini!" jawab Valeria yang juga bahagia. Karena selama ini dia juga memendam cinta pada Brian, namun gengsi jika mengungkapkan duluan.
Satu tahun telah berlalu..
Hari ini adalah anniversary jadian Brian dan Valeria yang pertama.
Brian pun telah mempersiapkan seikat mawar putih kesukaan Valeria. Tak lupa dua buah coklat sebagai tanda kasih sayang di hari Valentine. Brian juga sudah mempersiapkan cincin cantik yang akan diberikannya pada Valeria.
Ya..Selain merayakan anniversary jadian mereka, Brian juga ingin melamar Valeria. Bagi Brian satu tahun dirasa sudah cukup untuk melanjutkan hubungan yang lebih serius lagi.
Brian pun melajukan motor maticnya menuju rumah Valeria. Orang tua Valeria sangat baik, mereka juga sudah memberi restu pada Bria dan Valeria jika ingin melanjutkan hubungan mereka ke pernikahan. Jadi Brian ingin melamar Valeria di depan kedua orang tuanya nanti.
Brian tersenyum di atas motor nya dalam perjalanan ke rumah Valeria.
Entah kenapa malam ini terasa dingin sekali. Padahal Brian sudah memakai jaket kulit tebal yang bisa dipakainya saat berkendara. Sesekali Brian melihat jam yang melingkar di tangannya.
"Masih jam 7malam, kenapa sepi sekali?" Brian memandang kaca spion motornya. Tak ada kendaraan di belakangnya. Dia sendirian di jalanan, hanya sorot lampu penerangan jalan yang menemaninya berkendara.
Jauh di depan sana, samar samar Brian melihat seorang perempuan sedang kebingungan. Dia seperti mencari sesuatu di rerumputan. Brian pun mengabaikannya.
"Malez ah..ntar dedemit lagi. Malam malam gini sendirian, mana situasi sepi gini!" pikir Brian.
Namun akhirnya Brian menghentikan motornya tatkala melihat ternyata perempuan itu adalah Valeria kekasihnya. Brian pun menghampiri pacarnya itu.
"Sayang..apa yang kamu lakukan di sini? kamu sama siapa? kok sendirian?" Brian mencerca banyak pertanyaan pada Valeria karena heran. Mengapa Valeria ada di sana, sendirian pula.
"Aku tadi bersama temanku, tapi dia sudah pulang duluan. Ada barang ku yang hilang di sini, aku tidak bisa menemukannya." Valeria tersenyum pada Brian, namun raut mukanya terlihat pucat karena khawatir.
"Memangnya barang apa yang hilang?" Brian mencoba membantu mencari barang yang dimaksud kekasihnya meskipun Valeria belum mengatakan barang apa yang hilang.
Rumah Valeria tak jauh dari tempat Brian berdiri sekarang. Jadi, Brian memutuskan untuk menemani kekasihnya itu mencari barangnya yang hilang. Ada beberapa kendaraan sudah mulai terlihat oleh Brian sedang lewat. Namun mereka selalu memandang aneh ke arah Brian.
"Sayang...barang apa yang hilang?" tanya Brian masih menyibakkan rumput yang lumayan sudah tinggi.
"Jepit rambut seperti ini!" Valeria menunjukkan jepit rambut kupu-kupu berwarna biru yang masih terselip di rambutnya. Brian melihatnya dengan seksama.
"Itu hanya jepit rambut sayang..Kita bisa membelinya lagi?" ucap Brian tidak menyangka jika kekasih bela belain mencari jepit rambut malam malam.
"Jepit rambut ini kenangan dari nenekku yang sudah tiada. Aku akan menjaganya sampai kapanpun" Valeria mulai menangis karena tidak bisa menemukan jepit rambutnya. Brian pun menenangkannya dengan memeluk Valeria.
"Tubuh kamu dingin sekali sayang.." Brian melepas jaketnya dan memasangnya pada tubuh Valeria.
"Kamu tunggu di sini saja! Biar aku yang mencari jepit rambut kamu! Brian pun melepas Sandalnya dan mulai masuk ke rerumputan yang ada di pinggir jalan tersebut.
Lama Brian mencari, tapi tak ketemu juga.
"Mas..ngapain di sana?" tanya seorang pengendara motor yang berhenti karena melihat Brian sedang mencari sesuatu di rerumputan.
"Cari barang pacar saya yang hilang di sini!" jawab Brian masih menyibak rumput di kakinya.
"Besok kan bisa mas kalau terang!" kata orang itu.
"Pacar saya sedang menunggu di sana, jadi saya harus menemukannya. Maklum..barang kesayangan!" jawab Brian sambil tersenyum memandang Valeria yang duduk di atas motornya.
"Sebaiknya mas pulang saja, tadi sore ada kecelakaan di rel situ. Katanya ada bagian tubuhnya yang hilang dan belum ditemukan."
Brian jadi merinding, dia melihat ke arah rel. Ada garis polisi dipasang di sana. Karena agak jauh, jadi Brian mengacuhkannya.
"Jauh mas dari sana!" Kata Brian. Orang itu pun pergi meninggalkan Brian sendiri.
"Gak mau bantu ya udah! gak perlu menakuti juga!" gumam Brian. Dia kembali mencari jepit rambut milik Valeria.
Setelah mendekat ke arah rel, Brian melihat sesuatu di sana. Seperti benda berbentuk kupu-kupu dan berwarna biru. Mirip jepit rambut milik Valeria yang diperlihatkan padanya tadi. Brian pun tersenyum senang.
