🕷️🕷️🕷️
Di bawah terik matahari yang menyengat seakan dapat melelehkan besi yang dibakarnya, seorang gadis berjalan lunglai kehabisan tenaga dikalah kan oleh surya.
"Cih!" gerutunya menendang kaleng tidak bersalah jatuh entah ke mana.
Gerbang besi sekolah itu terbuka sedikit lebar. Tidak ada satpam yang berjaga di pos nya. Mika hanya bisa terus menggerutu dengan keadaan.
"Hari libur gini malah disuruh les! Cih! menyebalkan!" bentaknya kembali penuh emosi.
Otaknya memang panas, tapi Mika harus tetap melakukan kewajibannya itu. Langkah Mika terhenti saat memasuki gerbang sekolah dan mendapati suasana sekolah yang sepi.
"Eh! Kok kosong gini?! Apa salah tanggal?" Mika segera mengambil ponsel dari sakunya dan menekan kalender untuk memastikan ia tidak keliru.
"Bener kok ... emang hari ini les nya! Tapi ... kok sepi gini ya?!" Mika menelisik ke segala arah berharap dia tidak sendiri.
Melihat kesunyian itu, hati Mika terasa kecut. Dia memutuskan untuk berbalik dan pulang. Namun, ada suara menggema terdengar dari salah satu kelas di lantai dua. Mika yang berniat pulang menunda niatnya itu saat dia menangkap beberapa objek yang terlihat dari jendela kelas di lantai dua.
Terlihat beberapa siswa yang sedang tertawa dan berbicara di sana. Mika tau itu adalah kelasnya. Otaknya segera merespon untuk menghampiri mereka yang di sana.
***
"Aku pikir belum ada yang datang, ternyata mereka sudah di kelas!" gumam Mika pada dirinya.
Hati Mika menjerit saat melihat koridor yang kosong serta deretan kelas yang sepi. Terasa seperti masuk ke gedung kosong tak berpenghuni.
Tak ingin berpikir aneh, Mika tak menghentikan langkah kaki nya menuju kelas. Indra pendengar Mika kembali menangkap tawa menggema dari kelasnya. Entah apa yang mereka bicarakan, pikir Mika.
Pintu kayu sedikit usang itu tertutup rapat. Dibalik sana teman sekelas Mika sudah menunggu. Tanpa lama, Mika langsung membuka pintu itu dengan lebar berniat menyapa dia yang di dalam sana.
Mulutnya tertahan saat mendapati kelas kosong melompong. Tidak ada jejak kehidupan di sana. Mika mulai mengernyitkan dahi nya, mencoba mencerna keadaan.
"Aku yakin mereka di sini! Tapi ke mana? Ke WC? Apa aku cari ke WC aja kali ya!" Segera Mika membalik haluan menuju ke toilet perempuan yang terletak di ujung koridor lantai dua di sebelah kanannya.
Dia berjalan sedikit cepat, hatinya terasa ngilu mengingat dia sendirian di lantai dua yang kosong. Namun, setelah berjarak satu meter dari kelas, dia kembali mendengar tawa mengelegar dari arah kelasnya. Dia sangat mengenal tawa itu, siapa lagi kalau bukan teman sebangkunya Ziya si mesin tawa.
Tak ingin pikir panjang, Mika segera berlari menuju kelasnya. Hanya tinggal lima langkah dari pintu kelas saat tiba-tiba Indra penciumannya terangsang dengan bau seperti ban yang di bakar. Bau yang cukup menyengat membuat Mika menutup lobang hidungnya dengan jempol dan telunjuk.
Tak ingin berlama-lama, Mika terus berjalan menuju kelasnya. Pintu yang semula dia tinggalkan dengan terbuka lebar, kini tertutup kembali dengan rapat.
Deg!
Kini jantungnya mulai tak berirama. Punggung nya juga terasa panas. Seperti ada puluhan mata yang memandangnya.
Tangannya sudah memegang gagang pintu di depannya. Langsung dia tekan ke bawah untuk membukanya. Baru sedikit celah dari pintu yang terbuka, saat tiba-tiba suara tawa aneh memenuhi ruang telinganya.
Tidak terdengar seperti tawa Ziya temannya. Suara itu lebih terdengar seperti suara kekehan yang samar.
Deg! Deg!
Jantungnya sudah tidak bisa diajak kerjasama. Entah dari mana asal keringat dinginnya itu. Dia akan terus berpikiran aneh jika dia belum melihat apa yang ada di balik pintu itu.
Perlahan tapi pasti, Mika mendorong bilah pintu usang itu ke dalam.
DEG!!!
Pupil mata nya melebar dan bergetar saat menemukan dua tubuh manusia bersimbah darah. Tubuh itu penuh sayatan, isi perut yang keluar berceceran, dan tanpa kepala.
Tak sadar air mata mengalir keluar dari matanya. Bukan rasa iba yang jadi penyebabnya, melainkan ketakutan yang menjalar di seluruh batin dan jiwanya.
***
Mika melangkah mundur perlahan menjauhi dua mayat mengerikan itu. Tubuh kakunya seakan tak bisa merespon perintah otaknya yang kacau.
Hanya selangkah lagi dia akan melewati pintu itu. Namun, nafasnya terhenti saat tiba-tiba sebuah suara kekehan aneh terdengar dari arah kanan koridor.