"Sayang..aku menemukannya!" teriak Brian pada Valeria yang masih duduk di atas motornya. Valeria membalas senyuman Brian dengan bahagia.
"Bawa kesini sayang.." ucap Valeria.
Brian pun mengambil jepit rambut tersebut, namun di agak kesulitan karena sepertinya jepit rambut itu tersangkut. Brian pun mencoba menariknya. Agak susah namun Brian tetap memaksanya.
"Masnya ngapain?" tanya seorang lelaki yang dari tadi memperhatikan Brian dari warung yang ada di seberang rel.
"Mencari jepit rambut pacar saya pak. Ini sudah ketemu!" Brian pun berhasil menarik jepit rambut tersebut dan tersenyum pada pria itu.
Brian sangat heran melihat wajah pria itu yang berubah menjadi ketakutan. Pria itu menunjuk sesuatu pada Brian namun tak bisa mengungkapkannya dengan kata kata. Brian menjadi heran.
"Kenapa pak?" Bria pun menoleh ke arah yang ditunjuk pria tersebut.
Brian melihat tangannya yang memegang jepit rambut namun masih melekat di sebuah rambut lengkap dengan kepalanya. Brian lebih terkejut lagi tatkala memandang muka kepala itu yang mirip....
"Akkhhhhh......" Spontan Brian melepaskan jepit rambut dari genggamannya. Dia pun berlari hendak menuju motornya. Sesaat dia teringat jika Valeria ada di sana.
Namun saat melihat ke arah motornya, Brian hanya mendapati jaketnya yang tersampir di stang motornya. Brian memandang pria tadi yang masih ketakutan. Kini dia juga syok, hingga pengendara lain yang melihatnya memberhentikan motornya masing masing dan menghampiri Brian dan pria itu yang masih syok dan berdiri kaku di pinggir jalan.
Banyak orang mulai berkerumun, ada yang mengamankan Brian dan pria tadi. Ada yang sudah menghubungi polisi, ada juga yang mengabadikan penemuan Brian barusan.
Keesokan harinya..
Brian terbangun dari tidurnya. Brian sangat heran karena terbangun di tempat yang belum pernah di datanginya.
"Sudah bangun nak." suara lembut wanita itu membuat Brian tersadar dari lamunannya. Wanita itu pun tersenyum tegar.
"Ibu..Ini dimana?" Brian memandangi seisi kamar. Matanya tertuju pada bingkai besar yang terpahat rapi di dinding.
"Valeria?" gumam Brian.
"Yang ikhlas ya nak..Mungkin kamu belum berjodoh dengannya!" Ibu Brian memeluk putra semata wayangnya itu. Sebenarnya Ibu Brian juga sudah setuju dengan hubungan Brian dan Valeria. Namun takdir yang belum menyatukan keduanya.
"Nak Brian, Terimakasih ya..Kamu selalu ada untuk Valeria." Mama Valeria masuk ke dalam kamar putrinya yang saat ini ditempati Brian istirahat, karena semalam polisi mengantarnya yang dalam keadaan lusuh dengan tatapan kosong, bersama penemuannya ke rumah Valeria.
"Sebenarnya apa yang terjadi ma?" Brian sudah menganggap mama Valeria seperti ibunya sendiri, karena Valeria yang meminta Brian untuk memanggil mamanya dengan sebutan mama juga.
"Kemarin siang Valeria kecelakaan. Menurut saksi mata, dia dan temannya boncengan naik motor sambil bercanda. Saat melintasi rel, mereka tidak melihat ke kiri kanan. Dan disaat yang bersamaan..." Mama Valeria tak kuasa menahan tangis.
"Mereka terlindas kereta api. Valeria tewas di tempat dan anggota tubuhnya ada yang terpisah.Sudah dicari tapi tidak ketemu. Beruntung kamu menemukannya malam itu." Ibu Brian pun menceritakan kejadian yang sebenarnya pada Brian.
Brian sangat terpukul mendengarnya, pantas saja semalam tubuh Valeria sangat dingin. Lokasi kecelakaan ada di sebelah Utara rel kereta, sementara semalam Brian bertemu dengan Valeria di sebelah selatan rel. Itupun agak jauh dari TKP. Brian tak banyak pikir,dia mencoba mengikhlaskan kepergian Valeria disaat Brian ingin melamarnya di malam Valentine. Tepat satu tahun mereka memutuskan untuk jadian.
- - -
"Selamat jalan sayang..semoga kamu tenang di sana!" Brian memberikan seikat bunga mawar putih dan coklat yang semalam sempat dia bawa. Brian meletakkannya di atas pusara kekasihnya tersebut.
Brian bersama ibu dan kedua orangtua Valeria meninggalkan makam Valeria. Kini Brian harus tetap tegar menjalani hidupnya dan hanya bisa mengenang kenangan indah bersama Valeria.
Bagaimana dengan temannya Valeria ma?" tanya Brian memastikan keadaan sahabat Valeria yang mamanya saja tidak tau siapa.
"Menurut polisi keluarga nya sudah membawa pulang dan dimakamkan di kampung halamannya di Lampung. Namanya Sisilia." jelas mama Valeria.Brian tak pernah mendengar nama Sisilia dari Valeria.
Apa mungkin teman barunya?
.
.
.
.
.
Terimakasih sudah membaca🙏🙏