Lehernya yang kaku mencoba untuk melihat ke arah suara itu. Deg! seketika matanya membulat melihat sosok bertubuh kurus, rambut gimbal, penuh cipratan darah di baju dan celananya yang compang-camping. Tangan kanannya memegang kapak yang berlumuran darah. Deg! Apa itu ditangan kirinya? Itu ... kepala manusia.
"A-a-aaaaaaaa....!!!!!" Menjerit, Mika menjerit ketakutan.
Tak ada jalan yang bisa membuatnya keluar dari keadaan mencengkam itu. Dia hanya bisa kembali masuk ke kelasnya. Segera ditutupnya pintu itu dengan rapat. Meja dan kursi ia jejalkan di depan pintu. Di pojok belakang kelas Mika gemetar ketakutan.
Tidak ada kata yang keluar dari mulut nya. Hanya deru nafas yang terdengar tidak beraturan.
Deg!
Suara kekehan itu kembali terdengar dan kini semakin jelas.Mika mengetup mulutnya dengan kedua tangan yang bergetar. Tak henti air mata itu keluar.
BAM! BAM! BAM!
Kapak itu menembus pintu kayu itu perlahan. Mika sudah kaku dan tidak bisa melakukan apa-apa. Bau pesing tercium dari tubuh Mika, cairan kuning itu menjalar keluar membasahi bawahan Mika. Dia sudah benar-benar ketakutan.
BRAKK!!!
Pintu itu terbuka lebar. Semua kursi dan meja yang menjejali juga terlempar jauh. Sosok itu kembali terkekeh.
Buk!
Dia melempar dua kepala berlumuran darah itu kearah Mika. Hampir saja Mika mengeluarkan isi perutnya keluar saat melihat kepala itu terguling kearahnya.
"Ma .... in ... Ma ... in ...! Ma ... in ...!!!"
Suara itu begitu rendah, seakan telinga tak dapat menangkapnya. Mika terbungkam dalam ketakutan, tidak ada jalan keluar. Tidak ada cara untuk selamat darinya.
'Tidak ... aku ... tidak ingin mati ... aku ... tidak mau mati ...!' jerit Mika terbungkam dalam hati.
Dia semakin mendekat, jalannya pincang. Mika memutar otak mencari cara untuk selamat. Saat hendak Mika merangkak, Deg! dia melihat kearah Mika.
Matanya yang merah, serta seringainya yang lebar membuat tubuh Mika mati rasa. Dia tak bisa lagi menggerakkan tubuhnya.
"Ma ... in ...! Ma ... in ...!" Dia terus mengulang kata itu dengan suara terputus-putus.
Sudah berakhir, jaraknya dengan manusia gila itu hanya tinggal lima langkah. Tubuh Mika belum bisa digerakkan. Matanya yang membulat hanya bisa menatap nanar dia yang di sana.
Kapak itu menghayun cepat kearah Mika. Namun, meleset! Mika dengan cepat menggulingkan tubuhnya menabrak manusia gila itu, hingga dia terjatuh menubruk lantai. Segera Mika mengambil kesempatan kecil itu untuk berlari kearah pintu.
"AKH ...!!!" jerit Mika saat betisnya terkena lemparan kapak itu.
Mika terjatuh ke lantai dengan kaki yang hampir putus. Tidak berhenti di situ, Mika masih berusaha merangkak dengan menyeret tubuhnya pelan kearah pintu yang hanya tinggal lima langkah lagi. Kaki kanannya sudah tidak bisa digunakan lagi. Rasa sakit itu hilang ditelan oleh ketakutan yang mencengkam.
Sosok itu kembali terkekeh, dia bangun dan berjalan mendekati kapaknya yang terjatuh ke lantai penuh darah.
Sedikit lagi, hanya tinggal sedikit lagi dia bisa keluar dari ruang itu, tapi jangan harap dia bisa keluar dari sekolah itu dengan kaki yang hampir putus.
'Ahh ... aku mungkin akan mati hari ini, tidak ada yang bisa ku lakukan lagi. Semua akan berakhir dengan kemenangannya. Ibu ... maafkan aku karna marah padamu tadi.' Ucap Mika dalam hati saat melihat tangga di depannya.
Dia tidak mungkin bisa kabur dari manusia itu. Mika sudah pasrah, dia sudah buntu. Tidak ada yang bisa dilakukannya. Mika bersandar pada dinding bisu itu. Dia sudah tidak sanggup untuk menangis dan berteriak. Dia sudah menyerah, apa yang akan terjadi padanya, maka terjadilah.
"Ma ... in ...! Ma ... in ...!"
Dia semakin dekat, tinggal lima langkah.
"Ahhh ... hari yang menyebalkan ...!" ucap Mika dengan suara sendu.
Dia semakin dekat, tinggal tiga langkah.
"Ahh ... aku benci hari ... ini!" ucap Mika pelan.
Dia semakin dekat, hanya tinggal satu langkah.
"Aku ... pergi ... Bu ..." ucap Mika terakhir.
DOR!
****
Wiu ... wiu ...wiu ...wiu ...
"Tersangka sudah dilumpuhkan! Kapten!"
"Ada yang selamat! Ambulan ...! Ambulan ...!"
BREAKING NEWS!
Seorang pasien RSJ terlepas dan membunuh dua orang siswi SMA serta seorang siswi selamat tengah menjalani perawatan intensif di RSUD. Tersangka kini telah diamankan oleh polisi.
Sekian BREAKING NEWS hari ini!
TAMAT
🕷️🕷️🕷️🕷️
TERIMAKASIH ATAS KEHADIRANNYA🙏
jangan lupa Like dan komennya 💋